Di dalam ruangan bernuansa putih, Jihan tidak lepas memandang sang ayah yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Di bagian kening, terdapat jahitan akibat luka yang cukup dalam. Sementara tangan kakinya terdapat beberapa luka ringan. "Ayah, bangun, Ayah. Jihan ada di sini." Juna menghela napas, melihat Jihan bergumam lirih dengan tampang sedihnya berharap Oji segera sadarkan diri. "Mas, kok Ayah belum bangun juga ya?" lapor Jihan, menatap sendu suaminya. "Sabar. Mungkin sebentar lagi. Dokter bilang gitu juga kan tadi?" Jihan mengangguk lemah. Meski Dokter telah mengatakan kalau Oji sebentar lagi akan bangun dari pingsannya, tetap saja Jihan khawatir dan tidak tenang sebelum melihat Oji sadarkan diri. Juna menyandarkan punggungnya pada penyangga sofa yang ia dudukan. "Sampai sekara

