Fifty Six

1177 Kata
Las Vegas, Nevada, 24 Desember 2018 Nicholas Song langsung pulang ke Las Vegas sesaat setelah bertemu dengan orang-orang di FBI dan mengucapkan selamat kepada mereka karena telah menyelesaikan pelatihan. Tidak lupa dia dan Theo memaksa Arnold untuk memberikan libur dan mereka tidak ingin tahu, diizinkan atau tidak mereka akan tetap meliburkan diri selama Natal dan Tahun Baru. Mereka juga menerima ucapan Natal dari semua orang. Orang seperti Nicholas tentu saja tidak peduli pada semua ucapan Natal tersebut, yang dia inginkan hanyalah segera pulang. Saat ini dia berdiri di depan restoran Chinese yang dulu sering ia datangi. Hari sudah sangat larut, tetapi Nicholas tidak peduli. Dia tetap berdiri di sana sambil memandangi jendela kamar milik wanita yang dia tinggalkan karena tugas. Nicholas membuka ponselnya dan mencoba menelepon nomor Jea. Dia tahu kemungkinan besar tidak diangkat karena wanita tersebut pasti sudah tidur. Namun, mengejutkan bahwa telepon tersebut diangkat hanya dalam hitungan detik. Dia belum tidur pikir Nicholas. “Aku ada di depan rumahmu.” Hanya itu yang bisa Nicholas ucapkan kepada Jea dan ia segera memutuskan sambungan. Dia masih menatap jendela kamar Jea dan tidak lama kemudian dia melihat Jea membuka jendelanya. Dia melihat Jea tersenyum lebar. Itu pertama kalinya Nicholas melihat sang polisi tersenyum amat sangat lebar kepadanya. “Tunggu aku, aku akan menemuimu,” ucapnya lalu menutup jendela kemudian mengambil jaket tebalnya karena di luar sangat dingin. Setelah bertemu hal pertama yang dilakukan Jea adalah memeluk Nicholas dengan sangat erat. Dia tidak peduli apabila sang detektif gila tersebut marah kepadanya karena berbuat seperti itu. Dia sangat merindukan sosok tersebut hingga memimpikannya di setiap malam. Bahkan rasanya pun bisa memeluk Nicholas saat ini masih terasa bagai mimpi baginya. “Kau kembali! Aku bahagia,” ucap Jea sambil melepaskan pelukannya lalu kedua tangannya memegang pipi Nicholas dan matanya berkaca-kaca. “Kurasa kali ini pun aku merasa ini seperti mimpi.” “Kau jarang makan? Kenapa tubuhmu semakin kurus?” Nicholas memegang pinggang Jea sambil merasakan tulang-tulang wanita tersebut terasa cukup menonjol dibanding terakhir kali ia memeluk Jea. “Aku tidak suka melihatmu tersiksa karenaku.” “Jangan berlebihan, aku tidak kurus sama sekali dan aku makan teratur! Dan siapa pula yang tersiksa karenamu!” kesal Jea sambil melepaskan tangannya dari Nicholas. Nicholas tertawa mengejek lalu kembali menarik Jea ke dalam pelukannya. “Aku benci mengakuinya, tetapi yang bisa membuat aku sampai mengancam atasan FBI untuk memberikan libur hanyalah karenamu. Kau wanita paling sialan dan merepotkan.” Jea mengangkat kepalanya dari d**a Nicholas. Pria yang dia kenal sangat mengerikan karena suka bertindak sesuka hatinya itu justru yang banyak berubah. Tubuhnya keras karena otot yang dibentuk oleh latihan militer. Wajahnya jauh lebih tegas dan juga rambutnya pendek. Nicholas biasanya sangat benci potongan rambut pendek dua sentimeter dari kulit kepalanya. Dia pria yang selalu tampil modis dengan rambut tertata rapi dan juga baju mahal. “Aku senang kau melakukannya untukku.” Jea langsung tanpa pikir panjang mencium bibir Nicholas. Ini pertama kalinya dia mencium seorang pria. Dia malu sekali karena telah bertindak bodoh. “Selamat Natal,” ucapnya sesaat setelah mencium Nicholas. “Cih, berani-beraninya kau,” kata Nicholas sambil menarik kepala Jea dan menciumnya dengan semua perasaan rindu yang dia tahan. Jea harus akui bahwa ciuman Nicholas kali ini sangat berbeda dengan terakhir kali. Ini jauh lebih lembut dan butuh serta terasa tepat. Jea pun tidak sungkan membalasnya sambil tersenyum. Dia sudah gila berani menantang detektif yang terkenal gila dan tidak punya hati. Semua salah berpendapat karena pada kenyataannya Nicholas memiliki hati dan perasaan lembut yang selalu ia sembunyikan dari dunia luar. Tidak banyak orang yang bisa melihat topeng tersebut. “Masuklah, cuaca semakin dingin dan kau harus tidur,” kata Nicholas yang melepaskan ciuman mereka karena kehabisan napas. “Besok aku akan menemuimu lagi.” Jea menggeleng dan kembali memeluk Nicholas dengan erat. Jea bisa saja merasa bahwa Nicholas membohonginya akan kembali menemuinya besok. Pria tersebut sudah pernah mengatakan bahwa dia dalam tugas dan bisa menemuinya sekarang pun pasti dengan risiko besar. “Aku ingin tidur denganmu.” Nicholas ingin sekali menembak kepala Jea karena mengucapkan hal yang tidak cocok dengan kepribadian wanita itu. Jea adalah wanita yang sangat menjaga dirinya dari hal-hal negatif. Oleh karena itu yang membuat Nicholas jatuh hati kepadanya. Di satu sisi sosok Jea mirip Theo yang tidak mudah terjerat lingkungan di Amerika. Hal yang sangat membuat Nicholas salut kepada keduanya meskipun dia tidak pernah sudi untuk mengungkapkannya. “Maksudku benar-benar tidur dalam arti yang sesungguhnya. Aku ingin memelukmu semalaman karena bisa saja aku terbangun nanti ini hanyalah mimpi,” sambungnya setelah melihat perubahan wajah Nicholas. “Cih, kaupikir pria dan wanita bila tidur bersama tidak melakukan hal lain? Kenapa kau munafik dan bodoh sekali.” “Itu orang lain! Aku yakin kau tidak!” kerasnya membantah. “Kata siapa aku tidak akan melakukannya? Banyak wanita yang sudah singgah di tempat tidurku.” Jea langsung menelan ludah setelah mendengar pengakuan Nicholas. Memangnya apa yang dia harapkan dari pria seperti Nicholas yang tampan dan memiliki banyak uang? Tentu saja dia akan sangat mudah membuat wanita jatuh ke dalam pelukannya. Pria tersebut juga bukan pria religius seperti dirinya yang dididik untuk menjaga diri dari hal negatif. Harusnya Jea sadar sudah sewajarnya hal tersebut ada di dalam diri Nicholas. Justru akan sangat menggelikan bila dia taat seperti Jea karena tidak sesuai dengan kehidupan dan pribadinya. “Benar, aku sampai lupa fakta itu,” katanya dengan susah payah sambil memasang wajah kecewa. “Jujur memang menyakitkan, kau jelas kecewa.” Nicholas tahu bahwa kekecewaan Jea adalah hal wajar karena dia mencintai diri Nicholas. Jea menggigit bibirnya sebentar sambil menatap sang detektif gila yang telah mencuri hatinya. Dia tidak berhak sama sekali marah karena sebenarnya dia bukan siapa-siapa untuk Nicholas Song. pria itu tidak pernah memintanya menjadi kekasihnya dan dia tidak tahu banyak tentang Nicholas. “Aku sama sekali tidak berhak marah kepadamu atau kecewa. Aku tidak punya hak untuk melarangmu melakukan apa pun.” Jea memasukkan kedua tangannya ke saku mantel tebalnya. “Karena sesungguhnya kita tidak memiliki hubungan spesial.” “Memang dan aku pun tidak mempunyai hak atas dirimu meskipun aku ingin,” akunya. “Menyebalkan, masuklah ke rumahmu sekarang. Aku akan pulang.” Nicholas membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah mobilnya. Jea memandang punggung Nicholas yang menjauh. Dia tidak salah dalam berucap karena apa yang dikatakannya memang benar adanya, lalu kenapa pria itu yang justru meninggalkannya padahal beberapa menit yang lalu mereka masih akur. “Jangan pergi!” teriak Jea, tetapi Nicholas tidak peduli. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jea segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Nicholas serta meminta maaf atas kata-katanya. “Aku sedang menyetir. Masuklah atau aku akan menabrakkan mobilku ke tubuhmu,” ancamnya kemudian menutup panggilan. Nicholas sampai di rumah mewah miliknya yang sudah lama ia beli, tetapi tidak banyak orang yang mengetahuinya. Selama ini dia sering tinggal di hotel karena dia benci orang melacak tentangnya. Saat tiba Nicholas membaca pesan dari Jea yang mengatakan dia harus datang menemuinya besok apa pun caranya. “Wanita menyebalkan,” kata Nicholas sambil tersenyum lebar. “Harusnya tadi aku bawa dia pulang ke rumah.” TBC... C...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN