Kilas Balik Alisha 2

1012 Kata
Sementara Bapaknya Bramantio, tengah sibuk merintis usaha yang selama ini di andalkan menghidupi keluarga dengan empat orang anak itu. Disaat teman sebayanya tengah asyik dengan segala aktivitas dunia remaja sepulang sekolah, Alisha harus bergegas pulang ke rumah, menyiapkan segala keperluan adik- adiknya. Disaat teman sebayanya masih bergumul manja dengan selimut di tempat tidur mereka, Alisha telah bangkit menyiapkan segala keperluan ketiga adik. Ia harus memastikan bahwa semua aman terkendali, selama ia tinggalkan sekolah nanti. Biarlah fisiknya lelah, itu tak mengapa. Toh ia pun bisa mengimbangi kesibukan disekolah dan rumahnya. Tapi bukan hal itu ujian Alisha yang sebenarnya. Ujian yang sebenarnya adalah disaat teman sebayanya tengah menikmati kebebasan waktu bersama teman sebaya lainnya dengan segala macam bentuk kesenangan masa remaja, Alisha harus memutar otak, dan memaksa fisik dan psikisnya untuk siap menghadapi kenyataan hidupnya. Dengan segala trik dan intrik yang menciptakan berbagai konflik yang memenuhi isi kepalanya. Waktu terus berjalan, berbagai konflik singgah di harinya, perlahan menggikis senyum cerianya. Perlahan menutup karakter periangnya. Perlahan membuatnya menjadi sosok kaku. Sosok yang mulai sangat tertutup, nyaris tak tersentuh. Ia mulai menarik diri dari keriuhan dunia. Karena hidup mengajarkan padanya 'sungguh dalamnya hati manusia tak ada yang mampu menduganya'. Alisha fikir isi dunia ini hanya dua jenis manusia saja, yakni jahat dan baik. Tapi ternyata kehidupan kembali membukakan tabir itu di depan matanya. gadis rapuh itu mulai mengenal jenis manusia baru, dan itu adalah jenis manusia yang pura- pura baik. Emosinya benar- benar dipermainkan saat itu. Tanpa ia tahu dengan siapa ia dapat berbagi segala kemelut di hatinya. Wajah asli dunia terpampang nyata di depan matanya. Tak jarang orang yang ia hormati, malah menjerumuskannya dalam masalah, hanya untuk menarik simpati dari sosok Bramantio. *** "Berhenti menyentuh apa yang bukan pekerjaan mu..!" Amarah Alisha memuncak, saat menyaksikan kekacauan di rumahnya. Sontak Mak Iroh, orang yang memiliki ulah itu bangkit angkat kaki tanpa kata. Nasi gosong dan teko air yang bagian plastiknya telah luruh kedasar. Tapi bukan itu alasan kemarahan Alisha sebenarnya, melainkan mulut busuk Mak Iroh. Sesosok renta yang sangat di hormatinya. Berulang kali memerankan diri sebagai sengkuni. Muak..?! Tentu saja. Itu yang dirasakannya. Terlebih saat di ketahuinya Mak Iroh yang tiada lain adalah adik kembar dari kakeknya sendiri, memutar balikan fakta yang sebenarnya di hadapan Bramantyo. Hanya untuk menarik simpati Bramantyo. Memberikan kesan dirinya sebagai korban. Tentunya dengan menjadikan Alisha sebagai tersangka utamanya. --- "Alisha! kamu itu harus belajar hargai orang yang membantu mu. Bukan malah kurang ajar seperti ini..!!" Bentak Bramantyo geram. Alisha menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya, membentaknya. Menghakiminya untuk sebuah kesalahan yang sama sekali tidak dicari kebenarannya dulu dari mulut Alisha. Hancur?! Sudahlah tentu. Biduk hati remajanya terluka. Dadanya sesak melebihi apapun rasa sakit yang pernah di alaminya sepanjang hidup. Bukan hanya satu, dua atau tiga kali kejadian itu terulang. Bahkan seluruh warga desanya mendapatkan kabar yang berasal dari mulut busuk Mak Iroh. Berbagai karangan bebas Mak Iroh mengalir dengan lancar dari mulutnya. Seolah tanpa beban, telah memilih lawan yang usianya berlipat kali jauh di bawahnya. Bagaimana tidak Alisha memang cucunya, meskipun salah satu dari kedua orang tuanya tidak lahir dari rahimnya. Sungguh bukan lawan yang sepadan. Hanya air mata yang selalu temani Alisha saat itu. Menangis dalam diam. Menjerit dalam keheningan. Tak ada yang bisa ia percaya untuk sekedar ungkapkan bahwa 'aku tak bersalah'. Karena bahkan Bapaknya sendiripun tak mempercayainya. Pada akhirnya ia sadar. Tak ada gunanya ratapi semua itu. Karena yang dapat menolongnya hanyalah Dia. Bukan manusia lain yang memiliki keterbatasan pandangan, bahkan tak bisa membedakan mana kebohongan, dan mana kebenaran. Sejak saat itu, tak pernah lagi Alisha membuka vokalnya, menceritakan kondisinya pada siapapun. Karena ternyata banyak Mak iroh lain disekitarnya. Yang dengan senang hati mengorbankan Alisha demi tercapai tujuannya. Bahkan hingga Bobby yang notabene adik tiri ibu kandungnya sendiri berusaha melecehkannya secara seksual. Alisha menggenggamnya seorang diri. Bertahan dengan caranya sendiri. Karena tak ada gunanya ia berkoar meminta perlindungan kepada siapapun, yang ada dia sendiri yang dipojokkan. Mengapa?! Tentu saja, karena seluruh penduduk desa tahu se'alim' apa sosok Bobby, yang selalu aktif dalam kegiatan mulai dari pengajian anak- anak, hingga dewasa, bahkan memegang beberapa jabatan penting karang taruna dan kepengurusan desa. Lalu siapa Alisha dibandingkan semua itu? *** Waktu terus berjalan, hingga pada akhirnya Alisha terpaksa harus meninggalkan adik adiknya. Karena meneruskan pendidikannya ke jenjang SMA, sementara sang Ibu belum tiba dibatas waktu yang dijanjikannya untuk kembali. Dilema, bimbang, takut dan lainnya bergulung- gulung membuat pusara kegelisahan dalamnya hati Alisha. Di satu sisi ia tidak kuasa tinggalkan adik- adiknya. Disisi lain ia tak boleh menyerah untuk masa depannya, karena di desa itu masih sangat jarang sebayanya yang mendapat kesempatan sekolah lebih tinggi. Bahkan Maharani, si siswi langganan juara umum di sekolahnya. Tak seberuntung Alisha. Pada akhirnya harus selalu satu pilihan yang jadi keputusan. Hidup tak izinkan kita genggam dua hal secara bersamaan. Dan Alisha memilih lanjutkan sekolahnya. --- "Lis, kenapa kamu harus sekolah jauh- jauh?! Tempat yang jadi sekolah kamu itu jauh, hampir dekat perbatasan kota.., sudahlah cari yang dekat saja" Ujar Bramantio. Saat Alisha memberikan surat bukti dirinya di terima dari SMA Negeri 3. Alisha yang tak tahu apapun. Hanya termangu. Kerena memang ia tak tahu dimana tepatnya lokasi itu. Hanya berharap yang terbaik untuk masa depannya. --- Diluar dugaan akhirnya Bramantyo menyetujui Alisha masuk SMA Negeri 3. Kerena ternyata tempatnya cukup dekat dengan lokasi tempat usaha yang dijalankannya. Kemarin Bram hanya salah menduga saja. --- "Bi, titip adik- adikku ya..." Alisha memeluk Bibinya, sebelum berangkat. Bulir bening mengiringi prosesi perpisahan itu, dengan rasa yang hanya dia sendiri yang tahu. "Ck.., kaya yang mo pergi kemana aja, pake nangis segala.." Cibrian tetangga mendarat sempurna di telinga Alisha. Namun diabaikannya. Ada hal jauh lebih penting daripada mengurusi semua nyinyiran itu. Dipeluknya satu persatu ketiga adiknya. Dibisikan pesan khas seorang kakak terhadap adiknya. Tak ada air mata lagi yang menemaninya. Seolah semua air matanya habis mengering. Hatinya bertekad untuk lebih kuat hadapi semua ini. *** *** Maaf, penyusunan bahasanya masih belepotan gak jelas, banyak typo dan segala macam kekurangan lainnya. Mohon koreksi untuk perbaikan kepada semua readers dan mastah ??? Thanks for your attention guys ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN