Alisha dan Erika merasa benar- benar lega, bisa terlepas dari sosok menyebalkan Hendi. Dan itu semua tak lepas dari peran serta Mario.
Sejak mengenal Erika, Alisha tak lagi habiskan jam istirahatnya seorang diri dengan duduk diam di kursinya. Terkadang Erika menemuinya dan mereka ngobrol ringan di teras kelas, kadang ke kantin dan lainnya. Terkadang pula Sri dan Mario ikut serta dalam obrolan ringan mereka.
Dan hari ini, mereka dalam formasi berempat. Ada Alisa, Mario, Sri dan Erika. Mereka tengah asyik menceritakan kepada Sri, tentang kejadian kemarin. Saat rencana Olimkom se-Kabupaten Geje itu GATOT.
Mereka tertawa lepas bersama, dengan otak Sri sibuk membayangkan wajah si Asbun yang gagal misi.
"Hei, Elo Mario kan, Alumni SMP Negeri 6?". Tanya seorang gadis kelas sebelah. Tiba- tiba.
"Hmm.. Ya. Kenapa?" Jawab Mario. Nampak mengingat- ingat sosok gadis itu.
"Aku juga sama" Jawab gadis yang baru saja nimbrung.
Mario mengerutkan dahi. Tanda bingung, karena tak mengenal sosok gadis itu sama sekali.
Dan si gadis rupanya faham reaksi Mario.
"Gue Virginia, panggil aja Vini. Gue tetangga kelas Lo dulu. O ya.., Gimana kabar Si Indah, yang sempat nembak Lo. Nerusin kemana dia?" lanjut gadis yang minta dipanggil Vini itu. Entah menyadari ketiga teman Mario atau tidak. Hingga Sri berdehem menyadarkannya.
"Eh Sory..., Tumben Loh seorang Mario ngumpul bareng ciwi- ciwi. Perkembangan baru loh..." Vini mengerutkan dahinya.
Mario melempar senyum penuh arti.
"O... Faham gue.." Ujar Vini.
Sejak saat itu Vini kerap bergabung dalam kebersamaan Mereka. Di jam istirahat, atau dalam perjalanan pulang.
Vini menawarkan diri pada Mario secara suka rela jadi comlang untuk hubungannya dengan Alisha. Dan kabar itu di dengar Erika, yang kemudian sampai pula di telinga Alisha.
***
Alisha POV on
Entah kenapa aku rasanya seperti tak nyaman dengan kehadiran Vini di antara kami. Walaupun Erika mengatakan bahwa ia ingin membantu Mario memperjelas hubungannya dengan ku.
Entahlah. Justru yang ku lihat malah Vini yang kerap mencoba menarik perhatian Mario.
'Tunggu..., apa itu artinya aku cemburu dengan Vini?!'
'Tapi rasa sesak dan panas ini menjalar begitu saja tanpa bisa ku hindari, saat saksikan interaksi mereka. Apa ini..?'
Lagi- lagi si kecentilan itu berusaha menarik perhatian Mario. Menggandeng lengan Mario, meski kian berusaha menghindar.
'Huh...' ku hembuskan napas berat. Jengah dengan pemandangan di depan mataku. Mengingatkan ku kembali pada Putri dan Anton tempo hari.
Namun bedanya, ada perlawanan dari Mario kali ini. ingin rasanya ku beranjak pergi sekarang juga. Tapi Erika memegang erat lenganku. Terpaksa ku ikuti maunya.
Lagi pula apa kata mereka nanti jika ku tiba- tiba pergi..
Masa harus ku jawab 'because I'm jealous with them!'. Sungguh gak lucu itu Lisa.
Ku usahakan bertingkah sewajar mungkin, melihat Vini duduk di samping Mario, sesekali gerakannya sengaja timbulkan kontak fisik dengan Mario yang tampak risih karenanya.
Hingga ku sadari tatapan Mario tertuju padaku. Dengan sorot penuh misteri yang tak ku mengerti.
Sungguh aku malas membuka vokal, ikut nimbrung di percakapan mereka. Vini mengajak kami sekedar Windows Shopping selepas pulang nanti. Erika menolaknya, namun Mario setuju dengan isyarat mata yang juga mengajak ku.
Tak ada reaksi dari ku. Biarlah, lagi pula tujuannya searah dengan jalan pulangku. Biar ku pikirkan nanti, cara melarikan diri dari situasi ini.
Alisha POV end
***
Mario POV on
Aku tersenyum penuh arti, memandang gadis pujaan yang kini nampak berwajah masam di depan ku. Dan aku tau artinya itu, ya tadi Erika sempat berbisik bahwa Alisha saat ini tengah cemburu.
Pasti itu karena kehadiran Vini. Sudah jelas. Bahkan ku sendiri merasa risih dengan tingkahnya. Alisha yang selama ini ku dekati saja, tak berani kontak fisik dengan ku dalam keadaan apapun, bahkan ketika aku memboncengnya tempo hari. Lebih memilih berpegang pada body motor, dari pada aku si pemilik motornya. Hingga ku lajukan motor dengan kecepatan siput, saking takutnya Alisha terjatuh.
Lain hal dengan Vini. Ia seolah tak sungkan dengan hal itu. Tak jarang ia mencoba melingkarkan lengannya padaku. Meski kerap ku menghindar.
Padahal ia dengan suka rela tawarkan jadi comlang antara ku dan Alisha.
Seperti halnya sekarang, Vini yang memilih duduk di sampingku, sementara Alisha dan Erika terhalang meja di dadapanku.
Ya.. Kami di kantin sekolah saat ini.
Tapi baguslah, dengan begitu aku bisa menyaksikan tingkah lucunya saat sedang cemburu, meski ia berusaha untuk bersikap wajar.
"Hei guys, Kita jalan pulang sekolah nanti yuk.. Da moll baru loh. Grand Opening gitu. Ya itung- itung Shopping Windows-lah..." ajak Vini. Menyeruput kembali minumannya.
"Sory Gue gak ikut ya..!" sahut Erika cepat.
Sementara Alisha hanya membisu. Sejak tadi hanya mengaduk makanannya tanpa minat.
"Ok. Kita ikut..." sambil memberi isyarat pada Lisa, yang hanya di tanggapi datar tanpa ekspresi.
Tak masalah. Biar ku pikirkan nanti caranya, agar ku bisa lebih lama dengannya.
Mario POV end
***
"Rika, da yang titip salam buat Lo. Tu..." Bisik Vini si comlang. Menunjuk ke arah seorang pria yang ternyata teman sekelasnya.
"Ayo, sini Sam..". Seru Vini. Pria yang dipanggil Sam itu pun mendekat.
"Kenalin Gue Sammy.." mengulurkan tangan pada Erika.
"Erika" sahut Erika.
Dan proses pen-Comlang-an pun terjadi.
Dan lagi- lagi Vini malah nampak sibuk menarik perhatian si Pria. Dan itu sangat jelas terlihat.
Hingga beberapa hari berikutnya, Dia sendiri yang membawa berita bahwa dirinya dan Sammy telah resmi 'Jadian'. Setelah usahanya gagal menjerat Mario.
"Comlang makan tanaman". Bisik Erika pelan di telinga Alisha.
Mereka terkekeh karenanya.
***