Six

1273 Kata
New York City, Central Park West, 28 Desember 2017 Suasana Natal dan Tahun Baru di New York City merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi orang seantero dunia untuk melihat keindahan yang tidak ada di negara lain. Banyak turis asing menghabiskan waktu di restoran-restoran mahal maupun murah. Penginapan dari yang kelas atas hingga sepetak tempat tidur menjadi buruan pelancong demi menikmati Natal dan Tahun Baru di New York. Salah satu tempat yang sekarang tengah penuh oleh turis asing berkantong tebal tengah menikmati makan malam bersama keluarga sekaligus kolega asingnya, Jean-Georges—restoran Prancis yang berada di Trump International Hotel & Tower New York—penuh dengan gemerlap lampu keemasan. Theo duduk dengan tenang sembari menikmati makan malamnya di meja persegi untuk empat orang. Di depannya duduk pria tua berambut pirang berperawakan besar. Garis wajahnya aristokrat. Mengenakan kemeja mahal dengan hiasan bandul permata. Sekali lihat orang akan tahu dia bukan orang biasa. Lalu di sebelah kiri pria tua itu ada seorang wanita muda yang Theo taksir umurnya masih berada di awal dua puluh tahun. Rambutnya pirang persis seperti pria tua di depan Theo. Pakaiannya tidak kalah mahal dengan pakaian artis Hollywod yang sering mengunjungi restoran mahal ini. Dia anggun dengan balutan gaun hitam yang memperlihatkan punggung mulusnya. “Jadi bisnis Anda sudah sampai Asia Tenggara?” pertanyaan itu muncul dari bibir Theo. “Ya. Singapore, Malaysia, Thailand sudah aku masuki. Indonesia sedang dalam tahap negosiasi,” jawabnya dengan kesan sombong. “Kenapa memilih Asia Tenggara? Padahal Anda bisa menembus pasar Eropa dengan bisnis Anda sekarang?” Pria tua itu mencibir sebentar. Tampaknya ia tidak suka sekali orang bertanya tentang hal tersebut padanya. Theo berusaha tampak tenang seakan tidak terpacing sama sekali dengan cemooh sang pria tua barusan. “Orang Asia lebih kaya. Mereka suka berfoya-foya. Orang Eropa kikir. Bisnis bertujuan untuk mencari uang jadi harus pintar melihat pasaran target,” jawabnya sembari membenarkan tata letak dasi di lehernya. “Bisnismu bergerak di bidang apa?” tanyanya pada Theo. “Baru belajar memulai bisnis impor makanan beku,” jawab Theo sekadarnya. Pria tua itu tampak tertarik dengan bisnis yang Theo mulai jalani. Theo sendiri sebenarnya tidak ingin memperpanjang obrolan soal bisnisnya karena dia sama sekali tidak sedang menjalankan bisnis. Dia berada di sini untuk tujuan lain. Mengorek informasi sebanyak-banyaknya. “Pasti kesulitan banyak mampir padamu di saat awal memulai bisnis,” ucapnya kali ini dengan nada cukup bersahabat. “Kerugian, penipuan, penyelewengan dana. Hal semacam itu akan menjadi makananmu nanti,” sambungnya. Theo mengangguk menanggapi. “Tentu saja, tidak akan ada pebisnis hebat tanpa jatuh bangun.” Theo menanggapi sambil membenarkan letak ponselnya di meja. “Sebagai pebisnis tentu akan memiliki banyak saingan, musuh dan juga kolega di berbagai tempat. Pertanyaan saya, apakah Anda memiliki yang seperti itu?” “Apakah pertanyaan Anda ini bentuk interogasi?” tanyanya dengan sinis. Wanita di samping pria tua itu tidak terlalu peduli. Ia bermain dengan ponselnya sedari tadi. “Apakah Anda merasa saya sedang menginterogasi Anda?” Theo balik bertanya. “Sebagai pebisnis andal, saya ingin tahu banyak dari Anda. Tuan Ronald Spark mengatakan saya harus belajar banyak kepada Anda, Tuan Jack Walker. Tentu saja teman lama Anda itu tidak sembarangan mengatakan bahwa Anda orang hebat dan saya harus menemui Anda malam ini, berbincang dengan Anda mengenai perjalan bisnis Anda agar menjadi pembelajaran untuk saya.” “Aku cukup terkejut Ronald menghubungiku untuk mengajarimu bisnis. Kau jelas menarik minatnya sehingga dia repot-repot mengatur pertemuan ini.” Theo masih menunggu ucapan pria tua itu selanjutnya. Dia harus bersabar untuk terus mengorek informasi yang dibutuhkannya. “Jika berbicara soal musuh, musuhku di mana-mana. Bisnis selalu punya musuh karena dunia persaingan bisnis itu kejam. Di Mexico aku mempunyai musuh besar. Para mafia yang mengambil untung dari bisnis punyaku. Di Brazil aku mempunyai musuh yang tidak kalah merepotkan. Orang-orang pemerintahan yang melarang bisnisku hingga membuat kerugian besar-besaran,” ia menarik napasnya sesaat, terlihat sekali ia cukup lelah malam ini. “Tapi dari semua itu, musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang tidak terlihat. Mereka yang berada di balik semua ini. Di balik pemerintahan dan juga kekuasaan dunia.” “Mereka yang tidak terlihat?” tanya Theo ingin tahu. Ia memainkan perannya dengan sangat baik sehingga sang pebisnis pun masuk ke dalam jaringnya. “Ya mereka, mereka yang mengendalikan dunia. Aku dan Ronald sering sekali membahas mereka saat kami memancing. Kau perlu mengorek informasi lebih pada Ronald jika ingin tahu tentang ini. Dia lebih bisa diandalkan mengenai musuh di balik layar.” “Saya rasa Anda lebih paham, tetapi Anda menjaga saya untuk tidak tahu karena rasa khawatir saya yang berlebihan mungkin bisa membunuh minat saya pada bisnis saya.” Theo menyimpulkan bahwa Jack Walker merupakan orang yang angkuh di luar, tetapi sebenarnya peduli pada orang yang ingin belajar darinya. “Minat bisnis itu mudah sekali bangkit. Namun, sekalinya dia mati itu akan berbahaya,” ucapnya sembari meminum wine yang ada di depannya. “Musuh akan senang melihatmu mati.” “Dan musuh tidak akan suka melihat kegigihan.” Jack Walker mengangguk setuju pada ucapan Theo. “Dad, aku ke toilet sebentar,” tiba-tiba obrolan mereka terpotong karena anak gadis Jack Walker menginterupsi. “Oke honey, hati-hati,” jawabnya. Theo memperhatikan wanita muda itu dengan saksama. “Jelas, oleh sebab itu jangan sampai kau kalah dari mereka. Mereka ada di belakangmu, mengintai dalam diam lalu menikammu saat kau lengah. Mereka orang-orang yang licik,” mata Theo kembali terfokus pada Jack Walker yang ada di depannya. “Motif mereka adalah ingin menguasai bisnis kita dengan cara terselubung lalu kita tidak sadar bahwa kita sudah kalah. Permainan mereka rapi dan mereka orang-orang yang profesional. Jelaskah bahwa mereka ini adalah kelompok iluminati atau keluarga Rothschild?” tanya Theo sambil menyelidiki raut wajah Jack Walker dengan saksama. “Kemungkinan, tetapi bisa jadi bukan. Tebakanku lima puluh persen ini kelompok lain. Yang aku dengar kabar terbaru, mereka berbasis di Ukraina.” Theo kembali bersemangat untuk mengorek informasi sedetail-detailnya. Ia harus memutar setiap pertanyaan yang akan diajukannya agar memancing Jack Walker yang cukup waspada. Tentu saja pertanyaan yang akan ia ajukan bukanlah bersifat spontan, tetapi bersifat berbelit-belit agar orang seperti Jack bisa membuka mulutnya lebih lebar lagi. “Mereka kelompok militan organisasi tertentu atau perorangan?” “Kadar kejahatan mereka bukanlah kelas teri, jelas ini kelompok militan untuk kesimpulan sementaraku. Alasan ini juga yang membuatku tidak ingin melebarkan bisnis ke Eropa. Di sana mereka berkuasa.” “Anda pernah bertemu dengan salah satu dari mereka?” Jack Walker tampak melihat sekelilingnya sebentar sebelum ia berbisik kepada Theo. “Pernah, di Istanbul beberapa bulan yang lalu. Menawarkan mitra kerja yang menjanjikan, tetapi aku berhasil menyelidiknya dan dia salah satu dari kelompok itu. Di New York City pun ada beberapa. Mereka menyamar. FBI kabarnya sudah mengintai mereka dari satu tahun yang lalu karena mereka sudah mulai memasuki Amerika. Kabarnya CIA yang memberikan informasi tersebut kepada FBI.” “Menarik, sekelas FBI dan CIA pun menyelidiki mereka,” komentar Theo sambil mengangguk pelan. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul sepuluh malam, tetapi kota New York tidak mengalami kesepian, justru restoran tempat pertemuan mereka sekarang semakin ramai. “Kabarnya CIA menerjunkan anak buahnya untuk menyelidiki di Ukraina sana. Tentu saja mereka tidak akan tinggal diam. CIA dan FBI, entahlah aku tidak terlalu percaya mereka. Kadang mereka menekan kami untuk mendapatkan informasi. Itu menyebalkan,” ujarnya dengan nada kesal. “Senang sekali saya bisa mendapatkan pelajaran dari Anda, Tuan Walker.” Theo tersenyum karena dia sudah bisa menyibak sedikit informasi. “Anda pebisnis hebat. Tidak salah Tuan Ronald Spark merekomendasikan Anda.” “Tentu saja, aku senang berbagi informasi.” Theo mengangkat gelas wine punyanya lalu mengajak Jack Walker untuk minum bersama. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN