Akal bulus "Olimkom Geje"

1159 Kata
Sejak Erika memprovokasi Hendi tempo hari di ruang rapat, usaha Hendi makin gencar menarik perhatian Alisha. Bahkan Hendi melibatkan Sukma si Ketua TCC, untuk melancarkan akal bulusnya, sehingga segala tipu dayanya seolah- olah benar- benar nyata. Seperti kali ini, kembali pembahasan olimpiade fiktip itu di gelar dan masih belum membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya pembicaraan ngalor ngidul tak jelas, bahkan susunan kepanitiaan yang di bentuk hanya Ketua pelaksana yang di jabat Hendi sendiri, Alisha sebagai sekretaris dan Erika bendaharanya. Tentu saja, toh mereka yang hadir sejak awal. Benar- benar tak masuk di akal. Bahkan peran Sukma hanyalah sekedar hadir. Dan keluar ruangan sebelum rapat usai. Beruntung Adzan Ashar berkumandang, sehingga Alisha dan Erika punya alasan untuk keluar dari ruangan itu. Dengan catatan, setelah sholat kembali lagi. *** Mario POV on Ku lihat Alisa dan Erika menuju ke arah mushola, segera ku hampiri. Samar ku dengar obrolan mereka. Aku hanya mengikuti kemana arah percakapan mereka. Karena mereka pun belum menyadari kehadiran ku. "Huh... Modus konyol!!" geram Erika. "Gak waras tu orang, maksain buat acara besar, cuma pake otak dan tenaga 3 orang.." sahut Alisa "Ehem.. Ada apaan nih, kok sewot.. Jadi Olimkom Se-Kabupatennya hn..?" Tanya ku, mulai melibatkan diri. Begitu menyaksikan kasak kusuk kedua gadis itu. Meluncurlah segala kekesalan Erika dan Lisa yang merasa sudah cukup dipermainkan oleh kelakuan seniornya itu. Hingga akhirnya Aku putuskan, turun tangan dalam permainan itu. Untuk sedikit beri si Asbun itu pelajaran berharga yang tak pernah akan dilupakannya. Seusai shalat, mereka kembali keruangan rapat, tapi kali ini dengan kehadiran ku di antara mereka. "Ckk gak perlu di kawal kali Bro, gak kan gue bawa kabur juga kekasih hati Lo..!!" cekal Hendi, saat Aku izin nimbrung dalam rapat kali ini. "Sory Bro, kita gak lagi bahas teritori pribadi di sini. Di sini Kita ada di ranah profesional. Gue datang ke sini sebagai perwakilan OSIS. Ok" Timpal Mario. "Ok, ok.." Hendi mundur. Tak berkutik. Biarkan Aku mengambil tempat ku sendiri. Tentu ku pilih di samping Alisha. Erika yang sedari tadi memperingatkan ku untuk tak terbawa emosi, tampak bernafas lega, setelah saksikan cara mainku. Dia takut aku cemburu, dan buat ribut, karena ini berkaitan dengan Alisha. Aku hanya tersenyum penuh arti, karena tak mendapati sanggahan Alisha terhadap kalimat- kalimat sahabatnya itu. "Ok Sebelumnya, Sory gue datang tanpa di undang. Tapi gue denger- denger Lo punya ide 'OK punya' Bro, kalo gue gak salah denger sih mo ngadain Olimkom se-Kabupaten. Bener gitu..?" Pancingku sedikit lambungkan pujian di awal kalimat, yang langsung di angguki Si Asbun. "... Dan itu artinya lingkupnya cukup luas juga, dan otomatis yang di usung nanti sudah bukan lagi nama TCC saja, melainkan nama SMA Negeri 3 tercinta kita ini... Benar? " jelas ku diplomatis. Sengaja memancing anggukan demi anggukan laki- laki Asbun yang berani bermain- main dengan ku. Dengan cara liciknya mengusik Alisha. Si Asbun itu mengangguk lebih mantap. "Oleh karena itu, Gue selaku perwakilan dari pihak OSIS, dengan segala kerendahan hati, tawarkan bantuan pikiran dan tenaga untuk ide Lo itu..." sengaja ku gantung kalimat itu. Nampak si Asbun yang sejak tadi hanya manggut, mulai pias. Aku terkekeh dalam hati. "... Karena menurut gue yang masih anak baru dalam dunia ke organisasian, tapi sorry sebelumnya ya, ini cuma menurut gue aja yang masih amatiran. Rasanya gak mungkin untuk ide sebrilian itu, akan rampung hanya oleh tiga gelintir orang.. Benar begitu?" Skak Mat. Tak ada lagi anggukan kali ini. Wajah itu benar- benar pucat pasi. "Tepat!! Bener banget. Setuju seribu persen.." Sahut Erika antusias. "Setuju, apalagi untuk masa pembelajaran kelas XII kan gak akan sampai 12 bulan. Paling cuma satu semester lebih ja, habis itu dah mulai nyiapin ujian akhir sekolah. Memang sanggup megang posisi sebagai ketua pelaksana ditengah kesibukan persiapan ujian?" Sambung Alisha. "Tepat sekali! Seperti itu tujuan OSIS tawarkan armada bantuan.." sambarku. "Setidaknya, kalo banyak tenaga bantuan, kita bisa saling ngisi kekurangan dan kondisikan segala sesuatunya lebih efektif dan efisien.." Lanjut ku. "Ok.., terima kasih banyak sebelumnya. Atas perhatian dari pihak OSIS. Kami juga pasti kedepannya akan melibatkan OSIS. Untuk saat ini Kami hanya bahas ini dulu secara intern TCC. Baru saat nanti sudah fix rencananya. Kami sampaikan kepada OSIS.." elak si Asbun. Ternyata besar juga nyalinya. Dalam hati ku terkekeh. 'Belum tahu dia siapa Mario' bisik batinku, dengan seringai samar ke arah si Asbun. "Ok kalau gitu, gue sabagai orang luar gak berhak ikut campur urusan intern TCC... " ku potong lagi kalimat itu, sengaja ku permainkan emosinya. Dia sedikit bernafas lega. "... Tapi bener apa kata Lisa, Lo siap ngurus kegiatan ini sambil persiapan ujian? Inget kelancaran sebuah program itu jika anggotanya loyal dan totalitas. Jika ada satu anggota atau sebagian anggotanya yang tak setuju, maka langkah akhir ada baiknya dilakukan pengambilan suara terbanyak, dan aturannya dinyatakan keputusan menang itu jika 50%+1.., jadi silakan kalian rundingkan. Anggap gue gak ada di sini". Pungkasku beranjak sedikit menjauh dari mereka. Riuh terdengar kalimat keberatan Alisha dan Erika. Dan itu artinya, mereka yang menang. Tentu saja, karena si Asbun itu cuma sendiri. Dan selesai pula misiku kali ini, untuk selamatkan Alisha dari permainan busuk si Asbun. Diam- diam Aku tersenyum mengejek kegagalan permainan busuknya. Si Asbun, melempar tatapan sengit ke arah ku, tentu dengan senang hati ku balas dengan senyuman kemenangan termanisku. Mario POV end *** Alisha POV on "Aku gak siap lanjutkan rencana ini!". Aju ku mengangkat tangan, tanda menyerah. "Sama!" sambar Erika, cepat. "Tapi ini dah berjalan, masa mo di batalin gitu aja, sayang dong waktu yang dah kita korbankan" elak Hendi masih coba bernegosiasi. "No.. No.. No.. Dari awal kan dah bilang, gak mau lagi terlibat dalam kegiatan macam ini. Situ yang maksa". Aku tetap bertahan. "Apalagi aku, sama sekali gak di ajak. Bahkan ga tau, kalo aja Lisa gak ngomong" ujar Erika. "Kalo masih mo lanjutkan agenda Olimkom, silakan. Cari anggota lain yang siap jalankan programnya". Aku mulai berkemas. "Tapi gimana kalo pembina dan Sukma nanyain perkembangannya. Program ini dah tembus loh ke Sukma dan Pak Hakim". Tutur Hendi. "I don't care about that.. Itu sih resiko anda..." jawab ku, menirukan nada kalimat Pak Hakim, saat ku adukan kondisi kesehatan ku setelah rapat pembubaran panitia Olimkom tahunan. "Ok... Ok.. Ok...,kepanitiaan Olimpiade Komputer se-Kabupaten dinyatakan bubar...!!!" Kalimat terakhir Hendi penuh emosi, menutup rapat geje itu selama- lamanya. Kami pun segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Ku akui kelihaian seorang Mario dalam menguasai keadaan. Terbukti di depan mata ku sendiri. Hingga Si Absurd Hendi tak berkutik. Kalah telak dalam permainannya sendiri. Lagi- lagi rasa nyaman dan terlindungi itu menelusup ke dalam relung kalbuku. Ada perasaan menghangat. Kekagumanku pada sosok mario mencuat kepermukaan. 'Iss... Apa itu artinya aku baru saja akui kekagumanku pada sosok Mario?' ku tepuk jidat ku. Berharap enyahkan apa yang baru saja terbersit dalam benakku. "Kenapa Lis?" Tanya Mario dan Erika berbarengan. "Eng.. Enggak, barusan ada nyamuk" lagi- lagi jawaban absurd yang meluncur dari mulut ku. Mario dan Erika saling tatap dengan kening berlipat. Ku rutuki kebodohan ku, yang tanpa sadar lakukan hal konyol. Lupa akan keberadaan mereka. Alisha POV end ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN