"Ya ampun, Al, banyak banget bonekanya?"
"Stttt ..." Aku memberikan isyarat kepada Mama karena putriku telah tidur dalam gendongan.
Mama mengerti. Ia membiarkanku untuk masuk melewati dia yang masih kebingungan melihat banyak sekali boneka yang dikeluarkan Bang Aldi dari mobil.
Sampai di kamar, aku segera menurunkan Saffa yang terlelap tidak melepaskan boneka barunya. Hati merasa lega karena Saffa tidak meminta boneka yang lama. Ia cukup senang dengan barang yang saat ini dipeluknya.
"Popo."
Aku menyunggingkan senyum saat bibir mungil itu berucap seraya mengeratkan pelukan pada mainan barunya.
Setelah memastikan Saffa tidur dengan nyaman, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesudahnya, aku langsung merebahkan diri di samping putriku. Mengistirahatkan tubuh serta pikiran.
Biarkanlah Bang Aldi yang menjelaskan kepada Mama kejadian di mall tadi. Jangankan Mama, Bang Aldi pun terkejut karena aku keluar dengan banyak sekali boneka itu.
Ah, rasanya aku ingin tertawa dengan kelakuanku sendiri.
Malam semakin beranjak, tapi kantuk tak kunjung datang. Entahlah, padahal tidak ada hal apa pun yang mengganggu hati dan pikiranku. Hanya sedikit tidak nyaman saja dengan kedatangan Pak Gunawan tadi. Sepertinya aku memang harus mencari tahu putra sahabat Papa itu.
Aku mengambil ponsel, niat hati ingin mencari informasi tentang keluarga Pak Gunawan. Namun, aku malah lebih tertarik membuka aplikasi f*******:. Dan ... benar saja dugaanku. Si dia mengekspresikan kekesalan hatinya dalam satu unggahan yang membuatku terkikik.
[Dasar tidak tahu malu. Sudah menjadi mantan, kok masih minta-minta padaku seenaknya. Lihat saja akan aku tagih uang yang dia habiskan sampai ke liang kubur sekalipun!]
Itu adalah unggahan Mas Haikal dengan dilengkapi emoticon marah. Plus foto nota pembayaran dari toko boneka tadi.
Apa dia bilang? Akan menagihnya?
Selain sombong ternyata mantan suamiku itu pelit juga. Padahal jika dihitung, hasil keringatku yang dia nikmati sendiri jauh lebih banyak dari apa yang tadi dia bayarkan. Bayangkan saja, selama aku bekerja uang gajiku selalu dia yang ambil dan pegang.
Ingin protes, tapi tidak bisa. Selain suami, Mas Haikal juga atasanku waktu itu. Aku hanya bisa menikmati kebodohan dan kesialanku bersuamikan dia.
Beralih dari postingan Mas Haikal, aku pun membaca unggahan Amira dengan foto yang sama. Lebih parah, Amira lebih berani menunjukkan ekspresi marahnya dengan menyebut namaku di sana.
[Jadi wanita, kok tidak tahu diri! Sudah diceraikan masih minta-minta pada suami orang. Di mana mukamu Alina?]
"Di sini," ucapku berujar sendiri menjawab tulisan yang diposting Amira.
[Anak, ya anak. Mantan, ya mantan. Jangan meminta seenaknya sampai harus menghabiskan uang istri sah. Dasar mental pengemis kau Alina!]
Lagi-lagi Amira mengunggah postingan dengan menyebut namaku. Kalau sudah begini, pasti esok hari akan sangat ramai di pabrik. Aku akan jadi artis dadakan dengan berbagai komentar. Sama, seperti pada saat Mas Haikal memutuskan menikah lagi dengan Amira.
Saat itu aku diam, tidak berani mengeluarkan komentar. Hanya diam dengan menikmati luka. Tapi, jika besok itu terjadi, aku pastikan akan menjawab semua ucapan dan umpatan mereka.
Bukan untuk membela diri, tapi untuk harga diri.
*
"Jadi, semalam kalian bertemu dengan Haikal?" tanya Mama saat kami menikmati sarapan pagi.
"Alina saja, aku enggak. Kalau saat itu aku bertemu dengan dia, akan kuhajar dia habis-habisan," ujar Bang Aldi geram.
"Mana bisa, Bang. Di tempat umum kayak gitu, lagian ada cctv juga. Nanti malah dilaporkan sama polisi, lagi."
"Sudah, jangan bicarakan dia di meja makan. Papa jadi tidak berselera," ucap Papa menghentikan pembahasan kami.
Bang Aldi tidak lagi berucap. Ia memilih diam meskipun masih ingin mengeluarkan unek-uneknya. Begitu pun denganku yang kembali menyuapi Saffa.
Melihat Saffa, aku jadi teringat pada boneka-boneka semalam. Di mana aku akan menyimpannya? Di kamar Saffa, pasti akan penuh. Di kamar bermain apa lagi. Sudah banyak boneka dan bermacam mainan di sana. Mungkin akan menyimpan satu atau dua saja boneka Poponya Saffa di sana untuk pelengkap koleski.
"Mah, Mama mau bantu Alina, gak?"
"Bantu apa, Al?"
"Berikan boneka yang Alina bawa semalam, ke panti asuhan. Lumayan, kan buat hadiah anak-anak di sana. Disimpan di rumah juga untuk apa, Saffa tidak akan mau memainkan yang lain kalau sudah ada yang dia sayang," tuturku menjelaskan.
Mama bersedia, dan aku merasa lega.
Waktu sudah pukul tujuh, aku harus bersiap pergi ke pabrik untuk kembali bekerja. Sebenarnya sudah malas, tapi masih ada yang harus aku bereskan di sana. Setidaknya, aku akan berada di pabrik sampai pesta nanti. Di mana, semua orang akan tahu siapa Alina sebenarnya.
"Aku berangkat, ya? Sayang, jangan nakal main sama Oma, oke?" kataku mengelus pucuk kepala Saffa.
Gadisku mengangguk dengan sebelah tangan menyuapkan buah apel, sedangkan tangan satunya lagi memeluk Popo.
"Mau Abang antar, Al?"
"Gak usah, Bang, makasih. Alina sudah menelepon Adi, tadi." Aku menolak tawaran kakakku itu.
Buka apa-apa, nanti bisa bahaya kalau Bang Aldi bertemu dengan Mas Haikal. Bisa terjadi pertikaian di sana.
Aku keluar dari dalam rumah, dan langsung masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman. Adi sudah berada di tempat tepat waktu.
"Pagi, Non?"
"Pagi, Adi. Langsung berangkat, ya. Aku akan telat kayaknya."
"Baik, Non."
Adi mulai melajukan mobil membelah jalanan Ibu Kota yang sudah padat. Tidak ada percakapan antara aku dan Adi, hingga akhirnya aku mengingat sesuatu.
Pak Gunawan.
Haruskah aku bertanya pada Adi?
Apa dia akan tahu? Coba saja.
"Di."
"Iya, Non?"
"Kamu tahu Pak Gunawan teman Papa?"
Adi melirikku sekilas dari kaca spion depan.
"Tahu, Non."
"Tahu anaknya?" tanyaku membuat Adi sedikit memelankan laju mobil.
"Kenapa Non Alina menanyakan anak Pak Gunawan?"
"Semalam, Pak Gunawan datang lagi. Kayaknya, yah mereka masih mau menjodohkan aku dengan anak Pak Gunawan itu, deh. Aku juga heran, apa laki-laki itu tidak laku-laku hingga masih sendiri sampai saat ini?"
"Ah, masa gak laku, Non. Anaknya Pak Gunawan ganteng, lho."
"Ya, kamu pikir saja, Di. Aku udah nikah, lima tahun yang lalu. Tapi, itu cowok enggak nikah-nikah. Apa sebenarnya dia udah nikah, tapi saat mendengar aku cerai, dia juga menceraikan istrinya? Wah, gak bener, tuh laki. Sarap."
Adi tidak menjawab. Dia malah terkekeh, menutup mulutnya dengan punggung tangan. Aku bukan mengada-ada, tapi menduga-duga. Umumnya, orang yang ditolak, ditinggal nikah, pasti mencari kebahagiaan baru dengan orang yang baru. Tapi orang yang tidak aku tahu namanya itu, seperti yang mati rasa.
"Apa jangan-jangan dia belok, ya, Di?"
"Hahaha, si Non, ada-ada saja. Sudah sampai, tuh. Mendingan kerja dulu, untuk anak Pak Gunawan itu, biar saya yang cari tahu," ujar Adi membuatku mengedarkan pandangan.
Benar saja, aku sudah ada di depan pabrik. Seperti dugaanku tadi. Aku kesiangan. Semua orang sudah masuk sementara aku masih berada di luar.
Buru-buru aku turun dan mengetuk pintu gerbang. Dimarahi, pasti. Tapi, harus tetap masuk. Jangan sampai bolos, apalagi hari ini akan ada undangan dari kantor pusat.
"Buruan masuk, mumpung belum mulai kerja," ujar Pak Satpam membuka pintu gerbang.
"Benarkah? Kenapa belum mulai?" tanyaku.
"Lagi pada rapat di atas."
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian masuk dan menghampiri mesin absensi. Setelahnya, aku menarik napas dalam sebelum masuk ke dalam pabrik. Menyiapkan mental, karena pasti akan disoraki oleh teman satu produksi.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapku seraya melangkahkan kaki.
"Huuuuu!!"
Sudah aku duga, pasti ini akan terjadi. Rasanya jarak dari grup A hingga G sangat jauh, saking malu dan gemetarnya kakiku. Beruntung, tidak ada Amira di tempatnya. Sepertinya dia sedang ikut rapat di atas.
Sebenarnya kehadiran dia tidak diperlukan, tapi karena Amira anak dari manager produksi, pastilah keberadaan dia di ruang meeting tidak akan dipermasalahkan.
Sudah merasa seperti pemilik pabrik dia.
"Kesiangan, lu?" tanya Nela saat aku baru saja sampai di meja tempatku bekerja.
"Dah tahu aku telat, masih ditanya."
"Untungnya doi, lu lagi miting. Kalau kagak, lu bakalan disemprot. Eh, iya aku baca status mantan yang marah-marah semalem, lho. Ada apaan, sih?" Nela sampai duduk terbalik ke arahku yang berada di belakang dia, demi untuk mencari informasi.
"Nanti saja aku ceritakan. Emang tadi sempat rame?"
"Beuh, bukan rame lagi. Tuh, Nini Lampir ampe mencak-mencak, berdiri di depan gerbang demi nungguin, elu."
"Wah, perhatian banget, ya dia."
"Dodol." Nela menoyor pelan keningku. "Bukan perhatian, tapi udah kagak sabar pengen ngehajar, elu," lanjutnya lagi membuatku terkikik.
Setelah beberapa menit duduk, orang-orang produksi sudah kembali ke bawah. Para ketua grup atau line dari A sampai J berdiri berbaris di depan, seperti hendak upacara.
Ada apakah dengan mereka?
"Mohon perhatiannya, Teman-teman!!" Mbak Anita selaku supervisor line H, bertepuk tangan, menyuruh kami diam.
Wanita yang selalu tampil cantik dengan kaca minusnya itu kemudian naik ke atas meja yang dipenuhi oleh baju-baju yang sudah jadi. Ia berdiri di sana dengan wajah berseri.
"Tolong matikan mesinnya!" suruhnya lagi membuat ruangan menjadi hening.
Aku memperhatikan setiap gerak tubuh buah dan bibirnya. Tidak ingin ketinggalan apa yang disampaikan dia.
"Jadi, dua hari lagi PT. AA Garment akan mengadakan pesta hari jadinya yang ke dua puluh tahun. Dan, sepanjang sejarah berdirinya perusahaan garment ini, baru sekarang sang pemilik mengundang operator sewing untuk ikut hadir dalam pesta istimewa ini! Yang biasanya hanya dihadiri orang-orang penting, petinggi perusahaan, orang-orang yang memakai jas doang, sepatu mengkilap, ye 'kan. Sekarang dibawa sama rakyat jelatanya juga!"
Riuh gelak tawa serta tepuk tangan memenuhi ruangan. Termasuk aku yang terbawa susana ikut tersenyum.
"Tapi-tapi ... tidak semuanya!"
"Yaaaah ...!" Ucapan Mbak Anita disambut sedih oleh sebagian orang.
"Hanya ada satu line, atau satu grup saja yang dibawa ke gedung depeer, eh gedung pesta. Sebagai bentuk apresiasi karena selama setahun ini menghasilkan target produksi paling tinggi. Yaitu .... Line-nya Bapak Haikal!"
Waja bangga diperlihatkan mantan suamiku itu. Dengan ekspresi senang, Mas Haikal sampai menepuk d**a saat namanya disebut Mbak Anita.
'Berbanggalah, Mas. Sebelum nanti kamu akan terpuruk karena penyesalan.'
Mbak Anita menyudahi pengumumannya, lalu memberikan kartu undangan kepada Mas Haikal. Pria itu pun langsung membagikan kertas itu kepada kami dengan cara estafet dari depan ke belakang.
"Oooh ... AA itu singkatan dari nama anak si pemilik ternyata."
"Iya, bener. Aldi dan Alina."
"Kok ada nama si Alinanya?"
"Iya, ya nama panjangnya sama lagi kayak si Alina di sini."
Suara-suara itu aku dengar saat mereka membaca kata perkata yang ada pada undangan. Rasa heran bukan hanya dirasakan teman-teman satu grupku. Tapi, juga dia yang saat ini tengah menyorotiku dengan aneh.
"Lin, mantan memandangmu, tuh?" ujar Nela berbisik.
"Bilangin, gih jangan melotot sekarang, nanti akan ada yang lebih mengejutkan," ucapku seraya melipat undangan, lalu menyimpannya dengan asal.
Bersambung