Hari-hari berlalu, semua berjalan baik sebagaimana yang Jihan harapkan selama ini. Terlebih hubungannya dengan Juna yang kian membaik. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu sudah tak lagi canggung saat bicara santai dengan Juna. Suara pintu yang terketuk terdengar dari luar ruang kerja. “Mas, aku masuk ya?” “Iya!” Pintu terbuka, Jihan tersenyum kala melihat suaminya sedang fokus mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Kacamata yang bertengger di atas hidung mancung nya, semakin membuat Juna terlihat tampan. “Ini aku bawakan teh manis hangat spesial buat kamu,” ucap Jihan seraya menyimpan minuman tersebut di atas meja kerja Juna. “Terima kasih,” balas Juna disertai senyuman. “Terima kasih ke siapa?” Jihan sengaja menggoda. Entahlah, akhir-akhir ini ia suka menggoda suaminya. Apalagi Juna

