Kejutan Tak Terduga

1296 Kata
Mario POV on Hari ini seperti biasa, kami menjalani hari- hari dengan baik. Aku pun begitu, menikmati aktivitas baru ku. Menggoda Alisha di sela aktivitas kami. Sungguh itu menjadi hiburan tersediri bagiku. Dia sudah tak menolak saat pulang bersama. Seperti saat ini. "Yuk..." Ajakku. Saat ia baru saja keluar dari ruang laboratorium komputer. Yang sekaligus menjadi best camp TCC. "Ajakin kita juga dong..." Goda Oki, alumni di atas Niko. Entah satu atau dua tahun. Aku tak bertanya. "Ko aku ditinggal sih..? Jahat..., jahat..., jahat...!" Isma'il sok imut. "Ck tega banget ya kamu Lis...!" oceh Hendi, si Asbun. Aku hanya tanggapi semua itu dengan senyuman termanisku. Sementara Alisha. Hanya tersenyum tipis, setelah pamit tadi. Otomatis meninggalkan ku beberapa langkah. Aku yang baru menyadari hal itu, lantas bergegas pamit. Menyamakan langkah dengan Alisha. "Gimana tadi?" tanya ku. Aneh. Kok gugup. "Apanya?" Heran Lisa. "Belajarnya.." "O.. Tadi materi perakitan hard ware komputer.." "Bisa?" tanyaku memperpanjang percakapan agar tak terhenti. Lisa meringis. Tanda belum begitu faham dengan materinya. "Ya gitu deh..." Sementara Erika. Ia tengah fokus di club "Karya Tulis Ilmiah"-nya yang sebentar lagi akan mengikuti perlombaan. --- Dari jauh nampak ku lihat Alan dan Yogi mendekat ke arah kami. "Lis aku pen ngomong berdua.." Ujar Alan. Tiba- tiba dan terang- terangan di depan ku. "Ngomong apa?" tanya Lisa heran. "Ikut aku, ada yang harus kita omongin tentang hubungan kita..." Ujar Alan buat Alisha mengernyitkan dahi. "Kalo mo ngomong. Ngomong ja di sini". Jawab Alisha sambil menggeleng kepala. Di luar dugaan Alan mulai ngegas.. "O jadi gara- gara dia hubungan kita jadi renggang?!" Ujar Alan. Nuding kearah ku. Aku pun mulai sedikit terpancing emosi. Tapi masih ku tahan. Meski buat ku bertanya- tanya. Ada apa ini sebenarnya? 'Janggal'. Fikirku. Alisha makin nampak bingung. "Jadi Kamu anggap kita dah gak ada hubungan Lis?!" kejar Alan. Miris.. "Tunggu.., Tunggu aku gak ngerti apa maksud kamu Lan? ada apa ini sebenernya. Kalo kamu mau ngomong, ya ngomong di sini..." Alisha nampak semakin bingung. "O.. Jadi kamu memang anggap kita dah gak ada hubungan Lis?" keukeuh Alan. Entah siapa yang coba diyakinkannya. "Apa maksudnya?!... Dan tunggu!... tadi kamu bilang 'kita dah gak ada hubungan'..." Jeda Alisha coba netralkan emos yang nampak sedikit tersulut. Sementara aku syok bukan main. Otakku blank begitu saja. Permainan apa lagi ini? "... Dengar baik- baik saudara Alando, di antara kita bukan 'dah gak ada hubungan', TAPI memang 'GAK PERNAH ADA HUBUNGAN APA PUN' garis bawahi itu" Pungkas Alisha menekankan setiap kata pada kalimatnya. Lantas berlalu meninggalkan Yogi dan Alan. Baru kali ini aku lihat ekspresi marah Alisha. Setelah tempo hari. Karena berita yang di bawa Teguh. Itupun Alisha lebih banyak diam. Sejenak aku mematung. Lantas mengejar Alisha. Dengan segala macam rasa yang mendera. "Lis tunggu.." Seru ku. Alisha pun mengurangi kecepatan langkahnya... "Hahahaha... Selamat Anda baru saja..., KENA DEH". Tiba- tiba saja Yogi dan Alan sudah di samping kami lagi. Alisha mendengus kasar. Tanda Amarahnya nyaris meledak. "Happy birthday..." Ujar Alan. Mengulurkan tangannya pada Alisha di depan mata ku. Deg.. Hati ku serasa di remas. Bahkan aku sendiri yang notabene kekasihnya tak tahu hari apa ini. Lantas dari mana Alan tahu? Ah Entahlah... "GAK LUCU tau gak bercandanya.." bukan menyambut uluran tangan Alan. Lisa malah meninju bahu Alan. Meski ku tahu itu tak menyakiti Alan. "Dah dong marahnya.., Happy birthday ya.." Lerai Yogi juga ulurkan tangan. Lisa melengos.. "Hua hahahaha, yang di kerjain Ceweknya. Yang mo pingsan malah Cowoknya..." Ejek Yogi padaku. Aku hanya tersenyum simpul. Sungguh aku sedang tidak berhasrat sahuti kalimatnya. Lebih milih mengejar Lisa. "Hadiahnya nyusul ya.." teriak Alan. Terkekeh. --- "Kamu percaya?" pertanyaan Alisha menohok.. Aku hanya membisu. Bukan karena tak percaya pada Alisha. Tapi karena kecewa dengan diri sendiri. Tak tahu hingga sejauh itu tentang diri Alisha, bahkan tanggal lahirnya. "Tak masalah jika kamu percaya kata- kata Alan.." Lanjut Lisa. Tersenyum miris. Deg... Sepertinya Alisha salah artikan diamku. Namun rasa kecewa ku pada diri sendiri telah cukup membungkam lisan ku. Mario POV end *** Alisha POV on Hari ini kami jalani hari seperti biasa. Aktivitas pembelajaran kelas dan organisasi. Semuanya berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. "Yuk..." Ajak Mario. Saat ku baru saja keluar dari ruang laboratorium komputer. Yang sekaligus menjadi best camp TCC. "Ajakin kita juga dong..." Goda Kang Oki, "Ko aku ditinggal sih..? Jahat..., jahat..., jahat...!" Ledek Isma'il sok imut. "Ck tega banget ya kamu Lis...!" oceh Hendi, si Asbun. Aku hanya tersenyum tipis setelah pamit tadi. Otomatis meninggalkan Mario beberapa langkah di belakangku. "Gimana tadi?" tanya Mario. "Apanya?" Heran ku. "Belajarnya.." "O.. Tadi materi perakitan hard ware komputer.." "Bisa?" tanya Mario lagi. Aku meringis. Tanda belum begitu faham dengan materinya. "Ya gitu deh..." --- Dari jauh nampak ku lihat Alan dan Yogi mendekat ke arah kami. "Lis aku pen ngomong berdua.." Ujar Alan. Tiba- tiba. "Ngomong apa?" tanya ku heran. Karena aku merasa gak pernah punya bahasan apapun dengannya. "Ikut aku, ada yang harus kita omongin tentang hubungan kita..." Ujar Alan buat ku mengernyitkan dahi. "Kalo mo ngomong. Ngomong ja di sini". Jawab ku sambil menggeleng kepala. Di luar dugaan Alan mulai ngegas.. "O jadi gara- gara dia hubungan kita jadi renggang?!" Ujar Alan. Nuding kearah Mario. Yang mematung menatap ku, seolah meminta penjelasan. Dan ku rasa emosinya terpancing. Tapi nampak masih coba di tahannya. Aku makin bingung. "Jadi Kamu anggap kita dah gak ada hubungan Lis?!" kejar Alan. Dengan nada yang dibuat miris.. "Tunggu.., Tunggu aku gak ngerti apa maksud kamu Lan? ada apa ini sebenernya. Kalo kamu mau ngomong, ya ngomong di sini..." Tegasku. "O.. Jadi kamu memang anggap kita dah gak ada hubungan Lis?" keukeuh Alan. Entah siapa yang coba diyakinkannya. Aku mendengus kasar, jengah dengan ulahnya kali ini. "Apa maksudnya?!... Dan tunggu!... tadi kamu bilang 'kita dah gak ada hubungan'..." Jeda ku coba netralkan emos yang sedikit tersulut. "... Dengar baik- baik saudara Alando, di antara kita bukan 'dah gak ada hubungan', TAPI memang 'GAK PERNAH ADA HUBUNGAN APA PUN' garis bawahi itu" Pungkas ku menekankan tentang status kami. Lantas berlalu meninggalkan Yogi dan Alan. "Lis tunggu.." Seru Mario. Aku pun mengurangi kecepatan langkah... "Hahahaha... Selamat Anda baru saja.., KENA DEH". Tiba- tiba saja Yogi dan Alan sudah di samping kami lagi. Aku lagi- lagi mendengus kasar. Jengah.. "Happy birthday..." Ujar Alan. Mengulurkan tangannya pada ku. Bukannya senang dan terharu. Aku malah semakin kesal. "GAK LUCU tau gak bercandanya.." bukan menyambut uluran tangan Alan. Aku malah meninju bahu Alan. Meski itu tak menyakiti Alan. "Dah dong marahnya.., Happy birthday ya.." Lerai Yogi juga ulurkan tangan. Aku melengos.. "Hua hahahaha, yang di kerjain Ceweknya. Yang mo pingsan malah Cowoknya..." Ejek Yogi pada Mario. Aku tak peduli. Berlalu begitu saja setelah hujani Yogi dan Alan dengan tinju. "Hadiahnya nyusul ya.." Teriak Alan. Terkekeh puas, setelah keusilannya itu. --- "Kamu percaya?" pertanyaan ku pada Mario, begitu menyamai langkah ku. Dia hanya membisu. "Tak masalah jika kamu percaya kata- kata Alan.." Lanjut ku. Tersenyum miris. Aku terima apapun yang terjadi nanti. Sudah ku siapkan mental ku untuk hal seperti ini, ketika ku beri Mario anggukkan tempo hari. Jika harus kandas lagi. Tak mengapa. Lagi pula aku masih mengikat hatiku. Tak mau dulu bermain hati di usia hubungan yang belum seumur jagung ini. --- Keesokan harinya ku ceritakan semuanya pada Rena dan Sri. Sedangkan Mario ku rasa lebih menjaga jarak dengan ku. Entah kenapa hatiku serasa teriris dapati kenyataan itu. "b******k itu si Alan. Harus di beri pelajaran tu anak..!" Sri emosi setelah mendengar ceritaku. "Mo rusak hubungan kalian dia.." sahut Rena. "Kalo kamu gak berani. Biar kita yang labrak tu anak..! Gak bisa di diemin ini. Dia masih ngarep ma kamu". Sri nyaris bangkit. Di angguki Rena juga. "Sutt... Gak usah di bawa ribut. Biar nanti aku selesaikan sendiri..". Pungkasku. "Gue anter! Takut si b******k ngapa- ngapain kamu lagi nanti!". Sambar Sri. Jam pelajaran pun di mulai. Alisha POV end ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN