New York City, 17 April 2018
Theo menyusuri jalanan yang mulai dipenuhi oleh tumbuhan hijau. Musim semi dengan hangat yang pas sangat cocok untuk menikmati hari. Jam makan siang itu Theo pergunakan untuk duduk di taman kecil tidak jauh dari kantornya. Dia belum mendapat kabar dari Arnold mengenai saksi mata. Theo berharap secepatnya karena apabila ia sudah tahu titik terang tersebut, dia bisa mulai bergerak dengan cara mencari informasi lain yang sekiranya akan sangat berguna. Bagaimanapun dia harus bicara langsung dengan saksi mata. Banyak yang ingin ia ketahui. Bila memungkinkan dia akan nekat untuk pulang ke Indonesia. Persetan dengan Arnold yang mungkin akan melarangnya.
Ditemani sekotak jus apel dan sebungkus burger yang masih hangat Theo duduk di sana. Ada juga sebungkus lagi makanan yang dibawanya untuk teman yang selalu hadir menemani Theo bila berkunjung ke taman itu. Theo duduk di kursi besi berwarna hijau lumut. Bunga-bunga cantik baru bermekaran. Ada juga sakura di sana, tetapi tidak terlalu banyak.
“Hei apa kabar?” sapa Theo pada temannya yang sudah hadir di sana. Temannya itu kemudian mendekat lalu duduk di sebelah Theo sembari menempelkan tubuhnya ke tubuh Theo. “Kau lapar? Aku membawa makanan untukmu.”
Kucing tersebut langsung bersemangat ketika Theo mengeluarkan makanan untuknya. Theo juga ikut makan di sampingnya. Theo selalu suka duduk sendirian dan hanya ditemani kucing atau anjing. Ia suka mereka tidak menghardiknya ketika Theo tengah bercerita kepada mereka. Theo selalu melimpahkan ceritanya kepada hewan-hewan tersebut karena mereka pendengar yang baik meskipun tanpa solusi.
“Maukah kau mendengar ceritaku lagi kali ini?” tanya Theo pada kucing tersebut yang sibuk makan. Theo mengusap kepalanya beberapa kali. “Aku lelah, aku ingin pulang ke tempat asalku.”
Angin berembus pelan memainkan rambut Theo dan juga merontokkan dedaunan di sekitar. Di suka suasana ini. Sang kucing yang selesai makan kembali mendekati Theo untuk meminta makanan lagi. Theo kembali memberinya asalkan sang kucing tidak meninggalkannya sendirian. Dia pun ikut menikmati burger yang masih hangat dengan pelan.
“Apakah keputusanku salah bila aku nekat pulang ke Indonesia serta menyelidiki sendiri?” Theo masih berbicara dengan kucing tersebut. “Apakah nanti hasilnya akan sepadan?”
Perasaannya lega karena bisa mengeluarkan ucapan yang sudah dia tahan di dalam hatinya selama beberapa hari. Dia benar-benar sendiri di dunia ini yang kadang membuat Theo sedih. Dia hanyalah manusia biasa di balik topeng dingin yang ia kenakan.
“Aku pernah membaca buku, isinya tentang perjalanan mencari kebenaran. Aku pikir aku sekarang berada di tahap tersebut. Di buku tertulis kata-kata yang sangat mudah dipahami dan aku setuju dengan semua jalan yang ia ambil, tetapi ketika aku dihadapkan dalam posisi itu, aku merasa sulit untuk mengerti semua kata-kata motivasi yang di tulis di sana. Aku tidak bisa menerapkan langkah-langkah yang dulu aku setujui di dalam buku tersebut. Bukan buku tersebut yang salah, kurasa akulah yang salah karena terlalu banyak berekspektasi memikirkan segala kemungkinan, sayangnya pada saat itu terjadi kepadaku semuanya melenceng dan mengacaukan apa yang aku pikirkan serta setujui.”
Saat Theo dan kucing tersebut tengah makan, datang kehadiran kucing lain yang mendekat. Kucing betina dengan perut besar. Ia mendekati Theo untuk meminta makan. Theo memberikan makanan kucing untuknya sambil mengusap-usap perut sang kucing.
“Kau dan bayi-bayimu kelaparan?” tanya Theo yang melihat kedua kucing tersebut makan di dekatnya. “Aku tahu rasanya kelaparan. Aku pernah sepertimu,” cerita Theo yang kali ini memberikan sisa burgernya karena makanan kucing yang ia bawa sudah habis.
“Besok aku akan ke sini lagi untuk membawa makanan. Datanglah ke sini di jam makan siang. Aku janji akan membawa banyak makanan. Kau boleh membawa teman-temanmu ke sini besok,” kata Theo dan ditanggapi sang kucing dengan mengeong kecil.
Setelah selesai makan, Theo melihat jam tangannya. Sebentar lagi jam makan siang akan usai. Theo menghabiskan sisa jus apel lalu membuang sampah di kotak sampah terdekat. Ia merasa lebih baik setelah bercerita kepada kucing-kucing di taman tersebut. Pulang dari bekerja dia akan mampir ke toko makanan kucing untuk membelikan teman-temannya makanan.
Saat Theo baru akan keluar dari taman tersebut, ia mendapat panggilan dari Travis. Tanpa pikir panjang Theo langsung mengangkatnya karena Travis jauh lebih menyenangkan dibanding Bill.
“Ada apa?” tanyanya tanpa banyak menunggu.
“Kudengar kemarin kau memaksa Arnold untuk mengetahui perkembangan kasus kematian orangtuamu. Apakah ada hasil?” tanyanya.
“Sedikit, titik terang yang bahkan amat sangat penting, tetapi terlewat karena yang mewawancarai masih orang yang cukup payah,” ceritanya. “Tahu dari mana kau kabar tersebut? Dia menceritakannya kepada kalian?”
Travis tertawa mendengar ucapan Theo.
“Dari awal sudah aku katakan tidak akan ada rahasia yang aman di dalam tempat kita bekerja.”
“Dan kabar berita begitu cepat terdengar,” sambung Theo sekenanya.
“Begitulah hukumnya selama kau merupakan seorang intel.”
“Aku akan menuju kantorku. Sebaiknya kau putuskan sambungan atau aku akan memutusnya tanpa persetujuanmu.”
“Baiklah, selamat bekerja dan berhati-hatilah.”
Sambungan terputus begitu saja. Theo menuju kantor media massa yang telah menjadi tempatnya bekerja selama beberapa tahun. Sembari berjalan, Theo mengecek beberapa email masuk yang kebanyakan berisi tentang berita-berita terkini dan juga email dari beberapa relasinya
♚♛♜♝♞
New York City, Brooklyn Botanic Garden, Brooklyn, 28 April 2018
Festival tahunan bunga sakura terbesar di New York City akhirnya dimulai. Acara tersebut berlangsung selama dua hari. Bunga warna merah muda serta putih ada di sana. Wanginya lembut dan sangat indah. Theo ingin sekali mendatangi negara asal bunga sakura tersebut suatu hari nanti. Theo berjalan menyusuri tanah yang warnanya tidak lagi sepenuhnya hijau. Ada kelopak-kelopak bunga sakura yang berjatuhan, tetapi tidak banyak. Dia tidak sendiri menyusuri keindahan yang memanjakan mata tersebut. Di sampingnya ada makhluk yang tidak kalah indah menemani langkah ringannya. Tidak henti-hentinya sang makhluk cantik mengagumi kombinasi warna yang membuat senyumnya semakin lebar. Ini pertama kalinya setelah hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Nyimas Zara Nursandi bertandang ke Amerika untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia tengah melakukan perjalanan bisnis dengan beberapa rekannya dan sekaligus berjalan-jalan. Karena dia buta dengan keadaan sekitar, Zara menghubungi Theo untuk mengajaknya bertemu.
Tentu Theo menyambut baik hal tersebut karena jauh di dalam lubuk hatinya, Zara masih menjadi satu-satunya yang membuat Theo tertarik dalam hubungan asmara. Saat mereka bertemu untuk pertama kali, Theo tidak melihat banyak perubahan dari wanita tersebut. Dia masih cantik dan senyumnya masih manis. Tubuhnya lebih tinggi dibanding waktu sekolah. Rambutnya panjang sebahu berwarna hitam. Zara memeluknya sewaktu pertama kali mereka bertemu. Hal yang tidak pernah Theo bayangkan akan terjadi kepadanya.
“Kenapa kamu pindah kewarganegaraan, Theo?” tanya Zara sambil melihat-lihat pameran di sekitar tempat festival bunga sakura diadakan.
“Karena pekerjaan dan di sini jauh lebih nyaman,” dustanya. Dia tidak ingin berdusta di dalam hati kecilnya, tetapi dia tidak bisa memberitahu Zara apa yang sebenarnya terjadi.
“Tetapi tidak harus sampai pindah kewarganegaraan, banyak imigran di sini yang tetap berkewarganegaraan asalnya,” komentar Zara yang kali ini berhasil menangkap bunga sakura yang jatuh. “Apa kau tidak ingin kembali lagi ke Indonesia?”
Theo memasukkan kedua tangannya di saku jaket sembari terus mengikuti langkah Zara yang menyusuri taman bunga sakura. Dia berpikir bahwa keadaan sekarang dan nanti tidak akan ada bedanya bila dia pulang ke Indonesia bila dia tidak berhasil menjadi orang hebat agar bisa membuka kembali kasus kematian kedua orangtuanya.
“Aku pasti akan pulang ke sana suatu saat nanti. Pasti banyak yang berubah di kota kita sekarang.”
“Kau akan terkejut luar biasa. Banyak hal baru yang akan terjadi. Asian Games akan diadakan di kota kita. Pembangunan infrastruktur besar-besaran. Sekarang Palembang macet, mirip Jakarta.”
“Syukurlah, kota kita pasti akan mendapat banyak sorotan. Kau ikut bertanding?”
“Ikut, aku akan bertanding di Jakarta. Doakan aku supaya menang!” Zara berhenti berjalan kemudian menatap Theo. “Bila kau ada di sana, kita bisa sama-sama ikut bertanding. Sayang sekali kau sudah tidak di sana.”
“Aku akan selalu mendoakanmu. Semoga kau menang,” ucap Theo dengan tulus. “Tidak apa-apa, negara kita banyak atlet hebat. Kau salah satunya.”
Zara tertawa renyah. Ia mengajak Theo untuk duduk di bawah pohon sakura sembari bersandar di sana. Mengelilingi kebun sakura yang cukup luas membuat dia lelah. Zara mengeluarkan makanan dan minuman yang tadi mereka beli di deretan tempat penjualan makanan. Tidak salah Theo mengajaknya ke tempat seperti ini karena dia butuh hiburan setelah lelah bekerja.
“Theo, kau sudah punya kekasih?” pertanyaan yang tidak Theo duga akan ditanyakan oleh Zara. Jujur, Theo tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut. Otak cerdasnya seperti tidak berfungsi bila menyangkut hal asmara.
“Tidak ada,” katanya menjawab jujur karena dia tidak tahu harus berkelit bagaimana lagi.
Zara tampak terkejut. Dia merasa bahwa pria seperti Theo tidak mungkin tidak punya kekasih. Banyak wanita yang mengaguminya setahu Zara dulu. Pasti tidak berbeda jauh dengan sekarang, pikirnya.
“Baru putus?” Zara yakin dia benar akan tebakannya.
“Tidak, aku tidak menjalin hubungan asmara dengan siapa pun dari dulu sampai sekarang,” pengakuan Theo membuat Zara benar-benar terkejut luar biasa.
“Jangan bercanda, Theo. Kau pastilah pernah, ayo mengaku!”
“Aku jujur padamu, Zara,” jawab Theo dengan suara lembut dan tulus. Dia sendiri sampai tidak habis pikir bagaimana nada selembut itu bisa keluar dari mulutnya.
“Kenapa?” tanya Zara penasaran.
“Belum ada seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta lagi,” akunya. Dia percaya kepada Zara karena mereka sudah berteman sangat lama.
“Lagi? Berarti sebelumnya pernah?” nada suara Zara semakin penasaran. Theo mengangguk. “Dengan siapa? Aku kenal orangnya? Teman sekolahmu? Atau anak di tempat latihan kita? Kau tidak pernah bercerita kepadaku mengenai ini, Theo!”
“Kita tidak pernah bertemu dan berhubungan lagi sebelum sempat aku bercerita. Kau pergi waktu itu, aku tidak bisa menghubungimu,” aku Theo. Zara merasa sedih mendengar pengakuan Theo.
“Maaf,” ucapnya penuh penyesalan. Theo mengangguk sembari tersenyum memaklumi. “Jadi siapa wanita yang berhasil mencuri hatimu itu? Pasti dia sangat spesial!” nada suaranya kembali bersemangat.
“Suatu saat kau akan tahu, tidak sekarang,” jawab Theo sambil mengambil makanan dan makan untuk mengalihkan tatapan menyelidik Zara darinya. Dia tidak siap menyatakan perasaannya sekarang kepada Zara. Dia tidak ingin kedatangan Zara ke New York City menjadi beban atas pernyataannya. Ditambah dia bukanlah orang sembarangan. Dia agen FBI yang punya kontrak mati kapan saja serta berbahaya baginya bila memiliki hubungan dengan seseorang. “Bagaimana denganmu, kau sedang menjalin hubungan?”
“Baru putus awal tahun lalu. Perbedaan agama,” ceritanya sambil ikut makan. “Padahal dia berjanji untuk pindah agama sebelum kami menikah di akhir tahun ini. Aku tidak pernah memaksanya pindah agama. Dia sendiri yang memutuskan, aku senang dengan keputusan tersebut. Namun, keluarga besarnya tidak menerima dan dia pun sepertinya mulai ragu. Kami mengakhirinya dengan baik-baik.”
“Pasti ada hikmah di balik kejadian tersebut. Kau akan bertemu orang yang tepat untukmu nanti,” hibur Theo yang sekarang kembali bersandar di batang pohon. “Jangan sedih, kau menarik. Banyak pria yang ingin menjadikanmu pasangan.”
“Theo, kau terdengar seperti Mamaku,” tawanya geli. “Ayo kita berfoto, kemarin aku sempat bercerita kepada Mama soal dirimu, dia menanyakan kabarmu. Dia juga titip salam padamu,” kata Zara sambil mengeluarkan ponselnya.
Theo ingat Ibu Zara dulu selalu mengantar anaknya latihan taekwondo dan Theo beberapa kali diajak makan bersama ibunya Zara. Ibunya sangat baik serta cantik. Dia juga selalu membawakan Theo buah tangan ketika pulang dari bepergian. Theo rasa bila ibunya masih hidup, dia akan menjadi orang yang sama baiknya seperti ibunya Zara.
“Salamkan juga untuk Mamamu, nanti aku harus membawakannya oleh-oleh.” Theo memasang wajah tersenyum seadanya ketika Zara mengajaknya berfoto.
“Mama pasti akan menyuruhku menikah denganmu saat melihat kau tampan seperti ini,” canda Zara sambil mengirim foto tersebut kepada ibunya.
Di dalam hati Theo, dia mengaminkan ucapan Zara. Entah bisa saja saat itu malaikat tengah lewat dan dapat mengabulkan doanya. Dia hanya berharap kepada Tuhan untuk semua yang terbaik di dalam hidupnya. Dia tidak punya siapa pun lagi di dekatnya sekarang. Hanya kepada Tuhan dia berpegang.
TBC...