New York, Southampton, 14 April 2018
Theo memutuskan untuk menemui Arnold Lewis di rumahnya yang berada di daerah Southampton. Hari libur seperti ini atasannya itu lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah besarnya yang selalu Theo impikan bila saja ia sudah punya banyak uang untuk membeli. Sesampainya di sana Theo tanpa banyak bicara langsung menyerahkan ponsel dan catatan milik Rinko Ebisawa yang ia dapatkan dari kakaknya, Naomi Ebisawa.
“Mungkin Anda bisa mengambil kesimpulan lain setelah mengamatinya,” ucap Theo kepada Arnold karena atasannya itu bertanya mengapa Theo menyerahkan barang bukti itu kepadanya. “Bagaimanapun Anda adalah atasan dan saya harus melapor.”
Arnold Lewis melihatnya tidak tertarik. Ia sedang ingin bersantai bersama keluarganya di hari Sabtu yang cerah di musim semi lalu Theo van Kuiken mengacau hari liburnya. Bila saja Theo datang ke rumahnya untuk hal lain dan bukan pekerjaan, Arnold akan menyambut hangat dirinya. Terlebih saat ini istri dan anaknya tengah memasak makan siang. Dia tidak akan keberatan untuk mengajak Theo makan siang bersama. Namun, ia tidak bisa mengelak karena ia yakin Theo punya informasi yang menarik tentang target mereka.
“Lalu kau sudah menyelidiki kode ini?” tanyanya sambil mengibas-ibaskan kertas di udara.
“Hm, tetapi saya sudah terlanjur bosan. Isinya merupakan koordinat beberapa kantor kecil mereka di Amerika. Rinko Ebisawa merupakan seorang mahasiswa jurusan komputer. Dia membuat perangkat lunak, saya rasa dia berhasil melacak beberapa informasi yang cukup berguna. Selebihnya Anda pasti sudah tahu karena Bill dan Travis yang menyampaikan pada Anda.”
“Ya aku sudah mendengar cerita dari Bill kemarin dan dia yang mengatakan kepada wanita Jepang itu untuk menemuimu. Kasus ini akan kita bahas lagi nanti, sekarang aku ingin sedikit istirahat di hari libur. Kurasa kau juga harus istirahat. Aku tidak memintamu untuk bekerja seminggu penuh.” Arnold mengajak Theo untuk ke ruang makan keluarganya. “Sebaiknya kita makan siang bersama. Hari ini rumah kami ramai. Kau menolak artinya kau membangkang.”
“Selalu saja mengancam,” ucap Theo terang-terangan tanpa takut. Ia sama sekali tidak merasa sungkan untuk berbicara sesuka hati kepada Arnold Lewis. Atasannya itu pun sudah terbiasa mendengar nada tajam dari mulut Theo. Sedari awal ia mengenal Theo, Arnold sudah tahu ucapan pria itu sama tajamnya dengan otak yang ia miliki. Jadi ia membiarkannya asal Theo bisa selalu membuatnya terkesan dengan pekerjaan.
“Kau sudah tau jelas aku selalu suka mengancam siapa saja.” Arnold tertawa geli.
“Ngomong-ngomong ada hal lain yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Saya tahu ini tidak tepat memintanya sekarang kepada Anda, tetapi saya sangat berharap Anda bisa mengabulkannya. Anda pernah berjanji kepada saya saat pertama kali kita bertemu. Saya tidak suka bila janji itu hanyalah ucapan palsu agar saya mengabdikan diri di FBI. Saya ingin Anda membantu saya menyelidiki kasus kematian orangtua saya. Saya tahu Anda bisa dan mampu,” ucap Theo memohon.
Ini memang sudah saatnya, lama Theo menunggu saat ini karena ia tahu ia harus membuktikan diri lulus sebagai agen FBI, memecahkan kasus bersama rekan-rekannya dan sekarang ia mempunyai kasus sendiri yang tidak kalah rumitnya. Tentu perlu timbal balik agar Arnold Lewis mau membantunya sekarang.
“Anda tentu tidak ingin melihat pengkhianatan bila janji itu dilanggar?” kali ini ia yang mengancam atasannya. “Bukankah Anda adalah orang yang tidak pernah ingkar?” Arnold Lewis terdiam seketika.
♚♛♜♝♞
Arnold Lewis jelas tahu pasti Theo van Kuiken akan menagih janji tersebut kepadanya kapan saja. Sekarang janji itu sudah ditagihnya dan hebatnya Theo berani mengancamnya. Dia tidak tersinggung dengan ancaman Theo, justru sebaliknya. Dia merasa Theo bisa melakukan apa saja asal janji itu ia tepati sekarang. Arnold mengerti bahwa dia tidak boleh mengingkari perkataannya dahulu. Berurusan dengan agen sangatlah berbahaya. Ibarat menandatangani kontrak mati. Harus siap dengan pengkhianatan yang kapan saja bisa mampir.
Theo van Kuiken sendiri jelas tahu bahwa Arnold Lewis berwaspada akan dirinya meskipun ancaman Theo ia tanggapi seperti lelucon. Dia peka, sangat peka dengan emosi orang-orang di sekitarnya. Perubahan satu milimeter raut wajah pun ia bisa menangkapnya walaupun hanya sekelebat. Namun, Theo tidak ingin merasa menang karena berhasil membuat atasannya gentar. Dia tahu pria tua itu lebih banyak pengalaman dalam menghadapi hal seperti ini.
“Baiklah, permintaanmu tentu saja sudah lama aku setujui. Aku sudah meminta bantuan pada temanku soal ini. Namun, jujur saja ini sedikit sulit dari yang aku bayangkan. Kejadian sudah lama, semua bukti sudah lenyap. Hanya tersisa beberapa saksi mata yang selamat saat kejadian. Dua saksi mata sudah meninggal dunia. Kami hanya berhasil mendapat dua saksi. Saksi lainnya sudah merantau jauh dan tidak ada yang tahu di mana. Pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut juga sudah meningga dunia. Aku tahu kau kecewa mendengar kabar dariku, tetapi ada titik terang. Sedikit sekali hingga hampir luput dari penyelidikan.”
Theo tertarik mendengar ucapan atasannya. Dia jelas ingin tahu apa titik terang tersebut karena selama ini dia pun tidak tahu titik terang yang dimaksud. Saat kejadian dia masih kecil. Belum mengerti apa pun. Yang dia ingat hanyalah mayat kedua orangtuanya yang berhasil dievakuasi kepolisian. Sayangnya neneknya pun telah meninggal, beliau tahu beberapa informasi yang tidak Theo tahu.
“Apa?” tanyanya tanpa rasa sabar.
“Saksi mata mengatakan logat bicara kelompok pembunuh bukan berasal dari daerah tengah kota. Logatnya daerah pinggiran kota. Aku tidak tahu logat di tempatmu seperti apa. Dia mengatakan logatnya seperti orang Palembang daerah seberang jembatan. Daerah sungai. Apakah ada yang seperti itu di sana?” tanyanya yang penasaran.
Arnold Lewis menerima laporan dari temannya yang menggerakkan anak buah di daerah Sumatera Selatan untuk mencari tahu mengenai kasus tahun 1998. Tidak mudah menggerakan orang asing di negeri orang lain maka cara terbaik adalah menggerakan orang lokal dengan kerja sama melalui banyak pihak. Pihak yang terlibat mulai dari duta besar hingga kepolisian dan intel. Arnold Lewis melakukan ini demi Theo van Kuiken. Anak emas yang membuatnya kagum.
Theo langsung berpikir untuk mengorek ingatannya. Dia lahir dan besar di daerah, tepatnya di kabupaten dengan orang-orang yang mempunyai bahasa serta logat tersendiri. Berbeda dengan bahasa Palembang. Theo baru pindah ke tengah kota ketika beranjak SMA, ia hanya beberapa tahun di sana kemudian meninggalkan Indonesia untuk merantau. Dia mengidentifikasi satu per satu suara teman-temannya di dalam otak menggunakan ingatannya yang kuat. Sampai pada ingatan temannya yang suka melucu di kelas tiga. Dia tinggal di seberang jembatan Ampera, daerah Ulu orang menyebutnya. Logat yang khas dengan penyebutan huruf ‘r’ samar seperti orang Perancis, tetapi lebih sedikit dalam penekanannya. Entah tebakannya benar atau tidak, tetapi Theo akan memastikan hal tersebut dengan cara berbicara langsung kepada saksi mata. Benar apa yang dikatakan Arnold, hal ini bisa luput karena logat bicara tidak banyak diperhatikan apalagi hanya perkara penekanan satu huruf yang berbeda karena hal tersebut biasa bagi orang Palembang, tetapi di dalam kasus kali ini hal tersebut penting karena menyangkut identitas pembunuh.
“Biarkan aku berbicara pada saksi mata,” pinta Theo yang lebih ke arah menuntut.
“Kau ingin pulang ke Indonesia?”
Arnold duduk di kursi meja makannya. Ia melihat Theo yang menatap tajam dirinya. Benar-benar tidak ada rasa takut terhadap atasannya sendiri pikir Arnold.
“Dengan tugas yang sekarang kau limpahkan kepadaku, mana mungkin aku bisa pulang ke Indonesia. Jangan bertanya pertanyaan yang sudah jelas kau tahu jawabannya ada di otakmu,” ujar Theo yang mulai kehabisan kesabaran. “Sambungkan telepon aku dengan saksi mata!”
“Baik, akan aku kabulkan,” jawab Arnold akhirnya. Dia kemudian melihat makanan yang telah disajikan istrinya. “Ayo kita makan dulu. Kau sudah menguras energi untuk berpikir mengenai dari mana mereka berasal. Akan aku kabari secepatnya kapan kau bisa bicara dengan saksi.”
Theo menurut. Ia duduk di bangku meja makan. Anak dan istri Arnold juga makan siang bersama. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk makan di rumah Arnold, tetapi tidak dimungkiri perutnya lapar jadi ia menerima tawaran tersebut.