Riak kecil

3370 Kata
Alisha POV on Pagi yang cerah, di hari pertama Ujian Kenaikan Kelas. Menambah semangat bagi ku. Setelah semalam mengulang kembali materi bahan ujian hari ini. Pagi ini ku ayun langkah kembali. Dengan harapan baru. Semoga segalanya kan lebih baik di hari ini. "Hei, jan ganggu dia! tu cewek gue tau!". Terdengar obrolan yang entah apa tujuannya. Tapi aku tahu pasti siapa pemilik suara itu. Dia Alando. Laki- laki yang terang- terangan berlaku kurang ajar pada ku kemarin. "Sumpeh Lo Lan?!" sahut lainnya. "Masa gue bohong. Kalo lu gak percaya, tanyain aja langsung ke orangnya gih!". Tantang Alan. "Ngaku- ngaku Lo..!" "Ga percaya, tanya ja!. Tu orangnya di depan lu!" ujar Alan. Tak acuh, ku terus melanjutkan langkahku. Tak peduli ocehan Alan yang tepat di belakang ku. --- Dari jauh ku lihat Sri dan Mario tampak berbincang di teras kelas, sambil masing- masing nenteng sebuah buku. Entah apa yang mereka bicarakan. Perlahan aku mendekat. "Dah siap tempur ni kayaknya.." Canda ku pada mereka. "I hope so.." jawab Sri. Sementara Mario hanya tersenyum. Beranjak mereka mengikuti ku masuk kelas. Alisha POV end *** Mario POV on Hari pertama UKK, penuh harap- harap cemas. Bukan karena ujiannya melainkan, aku takun ini adalah pekan terakhir aku di kelas yang sama dengan Alisha. Sejauh ini memang kami mulai bisa lebih sering komunikasi, meski aku yang selalu memulainya lebih dulu. Tak masalah. Setidaknya dia tidak merespon sedatar dulu. "Lis.., sini bentar" si asbun muncul dari pintu kelas. Lisa beranjak. "Pacaran mulu. Ujian Woi..., Ujian.." teriak si asbun. Tanpa berani natap mata ku. Aku terkekeh, tampilkan smrik ke aranya. Mengingatkan atas kebodohannya tempo hari, yang mengira aku adalah Alan. "Bis pulang ujian, kumpul bentar TCC. Da yang perlu dibahas". Tuturnya saat Lisa tiba di depannya. "Tapi ini..., minggu ini sesuai kesepakatan kita fokus ujian!". Protes Lisa. "Cuma bentar, suer.., janji deh.." sahut si asbun, sok imut. Lisa berdecak sebal. Lantas kembali ke tempatnya. Tanpa hiraukan si Asbun yang belum selesai bicara. Ku mainkan angin dalam mulut menahan tawa. Menyaksikan kekecewaan si asbun yang dicuekin. "Kenapa Lis?" tanya ku, dapati raut muram di wajahnya. Mario POV end *** Alisha POV on "Kenapa Lis..?" tanya Mario. "BT aku, langgar kesepakatan.." jawab ku. Sri mencibir.. "Untung ga jadi masuk. Apa itu namanya TTC?" Ejek Sri. "Udah, hadir ja dulu bentar, sapa tau ada yang bener- bener penting, makanya sampe ada rapat dadakkan. Kan bentar lagi pelaksanaannya.." usul Mario. Pasti dia tahu detail pelaksanaan Olimpiade itu. Karena memang semua rencana kerja semua organisasi ada draf-nya di ruang OSIS. Aku mengangguk. Tak lama ujian pun berlangsung. Alisha POV end *** Tak terasa pekan UKK telah berlalu. Tinggal menunggu hasil dari perjuangan 1 pekan kemarin. Waktu menunggu pembagian lapor, di isi dengan berbagai kegiatan perlombaan, termasuk olimpiade computer tahunan. Secara otomatis Lisa dan seluruh panitia pelaksana dalam mode sibuk. Hingga terlaksananya hajat yang dimaksud. "Cape Ka?" "Banget Lis" Saat ini mereka baru saja rehat dari segala kesibukan. Kini tengah menantang angin terbangkan lelah. "nih.." tiba- tiba Mario beri sebotol air mineral ke arah Lisa. "Kok cuma 1 sih, ih jealous aku.." rengek Erika. "Mau...?" tanya Mario pada Erika. Yang mengangguk semangat. "Beliii..." lanjut Mario, buat Erika manyun seketika. Sontak mengundang tawa panitia lain. "Jahat..!". Dengus Erika beranjak menuju kantin. "Gitu aja marah.." cegat Merio, sebelum Erika melangkah. Memberi sebotol air lain yang tadi sengaja disembunyikan untuk candai Erika. "Hayo.., minum gih. Gitu ja manyun". Lanjut Mario, karena Erika sok jual mahal. Lisa yang memperhatikan dalam diam sedari tadi hanya mengulum senyum, saksikan betapa lebaynya sahabatnya ini. Beribu kali dirinya coba menyangkal, pada kenyataannya, hadirnya sosok Mario mampu membuat harinya berwarna, mulai dengan kejahilannya, candaan recehnya, percekcokan kecil, hingga perhatiannya. Semua terkemas dengan sangat rapi. Sehingga Alisha merasa nyaman dengan semua itu. Tak hanya Alisha yang rasakan itu. Tapi juga orang- orang di sekitarnya. Itu salah satu hal yang Alisha ambil sebagai poin plus dari Mario. *** Alisha POV on Syukurlah semua acara olimpiade selesai. Baru hari ini lagi aku bisa sedikit bernafas lega. Pagi ini aku haraf bisa sekedar bersantai, bersandar di pilar teras kelas seperti biasa. Dengan sebuah buku ditangan, menurutku sangat sempurna. Sambil sesekali ku tebar pandangan, mencari sosok yang selama ini berhasil warnai hari ku. Sebagai seorang teman... Setidaknya merubah sedikit pandangan ku, bahwa tak semua pria seberengsek Anton dan seluruh konconya. Setidaknya aku merasa nyaman. "Hey, Lo tau si Lena anak X-2, kemarin nembak si Rio?" ujar seorang siswi tetangga kelas ku. "Rio..? Mario maksud lo?" tanya lainnya meyakinkan. "Iya lah. Cuma ada 1 Mario di sekolah kita, sapa lagi kalo bukan Mario Dewantara, Anak X-6. Yang di OSIS itu memang sapa lagi, satu sekbid malah sama si Lena!" sahut si pembawa berita. "Terus.., terus gimana..? Di terima?" yang lain ikut penasaran. "Itu masalahnya. Cintanya ditolak, sampe si Lena histeris kemarin and gak masuk sekolah hari ini. Untung ja ujian dah kelar.. Kabarnya sih dia keterusan sakit. Kita tengok balik nanti yuk". Pungkas si pembawa berita. "kayaknya dia bakal mundur dari OSIS". "bukan cuma dari OSIS, dia mo mundur dari sekolah malah..." Semua pembicaraan itu tertangkap sempurna di pendengaran ku. Deg... Apa ini Ya Rabb.. Serasa dihantam beban berton- ton beratnya, tiba- tiba dadaku terasa sesak. Oksigen yang ku hirup sepertinya mendadak menghilang. Saat aku mulai membuang egoku.. Saat aku mulai anggap dia ada.. Saat aku mulai berusaha membuka hati. Saat ini pula ku tahu ada hati lain yang lebih butuhkan Mario. Tidak, aku tidak cemburu. Aku malah merasa iba, aku pun punya hati seperti dia. Tak sampai hati ku bahagia di atas lukanya. Ku ikhlas Ya Rabb... Lepaskan semua ini... Berkali- kali Ku tarik nafas dalam, dan hembuskan perlahan. Berharap sesak ini segera enyah. Ku tengadahkan wajah menatap langit, namun tak sanggup, kabut bening menghalangi pandangan ku. Akhirnya ku pejamkan mata. Tak kuasa menahan bulir yang mulai menggumpal. "Hei Lis, sarapan?" Tiba- tiba Mario duduk di sebelah ku. Sodorkan sekotak kue. Lekas ku tekan sudut mataku. Tak ingin ia temukan jejak itu. "Sudah". Jawab ku singkat. "Yo, Aku ke best camp TCC dulu ya. Takutnya dah mulai" lanjut ku. Bahkan aku sendiri tak faham apa yang hendak di mulai itu. "Loh.. Loh Lis, Bawa ini. Aku sengaja bawa banyak Loh.." panik Mario. Saat ku beranjak. "Masih kenyang Rio. Tadi sarapan di rumah. Makasih..". Secepatnya aku berlalu. Tinggalkan Mario dengan tatapan anehnya. Tak sanggup rasanya ku mengingat hal tadi di samping Mario. Alisha POV end *** Mario POV on Pagi ini sengaja ku bawa bekal, ingin sejenak habiskan waktu bersamanya. Tak banyak, hanya beberapa potong cake cokelat dan keju, serta beberapa potong buah. Karena ku tahu agenda acaranya telah usai. Tinggal rapat pembubaran panitia. Dan itu pun nanti, setelah laporan dari tiap- tiap sekbid selesai. Mataku berbinar. Saat ku temukan dia di tempat favoritnya. Seperti dugaan awalku. Ku percepat langkah. Sedikit heran dengan apa yang dilakukannya. Menatap langit dengan mata tertutup? Entahlah... Aku mengelengkan kepala. Bahkan dia tak menyadari kehadiran ku. Apa mungkin sedang melamun lagi. "Hei Lis, sarapan?" setelah terduduk di sebelahnya. Ku sodorkan sekotak kue. Lisa terperanjat, lantas menekan sudut matanya. Ada jejak air mata di sana. "Sudah". Jawabnya singkat. Nampak salah tingkah. "Yo, Aku ke best camp TCC dulu ya. Takutnya dah mulai" lanjutnya. "Loh.. Loh Lis, Bawa ini. Aku sengaja bawa banyak Loh.." panik ku. Saat dia beranjak. "Masih kenyang Rio. Tadi sarapan di rumah. Makasih..". Secepatnya dia melarikan diri. Tinggalkan ku dengan berbagai pertanyaan. Mulai? Apanya yang mulai? Bahkan tadi best camp-nya pun terkunci. Ada apa ini? Kemarin rasanya semua baik- baik saja. Bahkan untuk pertama kalinya Alisha tak menolak saat pulang bersama. Ku tutup kembali kotak bekal. Putuskan mengejar Alisha. Begitu tampak siluetnya, aku bernafas lega. Tapi dia tidak menuju best camp, melainkan mengarah ke gerbang utama. "Pulang..?" lirihku. Ku percepat langkah ku, berniat mengejarnya. Namun terhenti, saat dia tiba- tiba berbalik. Ada seseorang yang memanggilnya. Tampaknya coba mendekati Alisha. Pria itu mengulurkan tangannya, nampak begitu gentle. Alisha nampak ragu menyambutnya. "Tidak Lis, tidak.. Jangan.." lirihku berharaf Lisa tak menyambutnya. Namun sayang, harapan ku pupus. Alisha menyambutnya. Walaupun singkat. Lantas mereka jalan beriringan. Aku terduduk ditempat, kedua kakiku seolah kehilangan energi untuk menopang tubuhku. Niat ku mengejar Alisha terhenti. "Apakah ini akhirnya Ya Rabb..?" lirihku masih terduduk, belum temukan kembali kekuatan ku. Mario POV end *** Alisha POV on kacau? Ya benar. Saat ini isi kepala ku benar- benar kacau. Sakit? Ya tepat. Hatiku kembali rasakan sakit. Hampa? Tentu. Kekosongan itu kembali ku rasakan. Semakin ku menjauh, menghindari Mario. Kacau, sakit dan hampalah yang ku rasa. Niat awalku menuju best camp TCC. Nyatanya terkunci rapat. Sementara rasa tadi kian menyiksa. Ku putuskan untuk pulang. Setidaknya aku bisa sedikit rehat. Saat langkahku hampir sampai di gerbang, sebuah suara asing menyeruku. "Lis, Alisha.. Tunggu" seru sorang pria yang sepertinya berasal dari kelas XII, karena ku lihat ban merah di bahunya. Aku berhenti dan memutar badan. "Boleh kenalan? Namaku Revan..". Ujarnya mengulurkan tangannya. Ku bingung harus apa. Dari kejauhan tampak Mario yang mengejarku. Namun langkahnya terhenti saat Revan ulurkan tangan. Kilasan tentang Lena menari di benak ku. Tanpa pikir panjang, ku sambut uluran tangan Revan. Lantas pamit. Di luar dugaan Revan mengikuti ku. Sambil berbisik.. "Maaf..." Lirihnya. Aku hanya mengangguk. Dan pamit pulang. Meski tak faham apa maksud dari kata 'Maaf'nya itu. Alisha POV end *** Sejak perstiwa mendengar kabar Lena, yang bahkan tak Alisha kenal. Apakah sosok Lena itu fiktif atau nyata. Interaksi mereka mulai kembali renggang. Alisha sebisa mungkin hindari komunikasi apapun dengan Mario. Begitupun dengan Mario yang nampaknya lebih cuek dari biasanya. Tentu karena berfikir tentang peristiwa Alisha dengan pria gentle itu. Yang nampak lebih dewasa. Mario pikir, Alisha lebih tertarik dengan tipe macam itu. Daripada dirinya yang selengekan. Sehingga ia putuskan mundur perlahan. Namun, kenyataannya ternyata tak mudah. Karena masing- masing dari mereka merasakan sakit yang sama. Bukan tak menyadari arti satu sama lain. Tapi mereka bertahan dengan pikiran absurd masing- masing. Hari ini adalah hari pembagian lapor, hari terakhir duduk di kelas X. Lisa duduk di kursi biasa, sementara Mario memilih pindah ke pojok belakang. Tak ada sapaan selamat pagi, tak ada candaan receh, bahkan sekedar senyuman hangat seperti biasa. Seharusnya Alisha senang dengan hal tersebut. Bukan? Tapi faktanya lain. Hatinya seperti tersayat. Perih. Hingga berkali- kali ia pejamkan mata, menarik nafas dalam, seolah bisa sedikit ringankan sesak di dadanya. *** Alisha POV on "Lis, what's wrong? Kalian marahan?" tanya Sri yang baru saja tiba. Merasa aneh dengan gelagat ku dan Mario. "Hah? Maksudnya?" aku pura- pura tak faham. "Itu, si Dewantoro, tumben banget mojok di sana. Biasanya juga nangkring di sini.." Sri menunjuk dengan gerakan mata dan bibirnya. "Entah..." ku hanya gedikkan bahu. "WAKA... Hei WAKA.." bisik salah satu teman yang baru saja masuk kelas. Kami bergerak cepat menuju tempat masing- masing. Tapi Mario tak bergemin. Ada rasa tak rela di hati ku. Tapi aku tak bisa berbuat apa pun. Bayangan betapa aku melukai Lena karena kedekatan ku dengan Mario menari di pelupuk mata. Menancing memori lama, saat ku saksikan interaksi Anton dengan Putri. Kian buat dadaku sesak. Aku bandingkan posisi ku saat itu yang tiba- tiba tumbang, dengan posisi Lena saat ini yang juga sakit. Saat itu seolah seluruh energi dicabut seketika dari ragaku. Aku oleng, dan saat sadar, tengah di kelilingi teman- teman ku. Namun lagi- lagi ku telan pil pahit kekecewaan. Tak ada Anton di sana. Lantas otakku mencerna. Apa benar ini sandiwara? Jika ya, dimana Anton? --- "Lis di panggil tu.. Dapat peringkat 3 kamu. Selamat ya.." Sri menyenggol lengan ku. Kembalikan kesadaran ku. Aku beranjak menuju meja WAKA. "Dari sekian banyak siswa di kelas ini, hanya 1 yang mendapat peringkat 10 besar, dan itu adalah Mario Dewantara. Tepuk tangan buat Mario. Tak sia- sia ternyata punya pacar sekelas. Moga langgeng ya. Lainnya semua peringkat di raih siswi.." kalimat penutup pengumuman nilai lapor dari Bu Sri. Ku lirik, Mario hanya tersenyum tipis tanggapi candaan Bu Sri. Berlanjut pembagiannya seluruh lapor, ramah tamah, dan menyantap hidangan yang memang sudah kami siapkan, sebagai ucapan terima kasih dan acara perpisahan kecil- kecilan dengan Wali Kelas X-6 ini. Alisha POV end *** Mario POV on Hari ini hari terakhir kami berada di kelas yang sama. Tapi hal kemarin buatku urung mendekat ke arah Alisha. Dan itu buatku tersiksa. Sengaja ku ambil tempat pojokan. Agar bisa sedikit kurangi interaksi ku dengan Alisha. Tak habis pikir, apa yang buat dia kembali hindari ku. "Heh Rio, gak jenguk si Lena Lo..?" tanya Anggita. Saat kami mengambil hidangan yang sama. "Gara- gara Lo tolak, dia ngedrop loh". Lanjut Anggita. Aku hembuskan nafas jengah. "Tanggung jawab Loh..!" kejar Anggita lagi. "Eh, dengerin ya. Gue gak ngapa- ngapain dia.. And tentang gue terima atau tolak, ya itu konsekuensinyalah. Kudu siap. Ga usah lebay bilang ma temen Lo.." bela ku. Anggita mendengus kasar. Sudut mataku menangkap gerakan Alisha yang mematung mendengar percakapan ku dengan Anggita barusan. Tampak menahan gerakannya, urung menuju meja hidangan. Aku faham. Jadi karena ini dia menghindar. Aku kembali ke pojokkan. Beri ruang untuk Alisha menuju meja hidangan. --- Setelah menyantap makanan yang tadi ku ambil. Aku kembali ke samping Alisha, perhatikan gerak- geriknya. Aku mencibir 'jadi cemburunya gini ya'. Terkekeh geli. Sadar dengan kehadiran ku, dia putar tubuhnya menghadap Sri. "Mode Cemburu..". Ku beri kode gerakan mulut saat Sri bertanya melalui matanya. Sri mengulum senyum. --- "Mana laporan kegiatan kemarin? Dah Selesaikan?" Tanyaku saat Lisa berkemas, bersiap lari menghindari ku lagi. "E...e... I.. Itu, a.. Ada di ketua pelaksana.." jawabnnya gelagapan. Persis seperti pencuri yang nyaris ketahuan hendak kabur. Aku mencibir akting amatirnya. "BTW.., selamat ya..." Dahinya berkerut.. "Untuk...?" "peringkat 3.." "O.. Ma.. Makasih.." jawaban singkat yang sangat jelas ingin segera menghilang dari hadapan ku. "Chayo Rio.. Lis aku duluan ya.." ujar Sri yang telah selesai kemasi barang- barangnya. Alisha memejamkan matanya dalam. Nampak gugup, tremor nampak kentara dari gerakannya. "Loh Sri, bukannya mo ke rumah Erika..?". Memulai alibi pelarian dirinya. "Ada acara keluarga mendadak Lis..". Jawab Sri, beralasan instan. Berlalu secepat kilat. Aku makin terkikik geli. Tapi tentu saja ku tahan, dengan menggigit bibir bawahku. "Ke rumah Erika ya. Ayo aku anter, sekalian pengen tau dimana rumahnya.. Ya.. Sapa tau aja ada perlu mungkin nanti.." sengaja ku permainkan emosi gadis nakal di depan ku ini. "Ehm.. Itu.." jawabannya makin gak karuan. Tertangkap basah hendak kabur, dan aku sudah hapal semua teknik melarikan dirinya itu. 'Skak Mat!!'. Hatiku tertawa puas. Kali ini kemenangan berpihak padaku. "kalo gitu aku antar pulang.." aku menghentikan kebohongannya. Wajahnya memerah, menahan malu. Tak berkutik sedikit pun. Dengan suka rela, terima kalah teknik. Mario POV end *** Masa liburan sekolah.. Alisha isi dengan menyibukan diri di Salon. Tentu saja, hari liburan seperti ini, pelanggan bisa meningkat 200- 300% dari biasanya. Jauh di dasar hatinya, gadis itu gundah. Tak sanggup bayangkan berada dikelas berbeda dengan Mario. Perlahan dia mulai menyerah, tak lagi mengelak rasa nyaman itu. Bahkan tak jarang ia berlindung di balik Mario saat dirasakan kondisi tak nyaman, karena Hendi dan Alan. Tentu Mario faham itu. Seperti halnya Alisha, di lain tempat Mario pun rasakan kegundahan yang sama. . Ingatannya melayang kembali pada saat berhasil buat Alisha kalah telak tak berkutik. Merasa perlu, maka ia jelaskan semua yang terjadi antara dirinya dengan Lena. Tak perduli seberapa sering Lisa mengelak. Mengatakan bahwa Mario tak perlu jelaskan masalah pribadinya. Karena itu bukan wilayah Alisha. Beralasan tak ingin persahabatan mereka rusak karena Lena. Akhirnya Alisha berhenti protes. Ya... Mario masih belum siap katakan perasaan sebenarnya pada Lisa. Ia takut Lisa malah menjauh. Dan itu benar- benar tak pernah diharapkannya. Biarkan semuanya seperti ini dulu adanya. Hingga dirasa waktunya tepat nanti. *** Mario POV on "Hai guys...! garubah kelas kita, cuma pindah ke XI- 6 aja. yeyeye...!" Sorak Sri saat kami baru tiba di papan informasi. Kami bertiga segera menuju kelas baru. Dengan formasi tetap seperti kelas sebelumnya. Sri, Aku dan Alisha. Tak lama Wali Kelas baru tiba. Aku mendengus kesal. Karena Wali Kelas kami saat ini adalah Pak Atmo, guru olahraga raga yang terkenal raja modus. Uang dan Wanita. Itu 2 hal yang melekat di otaknya. Bukan aku bermaksud cemarkan citra guru sebagai 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa', tapi itulah faktanya. Tak semua pahlawan menjadi pahlawan, tak jarang pahlawan berubah menjadi penghianat. Karena pada kenyataannya kembali lagi kepada watak pribadi manusia itu sendiri. Dan yang lebih buat ku kesal, saat tatapan anehnya itu tertuju pada Alisha. Dengan smrik menyebalkan yang sama sekali tak di tutupinya. 'Kali ini aku harus lebih baik lagi jamin keselamatan Alisha' Tekadku.. Mario POV end *** Alisha POV "Lis, Agenda berikutnya kita ngadain Olimpiade Computer Se-Kabupaten. Siap?" Tanya Hendi, yang sengaja menyambangi kelas baru ku. Seperti biasa menginterupsi aktivitas ku dan Mario. "No! I Don't care all about that..! " jawab Lisa. "Why?" "Ckk kemarin ja, Aku sakit pas pulang hunting sponsor, sampai harus berobat rutin 6 bulan, gak ada yang peduli. Jangankan nengok. Nanyain ja kagak ada..!" Kesal ku. "itu kan bukan aku ketua pelaksananya. Kalo aku.. Pasti jengukin.." Hendi bela diri. Aku ngeloyor begitu saja.. "Please jan lupa pulang nanti Lis. Janji cuma bentar.." teriaknya masih tak mau menyerah. "Kenapa?" tanya Sri. "Mo ngadain Olimpiade computer se-Kabupaten?.. Ck yang kemarin aja kacau". "Loh. Bukannya sukses ya yang kemarin?" kejar Sri. "Dari luar mungkin gitu. Dalemnya kacau. Yang kerja itu itu aja. Sementara yang recokin banyak". Jelasku.. "Dateng aja dulu. Lihat sejauh mana keseriusan acara kali ini. Tapi jangan ambil jabatan penting. Kalo dirasa dah gak masuk akal. Kamu bisa mundur" saran Mario. --- "Ka, tau da rapat TCC hari ini?" tanyaku begitu dia keluar kelas. "Gak tau tuh. Memang ada?" Erika balik bertanya. "Ke sekre OSIS dulu ya" pamit Mario. Kami angguki.. "Rencana Olimpiade Computer se-Kabupaten..". Jelasku. "Hah...! Sapa yang kasih tau kamu?" "Hendi" "Mmmhh.. Ck... Modus itu, pen deketin kamu.." Erika mencibir. "Apaan sih kamu Ka". "Ga percaya? Lihat ja nanti. Sapa ja yang datang rapat" Kami menuju tempat yang dimaksud. Dan benar saja hanya ada Aku, Erika dan tentunya si pengundang. Hendi. Erika mengerlingkan mata, tanda yakinkan ku tentang perkiraannya. "Mana yang lain?" tanya ku Sebal. "Untuk langkah awal gak perlu terlalu banyak kepala. Kalo planning dah mateng baru ajak tim lainnya" kilah Hendi. "Hanya 5 menit.." Ketus ku. "15 menit" tawar Hendi. "5 menit atau tidak" galakku. "Ok.. Ok.. Ok... 10 menit. Titik" rayunya. Aku dan Erika mengikuti Hendi masuk ruangan. Sepuluh menit berlalu, tanpa hasil berarti. Lantas ku beranjak pamit. Nampak Hendi kecewa. "Dah 10 menit nih" Lagak ku menunjukan angka jam. "Gak sabar banget ini yang mo nge-date. Orang OSIS-nya juga masih pada sibuk". Ujar Hendi dengan nada provokasi. "Gampang, Tinggal panggil, Langsung pulang" sambar Erika tak ingin kalah dengan provokator itu. "Ck.. Pacaran mulu. Ya ya dah besok di lanjut ya. Sambil kita pikirin idenya, kasian pujaan hati menunggu". Berdecak sewot. Kalah telak.. Aku dan Erika tertawa samar. Tetap pertahankan raut jutek. 'Ternyata rasa nyaman ku bersama Mario mulai beranjak menjadi rasa terlindungi' lirih batinku.. Alisha POV end *** Mario POV on Aku segera hampiri Lisa dan Erika begitu melihat mereka keluar ruangan. "Tumben cepet?" tanyaku. Mereka hanya mengangguk kompak. Mengulum senyum. "Ok. Bentar pamit dulu". Aku beranjak menuju sekre untuk ambil barang dan pamit. 'Ada yang gak beres' pirasatku. "Ayo.." ajakku "Rio, si geje tu cuma modus doang. Masa buat lingkup acara se-Kabupaten. Cuma kita doang yg hadir". Adu Erika kesal. Tanpa pedulikan delikkan tajam Alisha yang mengisyaratkan untuk tutup mulut. 'Tepat perkiraanku. Dia cuma curi- curi waktu biar bisa deket sama Lisa '. "Bahkan tadi ja dia jealous banget sama kamu Rio, pas kita mo pulang. Sekalian ja dipanasin" kekeh Erika. Mendapat delikan Lisa lagi. 'Pantas saja, tumben Alisha suka rela mau pulang bareng'. Aku tersenyum penuh arti. Mario POV end *** Tak ada lagi penolakan dan acara menghindari Mario yang Alisha lakukan. Karena sikap yang Mario tunjukkan telah berhasil menggiring opini publik, seolah- olah Alisha memang miliknya. Tapi jangan salahkan Mario karena egois, karena semua itu ia lakukan justru untuk melindungi Alisha dari taruhan yang dibuat Hendi bersama Alando. Ya benar, kedua pria br*****k itu bertaruh untuk mendapatkan Alisha. Mario tanpa sengaja mengetahui semua rencana busuk itu dari mulut mereka sendiri. Tepat saat perkemahan pelantikan anggota OSIS baru. Dimana Hendi mengira Mario yang baru saja masuk tenda, adalah Alan, orang yang sedari tadi berbincang dengannya. Akankah Mario mampu gagalkan taruhan Hendi dan Alan? Lantas bagaimana dengan Pak Atmo, Wali Kelas baru mereka yang seolah menetapkan Alisha sebagai bidikan berikutnya. Lagi- lagi hanya waktu yang mampu menjawab semua itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN