Five

962 Kata
“Jadi kau adalah pengantar pizza yang mengantarkan pizza di tempat kejadian waktu itu?” Theo mengangguk kecil sambil menatap polisi di depannya tanpa keraguan. Tiga hari setelah mayat ditemukan, polisi melakukan olah TKP. Dari penyelidikan itu polisi berhasil mengumpulkan beberapa orang yang berada di tempat kejadian pada saat pembunuhan belum terjadi dan saat pembunuhan sudah terjadi. Berawal dari struk pizza yang dipesan oleh Lucas dan juga sisi tivi yang ada di pintu masuk apartemen, polisi berhasil menemukan Theo sebagai saksi. Theo tidak menolak dipintai keterangan sebagai saksi karena ia tahu bagaimana sakitnya kerabat yang kehilangan saudara, tetapi pelakunya belum tertangkap. Ia melakukannya atas dasar kemanusiaan. “Dengan siapa kau bertemu saat mengantarkan pizza, Nona Rebecca atau Tuan Lucas?” “Tuan Lucas. Dia yang membukakan pintu.” Sang polisi menulis sesuatu di kertasnya. “Kau ingat ciri-cirinya?” “Aku ingat, tapi mungkin ini tidak akan membantu banyak,” jawab Theo sambil menghela napas. “Sebutkan sebisamu dan sedetail mungkin. Jangan merasa terbebani dengan interogasi ini, Anak Muda,” ucap polisi itu menenangkan Theo. “Dia bertubuh tinggi besar dengan tinggi sekitar 6’2 feet, berat sekitar 264 pound. Warna matanya biru tua. Rambut pirang kecoklatan hampir botak di tengah. Cambangnya tidak beraturan berwarna sama dengan rambut. Kumis lebat menutupi bibirnya yang tipis. Giginya berwarna gading. Ada tahilalat kecil di bawah mata sebelah kanan, kecil mirip seperti freckless tetapi itu bukan freckless karena dia tidak berkulit putih pucat. Umurnya sekitar 50 tahun awal. Dia punya tato di pergelangan tangannya. Mirip seperti tulisan hebrew, tapi aku tidak bisa membacanya. Boleh aku pinjam kertas Anda. Akan kugambarkan apa yang kuingat tulisan tato itu,” ucap Theo sambil melihat kertas dan bolpoin yang dipegang polisi. Sesaat polisi itu tertegun dengan penuturan Theo yang detail. Ia memberikan kertas serta bolpoin yang tadi dipegangnya kepada Theo. Theo menuliskan apa yang ia lihat sesaat setelah pria itu menerima kotak pizza serta memberinya uang. Theo ingat tulisan tersebut kecil, tapi masih bisa dibaca oleh matanya. Sang polisi mengerutkan keningnya melihat Theo yang menulis tanpa keraguan. “Bagaimana kau bisa mengingat tatonya? Kau yakin dengan ini?” “Aku memiliki kelainan aneh. Aku bisa mengingat semua hal dengan sangat jelas hanya dalam sekali lihat.” Sang polisi masih heran. Ia kemudian memanggil rekannya untuk membuktikan ucapan Theo. Mana ada pikirnya manusia yang bisa ingat segala hal hanya dalam sekali lihat. Dua polisi datang menghampiri temannya sambil membawa kertas dan juga bolpoin. Keduanya menulis di dalam kertas tersebut mengenai diri mereka sepanjang empat paragraf. Setelah selesai Theo diberikan waktu dua menit untuk membaca masing-masing kertas. Kali ini mereka yakin Theo tidak seperti ucapannya. Mustahil pikir mereka. Apalagi tulisan ini bukanlah referensi dari dalam buku yang mungkin saja Theo mengetahuinya dan hafal. “Nah kita buktikan omong kosongmu, Nak. Coba sebutkan apa yang aku tulis di dalam kertas ini. Sedetail-detailnya beserta tanda baca,” tantang polisi yang tadi menginterogasi Theo. Theo mengambil napas sejenak lalu mengucapkan apa yang ia baca dari kertas pertama. Ia bahkan menyebutkan tanda bacanya di tempat yang benar. Tidak lupa sang polisi juga membubuhi deretan angka yang tidak mudah dihapal orang hanya sekali lihat. Ketiga polisi di sana persis seperti orang bodoh saat Theo menyebutkan dengan rinci apa yang ingin mereka buktikan. Tidak puas dengan kertas pertama, mereka menyuruh Theo membaca kertas milik polisi satunya. Sama saja, bahkan ketiga polisi itu tidak henti-hentinya mengucapkan kekagumannya. “Oh Tuhan, kau sungguh luar biasa. Siapa nama lengkapmu?” tanya polisi yang sedikit lebih kurus. “Theo van Kuiken.” “Kau dari Belanda?” Theo menggeleng. “Aku orang Indonesia, tetapi ibuku berdarah Belanda.” “Apa pekerjaanmu?” “Aku pekerja separuh waktu sebagai pengantar pizza,” jawabnya sambil terus memperhatikan tingkah ketiga polisi di depannya. “Pekerjaan utamamu?” “Aku bekerja di perusahaan media masa. Baru bekerja tiga bulan, jam kerja belum tetap.” “Atasan kita harus tahu ini! Dia bisa sangat berguna untuk kepolisian! Kau diberkati, Nak. Itu bukan kelainan melainkan keberuntungan. Tidak banyak orang punya kelebihan sepertimu.” “Baiklah, Theo kita bisa bahas itu nanti. Sekarang tolong kita lanjutkan sesi interogasi. Kau saksi penting karena hanya kau yang bisa memberikan informasi sedetail ini mengenai pelaku.” Theo mengangguk tanpa merasa terbebani. Setidaknya ia punya hal yang tidak membosankan di musim panasnya ini tanpa Güliz yang hampir selalu bersamanya. Lagi pula sudah menjadi keinginannya membantu orang meskipun ia hanyalah orang biasa. Selama ini ia hampir hidup seorang diri. Setelah neneknya meninggal, Theo tinggal di panti asuhan yang ada di desanya. Hanya panti asuhan kecil yang menampung puluhan anak. Makan dengan tahu dan tempe beserta sambal encer yang sudah dicampur air. Keluarga ayahnya tidak menerima kehadiran Theo karena menyusahkan. Mereka juga orang susah yang hidup di desa dengan banyak anak. Theo tidak ingin menjadi beban itu. Hingga tiba semasa sekolah menengah atas Theo melanjutkan sekolah ke kota dan ia tinggal bersama keluarga ayahnya yang lain. “Theo, kepala kepolisian ingin bertemu denganmu. Berita mengenai kau memiliki ingatan sangat kuat sudah tersebar dan menarik perhatiannya,” polisi yang tadi mengintrogasi Theo menyampaikan berita itu dengan mata berbinar. “Aku sudah punya janji dengan temanku untuk mengantarnya ke bandara. Aku tidak mungkin membatalkannya,” raut wajah polisi itu langsung berubah kecewa. “Mungkin nanti aku akan menemui atasanmu.” “Akan aku sampaikan dan jangan sampai tidak datang. Mungkin saja ini akan menjadi tempatmu bekerja. Sampai jumpa dan hati-hati,” ucapnya mengantar Theo keluar pintu. Theo melihat langit yang terik. Namun, gedung-gedung tinggi menghalangi sinar matahari bertemu wajahnya. Perkataan polisi itu barusan mengganggu Theo, dia tidak munafik memikirkan akan ada tawaran yang menggiurkan mampir padanya. Bisa jadi ini jalannya untuk mengumpulkan uang dan belajar tentang banyak hal di dunia kepolisian. Walau bagaimanapun, dia memendam keinginan untuk mengungkap dan menangkap orang-orang biadab yang telah membunuh kedua orangtuanya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN