Waktu terus bergulir, membawa langkah- langkah kecil itu merajut cita. Meninggalkan goresan- goresan luka, dan memang harus segera ditinggalkan. Tak ada gunanya ratapi semua itu. Karena hidup harus terus berjalan maju, waktu pun enggan bernegosiasi untuk diajak berjalan mundur walaupun hanya sepersekian detik.
***
Mereka mulai tertarik dengan beberapa organisasi ektrakulikuler di sekolah. Menyibukan diri dengan segala aktivitas. Mempersempit ruang pikir untuk diisi hal konyol yang tak ada berguna. Menutup lembaran kelabu, dan mengukir sejarah yang baru.
"Kamu pilih organisasi pa Sri?"
"Kayanya yang komputer itu aja deh. Biar bisa selalu deket sama Kak Dean.." jawab Sri Lebay.
"Cckk.. Kamu ini.." Lisa berdecak
"Kalo kamu?"
"Kayanya PMR, PASKIBRA, dan komputer club"
"Banyak bangeeeettt..."
"Ya lihat- lihat ja dulu. Nanti di sesuaikan mana yang lebih baik".
"kalo kamu Rio?" tanya Sri pada Mario yang tiba- tiba mendekati meja Lisa, seperti biasa.
"Ada deh.., mo tau aja ato mo tau banget?" Candaan receh Mario. Buat kedua gadis itu mendengus kesal.
"Up to you...! Ga penting juga. Siapa elo...!?" balas Sri jengah.
Itulah cara mereka menjalin komunikasi. Nampak sangat menyebalkan. Terlebih ke konyolan banyolan- banyolan Mario.
Disadari atau tidak, sedikit banyak, itu jadi hiburan tersendiri bagi Alisha.
***
Ternyata Mario pun ada hampir di setiap eksklul yang Alisha pilih. Begitu pula dengan Ferdi, sahabat Mario.
Berbeda dengan Aldiano, ia hanya ambil satu ekskul saja. Dan itu PMR.
Di sinilah Alisha bertemu dengan lebih banyak teman yang tentunya lebih fokus dalam hal keorganisasian. Dan itu lebih membuatnya nyaman.
"O..., dari kelas yang sama toh...?" goda salah satu dari mereka, saat mendapati interaksi antara Mario dan Lisa. Mereka tak percaya bila tak ada apa- apa di antara dua anak manusia ini.
Kemistri yang mereka bilang, dan entah apa lagi. Namun seperti biasa Alisha Shanum hanya mengacuhkan semua itu.
Ferdinand pun tak ketinggalan menggoda sahabatnya itu.
Di sinilah mereka sekarang dalam wadah organisasi yang sama, PMR. Tentu Aldiano ada di sana, tapi Lisa pun sudah tak peduli dengan pencarian konyolnya itu.
***
Cukup padat jadwal organisasi Lisa. Setelah PMR kemarin, hari ini Alisha tak pulang. Ia bersama teman- teman computer club-nya akan mengikuti pengukuhan anggota baru, tentu saja itu untuk Alisha beserta teman- teman satu tingkatnya.
Di tempat ini ia bertemu dengan Erika, teman barunya. Karena Sri lebih memilih mundur, entah karena apa.
"Ke kantin yuk Ka.." ajak Lisa pada Erika
"Yuk, aku juga laper nih.."
Mereka berjalan beriringan.
Terdengar siulan siulan yang memekakan telinga, yang tertuju pada ciri- ciri khas yang ada pada diri Alisha. Saat ia memasuki kantin sekolah. Namun tak dihiraukannnya.
"Ke kamu itu Lis.." bisik Erika.
"Cckk.. Kamu ini.." Lisa berdecak kesal.
Erika terkekeh.
Memilih tempat duduk agak jauh dari grup rempong. Berharap bisa mengganjal perut sedikit tenang. Walaupun pada kenyataannya, tidak.
"Pulang bareng Lis?" tanya Mario yang tiba- tiba, membuat Alisha terlonjak.
"Yaaaaa..., penonton kecewa deeeeehh...dah ada gandengannya Cuy." terdengar suara riuh di belakang mereka. Sekali lagi Alisha tak hiraukan itu.
"Don't worry guys, sebelum janur kuning melengkung. Kesempatan masih terbuka lebar.." sahut yang lainnya.
"Ehmm... Aku ada acara TCC.." ujar Alisha.
"O..., pulang jam berapa? aku pun ada kegiatan OSIS..." Kejar Mario.
"Kayanya... besok deh, soalnya hari ini pengukuhan anggota baru, and acaranya sampai malam". Jelas Alisha. Di angguki Erika pula.
Nampak raut kecewa di wajah Mario. Tapi tak lama, lantas tersenyum.
"Ya udah, aku ke sana dulu ya.." Lanjut Mario, menunjuk ke arah Kakak kelas yang melambaikan tangan ke arahnya.
Lisa mengangguk.
"Siapa Lis...?" Tanya Erika
"Temen sekelas" jawab Lisa singkat.
"Temen apa Demen...?" goda Erika.
"Temen thok.." jawab Lisa.
"Dih, dari tatapannya ja beda. Menyiratkan perasaan ke kamu Lis, apalagi perhatiannya itu. Sampai mo nungguin selesai kegiatan cuma karena mo pulang bareng. Uhh so sweet bangeeeettt tau ga sih...".
"Apaan sih kamu ni Ka..." elak Alisha.
"Tu kan..., Tu kan..., mukanya aja langsung merah gitu" belum puas mengoda Alisha..
"Udah ah, kita ke mushola, sholat asar dulu.." Lisa ngeloyor duluan, coba sembunyikan wajahnya yang memerah. Walaupun sebenarnya percuma.
Erika terkekeh mengekor di belakang, mengejar Lisa.
Sepertinya grup rempong yang tadi dikantin pun mengikuti. Karena back sound tetap nyaring terdengar. Namun Alisha tetap tak terpengaruh.
"Ngikutin kamu tuh Lis..." begitu Erika mensejajarkan langkahnya dengan Lisa.
"Dah ah. Kita sholat dulu, bentar lagi kegiatannya mulai loh.." Jawab Lisa jengah.
"Dasar gak peka..." Erika menggerutu. Lisa hanya geleng kepala..
Ada Mario di sana di shaf terdepan, yang sempat tertangkap sudut mata Alisha saat memasuki pintu mushola. Tapi lagi- lagi Alisha mengelak. Tak beri ruang untuk bisikan apapun itu.
***
Menjelang Magrib, kegiatan rehat sejenak. Alisha dan Erika kembali menuju Mushola, melepas penat di teras, sembari melepaskan alas kaki.
Dari jauh tampak Mario yang keluar dari ruang OSIS. Di lengannya tampak memangku beberapa barang, tersenyum dan mengangguk ke arah Alisha saat beradu tatap. Lisa pun lakukan hal serupa.
"OMG. sampe segitunya si Cinta.." desis Erika yang ternyata tak luput menangkap penomena kecil tadi.
Alisha hanya mendengus kesal dengan ke kepo-an Erika.
"Sekre OSIS mo di pindahin ke ruang itu.." Ujar Mario yang tiba- tiba. Buat Lisa terlonjak.
"Astagfirullah Rio, kamu tu ya mirip jailangkung tau ga, suka banget datang tiba- tiba..". Sembur Lisa.
Sementara Erika sudah asyik terkekeh disamping Lisa.
"Sorry..." cicit Mario. Menggaruk tengkuk.
Di sisi lain grup rempong baru saja tiba.
"Dilarang PACARAN DI MESJID!!!" Ujar salah satu dari mereka. Sambil membawa selembar kertas karton bertuliskan 'Dilarang PACARAN DI MESJID'.
"Mushola, gehu..!" ujar lainnya, noyor kepala yang ngomong barusan.
"Bodo, yang penting pesannya sampe. 'Dilarang PACARAN'" sambarnya tak mau kalah.
"Ah bilang aja Lu jealous, gitu aja ribet.."
Sekilas Mario melirik ke arah grup rempong absurd itu.
Lisa memberikan isyarat pada Mario melalui matanya, seolah bilang.
"Ga usah di hiraukan grup absurd itu". Lantas beranjak menuju toilet. Mario mengangguk.
***
Alisha POV on
Selepas isya kegiatan kembali berlanjut. Sesekali aku melirik ke arah ruang OSIS, memang nampak masih sibuk, lampu pun masih benderang. Sekilas memang ku lihat Mario masih beraktivitas di sana.
"Gue pilih Neng Lisa patnernya.." Ujar salah satu grup rempong, yang tadi berkoar 'Dilarang Pacaran' itu. Secepat kilat menclok di sebelah ku. Membuat Erika terlonjak dari posisinya, dan mendengus sebal. Karena harus pindah tempat.
Ya ini saatnya game, selingan sebelum materi keorganisasian di lanjut oleh pembina Club.
Sambil nunggu Pembina Club hadir digelarlah game Geje ini.
"Mau ya, mau ya..." tanya si absurd pada ku.
Di sahut sorak peserta yang lain.
Ku hela napas, jengah, lagi- lagi bertemu dengan macam pria seperti ini.
Mau tak mau permainan berlanjut, bahkan tanpa persetujuan ku. Si absurd itu berlagak menyampaikan cinta pada ku. Tepukan dan sorakan, serta teriakan yang menuntut ku "terima" menggema penuhi ruangan.
Ku coba mencari jalan untuk menyelamatkan diri, tanpa sengaja netraku menatap Mario yang melintas di depan ruangan itu. Tatapan kami sempat bertemu. Dan sepertinya arah pandangan ku tertangkap si absurd.
"Loh memangnya OSIS ada acara ya?" tanyanya ke teman di belakangnya. Yang ditanya hanya gedikkan bahu.
Beruntungnya aku karena moderator, mengakhiri season game geje ini. Karena Pembina Club telah hadir.
"Huuhhff..." ku hembuskan nafas lega.
Erika pun kembali ke sebelah Lisa. Karena si absurd pun dah kembali ke alamnya.
"Saraf tu orang" bisik Erika pada ku.
"Banget.." sahut ku.
***
Semua acara telah selesai. Erika, Lisa dan lainnya tengah bersiap pulang saat ini. Tapi tak Nampak Mario.
Akhirnya mereka membubarkan diri menuju rumah masing- masing.
***
Hari minggu...
Nampak begitu ramai pengunjung di rumah yang Lisa tempati.
Tentu saja...
Bapak Lisa sebagai salah satu penata rambut ternama di kotanya. Mengelola sebuah salon. Pasti di hari minggu jadi sasarannya para sosialita.
Pemandangan itulah yang menyambut Lisa begitu tiba dirumahnya. Mengangguk sopan pada mereka yang sedang beraktivitas, lantas berlalu menuju lantai dua bangunan itu. Meninggalkan sementara hiruk pikuk para sosialita, menuju kamarnya, merebahkan diri melepas lelahnya.
***
"Lis, bantu Bapak jaga kassa ya.." pinta Bapak, begitu Lisa keluar dari kamar mandi. Lisa Mengangguk, lantas bersiap untuk turun.
Begitulah rutinitas Lisa di luar jam sekolahnya.
***
Dilain tempat Mario bergegas kembali ke sekolah, berharap Lisa masih ada disana, setelah tadi pergi karana harus membeli sesuatu keperluan ruangan OSIS baru.
Namun kecewa yang di dapat, sekolah sepi. Tak ada aktivitas apapun.
***
Seperti biasa waktu tak akan berhenti, terus merambat menuju arah yang pasti, sesuai kodratnya..
"Lis, tunggu.." Seru Mario didepan gerbang sekolah.
"Maaf kemarin da yang harus di beli. Jadi gak bisa pulang bareng deh.." setelah berhasil menyamai langkah Lisa. Merasa bersalah.
"Santai aja kali Yo.." ujar Lisa.
"Lis, Lisa..!" panggil suara yang tentu sudah Lisa kenal. Menghentikan sejenak langkah mereka. Siapa lagi kalau bukan si absurd, Hendi. Kakak kelas, yang sejak kemarin mengganggu ketentramannya.
"Ck ck pagi- pagi dah pacaran.." begitu berdiri di depan Lisa dan Mario.
Lisa mendengus kesal, enggan menanggapinya.
"Nanti, sepulang sekolah, ada rapat TCC, tentang persiapan Olimpiade Computer tahunan". Jelas Hendi.
"Ok". Jawab Lisa singkat. Kembali lanjutkan langkah.
"Bilang makasih kek.. Ck.." gerutu Hendi. Alisha abai.
Dari kejauhan nampak Sri tersenyum, dengan kerlingan menggoda sejoli itu.
"Nah gitu dong. Move on guys.. Coz life must go on..". Lisa mencibir, tak acuh menanggapinya.
"Eh Sri, kenapa kemaren gak jadi ikut pengukuhan?" tanya lisa. Begitu Sri mendarat di kursinya.
"Gak diizinin bonyok.." jawabnya..
"O..."
"Lisa..." panggil Erika yang tiba- tiba nongol di pintu.
"Sini Ka.." Lisa melambai agar Erika mendekat.
"Dah tau pulang sekolah nanti da rapat?" tanya Erika. Lisa mengangguk.
"Nah ini dia orangnya yang kemarin kabur dari acara.." papar Lisa pada Erika, menuding ke arah Sri.
"Hehehe... Sorry guys.." Sri meringis.
"Eh eh, kenalin namaku Erika Kartika Candra Kirana Cahya Dimuka Harum Mewangi Sepanjang Hari..." mulai lagi deh keluar Lebaynya Erika.. Lisa menepuk jidat. Sementara Sri terbahak, karena ulah konyol itu. Pembicaraan mereka mengalir begitu saja.
Sejak saat itu juga mereka bersahabat, meski berbeda kelas, latar belakang dan karakter. Tapi itu justu membuat mereka saling melengkapi.
***
Mario POV on
"Lis aku di ruang OSIS ya.." ujarku saat Lisa hampir masuk best camp.
"Cie... Cie... Rapat dulu bentar Beib.." seperti biasa back sound grup geje menggema. Aku pilih acuh.
"Loh, kenapa gak pulang aja duluan?" tanya Lisa heran.
"Ada acara OSIS" jawab ku, tak sepenuhnya bohong. Lantas berlalu pamit. Memberikan senyuman terbaikku yang sarat kode keras bahwa 'itu Alisha gue', kepada sepasang mata yang menatap tak suka interaksi ku dengan Lisa.
---
"Hei pangeran BUCIN.." sapa Andra saat kami berpapasan.
"Eh Ndra, sapa tu orang?" tunjuk ku dengan kerlingan.
"O..., tu si Asbun, da urusan pa lo ma dia?"
"Ga da. Ga penting juga" sahut ku.
"Namanya Hendi, tapi anak- anak panggil dia si Asbun.. Ya.. 'asal bunyi' gitu maksudnya.." Papar Andra terkekeh. Mario berdecak.
"Beneran Lo ga ada masalah ma tu anak?" kejar Andra. Memang sulit nyembunyiin rahasia dari k*****t satu ini.
Aku menghela napas sejenak.
"Kayanya tu orang ngajak gue main- main. Sok tebar pesona depan Lisa, tepatnya ganggu ketenangan Lisa.." jelasku.
"Sabar Sob, Cinta gak kan salah alamat, pasti nemuin jalannya". Hibur Andra. Nepuk pundak ku. Lantas pamit.
Sementara ku lanjutkan langkah ke tujuan awal. Masih nampak si KETOS bebenah mencari posisi nyaman di best camp baru OSIS.
"Lum pulang Yo?" sapanya.
"Bentar lagi.." jawabku ikut larut dalam aktivitasnya.
***
"Gimana rapatnya tadi?" Tanyaku begitu tiba sebelah Erika dan Lisa.
"Alhamdulillah Lancar, bentuk kepanitiaan dan nyusun proposal kegiatan". Jawab Lisa.
"Eh.. Lis, Rio, gue duluan ya.." ujar Rika paham situasi.
"Loh kok Rik--" protes Lisa terlambat, karena Erika telah melesat jauh.
Aku tahu Lisa canggung dengan situasi macam ini. Ku paham itu.
Mario POV end
***
Tak terasa waktu berlalu, pekan depan sudah mulai ujian kenaikan kelas (UKK). Tapi sebelum itu akan ada study tour untuk siswa kelas X dan XI.
"Hai Guys, Perhatian, buat yang gak ikutan study tour, segera menghadap Bu Sri di ruangannya!" teriak Hani. Yang baru saja masuk kelas.
Alisha segera bangkit, melangkah menuju ruang guru. Begitu tiba, ia mengetuk pintu, hingga terdengar suara Bu Sri mempersilakan masuk.
Saat Bu Sri tengah menjelaskan beberapa poin tugas pengganti bagi yang tidak ikut kegiatan study tour, tiba- tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk" sambut Bu Sri.
"Ck Ck, bocah 2 ini memang selalu kompak gak di kelas, gak di luar". Lanjut Bu Sri. Buat Lisa mengerutkan kening. Lantas melirik ke arah pintu.
"Mario.." Lirihnya..
Bu Sri kembali mengulang pengarahan tentang tugas pengganti tadi.
***
Alisha POV on
Entah mengapa, semakin ku berusaha menjauh dari Mario, waktu selalu libatkan kami dalam satu aktivitas yang sama. Bukan ku tak peka dengan segala perhatiannya selama ini. Bukan ku tak tau..
Tapi...
Aku, hanya takut kembali sakit, seperti yang ditorehkan Anton dulu.
Aku hanya butuh sebuah "kepastian", untuk meyakinkan diriku saat itu, sebelum menjalin sebuah hubungan. Tapi nyatanya di saat ku hampir temukan apa yang ku cari, Anton seenak jidat pindah haluan begitu saja, hanya karena satu alasan 'Aku Tak Bisa Di Sentuh'. Walaupun lawan mainnya saat itu menemuiku dan jelaskan bahwa semua itu hanya 'SANDIWARA'.
Hah, Apa tadi katanya? Sandiwara?
Apa maksudnya? Apa inginnya? Dia pikir apa aku ini?
Emosiku tersulut seketika.
Aku benar- benar terluka saat itu, saat ia berperan begitu luwes, dengan lawan mainnya.
Kalian tahu, semua itu berlangsung live, semua itu terjadi di depan mataku. Entah, mungkin untuk menunjukkan betapa populer dirinya, atau apalah. Hingga semudah itu ia dapat lawan main, seperti apa yang diinginkannya.
Dan caranya memancing emosiku saat itu adalah sebuah kesalahan besarnya. Karena aku tak akan pernah tolelir sebuah penghianatan.
Oke. Aku akui, aku lalai jaga hatiku saat itu, hingga aku jatuh hati terlalu dalam padanya, pada fisiknya, yang tak bisa dibilang jelek, pada prestasinya yang tak bisa dibilang IQ jongkok, pada popularitasnya, bakatnya yang bejibun dan lain hal yang ada pada dirinya saat itu. Tapi prinsip ku lebih kuat, untuk tak serahkan diriku padanya, meski hanya seujung kuku. Sekeras apapun dia menuntut. Meskipun Aku sangat mencintainya, saat itu, bahkan hingga saat ini.
Tak pernah ku sangka pribadi yang mendekati kata 'ideal' itu, ternyata berotak kadal. Tepatnya 'b******k'.
Karena itulah aku tak pernah inginkan terlibat sebuah hubungan yang kian digaungkan sebaya ku. Aku muak dengan segala tuntutannya. Aku enggan jadikan diriku seperti halnya 'piala bergilir', sungguh bagiku itu bukan sebuah prestasi.
"Lis.., Hei Alisha..?" tanya Mario, melambaikan tangannya tepat di depan muka ku. Kembalikan ku ke alam nyata.
"Hah? Ya kenapa?"
"Ck kamu ni, dari tadi di tanya mau turun dimana? Malah asyik ngelamun.." Protesnya. Kesal.
Ya saat ini kami dalam perjalanan, melengkapi tugas pengganti study tour, dan ternyata ada beberapa buku yang harus kami cari. Aku dan Mario. Terjebak dalam permainan waktu. Hingga saat ini kami berada di sebuah angkutan umum menuju tempat yang dimaksud.
"O.. Kita turun di depan sana. Mulai cari dari ruas jalan A. Yani. Biasanya banyak yang jual majalah trubus di sana". Sahutku.
Risih, tentu saja. Kami jalan berdua saja, dan ini dalam keadaan ku sadar, bukan seperti tempo hari, saat ku dikuasai rasa patah hati karena berita yang di bawa Teguh.
Satu hal. Mario tak pernah benar- benar berhasil mengajak ku pulang bersama selain saat ku patah hati tempo hari. Karena aku punya ribuan cara dan alasan untuk menghindar. Bahkan saat Erika tiba- tiba pamit tempo hari.
Ini adalah kali pertama. Karena aku tak ingin berinya harapan apapun.
Bukan naif atau bermaksud muna***, tak pernah sebelumnya ku pergi hanya berdua dengan lawan jenis selain keluarga ku. Tempo hari aku ikut menjenguk Melin pun karena ada Teguh di sana.
Gugup, hampir tak bisa ku tutupi, berapa kali sempat ku salah tingkah. Ku rasakan jantung ku berdetak lebih cepat.
Ku fokuskan pikiran ku pada pencarian kami. Sehingga hanyalah kebisuan yang mendominasi.
Ku lirik Mario yang berjarak beberapa langkah di belakang ku, pun sama, sibuk mencari apa yang kami buru.
Berharap semua ini segera berakhir. Ku percepat gerakan ku. Tak hiraukan Mario yang tertinggal makin jauh.
"Hei tunggu Lis, Lisa, Alisha...!" panik Mario yang sadar sengaja ku tinggalkan.
"Apa?" Sahutku singkat. Mau tak mau terpaksa hentikan langkah.
"Kayaknya gak ada deh sebelah sini, coba kita cari di sana.." tunjuk Mario ke ruas sebrang. Aku mengangguk.
Tak lama, satu buku yang kami cari dapat. Tapi misi belumlah usai. Karena kami masih harus mencari 1 buku lagi. Pilihan jatuh pada buku Genetikologi.
Setelah semua lengkap, kami bergegas kembali ke sekolah, karena harus membuat resensi buku yang harus diserahkan segera.
Perpustakaan, itu tujuan kami. Berbagi tugas, aku merangkum materi, dan Mario pindahkan pada kertas polio.
"Terus gimanain ni buku?" tanya ku begitu misi selesai.
"Simpan di Perpus ja" sahutnya.
"Ok" jawab ku singkat, beranjak hendak tempatkan buku- buku tadi.
"Eit tunggu.." Mario menyambar apa yang ku pegang. Menuliskan tanggal dan nama kami disana. Dan entah apa lagi, karena ada kalimat setelahnya. Aku tak tertarik membacanya.
"Perlu ya kaya gitu?". Protesku. Meninggalkan Mario yang tersenyum penuh arti. Kembali ketujuan awal. Serahkan buku itu pada pengelola perpustakaan sekolah.
Sementara Mario menuju ruangan Bu Sri. Menyerahkan tugas kami.
Misi selesai, aku duduk di bangku depan perpus, karena ingat ada uang kembalian buku yang harus ku serahkan pada Mario.
Tak lama Alando mendekat, duduk di sampingku.
"Dah mo pulang Lis?" tanya Alan. Aku mengangguk, sembari menebar pandangan mencari sosok Mario.
Tanpa ku sadari Alan mengikis jarak kami, tangan isengnya mendarat di pinggang ku. Aku tersentak kaget, dan refleks mengangkat tangan, hampir menampar wajahnya. Beruntung aku segara sadar ini tempat umum.
"Maaf..." lirih Alan menyesal. Hanya Ku balas tatapan tak suka.
Ku hembuskan napas kesar dan bangkit tinggalkan Alando yang mematung, mungkin kaget dengan reaksiku.
Tak lama Mario muncul.
"Yuk pulang.." ajaknya. Kami pun berlalu. Tinggalkan Alan yang masih mematung di posisinya.
"Bro duluan.." pamit Mario pada Alan.
Mereka saling kenal?
Tentu saja. Mereka sama- sama pengurus inti OSIS.
"Kenapa?" tanya Mario.
"Ga papa" jawab ku. Ingat tujuan awal nunggu Mario.
"Kamu simpan saja". Elak Mario saat ku ulurkan sejumlah uang.
"No. Thanks" jawab ku. Masukkan uang itu di saku seragamnya. Dengan isyarat pamit. Melangkah tinggalkan Mario dengan tatapan anehnya tertuju padaku.
Alisha POV end
***
Mario POV on
Misi selesai, Aku beranjak menuju ruang guru, sekilas ku lihat dia duduk di bangku depan perpus, mungkin menungguku. Bolehkan GR sedikit. Sepanjang jalan menuju ruangan Bu Sri aku terus tersenyum girang. Ku percepat langkah ku karena tak ingin tinggalkan Lisa terlalu lama.
Dari kejauhan kulihat Lisa beranjak, saat Alan duduk di sebelahnya.
"Bagus Lisa. Good girl.." bisik ku, yang memang tak rela jika Alan duduk dekat Lisa.
"Yuk pulang.." ajakku. Saat tiba di depan Lisa. Kami pun berlalu. Tinggalkan Alan yang nampak mematung di posisinya. Entah karena apa. I don't care.
"Bro duluan.." pamit ku pada alan.
Kami saling kenal?
Tentu saja. Kami sama- sama pengurus inti OSIS. Dan tentang Alan yang mencoba dekati Lisa. Aku pun tahu itu. Karena saat perkemahan OSIS tempo hari aku pernah mendengar dari mulut si Asbun Hendi, yang mengira aku yang baru masuk tenda saat itu adalah Alan. Karena situasi gelap tanpa penerangan. Aku pun tak bergeming. Pilih diam dengarkan curahan hati si Asbun itu. Meski emosiku meluap- luap. Tak rela dengan segala kalimat kotornya tentang Lisa. Ah tapi biar itu hanya jadi rahasia ku saja.
"Kenapa?" tanya ku. Saat hanya kebisuan warnai langkah kami.
"Ga papa" jawab Lisa.
"Kamu simpan saja". Elak ku saat Lisa ulurkan sejumlah uang.
"No. Thanks" jawab Lisa, keras kepala seperti biasa. Memasukkan uang itu di saku seragamku. Dengan isyarat pamit. Melangkah tinggalkan ku dengan tatapan kecewa. Ku pikir dia menunggu untuk pulang bersama ku, tapi ternyata hanya untuk uang ini.
Padahal setelah hari ini aku berharap hubungan kami mengarah ke tahap yang lebih serius lagi. Tapi Alisha, tetaplah Alisha. Si datar, minim ekspresi dan tidak peka.
Awalnya ku sempat menilai dia gadis yang sombong, tapi setelah berinteraksi dengannya. Ku tahu itu hanya caranya lindungi diri.
"Ah sudahlah Mario. Sabar. Pelan- pelan". Bisik ku pada diri ku sendiri.
Semoga ku kuat tak bertemu dengannya hingga pekan depan. Tentunya saat Ujian Kenaikan Kelas nanti.
Mario POV end
***