Pernyataan Cinta

1277 Kata
Sekian lama memupuk keberanian untuk utarakan perasaannya, akhirnya Mario berhasil. Tak perduli apapun yang jadi jawaban Alisha nantinya. Meski ketakutan itu kian menghantuinya, akankah setelahnya nanti interaksinya dengan Alisha masih terjalin. Entahlah.. Mario bukan cenayang yang tahu tentang semua itu sebelum maju berperang. Tapi.. Hari ini ada quiz kimia di XI-6, tentu saja itu kelas Alisha. Quiz kimia yang biasanya menjadi favorit Alisha. Kini dihadapinya dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Seolah ia bari saja dipaksa masuk rumah hantu. Ada hal unik dari guru yang satu ini. Tak pernah terlihat membawa buku apapun, sekalipun saat pun masuk kelas untuk mengajar. Tak ada catatan yang berjibun. Hanya beberapa persamaan rumus. Disertai satu hingga dua contoh soal. Tentu itu sangat menyenangkan bagi mereka yang anti dengan hal catat mencatat. Uniknya lagi, ia termasuk guru yang tak pernah melarang siswanya mencontek, sekali pun saatnya quiz. Tak ada soal yang panjangnya berderet. Bahkan tak ada larangan berdiskusi saat quiz. Menyenangkan bukan? Pembawaan yang begitu santai, namun menciptakan ketegangan. Bahkan tak banyak soal yang diberikan, namun mampu mencetak puluhan wajah prustasi dalam waktu 15 menit. Guru tampan dengan aura pembunuh berdarah dingin. Mungkin begitulah gambaran yang tepat dalam benak murid- muridnya. Seperti halnya juga dengan quiz hari ini. Hanya satu saja soal yang diberikannya. Ya...! Serius...! Hanya satu..! Sumpah, yakin gak bohong...! Hanya satu, tanpa anak, apalagi cucu. Tapi itu cukup membuat kalang kabut semua muridnya. Bahkan sang juara kelas, dan juga Alisha. Kerenkan?! Soal cuma satu, boleh nyontek, bisa diskusi pula. Namun mampu mencetak puluhan wajah prustasi dalam waktu 15 menit. Keren Abiz... Nampak wajah lusuh prustasi dari para murid begitu keluar dari ruang quiz. Termasuk Alisha dan Yayu si juara kelas. Namun tidak dengan Mario. Wajahnya seperti tak terpengaruh sedikit pun. "Santai aja kali guys. Dunia belum berakhir hanya karena KO quiz kimia woy..." Cibir Mario pada Yayu si juara kelas. Dengan tepukan ringan di bahu Yayu. "Berisik Lo Dewantoro...!" Sahut Yayu yang sedang berhadapan dengan Lisa membahas soal tadi, merasa jengah. "BT gue guys. Percuma bisa nyontek and diskusi kalo rumus yang di pake ternyata turunan dari rumus yang diterangkannya. Ya jelaslah itu ga ada di catetan kita... Huh..." restoris Yayu. "Hahaha... Sudah... Sudah... Gak usah di ambil pusing. Kan kata Pak Ali dia dah bisa nilai dari lihat muka kita juga.." Ujar Mario. "...Ya jadi, ngapain di galauin. Nilai dah ada guys. Yang penting usaha kita.. Tentang hasil pasrahin aja deh sama yang ngatur..." Lanjut Mario. Sama sekali tak ingin ambil pusing. "Bodo amat...!" Pungkas Yayu. Beranjak dari tempatnya. Lisa hanya menggeleng- gelengkan kepala menyaksikan percakapan Mario dan Yayu. Ucapan Mario ada benarnya. Tapi dia pun alami kecewa yang Yayu rasakan. Karena cuma fokos dengan rumus di catatannya, tanpa pelajari penjabaran rumus tersebut. Gimana keren gak tu guru...? Nuntut murid- muridnya kreatif, jangan selalu minta di suapi, dan memacu untuk mau mengembangkan diri. *** Mario POV on Hari ini ku berniat beranikan diri ungkap perasaan ku pada Alisha. Tentu setelah ku pertimbangkan segala reaksi selama dia dekat dengan ku, juga segala kemungkinan itu. Meski aku sempat merasa takut jika semua ungkapan rasa ku di tolaknya. Ah biarkan saja aku maju terlebih dahulu. Daripada memikirkan hal yang sama sekali tidak pasti. Aku bukan cenayang.. Kulihat Lisa sedang membahas soal quiz kimia barusan bersama Yayu si juara kelas. Soal yang mampu menumbangkan 40 siswa dalam waktu 15 menit. Selebihnya sisa waktu di jam kimia adalah hadiah dari Pak Ali untuk kami mendinginkan kepala yang berasap. Kaya di film- film kartun gitu. "Santai aja kali guys. Dunia belum berakhir hanya karena KO quiz kimia woy..." Cibir ku pada Yayu si juara kelas. Dengan tepukan ringan di bahu Yayu. "Berisik Lo Dewantoro...!" Sahut Yayu yang sedang berhadapan dengan Lisa membahas soal tadi, merasa jengah. "BT gue guys. Percuma bisa nyontek and diskusi kalo rumus yang di pake ternyata turunan dari rumus yang diterangkannya. Ya jelaslah itu ga ada di catetan kita... Huh..." restoris Yayu. "Hahaha... Sudah... Sudah... Gak usah di ambil pusing. Kan kata Pak Ali dia dah bisa nilai dari lihat muka kita juga.." Ujar Mario. "...Ya jadi, ngapain di galauin. Nilai dah ada guys. Yang penting usaha kita.. Tentang hasil pasrahin aja deh sama yang ngatur..." Lanjut ku. Sama sekali tak ingin ambil pusing. Yang sudah.., ya sudahlah. Yang penting adalah nilai usaha kita untuk tunjukkan keseriusan dalam belajar. Cie... Cie... 'Sejak kapan gue bijak gini?' Tanyaku pada diriku sendiri. "Bodo amat...!" Pungkas Yayu. Beranjak dari tempatnya. Lisa hanya menggeleng- gelengkan kepala menyaksikan percakapan ku dan Yayu. Mukanya gak jauh beda dengan Yayu. Nampak Prustasi dan kesal dengan diri sendiri. "Pulang yu..?" ajak ku. Karena jam kimia memang ada di jam terakhir. Jadi sah- sah saja kan kalau pulang. Gak kan dibilang bolos juga. Toh Pak Ali sendiri yang bilang 'Selebihnya sisa waktu di jam kimia adalah hadiah untuk mendinginkan kepala yang berasap'. Keren banget tu Pak Guru. Tak ada penolakan kali ini. Namun hanya beri isyarat dengan matanya ke arah kelas Vini. Ya.. Sejak tempo hari nimbrung bareng kita, kami kerap pulang bersama. "Masih lama mereka bubarnya..." aku faham maksud Lisa yang ingin menunggu Vini. Karena sejak Vini jadian dengan Sammy, Vini dah gak gelendotan lagi padaku. Otomatis Lisa dah gak nampak risih lagi. Lisa ngangguk pelan. Ikuti langkah ku. Saat Lisa galau gini memang tak banyak kalimat yang keluar dari mulutnya. Hanya bahasa isyarat saja, bahkan tak ada upaya bantahan apapun. Seperti dulu saat ku ajak pulang bareng. Jangan anggap aku gak terpengaruh dengan hasil quiz kimia tadi. Karena nyatanya itu nyesek banget jenderal! Tapi fokusku untuk ngomong sama Lisa, itu buat ku lebih berdebar. Dan rasa itu jauh berkali lipat dari nyesek karena gagal quiz kimia. Jadi jelas gak ada apa- apanya. Dan hari ini, seolah waktu mendukungku. Aku bisa pulang hanya berdua dengan Alisha, tanpa Erika, Sri dan Vini. Dia masih berjalan di belakangku. Mengikutiku dengan rela. Karena dia memang tidak pernah mau berjalan di sampingku. Aku faham maksudnya. Jadi Ok- Ok saja. Aku tak protes. Hingga di tengah perjalanan aku masih mengatur nafasku. Saat kami tengah berada dalam angkutan umum. Dan sepertinya Alisha mulai menyadari kegelisahan ku. Dengan isyarat matanya ia seolah berkata 'Ada apa?'. Lantas secara spontan aku jawab mengatakan 'I Love You' dengan isyarat yang sedang tren dari film 'Silence'. Sejenak Lisa mematung, mencerna maksudku. Dan bertanya lagi dengan matanya. Ku jawab dengan isyarat yang sama seperti tadi. Ia kembali mematung. Ku tahu ia faham dengan maksudku. Tanpa di minta ku ulangi lagi isyaratku untuk yang ketiga kalinya dengan tempo slow motion. Dia masih membisu, menghirup nafas yang sepertinya sejak tadi di tahannya, menggigit bibir bawahnya tanda gugup, mengalihkan sejenak pandangannya sembari menyapu wajah dengan tangannya. Entah apa yang dipikirkannya. Jujur aku harap- harap cemas saat. Dia masih membisu bahkan setelah kami turun dari angkutan umum itu. "Gimana Lis?" tanyaku memecah keheningan di tengah hiruk pikuk kota yang bising. "Apanya?" tanya Alisha pura- pura lupa. "I Love You..." Ucapku. "Sebenernya aku dah suka kamu sejak pertama kali lihat kamu.." Jelasku menggantung. "...Tapi aku gak berani bilang. Takut kamu dah punya seseorang..." Lanjutku. Lisa tersenyum miris. Entah karena apa. Tapi sumpah demi apapun, itu makin buatku dag dig dug duerr.. Dia masih tetap membisu. Seolah asyik dengan pemikirannya sendiri. "Gimana?" Tanya ku lagi. "Aku minta waktu..." Jawab Alisha sendu. "Berapa lama?" Tanya ku. Makin gak karuan hatiku. "Entah..." Jawab Alisha lagi. Menyiratkan luka di matanya. Luka yang begitu dalam. Hingga buat hatiku terasa diremas karenanya. "Ok.. Aku tunggu". Jawabku mengakhiri pembicaraan kami hari itu. Bukan aku tak ingin ungkapkan rasaku pada Alisha di tempat romantis dengan segala kelengkapannya. Tapi karena aku tahu. Alisha bukan gadis yang mudah di ajak begitu saja ke tempat macam itu. Sehingga ku putuskan cara ini. Mario POV end ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN