Pagi hari semua orang berkumpul di ruang makan, mereka sedang sarapan pagi dengan diwarnai keributan dari anak-anak.
"Eomma, Ufal pengen makan roti pakai selai stowberry bukan selai nanas," pinta bocah lelaki satu-satunya di keluarga itu.
"Sini, biar Appa saja yang oleskan." Kairi yang melihat sang istri kerepotan dengan sigap dia langsung mengambil alih roti tawar yang ada di tangan istrinya.
"Khumaira fokus makan saja, biar anak-anak Habibie yang urus."
"Makasih, Habibie."
Namun, saat bubur masuk ke dalam mulut Mumtaz, tiba-tiba saja dia langsung memundurkan mangkuk dan mengambil air minum.
"Tidak enak. Rasanya hambar." Mumtaz mengelap mulutnya dan kembali menatap nanar s**u yang sudah dibuatkan oleh Kairi.
"Apakah ini s**u hamil?" tanya Mumtaz yang langsung diangguki oleh suaminya.
Kairi menyodorkan s**u itu ke istrinya. "Di minum susunya." Namun, lagi-lagi Mumtaz menolak untuk makan sesuatu bahkan s**u pun tidak bisa diterima oleh mulutnya.
"Ayolah, jauzati. Sedikit saja," bujuk Kairi yang terus menyodorkan gelas berisi s**u hamil itu.
Mumtaz tersipu karena baru kali ini suaminya mengatakan sesuatu dengan bahasa Arab. Biasanya dia akan mengatakan kata-kata romantis dengan bahasa Inggris atau Korea.
Tak ingin mengecewakan suami tersayang. Dengan ragu, Ibu beranak empat itu mengambil s**u itu dan mencoba untuk meminumnya meski hanya setengah.
"Istri pintar!" Kairi mengelus luck kepalaku sang istri lembut sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya. Lalu belaian itu turun ke perut dan kembali mengusap pelan.
"Halo, anak Appa. Kamu sehat-sehat, yah. Jangan suka menyusahkan Eomma dan nanti jangan bandel kayak kakak-kakak kamu." Kairi langsung mendapatkan tatapan horor dari ke empat anaknya.
"Appa! Kami tidak nakal, kami juga sayang Eomma," seru Naufal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Medina juga!"
"Kami juga!" timpal Ghea dan Thea bersamaan.
Mumtaz hanya terkekeh melihat ke empat anaknya yang sedang marah.
"Hayoloh, kalau sudah seperti itu pasti Habibie bakal didiemin." Wanita yang disebelahnya malah memanasi dengan mengatakan seperti itu.
Padahal Kairi mengatakan itu hanya becanda karena dia ingin melihat bagaimana reaksi anak-anaknya, kalau dia sekarang lebih perhatian ke calon adik mereka.
"Appa minta maaf. Appa percaya, kok. Kalian semua anak-anak yang baik dan pintar."
"Jangan diulangi, Naufal gak suka Appa ngatain kami seperti itu lagi." Kali ini Naufal terlihat lebih sensitif dibanding dengan kakak-kakaknya. Mungkin karena dia tidak mau kasih sayang Appa dan eommanya terbagi.
Setelah selesai sarapan, Mumtaz dan Kairi mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah. Sementara Milah dan Balqis pagi-pagi sekali sudah berangkat ke tempat kerja.
"Hari ini sampai seminggu ke depan, Habibie akan bekerja di rumah." Kairi memeluk istrinya yang sedang duduk di sofa, menikmati moment saat berdua.
"Kenapa?" Mumtaz mendongak menatap wajah suaminya.
Lelaki tampan itu tersenyum.
"Habibie hanya cemas dengan keadaan Khumaira saat ini. Jadi, biarkan Habibie menemani Khumaira, ya."
"Hum, baiklah." Lalu mereka bersiap untuk bekerja. Meskipun dalam keadaan hamil, Mumtaz selalu memantau perusahaan milik alm. Ayahnya.
Begitulah pasangan dari Mumtaz dan Kaiair. Mereka selalu menebar virus romantis setiap saat, saking bucinnya. Padahal mereka sudah memiliki empat anak dan satu lagi yang masih di dalam kandungan, tapi tetap saja mereka tak segan-segan untuk bermesraan.
⋇⋆✦⋆⋇
Di kantor Milah, gadis itu di sibukan dengan banyaknya klien yang datang untuk meminta perusahaan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah mereka. Ya, Milah sekarang sudah mempunyai kantor pengacara sendiri dengan memiliki beberapa karyawan pengacara dari teman-temannya yang bergabung di kantor.
Setelah jam istirahat tiba, saat Milah hendak makan ada video call masuk ke ponselnya.
Saat melihat nama yang tertera di layar adalah sosok yang dia rindukan, lalu dia melupakan makanannya dan bercanda dia dengan sang kekasih.
"Assalamualaikum, calon istriku," ucapanku Arshad sambil tersenyum.
"Walaikumsalam, calon suamiku," jawab Milah dengan sumringah.
"Hei, ada apa menelpon?" Bohong. Milah bertanya seperti itu hanya untuk basa basi, padahal di dalam lubuk hatinya dia begitu bahagia.
"Kalau saat ini Balqis dan kak Mumtaz tahu kalau aku VC-an sama Arshad pasti mereka bakal ngeledekin aku," batin Milah.
"Hanya ingin menyapa calon istriku. Mau tahu gimana kabarnya, mau tahu apa aja kegiatannya, dan mau ngingetin kalau ada hati yang harus dijaga."
"Cie, cie. Ceritanya ada yang kangen, nih? Mana posesif banget lagi," ledek Milah.
"Biarin, emang gak boleh? Orang sama calon istri sendiri, wajar 'kan?"
"Iya, iya. Jangan emosi gitu, aku cuma becanda. Lagian aku juga seneng, kok. Bisa kangen-kangenan sambil ngobrol," sela Milah dengan jujur.
Habis itu mereka tidak meneruskan obrolan mereka, seperti nge-lag. Keduanya sama-sama diam sambil memperhatikan wajah satu sama lain.
"Hum, cantiknya istriku," gumam Arshad.
"Calon imamku cepat, dong. Halalin aku biar kita gak jauh kayak gini."
"Sabar, ya. Tak akan lama ke kasih hatimu ini akan melamarmu. Tunggu aku di rumah, jangan ke mana-mana."
"Yee, emangnya aku mau ke mana?"
"Siapa tahu mau ke benua antartika."
"Ish, kamu, mah!" Milah memasang wajah melas, berbeda dengan Arshad yang malah ketawa.
Dengan kesalahanku Milah mengutarakan hatinya.
"Udah, ya. Aku tutup telponnya, bye!"
Setelah saluran video call terputus.
"Masih sempat-sempatnya dia seperti itu! Gak ada romantis-romantisnya. Coba aja kalau kak Kairi, pasti udah kelepek-kelepek aku, tuh! Secara kak Kairi jago banget, gak kaku kayak Arshad."
Tak lama, ada pesan masuk. Dilihat, ternyata itu dari Arshad yang isinya ucapan minta maaf.
"Huft, untung cinta. Kalau enggak udah masa bodo," gerutu Milah. Lalu dia langsung membalas pesan Arshad bahwa dia sudah memaafkannya.
Chatan mereka akhirnya berlangsung membahas persiapan acara pernikahan.
Sementara di tempat lain, yaitu rumah sakit besar di Jakarta. Seorang gadis yang selalu ceria dan jail kini terlihat murung, tidak sesemangat dulu. Entah, sekarang apa kabar dengan Balqis yang selalu aktif? Apakah itu sudah mati saat kepergian seseorang?