Kisah Arista 31 Rista merasa berat ketika ingin menggerakkan tubuhnya, ia membuka matanya. Lengan kekar Ari bertengger manis di pinggangnya, mendekap erat Rista dengan mesra. Membuat Rista sedikit kesulitan saat ia hendak beranjak dari ranjang yang semalam menjadi tempat tidur mereka. Ia terbangun karena sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi, menyiapkan sarapan untuk mereka berdua sebelum berangkat bekerja. Namun, Rista baru tersadar. Kini ia sudah tidak lagi mempunyai pekerjaan, miris sekali. Baru kemarin ia dipecat. Rista tentu harus beradaptasi dengan status barunya sebagai seorang pengangguran. Ia menatap wajah suaminya, cahaya remang-remang dari lampu tidur tidak mampu menyembunyikan luka memar di wajah Ari. Rista juga melihat setitik darah mengering di sudut bibir suaminya. Perlah

