Bab 9 Kedatangan Pak Gunawan

1490 Kata
Gelak tawa laki-laki terdengar begitu menyenangkan saat kaki ini mulai mendekati ruang tamu. Sepertinya, orang yang ingin bertemu denganku bukanlah orang baru untuk Papa. Apa mungkin rekan bisnis Papa? Lalu, kenapa dia mau menemuiku? Seingatku, aku tidak mengenal siapa-siapa saja yang berbisnis dengan Papa. Dekat, apalagi. Sangat tidak sama sekali. Mungkinkah temanku? Rasanya tidak mungkin temanku bisa membuat Papa tertawa lepas seperti itu. Kepulanganku ke rumah ini pun tidak diketahui mereka. "Pak Gunawan. Apa kabar, Pak?" Langkahku terhenti saat Mama menyebutkan satu nama yang tidak asing di telingaku. Kakiku refleks berhenti dan mematung di belakang sofa yang kosong. Gunawan. Aku pernah mendengar nama itu disebutkan Papa beberapa kali di rumah ini. Yang aku tahu, dia adalah seorang pengusaha textile yang tak lain adalah sahabat Papa juga. Pak Gunawan jugalah yang waktu itu menawarkan perjodohan antara aku dan putranya yang sampai saat ini belum aku ketahui. Penolakan dariku membuat anak dari Pak Gunawan enggan menemuiku dalam acara apa pun. "Al, sini duduk," ujar Mama melambaikan tangan. Aku tersenyum tipis, berjalan mendekati mereka lalu mengulurkan tangan pada pria seumuran Papa itu. Saffa yang sedari tadi berada di pangkuan Papa, kini turun dan beralih duduk di dekatku. Putri kecilku itu tak jauh dari kakeknya. Hampir semua aktivitas dia lakukan bersama Papa. Peran ayah yang sangat kurang dia dapatkan dari Mas Haikal, membuat Saffa selalu mencari perhatian Papa. Ingin disayangi, dilindungi layaknya seorang putri. "Nak Alina apa kabar?" Aku mengalihkan pandangan dari Saffa, ke arah Pak Gunawan. "Alhamdulillah, baik, Pak." "Syukurlah. Mudah-mudahan selalu sehat dan bahagia." Aku mengangguk dengan seulas senyum hambar. Entah mengapa, batinku mengatakan jika kedatangan Pak Gunawan ke mari bukan hanya sekedar mampir dan ingin melihatku. Namun, ada maksud lain yang dulu pernah tertunda. Ah, mudah-mudahan hanya pikiranku saja. Sepanjang duduk di sini, aku hanya diam dan tersenyum saja. Obrolan didominasi oleh kedua pria dengan usia yang sama itu. "Sepertinya aku pamit sekarang, Din. Terima kasih atas jamuannya," ujar Pak Gunawan. Tangannya mengambil gelas berisikan kopi yang hanya tinggal setengah. "Mau ke mana? Masih sore ini." "Ah, biasalah. Badan suka pegal-pegal kalau pulang larut. Maklum, Din, usia kita sudah tidak lagi muda. Kesehatan harus diperhemat, kalau sudah sakit, repot." Gelak tawa kembali terdengar begitu menyenangkan. Aku pun ikut tersenyum hanya untuk basa-basi saja. "Oke oke. Aku paham. Yasudah, aku antar ke depan." Papa dan Mama berdiri untuk mengantarkan tamunya hingga ke ambang pintu. Namun, sebelum Pak Gunawan benar-benar pergi, ia menoleh ke arahku dengan seulas senyum yang manis. "Sembuhkan dulu lukanya, nanti kita akan membahas yang dulu sempat terputus," ujar Pak Gunawan seraya menepuk pundak Papa. Ayahku itu hanya manggut-manggut. Sepertinya memang ada pembahasan serius yang mereka bicarakan sebelum aku datang tadi. Perjodohan? Ah, aku belum siap untuk menikah lagi. Luka yang dibuat Mas Haikal saja masih sangat basah dan menganga. Belum tentu bisa sembuh dalam waktu yang singkat. Kata pernikahan pun sudah tidak lagi berselera untuk dibahas. Apalagi harus menjalaninya. "Mama, Cafa mau Popo," ujar Saffa saat Pak Gunawan sudah pergi. Ia merengek ingat lagi dengan boneka kesayangannya. Mama yang melihat cucunya menangis, langsung menghampiri dan menanyakan apa yang Saffa inginkan. Padahal, sepulang dari pabrik tadi aku dan Mama sudah berencana untuk membeli boneka baru untuk Saffa. Tapi, harus gagal karena ada insiden yang tak terduga. "Hey, kenapa dia menangis?" tanya Papa. "Ingat lagi, Pah." Mama mengelus rambut Saffa. "Beli lah, jangan dibiarkan nangis terus." "Udah malam, Pah. Besok aja, ya? Pagi-pagi kita beli Popo," ujarku membujuk Saffa. Namun, tidak bisa. Rasa rindunya sama boneka kecil itu sudah tidak bisa lagi dibendung. Saffa malah semakin kencang menangis membuat Abang serta istrinya datang menghampiri kami. "Popo, Mah. Popo!" rengek anakku semakin tidak terkendali. "Popo itu apa, sih?" "Boneka, Kak. Waktu itu dirampas ibu mertua, jadi Saffa gak bisa bawa." Aku menjawab pertanyaan Kak Rindu dengan terus memerangi Saffa yang berontak. "Astaga ... boneka anak kecil saja harus ditahan. Itu nenek-nenek minta dikurbanin kali, ya?" Aku tidak lagi menjawab ucapan Bang Aldi. Tetap fokus sama Saffa yang tantrum sampai guling-guling di karpet. Tidak ada cara lain selain pergi membeli Popo yang baru. Kalau Saffa mau, kalau menolak dan tetap minta yang lama, aku harus apa? Minta memohon pada ibunya Mas Haikal? Aish, menyeramkan sekali untuk kembali ke sana. Tiga puluh menit berlalu tangis Saffa belum juga mereda. Suaranya sudah sangat parau dengan keringat membanjiri wajahnya. Kalau sudah begini, tidak ada cara lain selain pergi untuk mendapatkan apa yang Saffa inginkan. Saffa akan kuat untuk menahan tidak jajan atau tidak makan. Itu sudah biasa. Tapi, untuk pisah lama jauh dari bonekanya, ya seperti sekarang ini. Mengamuk tak tahu waktu. Salah aku juga, sih kemarin menjanjikan akan segera memberikan dia yang baru. Tapi, kejadian di depan pabrik tadi sudah menyita waktuku untuk pergi ke toko boneka. "Dah, yu beli, yuk." Bang Aldi sudah membawa kunci mobil miliknya. Dia mengangkat tubuh Saffa yang terkulai di lantai. Tidak ada perlawan dari putriku. Lama menangis membuat dia kelelahan dan pasrah digendong oleh omnya itu. Di dalam mobil, aku memperbaiki rambut Saffa yang berantakan. Mengusap wajahnya yang penuh air mata dengan rasa yang entah mengapa membuatku ingin menangis. Seharusnya, seorang ayah ada di saat putrinya merajuk seperti ini. Memeluk, memberikan kata-kata indah yang membuat buah hatinya tenang. Tapi ... lihatlah Saffa-ku. Lelaki cinta pertamanya sama sekali tidak berperan untuk itu. Saffa pergi tanpa Popo-nya pun, Mas Haikal tidak bertanya sama sekali. Ah, jangankan menanyakan hal sekecil itu. Kami tidak membawa baju ganti pun dia tidak peduli. "Kenapa, Al?" tanya Bang Aldi menyadari kebisuanku. "Tidak apa-apa, Bang. Cuma lagi mikir, emang ada toko boneka yang masih buka jam segini?" "Ada, Al. Kita ke mall saja, di sana tidak cuma ada dua toko boneka. Tapi banyak dan biarkan Saffa memilih apa yang dia inginkan." Aku mengangguk paham. Sepuluh menit perjalanan, Bang Aldi mulai menepikan mobilnya di depan gedung yang tak pernah mati. Selalu ramai orang hilir mudik dari siang sampai malam. Tempat dulu aku bermain menghabiskan uang jajan sampai lupa pulang. "Yuk, beli Popo," ajak Bang Aldi merentangkan tangan mengambil Saffa dari pangkuan. Beruntungnya, dia mau dan kami pun segera masuk ke dalam mall. Berkeliling mencari boneka yang diinginkan Saffa. Dari satu toko ke toko yang lain. Hingga akhirnya, aku bisa bernapas lega saat masuk ke dalam toko ke tiga. Mata Saffa pun berbinar melihat banyak boneka berwarna merah dengan antena berbentuk lingkaran di kepalanya. "Popo, Mah Popo!" seru putriku bertepuk tangan. "Ya, Sayang. Ambil." Bang Aldi menurunkan Saffa, dan putriku langsung berlari ke jajaran boneka kesayangannya. Sedangkan kakakku keluar kembali untuk membelikan pesanan istrinya. Aku mengikuti langkah kaki kecil Saffa yang berlari lincah hingga tidak sengaja putriku menubruk kaki seseorang di depannya. "Awh!" Tubuhnya terpental hingga bokongnya mengenai lantai. "Ya ampun, Nak. Tidak apa-apa?" kataku seraya mengambil Saffa. "Hati-hati, dong anaknya dijagain jangan lari-lari gitu. Untung saja tidak mengenai perut istriku. Kalau anakku di dalam sana kenapa-kenapa, gimana?" Aku yang sedang membungkukkan badan meraih putriku, langsung mengangkat kepala, lalu berdiri dengan tegak. Pemandangan yang sangat memuakkan. Ternyata kaki yang Saffa tubruk bukanlah orang lain. Tetapi orang yang sangat kami kenali. "Ayah!" Saffa berseru, langsung memeluk kaki pria yang dipanggilnya ayah itu. Mas Haikal bergeming. Melihatku dan Saffa bergantian. Sedangkan di bawahnya, gadis kecil itu mendongak melihat wajah sang ayah dengan mata mendamba, berharap akan mendapatkan sentuhan kasih sayang di pucuk kepalanya. Sebelum Saffa mendapatkan perlakuan yang akan menyakiti hatinya, segera aku mengambil putriku dan menggendongnya. "Sedang apa kamu di sini? Mengikutiku?" ujar Mas Haikal dengan percaya diri. "Segitu tidak bisa move on-nya, ya kamu sampai-sampai tidak ingin jauh dari suamiku. Eh, asal kamu tahu, aku sedang hamil anak laki-laki untuk Mas Haikal. Jadi, jangan harap kamu akan bisa lagi merayu dia. Suamiku tidak akan tertarik sama kamu." Aku hanya tersenyum manis saat wanita yang mengaku hamil itu menunjuk-nunjuk wajahku. Ingin membalas dengan kasar, tapi aku tahu diri jika ini di tempat umum. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang, dan membuatku seketika menjadi viral karena brutal. "Maaf, Ibu Amira, saya ke sini untuk membahagiakan anak saya yang tidak pernah diberikan ayahnya. Bukan untuk mengikuti kalian," ucapku dengan melirik tajam pada pria yang hanya diam mematung. Tanpa kata lagi, aku langsung mengambil boneka berwarna merah untuk Saffa. Tidak tanggung-tanggung, aku menurunkan hampir separuh boneka Teletubbies yang terpajang di sana. Memasukkannya ke dalam keranjang, lalu membawanya ke meja kasir. "Mbak, semua boneka ini, akan dibayar sama laki-laki yang memakai kemeja kotak-kotak di sana. Dia ayahnya anak saya. Ini buktinya," ujarku memperlihatkan foto Saffa dengan Mas Haikal yang aku ambil dari media sosialnya mantan suamiku. Pencitraan. Mencium pipi Saffa, hanya untuk di upload ke media sosial saja. "Baik, Mbak. Mau dibawa sekarang, atau dititip di sini dulu? Mungkin Mbaknya mau keliling lagi?" "Oh, enggak. Sekarang saja, tapi minta dianterin sampai depan sana, ya? Soalnya tadi kakak saya nunggu di sana." Aku tersenyum puas seraya keluar dari toko boneka tersebut. Membayangkan wajah marah Mas Haikal saat harus membayar tagihan yang jumlahnya lebih dari lima juta rupiah hanya untuk benda tanpa nyawa. "Selamat marah-marah, Mas," ujarku seraya mengibaskan rambut keluar dari toko. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN