Bagian 1
Cuaca sore yang cerah, angin yang bertiup kencang,deburan ombak yang menenangkan, serta pasir putih lembut yang tidak membuat kaki telanjang sakit ketika memijaknya.
Pria berseragam sekolah putih, celana abu-abu, rambut yang berkibar kesana kemari karna ulah angin sore, dasi nya tetap terpasang rapi walau seragam sekolah yang ia kenakan keluar dari pinggang celananya.
Pria itu menatap jauh ke ujung lautan, seolah tak peduli dengan angin yang memerihkan mata dan mengaburkan pandangan nya. Baginya ini adalah salah satu bentuk ketenangan yang nyata. Walaupun sebenarnya ia berdiri di tepi pantai ini bukan untuk menjernihkan pikiran, melainkan membuat keputusan.
"Nukyar!!"
Nukyar Akhsani Akbar, itulah nama pria yang tengah berdiri di tepian pantai. Menunggu wanita yang baru saja memekik kan suaranya dengan riang, Nukyar mungkin tidak menoleh atau bergeming dari tempatnya, tapi ia hafal betul suara dan pergerakan wanita yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.
"Nukyar," suara wanita itu kini melembut, ia sedikit ngosngosan. Tapi Nukyar tetap tidak melihatnya.
"Nukyar!" wanita itu meninggikan suaranya dengan kesal, dan benar saja sekarang pandangan dan fokus Nukyar beralih padanya.
Nukyar memperhatikan wanita yang kini sedang berdiri di depannya. Rambut yang di kuncir kuda, wajah yang tanpa polesan kecuali liptint orange yang Nukyar sangat menyukainya, seragam sekolah yang sama seperti yang Nukyar kenakan. Hanya saja wanita ini menggunakan sendalnya. Dan juga, alis nya yang hampir bertaut karna sibuk membaca mimik wajah Nukyar yang terlihat gelisah.
"Udah nyampek?" tanya Nukyar tiba-tiba.
"Aku udah nyampek dari tadi, Nukyar. Kamu gak nyadar? padahal udah dari tadi ngeliatin aku." Jawab wanita itu di sertai dengusan kesal dari bibirnya.
Nukyar tersenyum tipis, rasanya ingin sekali ia memperbaiki anak-anak rambut wanita ini, karna hampir mengganggu pandangan Nukyar untuk lebih leluasa menatap wajah wanita yang menjadi alasan kebimbangan Nukyar saat ini. Tapi, mulai sekarang Nukyar tidak berani lagi menyentuh wanita yang bernama Rumaisha tersebut.
"Rumaisha,"
Ruma berpaling menatap kedua bola mata Nukyar. "Hmm?"
Nukyar bergeming, enggan menatap wajah Rumaisha. Rumaisha yang langsung merasa Nukyar berbeda berniat menggenggam tangan pria tersebut, tapi yang ia dapat penolakan. Nukyar menarik tangannya menunjukkan keengganan.
Tentu saja, tingkah Nukyar yang tiba-tiba membuat Rumaisha kebingungan, juga sakit hati. Biasanya semarah apapun Nukyar, dia tidak pernah menolak sentuhan Rumaisha. Memangnya apa salah dirinya? seingat Rumaisha, mereka baik-baik saja. Terakhir mereka telponan Nukyar ijin akan pergi ke salah satu mesjid yang baru di resmikan pembukaannya, dan Nukyar salah satu staff nya.
"Nuk, kenapa?" tanya Ruma setelah sama-sama diam beberapa saat. "Aku punya salah?"
Nukyar menatap kedua bola mata Rumaisha yang kebingungan dan sedih karna sikapnya, sebelum akhirnya membuang pandangannya ke ujung jempol kakinya sendiri. Sebenarnya, ia pun tidak pernah mengharapkan ini. Menyakiti wanita yang dicintainya, yang saat ini adalah kekasihnya.
"Aku minta maaf." Nukyar bersuara setelah sekian lama diam.
"Untuk apa?"
"Untuk apa yang akan ku sampaikan dan keputusanku."
Rumaisha terdiam, seakan-akan dalam sebuah hubungan ia tau apa yang akan Nukyar katakan. Tapi apa salah dirinya? Akhirnya, Rumaisha memilih diam agar Nukyar melanjutkan ucapannya.
"Rumaisha, aku minta maaf ... tapi, kita harus putus."
Dugaan Rumaisha benar, walaupun dirinya dan Nukyar tidak ada permasalahan. Tapi, sedari tadi ntah mengapa ia yakin Nukyar memang ingin mengakhiri hubungan mereka.
Tapi, tetaplah Rumaisha merasa sakit hatinya. Air pantai yang menyentuh kakinya terasa dingin, sedingin hatinya yang tiba-tiba beku karna keinginan Nukyar.
"Aku gak mau."
Nukyar tidak kaget dengan jawaban Rumaisha, setelah menjalin hubungan 1 tahun lamanya, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Dan tiba-tiba dirinya minta putus? sungguh aneh. Bagi sebagian orang.
"Rumaisha, aku tau ini sudah terlambat. Tapi hubungan kita ini salah."
"Apa yang membuatnya salah, Nuk? kamu pacar orang lain? atau aku pacar orang lain? atau kamu selingkuh dari aku? atau kita nggak diijinkan pacaran sama orang tua? enggak kan? hubungan kita bagus kok. Apa yang salah?" cerca Rumaisha, mungkin dia tidak akan semarah ini andai mereka punya masalah, seperti bertengkar, salah paham atau yang lainnya. Tapi tidak, hubungan mereka baik-baik saja.
"Atau, kamu udah gak sayang sama aku?" tiba-tiba pikiran itu terlintas di benak Rumaisha, dan semakin menyakitinya.
Nukyar menggeleng cepat, bukan itu alasannya mengakhiri hubungan mereka.
"Bukan, aku menyayangimu Rumaisha. sangat."
"Lalu, apa yang salah. Apa yang bikin kamu ngambil keputusan kayak gini?"
Nukyar menghela nafas, memejamkan matanya, menarik napas sedalam mungkin lalu menghembuskannya. Kemudian, ia menatap mata Rumaisha begitu dalam.
"Allah SWT." Jawabnya dengan penuh keyakinan.
Hening, lama sekali. Rumaisha yang tidak paham dengan ucapan Nukyar. Dan Nukyar yang kesusahan menjelaskannya pada Rumaisha. Karna ia pun baru tau hukum pacaran di dalam Islam. Selama ini pengetahuannya tentang agamanya hanya sampai pada kewajiban sholat. Tapi ternyata, dirinya begitu bodoh. Ajaran agama Islam masih banyak dan jauh sekali dari jangkauannya. Jika dirinya saja tidak paham, apalai Rumaisha. Yang notabenenya non muslim.
"Allah SWT yang menciptakan bumi dan seisinya, mengharamkan pacaran. Perbuatan zina yang seharusnya dijauhi. Karna itu adalah dosa besar, aku pun tidak mampu membayangkan seberapa banyak dosa yang sudah ku perbuat dari hubungan kita."
"Dan, bukan hanya kita yang berdosa. Tapi, kedua orang tua kita juga Rumaisha. Padahal kita yang melakukan hal salah, kenapa mereka juga kena imbasnya?"
Rumaisha tetap diam. Dirinya tidak mengerti tapi paham sepenuhnya keinginan Nukyar. Walaupun ia belum bisa menerima keputusan pria itu.
"Kalau memang hubungan ini salah, kita berdosa. Kenapa baru sekarang? setelah kita pacaran 1 tahun lebih? sementara kamu sudah dari lahir menganut agama-mu, Nuk. Menurut mu ini masuk akal?" Rumaisha marah dan sakit hati. Di pikirannya saat ini, Nukyar hanya membuat alasan untuk meninggalkannya. Tapi, apa kesalahannya?
"Rumaisha, aku bersumpah. Aku juga baru mengetahuinya. Selama ini, aku tutup mata tentang hal yang berhubungan dengan agamaku, aku terlalu memikirkan dan mendambakan duniawi. Aku lupa, semua yang di dunia ini tidak ada yang abadi."
"Karna mencintaimu, makanya aku mengambil keputusan ini Rumaisha. Untukmu dan untukku."
"Untukku?" tanya Rumaisha dengan marah bercampur sedih.
"Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri, kamu bilang ini untukku? ini hanya alasanmu untuk meninggalkan ku, Nukyar! aku membencimu, jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku." Rumaisha pergi, meninggalkan Nukyar yang mematung.
Nukyar begitu mencintai Rumaisha, dia adalah wanita pertama yang begitu ia kagumi, sayangi, dan dambakan. Nukyar tidak ingin kehilangannya. Tidak, la tidak sanggup membayangkan nya.
Tapi, ia pun takut akan murka Allah.
Antara pencipta dan ciptaannya. Siapa yang harus di pilih olehnya.
Akhirnya, Nukyar berlari. Mengejar langkah Rumaisha yang belum jauh. Merentangkan kedua tangannya ketika sudah berada di hadapan Rumaisha.
Rumaisha diam, menunggu apa yang akan dilakukan pria yang baru saja melukai perasaannya.
Nukyar diam sesaat, bola matanya berlari kesana kemari seperti kelimpungan. Gestur tubuhnya gelisah, tapi beberapa saat kemudian tubuhnya tegak dengan tegap,kedua bola matanya menjurus menatap kedua bola mata Rumaisha yang berair.
"Ayo kita menikah, Rumaisha."