Ada Apa Dengan Kakak?

1167 Kata
Di hari libur pun Milah masih sibuk bekerja, membawa semua laporan-laporan klien-nya yang menumpuk ke rumah. Saking terkenalnya, dia harus mempelajari kasus-kasus tersebut sampai larut malam. Dia pengacara kompeten, jadi dia harus bisa menyelesaikannya dalam jangan waktu dekat. Mengingat sebentar lagi acara pernikahan akan dilangsungkan. Maka dari itu, sebelum dia cuti, dia ingin semuanya sudah terselesaikan. Setiap hari minggu, seluruh seisi rumah akan makan bersama dan bersantai di depan televisi. Berhubung kakaknya sedang hamil, jadi mereka lebih memilih mengahabiskan waktu di dalam kamar. Kini giliran Balqis yang mengurus empat bocah di rumah itu. Dia benar-benar terlihat senang, tetapi saat Naufal bertanya soalnya Kei dia langsung diam. "Kapan dia akan kembali? Apakah dia sudah melupakanku?" batin Balqis sambil melamun. Sampai anak-anak yang berceloteh asyik di hadapannya hiraukan. Naufal mengingat apa yang dikatakan oleh uncle Keinya, jika sedang melihat Mommy Balqis melamun atau bersedih. Anak itu dengan perlahan mendekati Balqis dan membisikan sesuatu telinga mommy-nya itu. "Uncle Kei ingin Naufal menjaga Mommy sampai uncle Kei kembali. Dia berpesan kepada Naufal untuk tidak membiarkan Mommy memikirkan uncle Kei, katanya lebih baik Mommy cerewet daripada harus bersedih." Balqis langsung sadar dari lamunannya, menoleh, dan menatap lekat anak kecil di pinggirnya. "Apakah uncle mengatakan hal itu?" Naufal tersenyum dan langsung mengangguk. Detik berikutnya mata Balqis berbinar meski terdapat sedikit cairan bening dikelopak matanya. Akan tetapi, itu lebih baik karena sejujurnya dia tidak banyak tahu apa saja yang dikatakan oleh Kei ke Naufal. Merasa heran, Naufal langsung mengutarakan yang ada dibenaknya. "Mommy merindukan uncle Kei?" Refleks Balqis mengangguk tanpa dia sadari itu sudah membuat Naufal anak yang cerdas mulai mengerti dan menyeringai. "Asyik, Mommy sayang uncle Kei. Kan kata Eomma kalau kita merindukan seseorang berarti kita sayang sama orang itu. Ah, uncle Kei pasti bahagia kalau tahu hal ini," racau Naufal dengan raut gembira, dia duduk kembali sambil senyum-senyum sendiri. Balqis yang mendengar kicauan ponakannya itu langsung mengelak. "Mana mungkin Mommy sayang sama uncle kalian yang menyebalkan itu. Mommy tidak sayang sama dia, titik!" Dengan kesal dia langsung bangun dan meninggalkan anak-anak yang sedang asyik menonton kartun kembuat yang lain menyadari hal itu langsung bertanya, "Mommy kenapa? Kok, pergi?" Naufal hanya mengedikan kedua bahunya. Thea yang tahu ada yang aneh dengan adik kecilnya itu langsung menatap meminta penjelasan. "Tidak ada apa-apa, ini rahasia antara aku dan uncle Kei. Kalian tidak boleh tahu." Setelah mengatakan itu bocah berumran tubuh tahun itu berlari meninggalkan kakak-kakaknya. Lalu bocah itu ke kamar kedua orang tuanya untuk meminjam ponsel mereka. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas rahasia seperti apa yang dia katakan. Balqis berjalan menuju kamarnya sambil mengerutu. Namun, saat dia hendak menaiki tangga, tiba-tiba saja pandangannya menangkap seseorang di luar rumah. Lalu dia memutuskan untuk menghampiri orang itu. Balqis kembali dengan tingkah usilnya. Dia akan mengagetkan sosok tersebut. "Duar!" Seketika Milah yang sedang fokus memangku laptop terhenyak dan laptop itu hampir terjun ke lantai kalau tidak dia raih. "Gak lucu Balqis, kamu bikin Kakak jantungn tahu!" sewot Milah sambil melirik kesal ke adiknya yang sedang menyengir tanpa dosa. "Lagian, hari libur juga masih aja sibuk kerja. Inget, kak. Bentar lagi manten, jangan terlalu cape nanti berabe kalau sakit. Nanti jadi ada kata 'Pengantin Pengganti', loh! Kan gak lucu!" Gadis itu tertawa, tetapi tidak dengan dengan Milah yang malah menatap horor adiknya itu. "Balqisss, kamu jangan ngomong yang engak-enggak, dong. Beneran gak lucu!" jerit Milah membuat Balqis berhenti tertawa. "Hehe, maaf, Kak. Lagian serius amat, sih. Sampai segitunya," tutur Balqis sambil mengacungkan jadi telunjuk dan jadi tengahnya. "Kakak, tuh sekarang lagi pusing. Mana belum persiapan, tapi kerjaan masih numpuk," curhat Milah dengan wajah lesu. Melihat kakaknya itu lesu Balqis langsung duduk di kursi. "Jangan sedih, Kak. Kan ada adek kakak yang cerdas ini. Serahkan saja semuanya sama Balqis, pasti semuanya langsung beres. Percaya, deh!" "Beneran? Kamu bisa bantu Kakak?" "Yupz, Balqis gitu, loh." Namun, Milah malah menatap adiknya itu dengan wajah tidak meyakinkan. Dia tahu kalau adiknya itu cerdas, tetapi apakah dia bisa mengerti mengenai hukum dan sebagainya? "Kenapa? Kakak meragukan Balqis? Kakak tidak percaya kalau Balqis mampu membereskan pekerjaan Kakak?" Dengan pelan Milah mengangguk membuat adiknya berdecak kesal. "Lalu mau sampai kapan Kakak berkutat dengan ini semua?" Balqis menunjuk tumpukan map yang berserakan di meja. Milah langsung menggeleng. "Entahlah, Balqis. Kakak juga tidak tahu." "Nah, kakak juga tidak tahu kan? Mending serahkan semuanya pada Balqis, terus kakak fokus saja sama persiapan pernikahan Kakak. Tinggal tiga minggu lagi, loh. Keburu Kakak ipar Arshad datang, tapi Kakak belum ngapa-ngapain," cerocos gadis berjilbab pashmina coklat dengan panjang lebar. Milah terlihat sedang berpikir, dia mengerutkan kening sambil mengulang kembali apa yang tadi diucapankan oleh adiknya itu. "Benar juga, lagi pula Balqis pasti mampu beresin ini semua. Aku tahu kemampuannya yang luar biasa itu," gumamku gadis berjilbab sehingga empat lebar berwarna navy. "Oke, Kakak percayakan semuanya sama kamu. Jangan kecewakan Kakak, yah!" "Dan makasih juga buat saran dan bantuannya adikku yang paling comel." Milah mencubit kedua pipi Balqis dengan gemas sampai si empunya mengaduh. "Aduh, Kakak sakit tahu!" Milah hanya terkekeh melihat adiknya cemberut. Lalu tiba-tiba saja dia mempunyai ide untuk menjahili balik adik usilnya itu. "Bagaimana kabarnya Kei? Apa kalian saling bertukar kabar?" tanya Milah membuat Balqis yang fokus membaca dokumen langsung menarik nafas. Dia menatap lurus ke arah rumput, seketika pertanyaan itu membuat dia menjadi mode diam. "Ada apa? Apakah itu jawabannya tidak?" Milah terus saja bertanya. Ingin memastikan firasatnya. Mana mungkin Balqis mau mng-chat Kei lebih dulu. Pasti dia gengsi meski rindu sudah menggunung, tapi gadis itu benar-benar keras kepala! "Bisakah Kakak tidak bertanya hal itu? Aku benci kenapa semua penghuni di rumah ini menanyakannya kepadaku? Memangnya siapa aku? Aku bukan siapa-siapanya Kei." Mata Balqis mulai berkaca-kaca, dia meremas sisi celananya dengan kuat. "Maaf, Kakak tidak bermaksud untuk membuatmu sedih." Milah langsung merangkul adik kesayanganya, mencoba untuk menenangkan dan menyalurkan kedamaian. Namun, gadis itu memang tidak lemah dan cengeng. Lihat saja bagaimana dia yang langsung mengusap lelehan cairan bening di matanya. "I'm okey, Kak." Balqis buka suara di keheningan yang sempat ada di antara mereka. Milah yang mengerti langsung melepaskan pelukannya. "Are you Sure?" "Yeah, I'm sure!" Milah menghembuskan nafas lega. Setidaknya Balqis tidak jadi sedih, bisa mampus dia kalau jadi. Bisa-bisa nanti pekerjaannya tidak akan diselesaikan. Tak lama, suara panggilan terdengar dari handphone Milah. Lalu gadis itu langsung mengangkatnya setelah melihat nama yang tertera di layar. "Halo, Milah. Saya ingin kasih tahu kamu kalau Arshad sedang dirawat di rumah sakit. Dia kemarin keracunan makanan, jadi kami akan kembali ke Indonesia akan sedikit mepet," tutur Hadi teman dari kakaknya Mumtaz yang berasal dari Arab juga. Dia dan Zidan akan membantu persiapan dibelah pihak Arshad, makanya mereka ada di negara asalnya. Milah syok, pinselnya jatuh dan detik berikutnya dia pingsan. Di dalam pikirannya sebelum pingsan. "Bagaimana pernikahannya nanti?" Melihat kakaknya jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Balqis yang fokus pun langsung menghampiri Milah. "Astaga Kakak!" pekik Balqis. Sesaat dia langsung meraih ponsel yang masih bersuara memanggil nama kakaknya. "Halo?" Namun, saat itu juga salurannya putus. Lalu pikiran Balqis bergelut dengan pertanyaannya, sementara tangannya mencoba membantu kakaknya. "Ada apa ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN