Menjelang Wedding Milah dan Arshad
Gadis cantik nan anggun itu kini terlihat gelisah, ia duduk termenung sendirian di depan cermin di dalam kamarnya. Banyak hal yang mengganggu hati dan pikirannya, terutama tentang acara pernikahannya yang akan segera dilangsungkan beberapa hari lagi.
Sejak pagi Milah tidak keluar kamar sampai sekarang. Entah apa yang telah mengganggu pikirannya itu, yang pasti saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya kalut saat memikirkan perkataan seseorang yang telah menyakiti hatinya.
Siapa lagi jika kalau bukan sang Ayah kandung yang telah meninggalkannya dua puluh lima tahun bersama sang Ibu tercinta. Waktu segitu tidaklah singkat, waktu yang penuh derita dialaminya hanya berdua bersama sang Ibu. Dia kabur membawa semua harta yang keluarga Ibu miliki, setelah itu dia tidak ada kabar sampai sekarang. Tetapi kenapa dia muncul sekarang disaat aku telah melupakannya?
Ke mana ia dulu? Disaat dirinya dan sang Ibu sedang kesusahan. Kenapa tidak dari dulu dia datang, kenapa baru sekarang?
Seharusnya saat ini hati Milah merasa senang karena dua hari lagi pernikahannya dengan sang pujaan hati akan segera dilaksanakan. Tetapi kenapa ujian hidup datang lagi disaat ada seorang wanita yang sama mencintai kekasihnya. Kali ini cintanya benar-benar diuji, dengan adanya gadis itu kali Milah merasa lebih cemas dari sebelumnya.
Ashila Shafira, dialah gadis yang membuat hatinya akhir-akhir ini merasa cemas. Gadis yang membuat kesabarannya menumpuk dan kini akan meledak disaat gadis itu bertekad untuk menggagalkan pernikahannya.
"Kali ini aku tidak akan tinggal diam, Ashila. Kali ini kau beruntung bisa lolos dariku, tetapi tidak untuk kedepannya. Aku akan bertindak dari sebelum kau menghancurkan acaraku.
Jamilah kini gadis itu telah berubah, yang dulunya lugu dan pendiam kini gadis itu sama halnya seperti Balqis karena adiknya itulah yang telah merubah sang kakak menjadi kejam atas ketidakadilan yang ada di dunia ini.
"Meskipun kau adalah anak dari Ayah. Aku tidak akan membiarkan kau merebut kebahagiaanku, cukup dulu saja kau ambil kasih sayang ayahku tidak untuk kebahagiaanku."
Satu titik buliran bening telah jatuh diatas pipinya. Mengingat betapa teganya sang Ayah tidak menganggap dirinya sebagai anaknya dan malah mencapnya bahwa dirinya anak dari hubungan gelap sang Ibu dengan pria lain.
Milah tahu kalau ibunya adalah wanita baik-baik. Tidak pernah berhubungan dengan seorang pria selain Ayah. Hanya saja pria itulah yang b******n, tidak mau menganggap darah dagingnya sendiri.
Tiba-tiba Milah tersadar dari lamunannya saat terdengar suara kecil yang memanggilnya. Dengan cepat Milah mengelap air pipinya yang basah dan mulai memasang wajah tersenyum.
"Mami .., Buna Balqis jahat. Ufal gak dikasih es krim," rengeknya yang langsung menggelayut manja di tubuh maminya itu.
"Anak Mami pengen es krim?" tanya Milah. Ia sangat gemas saat melihat raut wajah melas ponakannya itu. Dengan cepat anak itu mengangguk tanda bahwa ia menginginkan es krim.
Melihat ekspresi anak itu Milah langsung menjawil hidung mancung anaknya dan berkata, "Baiklah, anak Mami yang tampan. Kita beli es krim."
"Beneran?" tanya anak itu dengan sumringah.
"Iya, masa Mami bohong," jawabnya dengan nada meyakinkan.
"Mami gak takut di omelin Eomma? Soalnya Eomma sama Buna ngelarang Ufal buat makan es krim," jelas anak itu dengan raut bertanya-tanya.
"Soal itu nanti Mami yang urus."
Kini mereka berdua telah siap untuk pergi menuju minimarket terdekat. Saat langkahnya tepat akan melintasi ruang tamu tak sengaja netra Balqis melihat kakaknya itu sedang menggendong Naufal hendak berjalan keluar. Dengan cepat Balqis menghentikan kakaknya dan menyusulnya.
"Kakak mau ke mana? Kakak gak boleh ke mana-mana dulu sebelum acara pernikahan Kakak dilangsungkan. Terus kenapa bawa Naufal juga?"
"Kami mau beli es krim di minimarket terdekat," jawab Milah.
"Janhan khawatir! Kami hanya sebentar, tidak akan lama," lanjutnya. Saat Milah hendak keluar dan hendak menuju mobilnya tiba-tiba Balqis beteriak.
"Balqis ikut! Gak mungkin adek lihat Kakak keluar sementara Kakak belum sehat betul. Seharusnya Kakak itu istirahat saja jangan pergi kemana-mana dulu."
"Tidak apa-apa. Kakak hanya ingin mencari udara segar saja," jawabnya dengan santai saat adik bawelnya itu memarahinya.
Next orang stop?
Comment oke, guysss!