Merasa penasaran, Balqis mengambil ponsel sang Kakak dan melihat siapa yang menelponnya tadi. Dia langsung mengerutkan kening setelah membaca nama yang tertera di layar.
"Kak Hadi?"
"Ada apa sebenarnya ini?" Lalu buru-buru dia menelpon kakak pertamanya. Setelah memberi tahu keadaan Milah, gadis itu mencoba untuk membangunkan kakaknya dengan minyak kayu putih.
"Kakak sadar, Kak!" Balqis terus gelisah, sebagai dokter handal dia tahu kalau kakaknya itu sedang syok, tetapi entah apa yang membuatnya sampai jatuh pingsan?
Lalu tak lama Mumtaz, Kairi, dan ke empat anaknya datang yang langsung menghampiri Balqis dan Milah.
"Astaghfirullah, kenapa Milah, Dek?" tanya Mumtaz yang tak kalau gelisah. Dia meminta sang suami untuk membawa adiknya itu ke kamar.
Sementara itu, Balqis yang menggenggam ponsel kak Milah langsung menyerahkan ponselnya ke kak Mumtaz.
"Kak, Balqis minta to long. Coba Kakak telepon balik kak Hadi, tanyakan padanya ada apa masalah dengan kak Arshad. Firasatku mengatakan hal itu, Kak." Mumtaz langsung menerima ponsel yang adiknya sodorkan, dia mengangguk dan melaksanakan apa yang diminta oleh Balqis.
Sementara gadis itu berjalan meninggalkan kakaknya ke kamar Milah. Dia ingin memeriksa kondisi kak Milah dengan Naufal yang mengekori dirinya.
"Anak kecil lebih baik duduk anteng saja nonton kartun, yah. Mommy mau baru Umma kalian, oke?"
Dengan wajah lesu, Naufal mengangguk. Lalu dia kembali duduk di depan TV bersama ke tiga kakaknya.
"Coba saja uncle Kei dan uncle Arshad ada di sini, pasti rumah ini akan ramai dan semua orang akan bahagia," batin bocah itu. Dia melamun tidak berselera lagi melihat film kartun Boboboy.
Setelah di tangan oleh Balqis, akhirnya Milah siuman. Kini gadis malang itu duduk melamun sambil meneteskan air mata. Sedangkan sang Kakak begitu syok saat mengetahui kalau adik tirinya sedang di rawat.
"Ada apa, Khumaira? Apa yang terjadi?" tanya Kairi. Dia membawa istrinya masuk dan mendudukan di sofa.
"Arshad, dia sekarang dirawat. Lalu bagaimana dengan pernikahannya? Khumaira takut kalau semuanya tidak akan berjalan dengan--"
Seketika Kairi meletakan jadi telunjuknya di bibir sang istri yang terhalang oleh cadar. Dia menggeleng bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak mau kalau istrinya terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi, sebab Kairi tidak ingin hal itu mengganggu kehamilan sang istri.
"Dengarkan Habibie, Khumaira tidak boleh banyak pikiran. Biar semuanya Habibie yang urus, tugas Khumaira hanya menjaga diri Khumaira, calon adek bayi, dan anak-anak. Itu saja," tutur Kairi lembut. Dia berusaha memberikan pengertian kepada istri tercinta supaya tidak ceroboh lagi seperti dulu. Kali ini Kairi ingin istrinya bisa hamil normal tanpa harus di rawat berbulan-bulan di rumah sakit.
Mumtaz mengangguk. "Afwan, Khumaira akan menuruti semua yang diucapanku Habibie. Khumaira akan jadi istri yang nurut untuk ke depannya."
Kairi tersenyum lega, lalu membawa tubuh sang istri dalam pelukannya tak lupa juga mengecup kening sambil mengelus anak mereka yang masih di dalam perut.
"Semoga istriku ini sehat selalu, selalu bahagia, dan bisa menjadi Eomma yang baik."
Semburat senyum hangat muncul di wajah Mumtaz, meskipun tertutup cadar, tetapi bisa dilihat dari mata yang bulat itu menyipit.
"Terima kasih banyak, ya Allah karena sudah memberikan aku suami yang luar biasa. Semoga adik dan anak-anaku bisa mendapatkan suami seperti Habibie yang pengertian ini," batin Mumtaz.
Lalu Mumtaz mengajak anak-anak untuk tidur siang, tetapi sebelum itu dia membuatkan makan siang berupa chicken, perkedel, dan nugget.
Setelah merasa tugasnya sebagai Ibu terselesaikan, kini dia bergilir menjadi Kakak untuk kedua adiknya. Dia ke kamar Milah dengan membawa nampan berisi nasi dan lauk pauknya.
"Makan dulu, Dek. Kakak mohon, ya," pinta Mumtaz yang sudah duduk di sisi ranjang. Dia menyodorkan piring ke arah adiknya itu yang tidak segera disambut.
"Baiklah, kalau kak Milah tidak mau lebih baik nasinua buat aku saja, kak Mumtaz. Aku juga lapar." Saat Balqis hendak mengambil piring nasi itu, tiba-tiba saja tangan kak Milah lebih dulu mengambilnya membuat dia tersenyum.
"Yah, nasinya keduluan ambil. Yaudah, kalau gitu adek yang imut ini mau ke dapur dulu mengisi perperutan." Gadis itu melambaikan tangan dan berlenggang pergi meninggalkan kedua kakaknya di kamar.
Mumtaz yang melihat adiknya tak kunjung makan membuat dia menawarkan diri untuk menyuapinya, tetapi langsung ditolak.
Setelah selesai makan, Milah termenung kembali menghiraukan adanya sang Kakak di sana.
Mumtaz menggengam tangan kedua tangan adiknya.
"Kakak tahu apa yang sedang menganggu pikiranmu saat ini, tapi Kakak mohon kamu jangan bersedih seperti ini. Kakak yakin semuanya akan baik-baik saja, semua yang kalian rencanakan akan terlaksana. Percaya sama Kakak."
"Tapi, Kak. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Arshad, apakah sekarang dia baik-baik saja? Ah, maksudnya apakah dia terlalu parah sehingga harus di rawat lama di rumah sakit?"
"Tenang saja, kak iparmu akan menanyakannya untukmu. Jika memang parah, dia akan terbang ke Arab untuk menjenguknya dan membawa Arshad kembali untukmu," balas Mumtaz. Dia berharap sang adik bisa tenang setelah dia mengatakan hal itu.
"Semoga saja tidak terlalu parah," lirih Milah yang menggenggam erat tangan kakaknya.
"Aamiin, semoga Arshad baik-baik saja."
Lalu tak lama Kairi mengetuk pintu kamar Milah dan meminta sang istri untuk ke luar sebentar.
"Ada apa? Kenapa Habibie terlihat cemas seperti itu?" tanya Mumtaz penasaran. Kini mereka sudah berada jauh dari kamar Milah.
"Sepertinya keadaan Arshad sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak diberikan restu oleh kedua orang tuanya karena mereka hendak menjodohkan Arshad dengan gadis pilihan mereka. Terus ada cowok gadis itu yang sedang berusaha untuk melenyapkan Arshad dengan meracuni makannya saat acara pertemuan antar dua keluarga," papar Kairi menjelaskan apa yang dijelaskan oleh Hadi kepadanya.
Mumtaz langsung beristighfar dan melemas, untung saja Kairi langsung sigap menangkap tubuh istrinya yang hampir jatuh.
"Ya Allah, kenapa Abi seperti itu?Apakah karena Abi terbujuk oleh istrinya yang mengetahui kalau anaknya akan menikahi gadis dari keluarga Rusdiantara?"
"Sepertinya seperti itu. Bukankah dulu ibunya Arshad tidak suka dengan ibumu? Lalu Milah sudah dianggap anak bukan oleh ibumu? Mungkin itu faktor utama yang membuat Arshad sekarang terkena imbas dari keegoisan ibunya," timpal Kairi yang membenarkan ucapan istrinya.
"Jangan dulu diberitahu mengenai ini ke Milah. Habibie juga belum tahu yang sebenarnya, mungkin besok Habibie akan terbang ke Arab untuk membantu Arshad."
Mumtaz terlihat murung saat mendengar suaminya akan pergi ke Arab, entah kenapa dia tidak mau berjauhan dengan Kairi semenjak hamil kedua ini.
"Hei, jangan seperti ini. Mana Mumtaz yang tegar? Mana Mumtaz yang Habibie kenal?"
"Maaf, Khumaira bukan egois. Tapi ... entahlah, Khumaira akan mencoba mengizinkan habibie pergi." Lalu Kairi langsung memeluk sang istri dengan erat. Inilah yang dia suka dari seorang Mumtaz, wanita kuat, tangguh, cerdas, dan bijaksana. Intinya hampir mengenai kata sempurna.
Balqis yang niatnya hendak kembali ke kamar Milah langkahnya terhenti saat melihat momen yang sering buat dia iri.
"Apakah mereka tidak bisa sehari saja tidak bermesraan seperti itu di saat aku ada. Bikin panas saja." Gadis itu berlenggang ke depan TV sambil menggerutu.
Ternyata tak jauh dari sana, ada Naufal yang sedang video call dengan uncle Kei. Anak kecil itu menceritakan semua yang terjadi akhi-akhir ini. Lalu dia juga mengatakan kalau mommy-nya itu sangat merindukan uncle Kei.
Naufal terkikik bersama Kei saat mendengar Balqis mendumel.
"Bisakah Naufal memberikan teleponnya ke Mommy?" Anak kecil itu langsung mengangguk, lalu dia berjalan mendekati Balqis.
Naufal duduk di pinggir Balqis, setelah itu Naufal mengatakan layar ponsel ke arah mommy-nya.
"Say hello, Mom! Look at uncle, please!" pinta Naufal dengan memasang puppy eyes. Ditambah lagi dengan bibir mengerucut, semakin menggemaskan saja sehingga Balqis tidak bisa menolaknya.
"Hai!" sapa Balqis kikuk. Dia terpaksa menampilkan senyum dengan semanis mungkin.
"Hai, mommy-nya Naufal yang cantik. Apa kabar? Aku dengar kamu merindukanku, ya?"
Balqis langsung menjerit di dalam hati. Dia kesal dengan pertanyaan itu dan dia juga kesal dengan anak kecil yang kini sedang tersenyum kepadanya. Ingin rasanya dia tenggelamkan mereka berdua ke laut mediterania, biar mereka tahu rasa!
"Tidak! Sama sekali tidak!" bantah Balqis dengan jutek.
"Bohong! Jujur saja, jangan di pendam. Gak baik, nanti muncul jerawat, loh!"
"Keichand Satoru! Kamu jangan buat aku emosi, ucapanmu itu gak lucu!"
Kei yang dibentak kenapa bocah di pinggirnya yang menangis? Aduh, dia langsung tepuk jidat. Bisa gawat kalau bapaknya kemari, bisa-bisa dia kenapa ceramah panjang.
Balqis berusaha untuk menenangkan Naufal, tetapi anak itu tidak mau diam.
"Naufal jangan nangis, ya. Nanti Mom Belgian es krim yang paling enak, oke?" Anak itu langsung menggeleng tanda kalau dia tidak mau dengan imingan sebuah es krim.
"No! Ufal pengen Mom bilang ke uncle Kei untuk cepat-cepat kembali lagi ke sini. Ufal rindu uncle Kei, pengen main bareng uncle Kei," sela anak kecil yang menggemaskan itu. Saking gemasnya, pengen banget gigi pipi chubby-nya itu.
Sementara diseberang layar, Kei tersenyum kemenangan dia tidak sabar menunggu kekasih hatinya untuk mengatakan apa yang Naufal minta barusan.
"Enggak bisa, Sayang. Mommy gak mau melakukannya. Boleh permintaan yang lain?"
"Tidak mau, Ufal mau uncle Kei." Anak itu menangis kembali, kali ini lebih histeris sehingga membuat kedua orang tuanya datang menghampiri.
"Astaga! Kakak kemari," kicau Balqis dengan frustasi.
"Ada apa, Sayang?" Mumtaz berusaha menenangkan anaknya, berbeda dengan Kairi yang langsung menatap tajam adik iparnya itu.
"Kamu apakan anaku, Balqis? Kenapa, sih. Kamu suka banget buat dia nangis? Bisa tidak kamu asuh dia seperti Milah mengasuhnya?"
Nah, kan. Kena lagi. Dimarahi oleh kakak iparnya, tidak bagus banget.
"Ini semua gara-gara Kei. A was saja kamu Kei, setelah kembali nanti aku akan buat perhitungan," gerutu Balqis.
"Nih, bocah. Ditanya malah menggerutu," ujar Kairi.
"Pokoknya, Mom harus penuhi permintaan Ufal sekarang!" sela anak kecil itu.
Balqis yang tadinya akan menolak kembali langsung memberengut kesal karena Bapak dari anak itu menandangnya dengan horor.
"Oke, fine. Sini mana ponselnya." Naufal dengan gembira menyerahkan ponsel Eomma-nya ke Balqis.
Gadis itu mencoba mentralkan hati, pikiran, dan suaranya dengan berdehem.
"Uncle-nya Naufal yang tampan. Segera kembali, ya. Aku dan anak-anak sangat merindukanmu, nanti kita bermain bersama lagi seperti permintaan dari little King."
Kei lagi-lagi tersenyum kemenangan. Dia bersorak ria karena untuk pertama kalinya seorang Balqis mengatakan hal itu yang sangat langka untuk didengar.
"Udah, kan?"
"Makasih, Mom. Ufal dan uncle sayang Mommy," tutur anak kecil tersebut membuat Balqis bergidik.
"Kei, hyeong sarankan padamu. Lebih baik kamu mengencani gadis di sana saja. Gadis yang di sini sifatnya kekanak-kanakan, jutek lagi. Gak ada gemes-gemesnya."
Setelah mengatakan itu, Kairi mengajak istri dan anaknya pergi ke kamar. Mereka akan bersiap untuk tidur siang.
Sementara Balqis, setelah percakapan itu ditutup oleh kakak iparnya. Dia langsung melemas, ditambah lagi apa yang diucapankan Bapak dari anak kecil itu. Dia menggeleng membayangkan hal itu terjadi.
"Tidak, tidak boleh. Aku mohon Kei, jangan lakukan itu. Aku bisa depresi kalau kau mengencani gadis di sana."
"Oh, Tuhan! Tolong jaga dia hanya untuku. Jangan palingkan hatinya ke gadis lain, sesungguhnya aku juga sangat merindukannya."
------------
Balqis, jangan pura-pura enggak kangen sama Kei. Padahal jujur aja, sih. Hum, gimana nanti kalau yang diucapkan sama Kairi menjadi kenyataan. Bisa gigit jari dia lihat Kei kencan sama gadis lain. Hahaha....
Buat Milah, sabar yah, cantik. Nanti bakal indah pada waktunya kok ;)