Kilas balik Alisha

2711 Kata
Dulu Alisha bukanlah gadis penyendiri dan tertutup. Ia adalah gadis sederhana, manis, periang, namun begitu pemalu untuk beberapa hal. Alisha datang sebagai murid baru di sekolah Anton. Dengan karakter yang dimilikinya, dalam waktu singkat ia mampu berbaur dengan banyak teman barunya. Sungguh itu benar- benar perpaduan yang sempurna, untuk menarik perhatian seorang pria sepopuler Anton Pramudya. Sosok rupawan, cerdas, dengan bakat bejibun yang mengagumkan. Lambat laun pertemanan yang terjalin di antara Alisha dan Anton berubah menjadi ikatan cinta. Dan di situlah awal segalanya, Anton yang merasa sudah memiliki Alisha menuntut perhatian dan sikap yang lebih dari saat mereka sebagai teman. Sementara gadis itu, yang bahkan baru saja mengenal cinta, tak tahu harus berbuat apa, bahkan ia gugup dan takut, saat Anton memintanya untuk bertemu berdua. Hanya berdua saja. Ia risih mendengar cerita tentang Yuli dan Farid, dan cara interaksi mereka saat bertemu berdua. Dan Alisha tahu itu perbuatan Amoral. Ia pun takut itu pula yang Anton inginkan darinya. Mengingat Farid adalah teman dekat Anton. Berulang kali Anton meminta, sebanyak itu pula Alisha menolak. Hingga suatu kejadian membuat Lisa dalam dilema. Anton memainkan peran bersama Putri, di depan matanya. Padahal saat itu Alisha sudah mulai memupuk keberaniannya untuk menghadapi Anton. Ya Alisha sudah sudah jatuh cinta sepenuhnya pada sosok Anton, namun ia berharap Anton menghargai keputusannya, andai kata hal macam Yuli dan Farid yang diinginkan Anton darinya. --- "Hei Anton, ngapain sih Lo masih di sini. Noh temen- temen Lo dah jauh. Risih gue.." protes Herna saat mereka di jam olahraga. "Biarin aja lagi Na. Orang Anton sama pawangnya, ceweknya ada sini.. Tenang aja lagi". Timpal yang Leni. Seerrr... Hawa dingin serasa merasuk ke sekujur tubuh Lisa, seketika gugup, malu dan takut itu kembali menguasai dirinya.. Namun ada secercah rasa bahagia, mengingat Anton mau mengalah, menemuinya terlebih dahulu. "O ya bener juga. Kenapa gue gak ngomong ke ceweknya.. Eh Put, bawa gih cowok Lo agak jauhan, risih kita masa dia ikut nimbrung di obrolan cewek sih.." lanjut Herna lagi pada Putri. Deg.. Serasa beban ribuan ton menghimpit d**a Lisa. Seketika membuatnya mematung, menatap Putri yang mulai meraih lengan Anton. Beberapa saat nertanya bergantian menatap Putri dan Anton. Mencari kebohongan dari adegan itu. Tapi Anton tak bergeming. Bahkan membiarkan tangannya Putri melingkar di lengannya. Sekilas tatapnya bertemu dengan Anton, seolah meminta kejelasan, tapi lagi- lagi Anton diam. Luruh lantaklah semua asa yang telah di bangun Alisha. Tanpa menunggu lebih lama reaksi Anton, Alisha berlalu. Tinggalkan para pemeran. Tanpa hiraukan panggilan Anton setelahnya. Air matanya sudah tak bisa lagi dibendung. Dadanya sesak, sakit, terluka, merasa dihianati. Namun hati kecilnya masih berharap Anton mengejarnya, bukan sekedar meneriakan namanya. Namun harapannya tak kunjung terwujud. Rosita, yang menyaksikan langsung peristiwa yang terjadi pada sahabatnya, lantas mengejar Lisa. Coba menenangkannya. Akhirnya Lisa berhasil kembali menguasai dirinya. Mencoba tersenyum kepada Rosita sahabatnya. "Lis, tenang, mungkin mereka cuma bercanda..." hibur Rosita. Alisha mengangguk faham. Tak lama Putri datang, mendekat ke arah Alisha. Rosita faham, memberikan mereka ruang untuk selesaikan apa yang baru saja terjadi. "Lis, aku minta maaf. Aku dan Anton sungguh gak ada hubungan apa- apa. Kami cuma pura- pura. Kami hanya teman. Semua ini cuma sandiwara.." jelas Putri. Alisha tersenyum. Mengusap bahunya Putri. "Beneran juga gak apa- apa kok. Santai aja kali..." Lantas beranjak menuju Rosita. Tak hiraukan lagi panggilan Putri setelahnya. Tiba- tiba tubuh Alisha oleng, seketika ambruk sebelum mencapai Rosita. Gelap. Kakinya seakan kehilangan daya, untuk menopang tubuhnya. Begitu sadar, ia tengah berada di tengah teman- temannya. Diam- diam diedarkan pandangannya, mencari sosok Anton. Namun hanya kekecewaan yang didapatkan. Tak ada Anton di sana. 'Jikalau semua itu hanya sandiwara, lantas di mana ia sekarang?' lirih batinnya. *** Waktu terus bergulir, membawa berbagai kisah dan episode berikutnya. Meski segala hal tentangn Anton tak mudah di enyahkan dari benak Alisha. Bakhan bayang- bayangnya terkadang tertangkap netra Alisha. --- "Tunggu tunggu Lis, Anton yang kamu maksud itu..., Anton Pramudya, si ganteng kalem juara puisi itu?" Tanya Yuni sahabat dekatnya. Ya Alisha ceritakan semuanya pada Yuni. Alisha mengangguk, tersenyu samar. "Aku kenal dia. Dia sodara jauhku. Bahkan, dia tak jarang dia datang ke desaku, ngasih materi di kajian jum'at". Jelas Yuni. *** Tetttt teeeetttt teettttt Bel tanda istirahat usai nyaring terdengar. Alisha, Yuni, Melin dan Ushi, segera beranjak meninggalkan kantin. Bergegas menuju kelasnya. Segera mereka menuju tempatnya masing- masing. "Eh guys, perhatian- perhatian, gue mo minta saran nih. Si Anton ngajak gue balikan lagi loh, terima at--tau g--". Kalimat Putri yang terdengar seantero kelas terhenti. Saat netranya menangkap keberadaan Lisa. Yuni mengelus pundak Lisa, menatap penuh rasa empati. Sesaat memang Lisa terpengaruh. Namun detik berikutnya tersenyum ke arah Yuni. "So... Sory Lis gue gak da maksud bu--" sesal Putri, terpotong kalimat Lisa. "Gak papa tenang aja..." sahut Alisha. Menutup rapat semua gejolak di hatinya. Tak biarkan siapapun mengendusnya. Termasuk ketiga sahabatnya yang kini menatapnya prihatin. --- Begitu tiba dirumah, lekas Alisha mengurung diri di kamarnya, tangis yang sedari tadi disembunyikan dari semua orang, pecah seketika. Sesak yang ditepisnya sedari tadi, merasuk begitu saja ke dadanya. Hanya keheningan yang temaninya tergugu dalam tangis. "Ya Rabb, mengapa sesakit ini. Jika dia memang bukan takdirku. Bawaku pada penyembuh lukaku". Lirih Lisa dalam bait do'anya. Hingga kelelahan merengut kesadarannya. --- Dirasakannya sebuah lengan kokoh melingkar diperutnya. Membuat gundah yang sedari tadi merundung serasa lepas begitu saja. Alisha tersentak seketika kembali ke alam nyata, dan ternyata... Hanyalah mimpi. Diusap wajahnya, kepalanya terasa berdenyut, matanya terasa perih. Sesaat tercenung, mengingat mimpinya baru saja.. "Ya Rabb, jika itu jawaban dari-Mu, sungguh hamba hanyalah mahluk-Mu yang lemah ilmu, mohon petunjuk dengan cara yang mampu hamba pahami". Lirih Alisha. Tak lama lelah kembali rengut kesadarannya. Nampak begitu nyata... Seraut wajah teduh menatapnya, dengan senyuman yang menentramkan hati, mengangguk ke arah Alisha, seakan menyakinkan. 'Ya, ini aku. Takdir mu'. --- Alisha tertegun merenungi apa yang di alaminya semalam. Dua mimpi yang seolah berkaitan menjawab rintihannya pada Sang Maha Kasih. "Sudahlah Lis, jangan terus di pikirin si Anton itu. Kamu juga berhak bahagia. Kalau memang dia gak ada di jalan mu saat ini, berarti dia bukan yang terbaik terbaik buat kamu.." bujuk Yuni saat temukan kembali sahabatnya ini melamun. "Siapa lagi yang ngelamun Yun.., orang aku lagi liatin Aldiano main basket. Hebat ya dia" elak Lisa. Diam- diam mencoba merekam wajah Aldiano, mencocokkannya dengan raut yang semalam di lihatnya dalam mimpi. 'Apa itu Aldiano orangnya?' lirih batin Lisa. *** Siapa sangka pertemuan dengan sosok pemilik senyum manis yang menurut Alisha berlebihan itu, membawanya pada jawaban sebenarnya dari pencarian yang berkaitan dengan istikharohnya tempo hari. Meski kian Lisa menentang, menghindari dan bahkan menjauh. Maka sekeras itu pula Sang Pemilik waktu mendukung Mario untuk terus bersabar, maju dan bertahan. Lagi dan lagi bayangan Anton mengusik ketenangan Alisha. Tadi, saat dalam perjalanan pulang bersama Mario, netranya tanpa sengaja bersibobrok dengan Anton. Beberapa saat saling menyelami arti tatapan satu sama lain. Hingga kesadaran kembali menguasai diri, Alisha dan memutus tatapannya. Tentu semua itu terjadi diluar perhatian Mario, saking singkatnya peristiwa itu. Namun mampu mengobrak- abrik pertahanan Alisha. Buktinya hingga selarut ini, matanya belum juga terpejam. Gelisah tak menentu. Namun kali ini tak ada lagi air mata dan emosi berlebihan. *** Alisha POV on Puluhan kali ku coba cari posisi nyaman untuk mulai terpejam, namun masih juga belum menemukannya. Segala cara ku lakukan untuk sekedar dapat segera terpejam. Namun kantuk itu tak kunjung datang menjemput. Berbagai kilasan memenuhi kepala ku. Segala hal yang buat ku mengerti tentang berbagai rasa sakit, rindu, senang, sedih, kecewa serta lainnya, dan kalian tahu? Semua itu sangat menyiksaku. Hingga cara terakhir ku lakukan. Ku tenggelamkan diriku dipelukan-Nya, ku adukan segala resah jiwaku pada-Nya, ku lepaskan segala rasa yang mengikat hatiku. Bersimpuh memohon ampun atas segala ke jahilan dan kesombonganku. Hingga 1 hal terbersit di benakku. 'Aku ikhlas dengan segala ketetapan-Mu' Itulah kunci kehidupan yang sebenarnya. Ya benar, selama ini terlalu erat ku genggam egoku untuk sekedar fahami makna sebuah keikhlasan. Menganggap diri layaknya seorang korban. Aku terlalu sombong untuk mengakui bahwa semua itu adalah ketetapan-Nya. Tanpa berfikir inilah cara indah-Nya untuk selalu melindungi ku dari hal- hal buruk. Memapah ku tuk lalui sebaik- baiknya jalan ini. Jalan hidup yang harus ku lalui sesuai garis yang di tentukan-Nya. 1 hal yang ku lupakan, bahwa Dia tak akan pernah mendzalimi makhluk-Nya. Tak kan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Dan tak ada hal sia- sia dalam setiap ketetapan-Nya. Ku renungkan semuanya, ku tanggalkan segala kesombonganku di hadapan Dia yang paling berhak untuk itu. Aku benar- benar telah terlampau jauh, mengklaim apa yang bukan hak ku. Dan akhirnya aku putuskan berdamai dengan diriku sendiri, dengan rasa sakit, dan lainnya. Aku terima semua sebagai proses pendewasaan diri. 'Aku butuh seorang yang akan selalu ingatkan ini Ya Rabb, membimbingku ke arah ridho Mu' lirihku menutup segala keluh kesahku pada-Nya. Hampir dini hari, barulah mata ku berhasil terpejam. Rasanya seolah aku bersandar dalam pangkuan seseorang yang sangat ku kenal. Dengan senyum khas yang juga sudah sangat ku kenal, ia mengangguk seolah memberikan ku izin untuk bersandar di pangkuannya. Hingga bawa ku terlelap semakin dalam. --- Suara khas pembuka hari begitu nyaring tertangkap telingaku. Pujian untuk segala ke Mahaan-Nya begitu merdu mendayu, merayu ku untuk segera kembali ke alam nyata, mengingatkan seluruh manusia akan tujuan penciptaannya. Perlahan kembalikan kesadaranku seutuhnya. Sejenak ku termenung mengingat apa yang membuat tidurku terasa begitu nyenyak. Dan temukan jawabannya. 'Ya itu dia pria yang selalu cari identitasnya. Tunggu jadi dia... Mario?!' gumam ku, lebih seperti sebuah pertanyaan untuk diriku sendiri. 'Jadi, selama ini, Mario-lah yang ku cari? Mario yang sekuat tenaga selalu aku hindari?' 'Mario yang selalu ku tutup segala aksesnya untuk masuk kedalam hatiku?' 'Mario yang tak pernah menyerah atas segala sikap absurd dan ribuan penolakan ku?' 'Mario yang telah membuat ku merasa nyaman, dihargai, dilindungi?' 'Ah.. Apa aku melukainya?' Biarlah semua ini seperti ini dulu. Hingga ku benar- benar siap dengan segala prosesnya. Aku tak ingin kembali terjebak di situasi yang sama seperti dulu. Alisha POV end *** Peristiwa tentang Anton hanyalah sebagian kecil dari misteri kehidupan Alisha. Hingga benar- benar ia kehilangan sisi periangnya, meski ia jadi sosok periang hanya di hadapan beberapa gelintir orang saja, atau... bahkan mungkin kehilangan masa remajanya. Kerasnya kehidupan menempa gadis itu, di saat ia memerlukan sosok seorang ibu, namun waktu memaksanya untuk malah memerankan tugas seorang ibu. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa gadis itu sadari, tanpa ia mengerti. Hanya satu kalimat yang dia terima saat itu. Satu kalimat yang merubah segalanya. Satu kalimat, yang ternyata harus ditebusnya dengan luka dan air mata yang tak sedikit. "Semakin cepat Ibu pergi, maka akan semakin cepat pula kembali. Ibu titip adik- adik mu". --- Dia hanya gadis polos yang belum mengerti arti kehidupan saat itu, secara tiba- tiba harus menghadapi kerasnya dunia. Ibunya harus pergi merantau, menyempurnakan ikhtiar, untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Seperti beberapa warga lain di desanya, yang juga telah lebih dulu pergi sebagai pejuang real. Mengadu nasib di Negeri yang terkenal gersang itu. Waktu dua tahun, sungguh masa yang sangat sulit baginya. Namun hatinya di paksa kuat, menggantikan tugas ibu, merawat ketiga adiknya. Seolah tak pernah diberi waktu untuk sekedar meratapi nasibnya. Sementara Bapaknya Bramantio, tengah sibuk merintis usaha yang selama ini di andalkan menghidupi keluarga dengan empat orang anak itu. Inilah Alisha... Disaat teman sebayanya tengah asyik dengan segala aktivitas dunia remaja sepulang sekolah, Alisha harus bergegas pulang ke rumah, menyediakan segala keperluan adik- adiknya. Disaat teman sebayanya masih bergumul manja dengan selimut di tempat tidur mereka, Alisha telah bangkit menyiapkan segala keperluan ketiga adik. Ia harus memastikan bahwa semua aman terkendali, selama ia tinggalkan sekolah nanti. Tapi bukan hal itu ujian Alisha yang sebenarnya. Waktu terus berjalan, berbagai konflik singgah di harinya, biarlah fisiknya lelah, itu tak mengapa. Toh ia pun bisa mengimbangi kesibukan disekolah dan rumahnya. Tapi sungguh dalamnya hati manusia tak ada yang mampu menduganya. Mulanya Alisha fikir isi dunia ini hanya dua jenis manusia saja, yakni baik dan jahat. Tapi ternyata kehidupan membukakan tabir itu di depan matanya. gadis rapuh itu mulai mengenal jenis manusia baru, dan itu adalah jenis manusia yang pura- pura baik. Emosinya benar- benar dipermainkan saat itu. Tanpa ia tahu dengan siapa ia dapat berbagi segala kemelut di hatinya. Wajah dunia terpampang nyata di depan matanya. Tak jarang orang yang ia hormati, malah menjerumuskannya dalam masalah, hanya untuk menarik simpati dari sosok Bramantio. *** "Berhenti menyentuh apa yang bukan pekerjaan mu..!" Amarah Alisha memuncak, saat menyaksikan kekacauan di rumahnya. Nasi gosong dan teko air yang bagian plastiknya telah luruh sampai ke dasar. Sontak Mak Iroh, orang yang memiliki ulah itu bangkit angkat kaki tanpa kata. Muak..?! Tentu saja. Itu yang dirasakannya. Terlebih saat di ketahuinya Mak Iroh yang tiada lain adalah adik kembar dari kakeknya sendiri, memutar balikan fakta yang sebenarnya di hadapan Bramantio. --- "Alisha! kamu itu harus belajar hargai orang yang membantu mu. Bukan malah kurang ajar seperti ini..!!" Bentak Bramantio geram. Alisha menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya, membentaknya untuk sebuah kesalahan yang sama sekali tidak dicari kebenarannya dulu dari mulut Alisha. Hancur?! Sudahlah tentu. Biduk hati remajanya terluka. Dadanya sesak melebihi apapun rasa sakit yang pernah di alaminya sepanjang hidup. Bukan hanya satu, dua atau tiga kali kejadian itu terulang. Bahkan seluruh warga desanya mendapatkan kabar yang berasal dari mulut busuk Mak Iroh. Berbagai karangan bebas Mak Iroh mengalir dengan lancar dari mulutnya. Seolah tanpa beban, telah memilih lawan yang usianya berlipat kali jauh di bawahnya. Bagaimana tidak Alisha memang cucunya, meskipun salah satu dari kedua orang tuanya tidak lahir dari rahimnya. Sungguh bukan lawan yang sepadan. Hanya air mata yang selalu temani Alisha saat itu. Menangis dalam diam. Menjerit dalam keheningan. Tak ada yang bisa ia percaya untuk sekedar ungkapkan bahwa 'aku tak bersalah'. Karena bahkan Bapaknya sendiripun tak mempercayainya. Pada akhirnya ia sadar. Tak ada gunanya ratapi semua itu. Karena yang dapat menolongnya hanyalah Dia. Bukan manusia lain yang memiliki keterbatasan pandangan, bahkan tak bisa membedakan mana kebohongan, dan mana kebenaran. Sejak saat itu, tak pernah lagi Alisha membuka vokalnya, menceritakan kondisinya pada siapapun. Karena ternyata banyak Mak iroh lain disekitarnya. Yang dengan senang hati mengorbankan Alisha demi tercapai tujuannya. Bahkan hingga Bobby yang notabene adik tiri ibu kandungnya sendiri berusaha melecehkannya secara seksual. Alisha hanya menggenggamnya seorang diri. Bertahan dengan caranya sendiri. Karena tak ada gunanya ia berkoar meminta perlindungan kepada siapapun, yang ada dia sendiri yang dipojokkan. Mengapa?! Tentu saja, karena seluruh penduduk desa tahu se'alim' apa sosok Bobby, yang selalu aktif dalam kegiatan masyarakat mulai dari kerja bakti, pengajian anak- anak, hingga dewasa, bahkan memegang beberapa jabatan penting karang taruna dan kepengurusan desa. Lalu siapa Alisha dibandingkan semua itu? *** Waktu terus berjalan, hingga pada akhirnya Alisha terpaksa harus meninggalkan adik adiknya. Karena meneruskan pendidikannya ke jenjang SMA, sementara sang Ibu belum tiba dibatas waktu yang dijanjikannya untuk kembali. Dilema, bimbang, takut dan lainnya bergulung- gulung membuat pusara kegelisahan dalamnya hati Alisha. Di satu sisi ia tidak kuasa tinggalkan adik- adiknya. Disisi lain ia tak boleh menyerah untuk masa depannya, karena di desa itu masih sangat jarang sebayanya yang mendapat kesempatan sekolah lebih tinggi. Bahkan Maharani, si siswa langgan*n juara umum di sekolahnya. Tak seberuntung Alisha. Pada akhirnya harus selalu satu pilihan yang jadi keputusan. Hidup tak izinkan kita genggam dua hal secara bersamaan. Dan Alisha memilih lanjutkan sekolahnya. --- "Lis, kenapa kamu harus sekolah jauh- jauh?! Tempat yang jadi sekolah pilihan kamu itu jauh, hampir dekat perbatasan kota.., sudahlah cari yang dekat saja" Ujar Bramantyo. Saat Alisha memberikan surat bukti dirinya di terima dari SMA Negeri 3. Alisha yang tak tahu apapun. Hanya termangu. Kerena memang ia tak tahu dimana tepatnya lokasi itu. Hanya berharap yang terbaik untuk masa depannya. --- Diluar dugaan akhirnya Bramantyo menyetujui Alisha masuk SMA Negeri 3. Kerena ternyata tempatnya cukup dekat dengan lokasi tempat usaha yang dijalankannya. --- "Bi, titip adik- adikku ya..." Alisha memeluk Bibinya, sebelum berangkat. Bulir bening mengiringi prosesi perpisahan itu, dengan rasa yang hanya dia sendiri yang tahu. "Ck.., kaya yang mo pergi kemana aja, pake nangis segala.." Cibrian tetangga mendarat sempurna di telinga Alisha. Namun diabaikannya. Ada hal jauh lebih penting daripada mengurusi semua nyinyiran itu. Dipeluknya satu persatu ketiga adiknya. Dibisikan pesan khas seorang kakak terhadap adiknya. Tak ada air mata lagi yang menemaninya. Seolah semua air matanya habis mengering. Hatinya bertekad untuk lebih kuat hadapi semua ini. *** *** Maaf, penyusunan bahasanya masih belepotan gak jelas. Mohon koreksi untuk perbaikan kepada semua readers dan mastah ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN