Sumatera Selatan, Palembang, 27 Desember 2018
Theo berdiri di depan halaman rumah yang telah ia tinggalkan selama hampir dua puluh tahun. Rumah yang menjadi tempatnya lahir dan tumbuh bersama kedua orangtua dan sang nenek. Dilihat Theo cat di beberapa tempat sudah sedikit memudar. Pintu depan yang tergembok karena dipegang oleh pamannya yang tinggal di kota. Rumah tersebut masih terawat dengan baik meskipun umurnya sudah hampir seratus tahun. Itu rumah peninggalan Belanda yang pernah berjaya di Indonesia dan membangun perusahaan perkebunan. Jendela dan pintunya tidak ada yang berubah. Masih dengan gaya bangunan Belanda, bahkan beberapa kursi dan lemari di dalam rumahnya juga peninggalan nenek moyangnya. Perasaannya tidak keruan. Dia luar biasa emosional, tidak pernah Theo merasakan perasaan ini sebelumnya. Perlahan kakinya melangkah mendekati pintu untuk melihat dan menyentuhnya. Ia bisa merasakan dulu tangan kecilnya selalu membuka pintu ini setiap kali akan keluar dan masuk rumah. Perasaan Theo juga melayang jauh ketika melihat bayangan ibunya menyambut kepulangan Theo dari sekolah. Ayahnya yang mengajak Theo untuk keluar main, dan neneknya yang menggendong Theo ketika menangis. Semua memorinya berputar dengan sendiri. Dadanya sesak, punggungnya berat. Tidak ia sangka akan seberat ini membuka lembaran lama yang sudah ia tutup dengan erat.
Zara menemani Theo melihat dari jarak yang cukup jauh. Dia tidak ingin mengganggu Theo yang tengah menahan diri untuk tidak menangis. Jujur saja Zara tidak tahu bahwa beban yang Theo pikul ternyata sangat berat. Dia hanya tahu Theo tinggal dengan pamannya dan tidak pernah tahu bahwa kedua orangtua dan neneknya sudah meninggal. Theo tidak pernah bercerita dan ketika dulu Zara bertanya, Theo tidak pernah menjawab. Hari ini ia mendapatkan semua jawaban yang pernah ia tanyakan beberapa tahun silam. Theo menceritakan mengenai kedua orangtuanya.
Sahabatnya itu memang benar-benar tertutup sampai hal yang seperti ini saja dia tidak mengetahuinya. Zara merasa bersalah karena dia bukanlah sahabat yang baik. Dia lalu perlahan mendekati Theo dan menyentuh pundaknya. Pundak Theo berguncang pelan. Zara tahu pria itu akhirnya menangis meskipun tadi sudah berusaha ia tahan.
“Kau boleh menangis di pundakku bila kau mau,” kata Zara dengan suara pelan. Theo menghapus air matanya dengan kasar. Ia melihat Zara yang menatapnya dengan perasaan sedih. Gadis itu tidak tahu menahu mengenai semua perasaannya dan kini dia melibatkannya.
Tanpa pikir panjang Theo menarik Zara ke pelukannya dan menangis di sana. Zara mengusap punggung Theo untuk menenangkannya. Dia merasa ini lebih baik daripada hanya berdiri melihat sahabatnya menangis dan dia tidak tahu apa pun.
Setelah menangis Theo merasa lebih baik. Ia tahu harusnya dia tidak menangis di depan Zara karena dia khawatir wanita itu akan menganggapnya lemah. Selama ini dia memang tidak pernah menangis di depan siapa pun. Bahkan di depan paman dan bibinya. Zara tersenyum kepadanya sambil terus mengusap lengan Theo.
“Aku tahu aku tidak bisa menghiburmu, tetapi aku senang kau percaya kepadaku.” Zara mengusap sisa air mata di sudut mata Theo. “Aku tidak menyangka kau seterluka ini. Kau selama ini sangat kuat.”
“Aku juga tidak menyangka akan selemah ini,” kata Theo dengan tawa geli yang terlihat lucu di mata Zara. “Aku pasti memalukan.”
“Tidak, aku justru senang kau bisa melepaskan sedikit bebanmu.”
“Ya, kurasa ini kali pertama aku bisa selepas ini menangis,” kata Theo sambil menatap ke langit. Zara selalu suka melihat mata Theo yang terang di bawah sinar matahari. “Sayang kita tidak bisa masuk, kuncinya ada di rumah pamanku.”
“Pasti isi di dalamnya masih terawat rapi,” kata Zara sambil memandangi teras yang terdapat dua kursi dan satu meja. Pintu tinggi dari kayu dengan cat putih dan jendela kaca yang tertutup tirai putih. Rumah tersebut memiliki ruangan yang berbentuk segi lima dengan atap kerucut pada sisi sebelah teras. Sangat kental bangunan peninggalan kolonial. Seperti kebanyakan orang Belanda, neneknya pun sangat suka merawat tanaman. Dulu tanaman bunga-bunga merekah indah di pekarangan luas rumahnya, sekarang hanya tersisa sedikit.
“Kita belum ke makam kedua orangtua dan nenekku. Entah bagaimana di sana mungkin aku akan menangis lagi,” canda Theo sambil mengajak Zara untuk pergi meninggalkan rumahnya.
“Tidak apa-apa, kau berhak menangis.”
Theo menggeleng sambil meneruskan langkahnya.
“Makam mereka tidak jauh dari sini. Makam kedua orangtuaku di pemakaman umum Islam seperti biasa dan nenekku di pemakaman Kristen dekat kebun karet. Makam nenek moyangku ada di dekat PT. Perkebunan, kau ingin lihat? Kalau boleh masuk, nanti kita akan lihat,” kata Theo menjelaskan.
“Kau dan Nenekmu berbeda agama?” tanya Zara yang sekali lagi baru tahu dengan hal tersebut.
“Ya, Mamaku menikah dengan Ayahku dan dia memeluk Islam. Mamaku orang Belanda dan Ayahku orang daerah sini,” jelas Theo sambil menoleh sekali lagi ke rumahnya. “Tetapi Nenekku selalu menyuruhku rajin sholat dan mengaji. Apabila aku malas, dia akan marah. Toleransi yang sangat kuat di antara kami.”
“Nenekmu pasti orang yang sangat hebat karena membesarkanmu sendirian.” Zara membuka mobilnya dan Theo mengikuti.
“Sebenarnya makam kedua orangtuaku tidak jauh, kita berjalan saja, bagaimana?”
“Baiklah,” kata Zara sambil kembali menutup pintu mobil. “Cuaca panas sekali. Aku akui sangat berbeda dengan New York.”
“Di New York sekarang sedang musim dingin. Salju di mana-mana. Orang di sana malas keluar,” cerita Theo sambil menyusuri tanah berumput untuk keluar dari perumahan Belanda.
“Aku justru ingin bermain salju.”
“Mainlah ke sana musim dingin tahun depan. Setelah tahu betapa dinginnya kau akan menyesal.”
“Kalau tidak bagaimana? Mungkin aku akan menyukainya dan memilih tinggal di sana. Kita bisa bertemu lagi di sana!”
Diam-diam perasaan hangat itu menyapa hati Theo lagi padahal selama ini dia sudah berusaha menekan semua perasaannya untuk Zara dan ingin menjaga persahabatannya sampai akhir usia. Dia memang pintar dalam urusan membaca perasaan orang yang terlibat dengannya, seperti Güliz yang Theo tahu menyimpan perasaan cinta untuknya. Namun, tidak dengan Zara. Theo tidak bisa mengetahui sudut lain hati sahabatnya itu apakah ada rasa berbeda untuk dirinya atau tidak.
“Kita bisa jadi tetangga atau….” Theo tidak melanjutkan ucapannya. Dia benar-benar tidak ingin melanjutkannya.
“Atau apa?” tanya Zara ingin tahu. Tangannya menghalau sinar matahari yang terik. Mereka terus berjalan menuju pemakaman umum. “Atau apa, Theo?”
“Atau tetangga,” jawabnya yang tidak bisa menemukan kata lain. Di bawah sinar matahari kulit Theo sangat terang dan rambutnya kecokelatan padahal dulu Theo tidak seputih sekarang. Mungkin karena tinggal di iklim dingin membuat kulitnya juga beradaptasi.
“Kukira kau akan menjawab yang lain,” kata Zara sambil tertawa geli. Kali ini Theo yang dibuat penasaran.
“Memangnya kau pikir aku akan menjawab apa?”
“Jadi istrimu mungkin,” jawabnya tanpa basa-basi dengan tawa renyah. Kali ini Theo dibuatnya berhenti melangkah. “Aku bercanda, Theo,” sambungnya yang melihat wajah Theo memerah.
“Aku tahu,” ucap Theo sambil kembali melangkah.
“Tadi aku memberitahu Mamaku mengenai kepulanganmu. Dia senang sekali dan mengajakmu untuk datang ke rumah. Kau mau?” Theo memang sudah akrab dengan ibunya Zara karena dulu sering bertemu ketika mengantar dan menjemput anaknya latihan. Bahkan sering diajaknya makan bersama.
“Baiklah, sekalian aku akan membawakan oleh-oleh untukmu.”
Saat mereka berjalan beberapa orang memperhatikan keduanya, terutama Theo karena parasnya yang sangat berbeda. Anak-anak kecil menyapanya dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, ibu-ibu tersenyum bahagia dan memanggil anak gadisnya untuk melihat Theo. Theo ingat dulu dia juga seperti ini ketika pertama kali tiba di rumah pamannya. Tetangga pamannya berkali-kali bertandang dan memandangnya dengan tatapan kagum. Jujur dalam hati kecil Theo dia risih dengan keadaan tersebut, tetapi lama kelamaan dia biasa dan menganggap hal tersebut sisi lain manusia yang harus dia toleransi karena sifat setiap orang berbeda-beda.
“Itu tempat kedua orangtuaku dikubur,” kata Theo sambil menunjuk tempat pemakaman umum yang ada di depan mereka. “Ayo, mereka pasti sudah menunggu kedatanganku.”
Saat tiba yang dilakukan Theo dan Zara adalah berdoa setelah itu membersihkan makam keduanya yang terletak bersebelahan. Sudah lama sekali dia tidak melihat rumah terakhir kedua orangtuanya. Theo mengusap nisan mereka sambil mengingat wajah keduanya yang tersenyum.
“Halo Mama dan Ayah, Theo datang lagi setelah sekian lama. Maafkan Theo karena baru sempat pulang setelah sepuluh tahun,” katanya sambil terus mengusap nisan ibunya. “Hari ini Theo datang dengan seorang teman yang sudah lama Theo kenal. Namanya Zara, dia teman Theo sewaktu latihan taekwondo. Dia dulu yang sering Theo ceritakan suka membelikan Theo makanan dan suka meminjamkan buku bacaan. Ini orangnya,” kata Theo memperkenalkan Zara kepada kedua orangtuanya. Zara terenyuh melihat interaksi Theo dengan makam kedua orangtuanya. Dia tidak menyangka selama ini Theo sering menghabiskan waktu bercerita di makam kedua orangtuanya. Dia yang masih memiliki orangtua lengkap tidak bisa membayangkan apa yang dialami Theo. Terlebih dia kehilangan kedua orangtuanya karena dibunuh dan sampai sekarang pembunuhnya belum diketahui kemudian di usia yang masih sangat butuh kasih sayang. Dia pasti sangat kesepian.
“Nama Mamamu bagus sekali, Iriane van Kuiken. Namamu mengambil namanya.”
“Sebenarnya namaku bukan itu. Dulu namaku Matheo saja, nenekku yang mengganti dan menambahkannya karena keperluan sekolah. Katanya juga namaku tidak cocok dengan diriku.”
“Mama dan Ayahku tidak keberatan dengan usul Nenekku. Jadi mereka membuatnya seperti itu di akte kelahiranku.”
Keduanya kemudian meninggalkan makam orangtua Theo setelah Theo puas melihatnya. Dia tidak ingin berpisah, tetapi harus dilakukannya karena mau bagaimanapun mereka sudah berbeda dunia. Mereka kemudian menuju ke pemakaman Kristen yang ada di dekat kebun karet. Pemakaman yang tidak terlalu terawat karena letaknya jauh dari perumahan warga.
“Yvette Voornhout, nama Nenekmu susah dibaca,” kata Zara ketika membaca nama nenek Theo.
“Ya, semua orang mengatakan hal seperti itu,” jawabnya sambil menyingkirkan rumput di sekitar tanda salib yang bertuliskan nama neneknya. “Nenekku lahir di Belanda, tetapi besar di Indonesia.”
“Kau bisa bahasa Belanda?”
“Bisa, aku belajar dari beliau. Dulu kami sering mengobrol dalam bahasa Belanda. Nenekku juga menuliskan surat untukku dalam bahasa Belanda.”
“Aku baru tahu kau bisa bahasa Belanda, sepertinya dulu aku lupa menanyakannya.”
“Bahasa Belanda tidak sulit, mau aku ajarkan?” Zara menggeleng karena dia tidak suka hal seperti itu. Dia lebih suka belajar ilmu pasti seperti hitung-hitungan. “Ayo kita pulang, sudah terlalu siang dan sepertinya jalanan lintas timur akan macet,” ajak Theo dan disetujui oleh Zara.
TBC...