Meskipun tak ada perubahan kelas, tapi ternyata formasi letak kelas berubah. Sehingga beberapa siswa tampak masuk ke kelas yang salah. Termasuk Alisha..
"Hei Lisa, di sini..!" Teriak Sri. Menghentikan langkah Lisa yang hampir masuk dikelas yang kemarin digunakannya semasa MOPD.
"Sini duduk sebelah ku". Tunjuk Sri lagi. Begitu Lisa menapaki kelas barunya.
Lisa mengangguk dan tersenyum.
"Gimana kabarnya sepulang kemah kemarin Sri?" Lisa membuka pembicaraan..
"Aduh, sumpah I'm very very tired Lis.. Sampe rumah langsung tidur. Gak ngapa- ngapain lagi".
"Hehehehe... Sama Sri..".
Obrolan ringan itu pun terhenti saat bel masuk berdering. Tak lama Wali kelas mereka pun datang. Memberi beberapa arahan untuk kelancaran proses belajar mengajar.
Tanpa Lisa sadari ada sepasang mata yang menatapnya penuh kerinduan sejak tadi.
Merasa diperhatikan, Lisa menoleh. Mendapati si SKSD menatap dengan sorot yang sulit diartikan. Dahi Lisa berkerut tanda heran. Tapi di sisi lain hatinya merasa lega. Entahlah apa itu. Lisa tak ingin simpulkan apa pun.
Lisa kembali fokus pada penjelasan wali kelas yang bernama Ibu Sri. Seulas senyum ia lempar pada sahabatnya itu, yang di balas delikan jengah.
"Kenapa namanya harus sama sih? Menyebalkan!" bisik Sri yang hanya bisa Lisa dengar. Lisa pun terkekeh geli dengan tingkah sahabatnya itu.
***
Mario POV on
Hari ini aku bergegas. Semangat ku kembali untuk menuju sekolah. Ternyata lega rasanya setelah berdamai dengan diri sendiri. Lebih tepatnya dengan egoku sendiri.
Aku merasa lebih siap menghadapi kenyataan apapun yang akan terjadi nanti.
Ternyata ada perubahan formasi kelas. Dan segera ku pastikan bahwa aku dan Lisa berada di kelas yang sama.
Aku mendesah lega setelahnya.
Begitu tiba di ruang kelas, Aku letakan tas di meja tengah paling depan, setelah ku lirik tas Sri, Sahabat Lisa di meja sebelah. Aku yakin pasti Lisa duduk di sebelahnya.
Ah.. Sebaiknya aku standby di depan kelas untuk pastikan Lisa tak salah masuk kelas. Dan benar saja, dia hampir masuk ke dalam kelas tempat kami MOPD kemarin. Aku hampir berseru, hingga teriakan Sri terdengar, memanggil Lisa, secara otomatis mengurungkan niat awal ku. Lisa pun menggangguk faham.
Setelah memastikan Lisa aman terkendali, aku beranjak masuk kelas, meninggalkan Ferdi yang sempat menemaniku tadi di teras kelas.
Dan benar apa dugaan ku. Lisa menempati kursi sebelah Sri. Kami pun duduk bersebelahan. Dalam diam ku perhatikan interaksi Alisha dengan Sri. Hingga Wali kelas kami tiba. Tapi itu tak menghentikan ku curi- curi pandang ke arah Lisa.
Tampangnya yang serius. Buat ku gemas, tanpa sadar menerbitkan seulas senyum tipis di bibirku.
Sepertinya dia mulai sadar ku perhatikan. Tiba- tiba ia melirik ke arah ku. Ku sambut dengan senyuman termanis. Eh ternyata dia malah merespon dengan raut datarnya, dan kembali fokus dengan penjelasan Wali kelas.
"Huhff..." Ku hela nafas panjang...
Baru kali ini aku bertemu gadis aneh macam dia. Dimana rata- rata gadis seusianya berebut perhatian lawan jenis dan dia selurus itu...?
Ternyata perkiraan ku yang pernah menganggap bahwa gadis macam itu punah meleset. Dan fakta itu terbukti dengan adanya Alisha Shanum. Gadis aneh yang mampu menarik perhatian ku dan runtuhkan segala pemikiran ku dalam sekejap.
Pikiran ku melayang kemana- mana, padahal di depan kelas Wali Kelas kami sedang memberi pengarahan.
Ternyata dia manis sekali saat tersenyum...
Dan sepertinya senyumnya itu keajaiban dunia yang tak semua orang bisa dapatkan...
Entah apa yang diperbincangkannya dengan Sri hingga saat ini dia seperti menahan tawa.
"Hei giliran Lo bro..." Ferdinand menyenggol lenganku..
Aku berlagak pilon, karena tanpa sadar terlewat satu informasi. Hehe...
"Perkenalkan diri Lo bro, Waka mo tau nama kita.." bisik Ferdinand.
"Nama saya Mario.." aku gerak cepat begitu dapat bisikan Ferdinand.
Astagfirullah Rio, Mario.. Hampir saja...
Dalam hatiku terkikik geli mengingat kelakuan ku sedari tadi..
Mario POV end
"Oh ternyata namanya Mario..." gumam Alisha .
***
Hari berganti hari, minggu bergulir menjadi bulan...
Mario mulai memberanikan diri menyambangi meja Lisa, entah itu bertanya seputar materi pelajaran, atau hanya sekedar nangkring.
"Lis, Kenapa ga ke kantin?" Tanya Mario..
"Ga Laper. Kamu sendiri?" Tetap fokus pada bukunya.
"Lagi M.." bisik Mario.
Kening Lisa berkerut..
"Males.." sambung Mario paham dengan reaksi Lisa..
Dari arah belakang terdengar nada nada sumbang menggoda kedekatan Lisa dan Mario. Tapi Lisa tak ambil pusing.
Berbanding terbalik dengan Mario. Ia tampak sangat menikmati back sound tersebut.
Hingga tiba- tiba Aldiano mengetuk pintu dan melambai ke arah Lisa.
Lisa faham dan beranjak menuju Aldi.
"Ada apa Di" begitu sampai di depan Aldi.
"Melin kabarnya sakit, katanya sih lumayan parah sampai harus bed rest segala" jelas Aldiano.
"di rawat?"
"kata temen- temen yang satu sekolah dia sih..., dah balik ke rumahnya sekarang. Aku dan Teguh rencana mau nengok. Kamu mau ikut sekalian?"
"Ok, aku ikut Di. Kapan?"
"Sepulang sekolah ku tunggu di gerbang utama ya..." Alisha pun mengangguk.
***
Mario POV on
Setelah kelas berakhir, Lisa bergegas bereskan barang- barangnya.
Ku perhatikan dari jarak aman. Dan, ternyata benar. Pria yang tadi di panggil Lisa dengan sebutan "Di" itu menunggunya di gerbang utama.
Aku hampir kembali terjebak dalam kubangan cemburu. Tapi ku sugestikan pada diri sendiri.
"Sadar Yo, bukankah Lo mo cintai Alisha dengan cara istimewa Lo itu?"
Mario POV end
***
Alisha POV on
Setelah kelas berakhir, Aku bergegas bereskan barang- barang. Tanpa buang waktu segera menuju tempat yang tadi Aldi katakan.
"Hai Lis, jadi? Sekarang?"
Aku mengangguk. Melangkah di belakang Aldi. Membiarkan Aldi dan Teguh berjalan di depan. Mereka asyik dengan bahasanya.
"Jadi kapan Lo mo ngomong ke Melin tentang perasaan Lo itu?" Tanya Teguh..
Deg...
Dadaku tiba- tiba sesak seperti terhimpit beban ribuan ton.
"Memang Lo gak marah Guh?" sahut Aldi, balik bertanya.
"Gue sih terserah Melinnya aja. Lagian, gue dah putus ma Melin.."
Aldiano mengangguk. Seolah tengah mengatur strategi di otaknya.
'Ya Rabb, apa yang baru saja ku dengar ini?
Apa benar dia, Aldiano yang Engkau takdirkan jadi penyembuh luka ku?
Melin sahabat ku, tak mungkin aku sanggup bersaing dengannya.
Biarlah, lagi- lagi aku yang akan mengalah..'
***
"Kenapa sebenarnya Melin Mah?" Tanyaku pada mamanya Melin.
"Kata dokter kecapean, dan gejala demam berdarah. gak apa- apa kok. Semua dah teratasi dan istirahat beberapa hari lagi juga In Syaa Allah pulih.." Jelas beliau.
"Ya Rabb.., Mey... Cepet sembuh ya.." ujarku. Mengelus lengan Melin yang masih nampak lesu itu.
"Gak papa aku Lis, tenang aja. Ni lihat masih kuat kan..?" kelakar Melin berlaga seperti binaraga yang memamerkan ototnya.
Aku berdecak, menyaksikan kelakuan sahabat ku ini.
"Eh, BTW makasih dah nyempetin nengok ya.." ujar Melin.
Alisha POV end
***
Mario POV on
Pagi ini seluruh siswa kelas X-6 sibuk mempersiapkan kuis, tak terkecuali Aku dan Lisa.
Lisa tengah asyik dengan bukunya, saat tiba- tiba Taufik mendekat.
"Eh Lis, siapa yang kemarin?"
Lisa mengernyitkan dahi.
"Maksudnya?"
"Itu yang kemarin manggil Lo waktu Lagi sama Mario".
"O..., Aldi..., Aldiano namanya, tuh anak kelas X-2.." papar Lisa sembari menunjuk lokasi kelas X-2.
"Cowok Lo?" kejar Taufik..
"Hah...?"
"...Habisnya Gue lihat Lo akrab banget sama tu Cowok..".
"O..., dia tu temen SMP gue, kami satu organisasi yang sama, and dia ketuanya. Makanya kami akrab" Jelas Lisa.
"Gak da niatnya gitu jadian kedepannya?" kejar Taufik lagi.
Lisa tersenyum simpul.
Meski nampak kurang nyaman dengan pertanyaan Taufik, tapi dia berusaha tenang. Sekilas pandangannya tertuju ke arah ku. Apa dia tahu kalau sedari tadi aku mencuri dengar obrolannya dengan Taufik? Ah masa bodoh..
"Aldi, bukan Cowo gue, kami teman, dan selamanya akan menjadi teman. Tak akan lebih dari itu..." kalimat itu meluncur bebas begitu saja dari mulut Lisa.
Lega rasanya dadaku saat mendengar klasifikasi Lisa. Sampai rasanya aku ingin melompat setinggi langit.
"Tu. Lo denger Yo. Masih da kesempatan buat Lo?" kalimat terakhir Taufik sebelum kemudian beranjak, menepuk pundak ku yang duduk di sampingnya. Menerbitkan kerut di kening Lisa.
Lagian apa lagi maksudnya Si Taufik, beri kesan seolah aku yang nyuruh dia wawancara Lisa.
Tapi tak apalah, biar nanti ku traktir Taufik, sebagai apresiasi atas kreatifitasnya jadi wartawan amatir..
Hehe...
Mario POV end
***
Sejak mendengar obrolan Teguh dan Aldiano tempo hari, Lisa sudah bertekad lupakan tentang jawaban istikharohnya tempo hari. Alisha tak ingin semakin jauh berharap, tentunya pada sesuatu hal yang tidak pasti.
Tanpa Alisha sadari, Mario kian mendekat, kehadirannya mulai memberi warna baru. Pertengkaran kecil, keusilan Mario dan lainnya warnai interaksi mereka.
Segala hal tentang dirinya, Mario bagi pada Lisa, tanpa diminta. Membuat Alisha terkadang merasa aneh dengan maksud di balik sikap Mario itu. Apa Mario se-oven bar ini pada semua orang. Tapi biarlah, kali ini Lisa jadi pendengar yang baik saja.
***
Alisha POV on
"Lis..., masih ingat Anton?" teguh tiba- tiba mengintrupsi aktivitas ku dan Mario.
Seolah baru saja terkena tembak peluru nyasar. Aku serta merta mematung, menghentikan aktivitas, fokusku tiba- tiba hilang, dadaku begitu sakit, emosi ku yang biasa datar kini terasa menyeruak dari lapisan paling dalam pertahanan diriku. Kilasan itu kembali berputar di benakku.
"Lis..., Anton titip salam buat Lo.. Kemarin kita ketemu gak sengaja waktu jum'atan di mesjid agung.." papar Teguh dengan wajah tanpa dosanya...
Mario sepertinya menyadari perubahan iklim memilih undur diri perlahan kembali ke mejanya.
Sementara Teguh menempati posisi yang Mario tinggalkan.
"Menurut kabar yang pernah gue denger, kalian sempat jadian ya...?" tanya Teguh sungguh sangat tidak peka..
Ku paksakan senyum tipis. Menekan sesak di d**a. Tanpa ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Tapi gue denger juga dia cowoknya Putri..? Yang mana yang bener sih?.." lanjut Teguh, si cowok tak peka itu.
Rasanya magma yang selama ini ku pendam nyaris meledak..
Untung saja Teguh segera menyingkir, karena ada yang berteriak, Pak Yusuf tengah menuju kelas.
Braaakkkk..
Ku salurkan emosi yang selama ini ku pendam pada meja di depanku. Hingga Sri yang hampir saja duduk tersentak kaget..
"Hei what happened guys? I don't care who is he.. Anton, Arnold atau siapapun.. Gue lebih seneng kalo liat Lo sama Mario..
Lo bisa senyum kalo sama Mario, gak kaya Lo yang sekarang ini, bahkan cuma karena denger namanya di sebut aja. Sampe lukain diri sendiri..
Dah lupain si b******k itu, meski gue ga tau apa yang terjadi, tapi gue lebih setuju Lo ama Mario" cerocos Sri. Tiba- tiba. Sepertinya dia mengikuti pembicaraan Teguh.
Aku hanya membisu. Mendengar penuturan Sri.
Ku lirik sekilas ke arah Mario. Dia nampak termenung. Entah apa yang dia pikirkan, tampilkan senyum khasnya saat tatapan kami bersibobrok.
Ku tarik tatapan ku, meratapi ke tidak mampuanku kuasai emosi, hingga akibatkan layar jam di pergelangan tanganku remuk redam. Namun tak cukup gambarkan betapa sakit dan hancurnya aku karena Anton.
Benar apa yang Sri katakan. Tapi rasa kecewa dan sakit yang ditorehkannya itu masih terasa begitu nyata di dadaku. Dan setiap kali aku berusaha untuk ikhlas, dan disaat aku memilih jalan sendiri, melangkah ke arah yang berlawanan dengannya, seenak jidat dia hadir tanpa di undang. Apa maksudnya? Apa maunya? Kemana saja dia dari dulu?
Dan tentang Mario, entahlah apa maksud Sri. Kami hanya teman, aku hanya merasa nyaman. Karena dia sopan. Menghargai ku, tak seperti kebanyakan pria yang selama ini berusaha dekat dengan ku.
Alisha POV end
***
Mario POV on...
"Lis..., masih ingat Anton?" teguh tiba- tiba mengintrupsi aktivitas ku dan Lisa.
Seolah baru saja terkena tembak peluru nyasar. Lisa serta merta mematung, menghentikan aktivitas, fokusnya tiba- tiba hilang, pena yang semenjak tadi di pegangnya tiba- tiba terjatuh begitu saja. dadaku begitu sakit mendapati hal itu. Alisha ku yang mulai bisa lebih sering tersenyum, tiba- tiba menjadi patung hidup lagi. Tanpa ekspresi... Wajahnya merah padam, namun kali ini bukan tersipu karena kalimat candaan recehku, melainkan karena kemarahan yang sepertinya memuncak.
"Lis..., Anton titip salam buat Lo.. Kemarin kita ketemu gak sengaja waktu jum'atan di mesjid agung.." lanjut Teguh dengan wajah tanpa dosanya...
Aku menyadari sepenuhnya perubahan iklim tersebut memilih undur diri perlahan kembali ke mejaku. Memberikan ruang dan waktu untuk mereka. Sembari menajamkan pendengarannya. Seperti biasa. Mempelajari dan mencari jawaban atas pertanyaan- pertanyaan ku tentang Alisha Shanum. Terlebih setelah perubahan raut Lisa. Hati kecilku tak tega, namun Aku tak bisa hentikan itu.
Sementara Teguh menempati posisi yang ku tinggalkan.
"Menurut kabar yang pernah gue denger, kalian sempat jadian ya...?" tanya Teguh sungguh sangat tidak peka..
Lisa hanya memaksakan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
"Tapi gue denger juga dia cowoknya Putri..? Yang mana yang bener sih?.." lanjut Teguh, si cowok tak peka itu.
Rasanya ingin sekali ku tarik dan hajar si cowok tak peka itu. Yang menyebabkan Alisha seperti ini. Untung saja Teguh segera menyingkir, karena ada yang berteriak, Pak Yusuf tengah menuju kelas.
Braaakkkk..
Lisa menyalurkan emosinya pada meja di depannya. Hingga Sri yang hampir saja duduk tersentak kaget, begitupun dengan ku.
"Hei what happened guys? I don't care who is he.. Anton, Arnold.. Atau siapa pun, Gue lebih seneng kalo liat Lo sama Mario..
Lo bisa senyum kalo sama Mario, gak kaya Lo yang sekarang ini, bahkan cuma karena denger namanya di sebut aja. Sampe lukain diri sendiri..
Dah lupain si b******k itu, meski gue ga tau apa yang terjadi, tapi gue lebih setuju Lo ama Mario" cerocos Sri. Yang sepertinya mengamati sejak Teguh membawa kabar tadi.
Sungguh hati ku sakit menyaksikan pemandangan tersebut. Dan menerka- nerka.
"Apa ini sebabnya, Alisha begitu menutup diri?".
"Apa yang dilakukan Anton hingga Lisa seperti ini?"
"Seperti apa tampang pria b******k itu?"
"Aahk... Whatever.. Semoga aja aku jadi takdir sembuhkan lukanya..."
Tak ku pungkiri, hatiku memanas mendapati fakta Alisha memang masih memiliki perasaan yang dalam pada pria b******k bernama Anton itu. Dan itu nampak sangat jelas dari rautnya, tergambar rasa sakit yang mendalam.
Jujur aku iri dan marah dengan si b******k Anton itu. Iri karena dia cukup beruntung bisa mendapatkan hati Lisa, sekaligus marah karena si b******k itu tak pandai menjaga dan hargai hati yang begitu rapuh milik Alisha.
Bahkan Alisha masih nampak murung hingga jam pelajaran usai hari ini.
"Lis pulang bareng?" tanyaku beranikan diri. Sungguh aku takut terjadi hal buruk dengan kondisinya yang kalut seperti ini.
"Lis.., ehm.. Sekalian mo minta anter sih, ada yang mo gue beli di toko buku.." bohongku, karena hanyalah kebisuan yang ku dapat dari Lisa.
"Ya bener Lis, kamu bareng Mario ja. Sejalur kan sama toko buku itu..?" tutur Sri.
Anggukan kecil pun nampak. Meski tanpa kata, namun cukup buat ku lega. Setidaknya bisa ku pastikan Lisa aman bersama ku hingga tiba di rumahnya.
Keheningan sepanjang perjalanan kami, hingga aku berinisiatif masuk ke salah satu food counter.
"Lis, kita makan dulu.." ajak ku. Tak ingin dibantah.
Keheningan masih menemani kami. Dan Ku lihat Lisa sedikit mempercepat makannya, lantas beranjak, aku paham itu.
"No.. Aku yang bayar". Ku cekal lengan yang hampir beranjak itu.
Lisa hanya hembuskan napas berat, lantas kembali duduk.
"Anggap ja, ucapan terima kasih, karena dah di anter" lanjut ku. Mengerlingkan mata sedikit menggodanya.
Lagi- lagi hanya anggukan pelan, namun kali ini dengan senyuman tipisnya.
Mario POV end
***