MOPD
Hidup mengajari kita, bahwa tak ada kisah yang sempurna. Karena sejatinya kesempurnaan itu hanya milik-Nya. Tak ada yang lain yang berhak menyandang gelar itu...
***Sebutir Debu***
Seorang gadis bergerak di tengah hiruk pikuk kota yang terasa asing baginya. Mulai kembali menata hatinya, di hari pertamanya masuk Sekolah Menengah Atas.
Alisha Shanum Bramantyo...
Itu namanya, nama indah yang bermakna betapa besar harapan kedua orang tuanya agar Lisa selalu ada dalam lindungan Sang Maha Kuasa.
Dalam anyun langkah menuju sekolah barunya. Pikirannya sibuk menerka- nerka apa yang akan di temuinya kali ini. Sungguh semua ini hal baru baginya..
Bagi seorang gadis yang berasa dari sebuah desa, yang sangat kental dengan berbagai aturan yang berlaku. Juga budaya yang berbeda dengan kehidupan kota. Membuatnya merasa sangat berbeda.
Rasa gugup, itu pasti. Mengingat tak pernah ia pergi sejauh ini seorang diri. Tapi semua itu ia sembunyikan dibalik sikap diamnya, yang mungkin cenderung datar.
Tak sampai hati ia tunjukkan kegundahannya, di depan Bapaknya, Bramantyo. Yang termasuk seorang penata rambut profesional yang di perhitungkan di kotanya.
Fakta yang timpang itulah yang ia takutkan, 'Tak Mampu Mengimbangi Nama Besar Seorang Bramantio'.
Lantas..
Haruskah dia mundur...?
Oh tidak mengingat apa yang telah mereka korbankan...
---
Lalu lalang para siswa mendominasi begitu ia tiba di tempat tujuannya. Ia lanjutkan langkahnya menuju tempat yang selama 3 tahun ke depan akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.
Seremonial khas hari senin telah selesai. Ayun langkahnya semakin mantap menuju kelas, dengan seberkas senyum tipis yang terukir diwajahnya, ia edarkan pandangan mencari dimana kiranya ia duduk nanti.
Hingga pandangannya tertuju kepada pemilik bola mata yang entah perasaannya benar atau tidak, saat ini sedang tertuju padanya, dengan senyuman manis yang menurutnya..., terasa..., berlebihan!
"Ih..., SKSD..." kesalnya memupus senyumnya dan mengalihkan tatapan dari si pemilik senyum manis berlebihan itu. Segera Ia melesat ke tempat duduknya.
"Dia akan menjadi orang yang spesial untuk mu Lisa" Bisikan yang entah berasal dari mana hingga terngiang ditelinganya. Tapi ia abaikan semua itu..
"Hai, Aku Alisha, panggil saja Lisa..."
"Sri..."
Perkenalan singkat itupun terjalin. Hingga kelas MOPD tersebut dimulai.
Rangkaian kegiatan pun berjalan hingga Lisa didesak seorang guru seni musik untuk maju memimpin lagu di depan kelas.
"Pak, sungguh saya ga bisa..." rengeknya..
"Makanya kamu belajar sekarang.." bujuk sang Guru..
"Ta... Tapi Pak Saya belum pernah.."
"Dan ini kesempatan pertama mu. Ayo.."
Situasi kelas riuh mundukung sang guru hingga Lisa kalah telak, tak lagi melakukan perlawanan, dan bangkit untuk menunaikan mandat yang diterimanya.
Entah mengapa Lisa merasa tatapan pria SKSD itu begitu geli menatap ketidak berdayaannya menolak mandat itu. Dan itu sangat menyebalkan dimata Lisa.
Tidak, bukan tak bisa, ia hanya tak ingin dan tak suka menjadi point of interest. Kalaupun harus berkaitan dengan hal semacam itu, maka ia puas hanya menjadi bagian di belakang layar.
Karena di sekolah sebelumnya dia pun aktif di berbagai bidang organisasi eksrakulikuler, akademik dan lainnya.
Hanya saja ia akan segera menarik diri jika mulai berkaitan dengan segala macam publikasi, kesenangan masa remaja, terlebih lagi jika menjurus ke arah cinta.
Bukan tanpa sebab...
Tapi untuk saat ini biarkan saja dia menata hatinya terlebih dahulu. Hingga satu saat nanti dia sendiri yang akan berbagi semua itu dengan senyum yang tak pernah pudar.
***
Mario POV on
Hari pertama masuk sekolah huff...
Penuh dengan drama. Omelan dan siksaan Devan yang hampir buat kuping copot. Memaksa beranjak dari tidur nyenyakku.
Entahlah...
Orang bilang masa SMA adalah masa yang paling mengesankan.
Ah..., mungkinkah itu juga berlaku untuk ku, secara rasa malas ini bergelayut manja di pundakku.
Ku tarik kembali selimut tipis, saat samar- samar suara adzan subuh menyapa telingaku. Ku Acuhkan bunyi Alarm otomatis ku.
Hah..
Siapa lagi kalau bukan Bang Devan!
"Iya..! Iyaa..! Gua bangun...! Ck.. Hobi bener Lo nyiksa Gua Bang..!" protes ku. Saat Bang Devan menjewer telingaku.
"Heh Lo tu ya..! Ck kagak ada antusiasnya idup Lo..! Bangun Lo. Sholat..! Lagian hari ini Lo mulai sekolah..! Bangun kagak Lo!" Geramnya.
Wajar sih.., soalnya aku pura- pura gak denger omelannya dari tadi. Hehe...
Aktivitas pagi ku akhirnya selesai menjelang jam setengah tujuh pagi. Nyaris berangkat tanpa sarapan, kalo ja nyokap gak maksa.
---
Sempurna..
Bener- bener kesialan yang sempurna...
Males sekolah, di aniaya Devan, rebutan angkot sampe gelantungan mirip konektur, begitu turun dari angkot dihadapkan jaman mendaki menuju gerbang sekolah. Belum lagi atribut Ospek yang menyiksa ku. Dan yang paling menyakitkan gerbang sekolah sudah tertutup begitu ku tiba.
Ya.., upacara bendera sudah di mulai.
"Heh.. Kalian ini niat sekolah gak sih? Ck Anak baru, hari pertama masuk dah telat! Mo jadi apa kalian nanti!" Seorang guru lelaki dengan kulit eksotis idaman para bule yang menjaga gerbang menyapa kami begitu ramah. (sebaliknya ya.. Gak tega bilang garang macam Kak Ros-nya Upin Ipin.. Uups..)
Usai upacara kami yang terlambat di undang naik podium, layaknya artis terkenal, riuh suara penonton menyoraki kami.
Satu, dua, tiga dan entah berapa patah kalimat wejangan dari guru bagian kesiswaan menjadi sarapan pagi tambahan bagi kami hari ini. Yang pasti menambah debit peluh di dahiku.
Begitu wejangan itu berakhir, secepat kilat aku menuju kelas. Mood ku beneran ancur pagi ini. Huuufft...
Mata ku yang sedari tadi memantau kondisi kelas tertuju pada seorang gadis yang baru saja masuk kelas dengan senyum yang menurut ku...
Manis...?
Beberapa saat aku terpaku, hingga pendanganan kami bersibobrok, dan dia seolah buang muka dari ku..
"Oh My God... Ego ku terluka..." Otak ku memprovokasi..
"Eh tunggu Rio, sejak kapan lo peduli?" debat batinku..
"akh...!" Otak ku menggeram prustasi..
***
Aktivitas MOPD pun di mulai, rasa penasaran membuatku curi- curi pandang ke arah gadis jutek itu.
Gadis sederhana, bahkan tak tampil mencolok, cukup manis, meski dia sembunyikan semua kecantikan fisiknya dibalik seragam longgar panjangnya, dan... Dia pun berkerudung...
"Hei, apa- apaan ini Rio? Kemana arah pikiran lo?" lirih ku merngulas senyum penuh arti menatap gerak- geriknya.
Hingga dia tak bisa berkutik saat guru seni musik menyuruhnya memimpin lagu di depan kelas.
Aku tersenyum geli sendiri menyaksikan reaksinya yang tak berdaya menolak mandat itu, meski ia merengek tak mau, tapi Guru selalu punya jawaban tepat atas rengekannya itu. Hingga..., tatapan membunuhnya ku tanggkap saat pandangan kami kembali bersibobrok..
Bukannya takut, justru gue gemas menyaksikannya.
"Gadis aneh, dan... Menarik?" aku bingung dengan isi kepalaku sendiri saat ini...
"Geser...!" Pak Yusuf, guru seni musik itu mengintruksi ku.
"Heh... ngapain liatin Gue gitu?! Marah Lu!? Oww jangan- jangan cewek Lu ya..!" Tunjuk pak Yusuf ke arah cewek jutek itu.
'O My God... Apa lagi ini...? '
Mario POV end..
***
Sepulang dari sekolahnya Mario nampak selalu mengulum senyum. Kilasan peristiwa yang terjadi hari ini kian menggoda hatinya, memenuhi isi kepalanya.
Hari ini pun lain dari hari- hari sebelumnya. Tak ada lagi drama malas ke sekolahan. Sebaliknya Mario nampak tak sabar ingin segera sampai di sekolahnya..
"Napa Lu?" Tanya Devan yang merasa heran dengan kelakuan adik bungsunya.
"Rio.., makan yang tertib, hati - hati". mama memperingatkan, saat Mario tersedak, menyodorkah segelas air.
Rio tersenyum geli dengan tatapan heran mereka yang tertuju padanya.
"Tumben ga da drama pagi berjudul 'malas pergi sekolah'" goda Ayuna kakak perempuannya.
"Ada deh..." Rio mengedikn bahu, tersenyum penuh arti, asyik dengan segala pemikirannya sendiri.
"Masih pagi loh Yo, pelan- pelan makannya..." sang mama kembali mengingatkan..
Tak lama tuntas acara sarapan pagi Rio. Ia pun segera beranjak, mencium tangan mama dan kakaknya, tanpa menghiraukan kerutan di kening mereka yang penasaran dengan tingkah yang menurut mereka 'aneh' untuk seorang Mario yang tiba-tiba semangat pergi ke sekolah...
***
Rio bersenandung riang. Langkahnya pasti menuju tempat strategis menjemput pemandangan indah yang dia nantikannya..
Ya, kedatangan Alisha, gadis sederhana yang mampu mengalihkan dunianya..
Mario...
Ia hanya bagian dari remaja kebanyakan, bukan anak berandal, juga tak terlalu polos terhadap hal semacam itu.
Tapi untuk terlibat lebih jauh dalam kenakalan remaja? Bukan dia orangnya.
Ia sosok hangat yang supel, mudah bergaul, namun masih tau batasan dan tak suka menghakimi siapa pun. Itulah mengapa teman- temannya beragam.
Namun BIG NO untuk urusan cinta. Menurutnya itu mainan manusia dewasa. Entah apa yang difikirkannya.
Namun semua berubah sejak pertama kali bertemu Alisha. Semua pemikiran tentang cinta versi Mario Dewantara seolah luntur begitu saja.
Akhirnya yang dinantinya menampakkan diri. Gugup dan salah tingkah. Itu yang terjadi saat lagi dan lagi ia tertangkap basah Alisha yang menatap sekilas ke arahnya.
***
Mario POV on
"Issh.. Kenapa gue harus gugup sih...? Malu- maluin aja" rutukku sendiri saat beradu tatap sekilas dengan Alisha.
"Bodoh..., bodoh..., Mario bodoh..." aku terus merutuk diri. Menggaruk tengkuk yang sama sekali tak gatal..
Mario POV end
***
Alisha POV on
"Kenapa si SKSD itu?" aku mengerutkan kening heran dengan tingkah laki- laki SKSD itu, yang nampaknya salah tingkah.
"Ah masa bodoh". Ku lanjutkan langkah menuju kursi ku.
Tak sampai disitu rasa heranku..
"Loh.., si SKSD pindah alamat?" kembali mengernyitkan kening. Saat ku dapati tas si SKSD itu ada di samping meja ku dan Sri. Tepatnya di samping kanan ku.
Kegiatan MOPD hari ke dua pun dimulai. Entah hanya perasaan ku saja atau memang benar, serasa Si SKSD itu terus memperhatikan gerak gerik ku.
Terbukti saat aku salah dalam menafsirkan kalimat teka teki..
"Ayo silahkan simpan di atas meja Chiki Balls 2 Taro 1" arahan dari kakak kelas kami yang memandu proses pelaksanaan MOPD.
Sementara aku kebingungan saat hanya membawa 2 Chiki Balls saja.
"Mati aku.., sudah pasti dapat hukuman lagi..." keluhku, menepuk jidat..
Hingga tiba- tiba...
"ini.., sengaja bawa lebih..."
Beberapa saat aku membeku, antara heran, kaget dan senang solusi masalah ku terpecahkan. Karena sumpah demi apapun. Berdiri di depan kelas untuk hal- hal konyol dan jadi bulan- bulanan, sungguh sangat tidak ku sukai..
"hmmm.. Ini..." lanjut si SKSD. Menarik ku ke alam nyata.
"Setelah ini ku kembalikan..." jawab ku dengan ragu- ragu. Sungguh aku tak ingin berhutang.
"gak usah.. Sengaja bawa lebih ko.. " balasnya, menggelengkan kepala disertai senyuman khasnya.
"Ish kenapa aku ini. Biasa aja kali.." lirihku. Merutuki diri sendiri yang tiba- tiba gugup dan begitu mudah terima pertolongannya..
"Ayo ambil.." aku terhenyak kembali. Rupanya dia masih setia dengan uluran tangannya.
Tanpa mengulur waktu ku terima begutu saja, karena rombongan kakak kelas yang memeriksa tugas MOPD hampir sampai di dekat kami.
"Lusa sekolah kita akan mengadakan perkemahan selama tiga hari, dalam rangka Penutupan kegiatan MOPD. dan besok surat pemberitahuan kepada orang tua ini sudah harus terkumpul kembali. Di harapkan semua calon siswa dan siswi bisa mengikuti kegiatan tersebut" Jelas Sang Ketua OSIS yang sepertinya berkeliling ke setiap kelas untuk menyampaikan informasi ini.
Entah kenapa aku penasaran apa si SKSD juga ikut serta dalam kegiatan tersebut?
"Ish... Apa kamu ini Lisa..!?"
Alisa POV end
***
Hari ketiga MOPD...
Para calon siswa baru di sibukkan dengan segala persiapan perkemahan..
Mulai pembagian kelompok, peralatan regu dan lainnya.
"Hai Lis..., masuk ke sini kamu?"
"Eh hai Aldi.., iya. Kamu juga?"
"hmm..." gumam Aldi disertai anggukan dan senyuman.
"Ikut perkemahan besok?"
"In Syaa Allah Di.. Kamu?"
"Ok. Aku juga ikut. Eh Lis ditinggal dulu ya.." Aldi pamit dari hadapan Lisa.
Tanpa sengaja pandangan Lisa menangkap Mario yang sepertinya tengah memperhatikannya dengan sorot mata yang tak terbaca.
Tapi bukan Lisa namanya jika mau peduli hal itu, meski sekilas keningnya sempat berkerut.
***
Mario POV on
"Napa gue ini?! Gak rela Alisha akrab dengan cowok itu. Tahan Mario, tahan..." lirih ku geram melihat Alisha bercakap dengan pria lain.
Rasanya ingin ku tarik Alisha untuk putuskan interaksi itu sekarang juga. Tanpaku sadar tanganku mengepal membentuk tinju, hingga buku- bukunya memutih.
"lagi pula apa hak lo, Yo.. Sadar. Napa sih lo ini?".
Entahlah aku terganggu dengan kejadian tadi. Moodku tiba- tiba hancur. Semangat berada di tempat yang sama dengan Alisha luruh, mendapatkan kenyataan bahwa Alisha bisa berinteraksi seluwes itu dengan pria tegap tadi. Lain halnya jika terlibat obrolan denganku. Singkat, padat dan jelas.
Siapa pria tadi? Apa mungkin dia... Ahk... Berbagai pemikiran terlintas di kepalaku saat ini. Hingga...
"Hei Rio, Napa lo.. Bengong kek ayam kena cekak..?!"
"Sialan lu Ndra.." Maki ku. Andra tiba- tiba muncul. Menepuk keras bahuku.
"Napa sih lo? Kusut kaya cucian gak ke jemur. Di tinggal kawin gebetan?" cerocosnya dengan aliss berkedut. Ku hadiahi bogem yang sedari tadi membulat sempurna.
"Sotoy lu..!." aku beranjak menuju kelas. Meninggalkan hiruk pikuk yang belum kelar di lapangan. Dimana Alisha masih larut dengan aktivitasnya.
"Yaelah gito ja ngambek.. PMS lo?" Andra beranjak mengikuti langkah ku.
Aku hanya mendelik tajam ke arah Andra. Dan dia pun terbahak seolah faham kondisi ku yang tengah terbakar api cemburu..
"Dih galak bener lo. Kalo cinta mbok yo ngomong. Jangan terbakar sendirian. Mana do'i tahu derita apa yang lo alami bro.." Ujarnya mendramatisir.
Aku mendengus kasar.
Mengernyitkan dahi.
'Apa iya gue tampak seperti apa yang Andra bilang? Padahal gue ga cerita apapun pada siapapun'
"Ga sah heran Lo kulkas, tuh ada tulisan besar- besar di jidat lu 'MODUS CEMBURU' hahaha... Makanya gue tahu..." lagak Andra nunjuk jidatku.
"Apaan sih lu Ndra, bikin rusuh aja" kesal gue. Menepis dahi seolah coba menghapus tulisan seperti yang tadi Andra bilang.
"heh kulkas gue tau lu. Dan BTW, Ini tu bukan lu banget. Sejak kapan sih lu jadi BUCIN?" Buru Andra masih enggan menyerah..
"Sotoy lu kompor. Emang gue nampak gitu di mata lu?"
"OMG.. Lu boleh piter IPA, IPS, Matematika, Basket dan lainnya apapun itu. Tapi 1 yang ga lo sadari kalo lu itu ga pinter bohong. Dan reaksi macem lu ini..." Andra menjeda kalimatnya.
".. Terindikasi gejala BUCIN akut yang tengah terserang wabah JEALOUS.. Hahahaha... "lanjutnya.. Mengetuk- ngetukan telunjuk di keningnya, seolah sedang berfikir serius. Lantas terbahak menyebalkan..
"Udah deh lu nyerah ma gue, siapa sih cewek beruntung yang jadi cinta pertama lu itu?" lanjut si Andra S****n itu menggerak- gerakkan alisnya, makin memojokanku.
Ya Andra tahu sepak terjang ku selama ini. Dia temen ku dari kecil, sejak jaman ingusan. Meski 1 tahun di atas ku. Tapi kita sekolah di SD, SMP dan kini SMA yang sama. Ga ada alasan lagi aku menghindar dari desakan si k*****t satu ini.
Al hasil meluncurlah semua rahasia yang beberapa hari ini ku pendam tentang Alisha.
Tanpa ku duga si k*****t itu terbahak tanpa henti. Dan tak terlihat tanda akan berakhir dalam waktu cepat.
"nyebelin lu k*****t. Nyesel gue percaya sama lu...!" Geramku. Noyor kepalanya.
"hahahaha... Tunggu.. Tunggu... Hahahah... Gue kira... Tadinya lu tu... Lu tu kagak doyan cewek.. Hahahaha.. Tapi.. Tapi.. Hahaha..." ujar si k*****t masih asyik ngetawain.
Aku melengos, malas nanggapinnya..
"Tapi ternyata syukurlah dugaan gue salah.. Mmpptt" pungkasnya sambil menahan tawa. Berlaga sok bijak.
"Puas lu sekarang!!" acuhku.
"Hei.. Hei... Tenang brother.. Kalo mnurut gue ni ya... Menurut gue.. Ngomong deh lu ma dia, sebelum keduluan orang loh. Nyesel deh lu nanti". Saran dari si k*****t tu masuk akal juga.
'Tapi nyali gue belum nyampe situ..' lirih batinku
Mario POV end
***
Hari ini Alisha Sudah siap dengan segala keperluan perkemahan. Bahu rapuh itu berusaha kuat menopang semua beban yang ditanggungnya. Ia letakkan seluruh barang bawaannya, beserta barang lain milik regunya.
"Hai Sri, jadi ikut.."
"So pasti.."
"Mana yang lain?"
"Tu.. Mereka.." tunjuknya pada kerumunan riuh gadis- gadis..
Entah siapa yang di cari Alisha, karena ia masih mengedarkan pandangannya setelah itu.. Nampak sedikit raut muram kekecewaan..
***
Di lain tempat seorang anak muda yang kembali kehilangan semangat, karena efek kejadian kemarin, dengan malas mengemasi perlengkapannya. Otaknya berputar bekerja keras mencari beribu alasan agar tidak harus pergi menuju ke tempat yang selama ini paling tak ingin ia datangi. Sekolah.
Siapa lagi dia kalau bukan Mario Dewantara.
Dan sepertinya semesta mendukung keinginannya. Tiba- tiba saja Tante Emi muncul di depan pintu bersama seluruh anggota keluarganya..
"Surprise....!!" Teriak mereka kompak.
Mario pun tersenyum penuh arti. Seolah terbit lampu pijar menyala di atas kepalanya..
Padahal hatinya tak bisa dibohongi bahwa ia teramat sangat rindu pada gadis berkerudung putih itu. Alishanya?
Ah, bisakah Rio mengklaim "Alishanya?"
'Whatever... Biarkan gue merdeka untuk saat ini' gumam Rio.
***
Alisha POV on
"Astagfirullah.. Apa yang kamu lakukan Lisa...?" lirih batinku saat menyadari tingkah konyolku. Mencari- cari sosok Si SKSD yang bahkan aku belum tahu jelas siapa namanya.
Entah mengapa aku seperti kehilangan. Pikiran ku berkecamuk tentang sesuatu yang bahkan aku sendiri pun tak mengerti.
"Ah.., apa lagi itu Lisa..?"
Tapi seolah mata ini tak mau berhenti untuk memastikan dimana dia.
Hingga tiba saatnya keberangkatan ke lokasi perkemahan. Aku harus menelan pil kekecewaan, karena tak berhasil menemukannya.
"Ish Lisa, berhenti berfikir tentang dia" ku tepuk dahiku seolah bisa rontokkan seketika isi kepala ku tentang si SKSD itu.
Lisa POV end
***
Mario POV on
Sebenarnya aku sangat rindu padanya. Tapi segala pemikiran tentang apa mungkin dia sudah memiliki kekasih, membuatku mati kutu. Mengingat dia seperti menutup diri dari interaksi dengan lawan jenis.
Rasanya aku gak kan sanggup menerima kenyataan bahwa gadis pertama yang berhasil menarik perhatian ku itu, gak akan pernah bisaku menangkan.
So, daripada aku kecewa nanti. Lebih baik sekarang mundur dengan teratur.
Mario POV end
***
"Ok, Alhamdulillah kita telah sampai di lokasi perkemahan. Dan untuk sekarang kakak beri waktu 1 jam untuk mulai mendirikan tenda. Setelah itu, semua ketua regu di tunggu di pos utama, untuk pengarahan selanjutnya". Ujar Randi si ketua OSIS.
Seluruh peserta perkemahan mulai sibuk dengan aktivitas mendirikan tenda. Begitupun Lisa sebagai ketua regu. Ini bukan hal baru baginya. Tapi ia tetap tak ingin menonjolkan diri. Dia lebih senang bekerja dalam diam.
"Wah hebat kelompok ini. Dah hampir selesai tendanya.. Siapa ketuanya...? Hebat.. " ujar ketua OSIS yang sedang memantau jalannya kegiatan. Berdecak kagum.
"Alisha Kak..." jawab mereka kompak.
"O.. Pantas saja..." sahut Randi, si KETOS. Seraya melirik ke arah Lisa. Mengundang berbagai macam spekulasi di masing- masing kepala mereka yang berada di sana. Lantas berlalu.
"Lo kenal KETOS Lis?" Tanya Ranti..
"Ga tau.." jawab Lisa singkat.
"Naksir Lo kali...?" goda Nadin. Di amini yang lainnya.
"Apaan sih kalian..?" Lisa terhenyak dengan dugaan teman - temannya.
Pura-pura acuh. Mengalihkan rasa gugup dengan kembali fokus dengan apa yang dilakukannya.
"Cie... Cie... Witwiw..." goda Hani memancing tawa regu edelweis. Tentu saja itu regu Lisa.
"Sudah, sudah ayo balik kerja kasian tuh, mukanya Lisa merah banget tau.." rerai Laras.
***
Seusai solat Ashar seluruh peserta berkumpul di tengah area perkemahan. Berbaris berkelompok sesuai regu masing- masing. Berbagai acara berlangsung. Dari pembukaan, materi hingga game pun terlaksana.
Menjelang magrib mereka kembali istirahat. Alisha dan beberapa orang dari regunya memutuskan pergi ke toilet.
"Hai Lisa.." Suara yang Lisa kenal, mengintruksi langkahnya.
"Eh Galih.." sapa Lisa yang memang mengenal Galih, karena teman sekelasnya waktu kelas 1 SMP.
"Ada yang titip salam buat Lo tuh.." bisiknya, sambil menuding ke arah belakang, dimana berdiri salah seorang temannya.
Lisa hanya tersenyum simpul.
"Dah gue sampein Lan.." teriak Galih begitu Lisa berlalu.
"Tenang aja dia orangnya baik ko. Gak pernah gue denger Lisa jalan ma cowok selama gue kenal dia" restoris Galih..
"Hei Alan, Galih mo kemana Lo. Masa Lo pada mo ngikutin ampe ke toilet cewek?" panggil teman Galih yang lain. Yang tentu saja masih bisa Lisa dengar.
"Da pa Lis..?" Tanya Sri.
Lisa menggedikan bahu acuh.
***
Alisha POV on
Malam makin beranjak pekat. Udara dingin makin menusuk, serasa menembus tulangku.
Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan hari ini selesai.
Lelah sekali rasanya tubuh ku..
"Misi, ada yang pernah aktif PMR di SMPnya di regu ini?" suara dari luar tenda menghentikan laju kepalaku yang hendak berlabuh berbantalkan tas yang ku kondisikan sebagai bantal.
Buru- buru ku raih kembali kerudung yang sempat ku lepas sebelum hampir berbaring.
"Saya Kak.." sahut ku. Segera keluar tenda.
"Ayo Lisa.." ajak Kakak kelas kami itu.
Begitu sampai di pos kesehatan, ku dapati banyak peserta yang tumbang.
Aku segera larut dalam aktivitas di pos kesehatan yang ternyata mereka membutuhkan tenaga tambahan. Sehingga mendatangi tenda peserta mencari bantuan.
Tak lama pekerjaan usai. Yang tersisa di pos kesehatan hanya mereka yang benar- benar butuh pengawasan saja.
"Lis kamu boleh kembali ke regu. BTW makasih dah bantu ya..." ucap Randi si KETOS yang ternyata juga ada di tempat itu.
Aku hanya menggangguk dengan seulas senyum.
"Lis, gimana kata Alan?" tiba- tiba Galih berjalan di samping ku.
"Apanya?" tanyaku tak paham.
"Salamnya..."
"Wa'alaikum salam.." jawabku.
"Jadi..?" kejar Galih tak puas dengan jawabanku. Yang ku tahu ke arah mana tujuannya.
"Masuk dulu ya Lih. Dah malem. Ga enak dilihat orang.." Elak ku. Melarikan diri.
Masih bisa ku lihat raut Galih yang menuntut jawaban. Tapi bukan aku namanya jika mau peduli dengan hal tersebut.
***
Tiba- tiba terlintas wajah si SKSD saat ku coba pejamkan mata.
"Astagfirullah..." lirihku..
"Aku ga mau semua terulang sama Ya Rabb... Cukup..." lirihku membuang napas kasar, berharap bisa kurangi sesak di dadaku.
Alisha POV end
***
"Kenapa gue ni..?
Sedahsyat itukah seorang Alisha sampai buat kasur empuk gue seperti serasa hamparan paku?" geram Mario prustasi, berguling- guling tak jelas di tempat tidurnya.
Jangan dikira dia "Merdeka" seperti yang diinginkannya. Nyatanya ia menyesal. Hingga jadi bahan bulan- bulanan Andra selepas Shalat Isya di masjid komplek.
***
Mario POV on
"Puas lo ngetawain gue?" cecar ku, saat Andra terbahak di atas derita sesal ku.
"Ck cemen Lu Rio. Gue bilang ngomong, ya ngomong.. Biar semua jelas dan Lo ga terjebak di ruang pikir Lu sendiri.. Payah...!" lanjut Andra begitu bisa menguasai dirinya.
"Nyali gue lom sampe ke situ Ndra..."
"Payah Lu.. Badan doang yang gede, nyali Lu cemen". Ejek Andra
"Lu ga ngerti Ndra. Gue tu speckles kalo dah di depan dia".
"Hebat bener tu cewek. Bikin kulkas kalangkabut ga jelas gini"
"Apa kata Lu ja Ndra. Pusing gue..." Beranjak pulang meninggalkan Andra.
Dan disinilah aku sekarang. Tempat ternyaman yang sekarang tak mampu nina bobokanku seperti biasa.
Mario POV end
***
Rangkaian acara perkemahan telah selesai hingga tiba di penghujung acara. Mereka telah sah jadi siswa SMA. Berganti kostum dan menuju fase baru, Fase Awal Kedewasaan.
Dalam perjalanan pulang dari lokasi perkemahan tanpa diduga Alisha duduk bersebelahan dengan Aldiano. Ya, benar. Aldi yang membuat Mario kalangkabut terbakar cemburu tempo hari.
Alisha POV on
"Akhirnya usai juga" ku hembuskan napas lega.
Dalam perjalanan pulang dari lokasi perkemahan tanpa ku duga ternyata duduk bersebelahan dengan Aldiano.
"Hei Sa.."
"Hei Di..."
"Gimana lancar aktivitasnya?".
"Alhamdulillah Di. Kamu?"
"Alhamdulillah lancar juga"
"Gimana masih mo nerusin aktif PMR Di?"
"Belum tahu Sa. Lihat ja nanti"
"Secara Pak Ketu gitu loh..."
"Hahahaha..., kamu ni Lisa.., Lisa.. Masih dibawa ja gelar tu.." Sekilas Aldiano tertawa.
'Si pria irit ekspresi itu tertawa?'
'Ya Rabb, apa dia orangnya yang Engkau hadirkan dalam mimpiku tempo hari sebagai jawaban tanyaku?'.
"Lis.. Lisa.." Aldi kembali buat ku sadar.
"Ah ya Di, ada apa?".
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Eng, enggak kok Di. Memang aku kenapa?"
"Dari tadi tu, aku tanya kamu pulang ke mana? Kalo gak keberatan kita barengan. Kan lumayan banyak juga barang bawaan kamu.." jelas Aldiano.
"Ah ya.. Ehmm Mak.., Maksudku, aku pulang ke tempat bapak. Ga jauh ko tempatnya dari sekolah.." ujarku sedikit gugup, karena tertangkap basah melamun.
"Hmm oke kalo gitu. Da no telpon?.. Ehmm.., takutnya da sesuatu yang penting, jadi aku bisa ngubungi". Tanya Aldi nampak ragu. Mungkin dia tahu Aku yang selalu menghindar untuk hal diluar bahasan umum.
"Ada". Jawaban singkat ku membuat Aldiano hembuskan napas lega.
Ku sodorkan secarik kertas bernomor pada Aldiano.
'Apakah ini artinya Engkau jawab kegundahan hatiku Ya Rabb?, Apa ini bisa disebut sisi hangat dari Aldiano si irit ekspresi? Ah entahlah, apapun itu' .
"Di kamu sakit? Muka kamu pucat loh.."
"Mungkin masuk angin dikit".
"Mau obat, kayu putih atau.."
"Ga perlu, istirahat bentar juga sembuh Lis" sembari merebahkan sedikit rubuhnya. Bersiap memejamkan mata.
Sekilas ku tatap wajah terpejamnya. Coba yakinkan sekali lagi. Ku cocokan rasa saat dalam mimpiku seusai istikharoh tempo hari.
Tapi hambar. Aku tak temukan clue-nya. Meski sekilas nampak seperti wajah Aldiano.
Alisha pov end
***
Mario POV on
Apa kabar gadis pencuri hatiku. ..
Andai saja kamu tahu sulitnya hari yang ku lalui tanpamu...
Ya Rabb...
Semudah itukah aku menyukai seorang Alisha...
Mengapa?
Seolah dia magnet yang kian menarikku ke arahnya.
Meski pikiran tentang kemungkinan dia yang sudah tak sendiri sempat membuat ku hampir urungkan niat untuk menyukainya. Tapi dorongan itu begitu kuat.
Sudah ku putuskan untuk berdamai dengan diriku sendiri. Biarkan Engkau yang bertindak dengan cara-Mu melalui pelantara waktu yang akan menjawab semuanya.
Biarkan semua mengalir seperti air sungai, yang menemukan muaranya. Karena ku yakin rasa ini tak akan pernah salah menemukan pemiliknya.
Rasa ingin melindunginya, sekalipun itu tidak mungkin untuk memilikinya.
Rasa ingin menjadi teduhnya, saat terik menggarang hari.
Rasa ingin menjadi hangatnya, ketika dingin menyiksa bumi.
Rasa yang lebih dari sekedar memiliki, karena memastikan kebahagiaannya saja itu cukup membuatku merasa sempurna.
Tak mengapa, batinku cukup puas bisa mengaguminya. Kagum dengan apa yang dimilikinya. Sungguh dia berbeda, tak pernah bertingkah menarik perhatian siapapun, tapi justru itu yang membuat ku tertarik.
Sikap natural yang tak di buat- buat, wajah polos tanpa polesan berlebih, pembawaannya yang cenderung tenang, justru itu yang membuatku berdebar.
Apakah itu yang di sebut cinta?
Entahlah...
Bagiku pernah mengenal dan mengagumi sosoknya saja sudah cukup menjadi sejarah manis dalam hidup ku..
Jika memang itu Cinta...
Maka biarkan aku mencintainya dengan caraku sendiri..
Mario POV end
***