Twenty Two

1973 Kata
New York City, Markas FBI, 1 Mei 2018 Jika ada ungkapan mengatakan orang akan melakukan segalanya untuk menang, itu memang benar-benar ada. Bukan hanya dalam kompetensi, tetapi juga dalam dunia kriminal. Seseorang yang melakukan segala cara untuk mengungkap tabir kejahatan, merontokkannya hingga ke akar serta menghancurkan layaknya debu. Orang-orang mengenalnya dengan nama samaran. Tidak pernah ada yang tahu siapa nama aslinya, kehidupannya sekarang dan juga masa lalunya secara rinci. Sosoknya yang penuh misteri sama seperti dirinya yang selalu terlibat dengan misteri-misteri sulit yang mengandalkan otak cerdasnya serta penalarannya yang di atas rata-rata. Dialah Detektif Joker, mengungkap semua kasus di bawah langit kota judi terbesar di dunia. Las Vegas.menghancurkan laya knya debu. Orang-orang mengenalnya dengan nama samaran. Tidak pernah ada yang tahu siapa nama aslinya, kehidupannya sekarang dan juga masa lalunya secara rinci. Sosoknya yang penuh misteri sama seperti dirinya yang selalu terlibat dengan misteri-misteri sulit yang mengandalkan otak cerdasnya serta penalarannya yang di atas rata-rata. Dialah Detektif Joker, mengungkap semua kasus di bawah langit kota judi terbesar di dunia. Las Vegas. “Jika kau belum pernah merasakan peluru menembus otak bodohmu itu. Maka aku yang akan membuatnya menari-nari di sana. Mengaduk otak bodohmu itu layaknya daging cincang. Sangat menyegarkan bisa melihatnya terburai dengan darah sialanmu itu. Kekeke!” Arnold Lewis dan beberapa orang penting di FBI berkumpul untuk melihat rekaman dari kepolisian di Las Vegas. Di dalam rekaman sisi televisi tersebut terdapat seorang pemuda membawa senapan laras panjang yang tampak santai mengintimidasi seorang pria setengah baya. Tidak lama kemudian mereka melihat pemuda tersebut menembakkan peluru ke sembarang arah sehingga membuat pria setengah baya tadi ketakutan. “Dia gila, satu kata untuknya,” komentar salah seorang penting di FBI setelah melihat rekaman tersebut. “Dan dia akan ditarik ke sini, membuat divisi kita menjadi sama gilanya dengan pria itu,” komentar petinggi yang lain. “Dia akan cocok bekerja bersama Theo. Pada dasarnya mereka sama. Memiliki kecerdasan yang di atas rata-rata. Hanya saja dia seorang extrovert yang meledak-ledak. Sementara Theo seorang introvert yang menghanyutkan,” ungkap Arnold Lewis selaku atasan yang mengenal Theo. “Kau selalu memilih orang berdasarkan insting kuat yang sudah sangat terkenal melekat jelas pada dirimu.” Arnold tersenyum kecil mendapat pujian dari temannya sesama divisi. “Kau pasti akan merasa bangga melihat kesuksesan divisi kita nanti,” jawabnya tanpa ragu. “Sangat bangga karena Theo sudah pasti akan setuju bekerja sama dengannya.” “Kurasa dia setuju karena kemungkinan sang detektif bisa bekerja sama dengannya untuk mengungkap kasus pembunuhan kedua orangtuanya. Dia pasti punya tujuan tersebut.” Arnold juga sudah tahu dengan kemungkinan tersebut. Dia tidak mempermasalahkan selama Theo tetap mengerjakan tugasnya sebagai agen. Dia atasan yang cukup baik kepada anak buahnya. Theo pun berhak mencari keadilan yang sudah lama ia inginkan. “Bagaimana dengan detektif itu sendiri? Apakah kemungkinan dia akan setuju juga besar?” “Kemungkinan besar iya karena dia pasti akan tertarik dengan kasus yang akan mereka selesaikan. Ini bukan kasus biasa. Aku ingin nama baik FBI kembali bersinar. Inilah cara yang akan kita lakukan.” ♚♛♜♝♞ New York City, Morningside Heights, 2 April 2010 Theo membuka laman f*******: lagi dan ia mendapati pemberitahuan pesan dari Zara. Kemarin dia butuh seminggu untuk berani membalas pesan dari Zara, begitu pula dengan saat ini. Dia bingung harus membalas bagaimana isi pesan tersebut. Zara menanyakan tentang kegiatannya di New York. Bukan Theo tidak nyaman ditanyai hal seperti itu, dia hanya tidak tahu bagaimana harus menjabarkan agar tidak terlalu terlihat ia senang. Kuliah dan beberapa kegiatan kampus. Sisanya di apartemen. Jawaban yang amat sangat padat. Theo yakin setelah ini Zara tidak akan membalas pesannya yang sama sekali tidak menarik untuk dibalas. Nggak jalan-jalan? Mengejutkan Zara membalas dalam hitungan detik. Theo melihat Zara sedang aktif di f*******:. Theo mengetuk-ngetukkan jarinya di laptop yang menampilkan percakapannya dengan Zara. Tidak, aku sedang banyak tugas. Tidak! Theo langsung menghapus ketikannya. Bila ia menjawab seperti itu pastilah Zara akan mengakhiri percakapan. Dia tidak ingin hal tersebut terjadi. Dia butuh energi untuk mengembalikan semua hal yang terjadi beberapa tahun ke belakang. Setidaknya itu akan membuat hari-hari Theo yang berat menjadi sedikit ringan. Mungkin nanti, sekarang aku sedang ingin bermain internet. Jawaban Theo kali ini lebih cocok untuk menyambung obrolan mereka. Sama, aku juga. Kuliah kamu susah di sana? Kamu punya banyak teman? Zara selalu perhatian dengan pertemanan mereka. Theo tidak akan terbawa perasaan dengan pertanyaan yang diajukan Zara. Dia selalu menguatkan dirinya untuk hal tersebut. Lumayan susah, tetapi menyenangkan. Ya, aku punya beberapa teman di apartemen. Ada Alice dari Australia, ada Tushar dari India. Mereka orang-orang baik dan menyenangkan. Bagaimana dengan kuliahmu?  Jawabannya kali ini cukup panjang, tetapi tidak ada yang salah dengan jawabannya pikir Theo. Alice itu cewek? Tidur satu kamar? Theo langsung membalas cepat pesan Zara. Iya, kami berbagi ruangan. Tidak, kami punya kamar masing-masing di apartemen ini. Kami patungan menyewa karena harga sewa apartemen di sini sangat mahal. Apartemenku dekat dengan kampus, di asrama cukup jauh dan tidak nyaman. Jantung Theo rasanya berdetak sangat kencang. Ia takut Zara salah paham terhadapnya. Hahaha! Iya aku mengerti, Theo. Maaf, tadi hanya bercanda! Kali ini jantung Theo mulai perlahan berdetak normal. Syukurlah dia senang bila Zara benar-benar mengerti. Aku pengen ke sana, tetapi kapan ya? Di sana enak? Aku masih tidak percaya kamu sekarang di Amerika. Kukira kamu akan kuliah di Palembang. Mau tidak mau Theo tersenyum tipis melihat balasan dari Zara. Theo merasa hari ini merupakan salah satu hari terbahagianya dalam hidup. Dia jarang merasa benar-benar bahagia. Bisa dihitung memakai jari apa saja yang membuat Theo bahagia setelah kematian kedua orangtua dan neneknya. Pasti suatu hari nanti kamu akan ke sini. Beri kabar padaku kalau kamu ke Amerika. Akan aku bawa jalan-jalan. Enak, tetapi lebih enak negara kita. Tidak ada tekwan, pempek, mie tektek, bakso yang lewat di depan rumah di sini. Aku juga masih tidak percaya apalagi kamu. Theo sudah mulai bisa membuat obrolan yang menarik. Kemampuan itu berkembang seiring waktu. Mereka melanjutkan obrolan sembari mengingat masa-masa latihan taekwondo dulu. Zara juga bercerita tentang tempat latihan taekwondonya di Jakarta. Ia memutuskan untuk mengikuti beberapa kejuaraan olahraga yang diadakan pemerintah dan lembaga. ♚♛♜♝♞ New York City, Tribeca, 17 Februari 2018 Misi kali ini masih mengawasi Dexter Wu. Theo dan Fabio berhasil menyadap ponsel orang kepercayaan Dexter sehingga mereka tahu rencana kegiatan Dexter untuk beberapa hari ke depan. Kali ini Dexter akan makan malam di restoran Italia bersama beberapa rekan bisnis yang diduga sebagai anggota organisasi mereka. Theo hari ini akan menyamar menjadi pengunjung, ia akan mengajak salah satu rekan perempuan di FBI. Mereka satu kelompok jadi mereka tahu apa yang harus dilakukan. Keduanya menyamar sebagai pasangan kekasih yang sudah bertunangan untuk makan malam di restoran Italia. Theo sengaja memesan tempat yang tidak jauh dari tempat duduk mereka berkumpul. Ia belum memasang alat penyadap di sana. Rencananya rekan perempuan bernama Zoey Hommes yang akan memasangnya nanti. Mereka sudah mengatur strategi dua hari belakang ini untuk mensukseskan misi. “Mereka baru datang,” kata Zoey kepada Theo yang duduk membelakangi pintu masuk. Zoey menebar senyumnya kepada Theo semata untuk membuat orang berpikir mereka berdua tengah dimabuk asmara. Padahal kenyataannya mereka tengah mengintai. “Target datang bersama enam penjaga. Dua berjaga di pintu masuk, dua ikut dengannya lalu dua lagi berjaga di pintu masuk ruang VIP.” Theo mengangguk sambil tersenyum sembari mengambil tangan Zoey untuk ia genggam. Zoey membalas genggaman tangan Theo dengan senyum lebar. Dari kejauhan keduanya tampak sangat serasi dan bahagia. “Sudah lima menit dari jadwal semestinya, rekan bisnisnya belum datang. Kita tunggu beberapa saat lagi barulah memulai rencana.” “Mr. Paul sudah terlihat datang, dia bersama istrinya dan beberapa pengawal. Tinggal satu target lagi. Mr. Young yang mungkin akan tiba dalam beberapa menit. Laporan sudah masuk. Mereka mengatakan Mr. Young masih di jalan terjebak sedikit kemacetan,” ucap Zoey sambil terus menatap Theo dengan senyum. Raut wajah mereka sangat kontras dengan isi pembicaraan mereka. “Keuntungan besar Mr. Paul membawa istrinya, kau tahu apa yang harus dilakukan,” kata Theo yang sekarang memanggil pelayan untuk mengantarkan pesanan makanan mereka. “Kebanyakan wanita sosialita sepertinya pasti akan permisi ke toilet sebentar lagi. Hanya untuk membenahi make up, menyemprotkan parfum, dan menata rambutnya yang bahkan tidak berantakan.” Theo mengangguk menyetujui ucapan Zoey. Kebanyakan wanita memang seperti itu. “Bagaimana dengan penampilan istrinya dan topik apa yang akan kau bicarakan padanya?” Zoey melirik ke samping tempat mereka duduk. Hanya terpisah dua kursi dari tempat mereka duduk sekarang. “Topiknya tidak jauh-jauh dari kehidupan sosialita. Kutaksir harga tas Hermes miliknya mencapai $9000 lebih. Itu koleksi Hermes terbaru. Mengejutkan juga sepertinya dia lebih wangi dari dugaanku. Le Jour Se Lève, dari Louis Vuitton. Seleranya parfumnya bagus. Setidaknya dia menyukai wangi anak muda meskipun sudah tua,” ucapan Zoey membuat Theo tertawa geli. “Itulah alasan mengapa aku memilihmu untuk menjadi rekanku kali ini. Kau pandai menilai wanita. Jadi kau sudah selesai menyusun rencana mengenai topik yang pas ketika berbicara dengannya?” “Wanita punya mata lebih tajam dari pria, kau tidak salah pilih rekan. Serahkan semuanya padaku. Kita akan menjalankan tugas masing-masing,” kata Zoey yang sekarang berdiri dari duduknya untuk mengikuti istri Mr. Paul yang menuju toilet. “Selamat berjuang dan semoga sukses. Berhati-hatilah,” kata Theo sambil menoleh ke belakang untuk mengantar kepergian Zoey, padahal maksud sebenarnya dia ingin melihat ke arah target. “Ini akan lumayan menyenangkan,” ucap Theo yang mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan. Sekitar lima menit kemudian Zoey kembali ke mejanya. Theo menyambut Zoey dengan senyum. Zoey pun membalas senyum Theo. Mereka berperan sealami mungkin untuk menghilangkan kecurigaan. “Beres, dia sebentar lagi akan kembali ke mejanya.” “Di mana kau letakkan?” tanya Theo yang mengajak Zoey untuk meminum minuman mereka. “Di baju, di pundaknya.” “Sebenarnya aku punya satu rahasia kecil yang aku sembunyikan darimu,” kata Theo yang membuat Zoey bingung. “Aku sudah meletakkan alat penyadap di bawah meja mereka ketika kita lewat saat pertama kali datang. Aku mengantisipasi keadaan. Bisa saja alat penyadap milikku ketahuan dan kita punya alat penyadap milikmu. Atau sebaliknya, punyamu ketahuan dan punyaku aman,” terang Theo. Zoey tertawa geli. Theo dan semua rencana cadangannya. Siapa yang tidak tahu hal tersebut. “Jadi yang mana yang berfungsi dengan baik di antara keduanya?” “Mengejutkannya semua berfungsi. Pekerjaan kita berhasil di langkah ini. Sekarang mari kita simak percakapan mereka sambil makan.” Dexter Wu tidak ingin terburu-buru membicarakan bisnisnya karena Mr. Paul dan Mr. Young tengah bercerita mengenai bisnis masing-masing. Ia sebagai penyelenggara makan malam tersebut menunggu waktu yang pas agar tidak salah bicara. Pasalnya kedua orang tersebut memiliki kekayaan yang luar biasa dan akan sangat merugikan apabila ia gagal mendapatkan suntikan dana dari mereka. Keduanya memang anggota organisasi bersama dengan Dexter Wu, tetapi bisnis selalu punya bumbu untuk dijilat agar rasanya menyenangkan. “Anda menyanggupi untuk mengirim dana lusa nanti?” tanya Dexter kepada Mr. Young. “Ya, hari Senin nanti,” jawabnya sambil melihat ponsel. “Bagaimana denganmu, Paul?” tanya Mr. Young. “Sama sepertimu. Lebih cepat lebih baik. Aku ingin saham milikku menguat di pembukaan bursa saham nanti.” Sebagai pebisnis dan investor, mereka tentu mengharapkan imbal balik dari alokasi dana yang telah mereka berikan. Kenaikan harga jual beli saham menjadi hal yang amat sangat penting bagi mereka. Tentu apabila membicarakan tentang bisnis, keuntungan adalah hal nomor satu. Dengan cara seperti ini mereka dapat membuat keuntungan berlipat. Memberikan dana kepada organisasi, kemudian orang-orang di organisasi membuat jaringan yang memutar uang tersebut dengan cara apa pun, termasuk menyuap pihak-pihak tertentu untuk dipukul mundur agar hanya saham atau perusahaan tertentu yang memiliki saham naik maupun stabil. “Terima kasih, saya sangat senang dengan kerja sama kali ini,” ucap Dexter sembari mengangkat gelas untuk minum bersama. Obrolan mereka baru sedikit di antara pembahasan penting lainnya. Waktu masih panjang, Theo serta Zoey masih berada di sana untuk mengawasi serta menyimak hal penting lainnya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN