Mario POV on
Hari ini aku masih meratapi kebodohanku. Aku sedikit menghindar dari Alisha. Bukan aku tak tahu jika itu akan timbulkan kesalahan fahaman di antara kami.
Tapi aku sungguh merasa tak pantas ada di sisinya.
'Ah fikiran macam apa itu Mario?'
Entahlah..
Ku perhatikan dia dari jauh. Bukan tak ingin aku menghampirinya. Aku hanya butuh waktu menenangkan diri sejenak.
Bukan. Ini semua bukanlah salahnya. Karena sepenuhnya aku percaya pada Alisha. Aku tahu seperti apa karakternya. Dan semua yang diucapkan Alando kemarin tak ada yang mempengaruhi ku, kecuali kenyataan bahwa Alando lebih mengetahui hal detail tentang Alisha.
Ya. Aku tersiksa dengan rasa bersalah ku sendiri.
"b******k itu si Alan. Harus di beri pelajaran tu anak..!" Sri menggeram emosi. Sepertinya Lisa ceritakan yang terjadi kemarin.
"Mo rusak hubungan kalian dia.." sahut Rena.
"Kalo kamu gak berani. Biar kita yang labrak tu anak..! Gak bisa di diemin ini. Dia masih ngarep ma kamu". Sri nyaris bangkit. Di ikuti Rena.
"Sutt... Gak usah di bawa ribut. Biar nanti aku selesaikan sendiri..". Pungkas Lisa.
"Gue anter! Takut si b******k ngapa- ngapain kamu lagi nanti!". Sambar Sri. Yang juga di angguki Rena.
Jam pelajaran pun di mulai.
---
Ku perhatikan Alisha tampak tak fokus, meski pandangannya nampak terarah lurus kedepan. Namun ku tahu, fikirannya melanglang buana, entah sedang berada di mana.
Jam istirahat pun tiba, aku yang saat ini memilih kursi belakang. Sama sekali tak beranjak dari tempat ku. Begitu pun dengan Alisha di depan sana. Dia dan Sri nampak sedang membahas sesuatu, berkali- kali ku lihat Sri nampak mendengus kesal.
"Kurang Ajar dia! Gak nyangka kalo dia berani berbuat macam itu!". Ku dengar nada Sri meninggi. Segera ku tajamkan pendengaran. Beranjak ke meja yang lebih dekat dengan mereka.
Naluriku berkata ada yang tak beres.
"Mario tahu kejadian itu?". Tanya Sri lagi masih nampak emosi. Lisa hanya menggelengkan kepala.
'Ada apa ini?' batin ku
"Kamu jangan takut Lis, dia gak bakalan berani gitu lagi.. Pa lagi sekarang ada Mario yang bakalan siap jagain kamu. Yakin deh. Tu anak harus di atasi.." Ujar Sri. Kembali intonasinya normal.
'Apa yang di perbuat Alando pada Lisa di belakang ku?'
'Kenapa aku gak pernah tahu? Padahal sebisa mungkin ku selalu perhatikan Lisa...'
'Aahhkk...' aku makin prustasi, karena gagal menjaganya.
Rasa bersalah ku makin menggunung..
Biar ku tanya nanti apa yang terjadi pada Sri.
Mario POV end
***
Alisha POV on
Bahkan saat jam istirahat pun Mario tak kunjung menghampiri ku seperti biasa.
Huh..
Biarlah...
Jika ini memang berakhir, tak apa. Aku siap menerimanya. Lebih baik ku fokuskan pada cita- cita ku saja. Mungkin belum saatnya aku menjalin cinta. Dan memang aku pun belum siap.
"Ayo Lis, jadi kita labrak si b******k itu?" tanya Sri.
"Sri apa ini langkah yang benar? Aku ragu.." cicitku berbisik.
"Loh.., memang kenapa? Kamu takut sama si b******k itu?" tanya Sri lagi.
"Bukan gitu.." Raguku.
"Terus apalagi masalahnya?" Sri gak terima aku membiarkan ulah Alan.
Hingga akhirnya ku ceritakan apa yang pernah Alan lakukan padaku.
"Kurang Ajar dia! Gak nyangka kalo dia berani berbuat macam itu!". Nada Sri meninggi. Aku meringis. Takut jadi sumber perhatian.
"Mario tahu kejadian itu?". Tanya Sri lagi masih nampak emosi. Aku pun menggelengkan kepala.
"Kamu jangan takut Sa, dia gak bakalan berani gitu lagi.. Pa lagi sekarang ada Mario yang bakalan siap jagain kamu. Yakin deh. Tu anak harus di atasi.." Ujar Sri. Kembali intonasinya normal
'Mario..., entahlah... Bahkan sejak kejadian kemarin pun ia menjauh...' batin ku.
Akhirnya ku yakinkan diri untuk temui Alan setela bel jam istirahat terdengar. Agar tidak terlalu timbulkan kegaduhan di depan anak- anak lainnya.
"Ada apa Lis?" Tanya Alan begitu kami berhadapan.
"Tolong luruskan semua ini..." ujar ku.
"Tapi aku beneran sayang kamu Lisa..."
"Tolong fahami posisi ku sekarang Lan.."
"Gak ada kesempatan buat aku?". Tanya Alan lagi.
"Maaf..." Aku menggelengkan kepala.
"Ok, sepertinya kamu benar- benar sayang dia..."
"Aku mundur. And jangan khawatir. Nanti aku ngomong ke Mario". Pungkas Alan.
"Thanks.." Aku mengangguk akhiri percakapan.
"Lis.., Sorry.." Panggil Alan lagi saat ku dan Sri mulai melangkah pergi.
"Bener- bener gak tau malu itu anak. Masih punya nyali bilang sayang ma kamu.." geram Sri.
"Sudahlah Sri. Semuanya dah selesai..". Redam ku.
Alisha POV end
***
Mario POV on
Loh kemana mereka? Jam istirahat usai tapi malah beranjak pergi.
Aku yang hendak menyusul mereka terhenti. Karena Bu Ana guru fisika kami terlanjur masuk kelas.
---
Saat kelas berakhir Alisha segera beranjak menuju laboratorium komputer. Aku memberi isyarat pada Sri untuk menunggu. Ada hal yang ingin ku tanyakan padanya.
"Lo kenapa jauhi Alisha?! Hah!" kalimat pertama yang Sri lontarkan padaku.
"Nyerah Lo? Gak percaya Lo ma Lisa? Payah ya ternyata Mario..?!". Lanjut Sri.
"Bukan gitu maksud gue Sri..." cicitku.
Mengalirlah ceritaku. Tentang rasa bersalah dan lainnya pada Alisha.
Hingga ku dengar pula tentang cerita Alisha dari Sri.
Ku pejamkan mata dalam. Tinjuku membulat. Dan lagi- lagi rasa bersalah ku menumpuk.
Gak pernah ku prediksi Alando senekat itu pada Lisa.
Buat ku bertekad gak akan lagi lakukan hal bodoh dengan menghindari Alisha.
"Gak seharusnya Lo ngindarin Lisa, Rio. Gimana kalo sampe dia salah faham?". Tutur Sri. Kembali bersahabat.
"Ya Sri. Thanks dah jaga Lisa saat ku di kuasai kebodohan ku..".
"Tentu Rio. Dia sahabat baik ku.. Mana mungkin ku biarkan dia di saat seperti ini.." ujar Sri.
"... Emm.. Dan Lo. Kalo gak bisa jaga dia, gak bisa serius ma dia, mendingan Lo minggat gih.. Coz dia tu tipe orang yang serius dalam segala hal. Tentu juga dalam jalin hubungan. Bukan untuk sekedar main- main". Papar Sri.
"Aku tahu itu Sri. Dan aku pun gak main- main ma dia. Aku bakal jaga dia. Aku gak kan macem- macemin dia. Aku mau dia sebagai pendamping ku nanti. Bukan cinta sesaat.." Tutur ku.
Sri-pun mengangguk faham.
---
Hari ini ku putuskan tak menunggu Alisha. Ku rogoh saku seragam ku, menjangkau sebuah amplop yang semalam ku terima.
Katanya alakadarnya, karena aku telah membantu membimbing anak- anak komplek. Aku berusaha menolak saat itu. Tapi sekeras itu juga dia sodorkan amplop itu. Katanya jangan lihat jumlahnya, dan mudah- mudahan berkah.
Di sinilah aku sekarang, di toko baju perempuan. Ku langkahkan kaki masuk lebih dalam.
Malu?! Tak ku hiraukan itu. Hingga mata ku tertuju pada sebuah kerudung putih sederhana.
'Ku yakin ini cocok untuk Alisha..' aku tersenyum membayangkannya.
'Hadiah pertama ku untuk Alisha. Dan itu dari hasil keringat ku sendiri'.
'Inilah Hadiah yang sebenarnya'
'Bukan prahara yang di buat Alan kemarin'
Mario POV end
***