New York City, Manhattan, 26 Desember 2018
Seperti yang pernah ia dan Nicholas rencanakan dua hari yang lalu, saat ini Theo tengah berada di pesawat menuju Indonesia. Ini pertama kalinya semenjak sepuluh tahun yang lalu ia merantau ke negeri Paman Sam untuk pulang. Semua rasa di dadanya campur aduk. Dia sendiri tidak menyangka akan mengambil keputusan pulang padahal sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali. Dia hanya akan berada di Indonesia selama seminggu karena mereka harus berangkat ke Ukraina dan memulai misi.
Theo menerima tawaran Nicholas karena dia merasa kesal Arnold telah membohonginya dan mereka berdua protes lalu berujung permintaan Theo untuk mengizinkannya pulang ke Indonesia. Akhirnya Arnold mengalah dan harus berbesar hati untuk melewatkan pertemuan penting organisasi tersebut yang akan diselenggarakan pada malam Tahun Baru. Dia tidak bisa mengelak karena dia salah telah menjebak kedua orang cerdas tersebut. Lagi pula memberikan mereka jatah libur bukanlah sesuatu yang buruk.
Dalam perjalananya kali ini Theo tidak bisa tidur sama sekali di dalam pesawat padahal pesawat sudah lepas landas dari enam jam yang lalu. Yang Theo lakukan hanyalah melihat sekumpulan arakan awan dan juga hamparan bumi. Pikirannya jauh melayang ke semua memori yang pernah terlewati dalam hidupnya.
Hal pertama yang akan Theo lakukan adalah mengunjungi makam kedua orangtua dan neneknya. Entah bagaimana caranya nanti ia bisa menuju ke sana karena sudah lama sekali. Pastilah moda transportasi dan lingkungan juga sudah banyak berubah. Theo akan memikirkan hal tersebut nanti. Mungkin dia akan menghubungi Zara untuk menemaninya. Bisa jadi hal itu akan membantunya.
Dia juga akan melihat rumah masa kecilnya yang sudah lama ia tinggalkan. Banyak sekali yang Theo pikirkan saat ini sampai-sampai ia tidak sadar seorang pramugari menghampirinya dan mengantarkan makanan.
“Terima kasih,” kata Theo setelah menerima makanannya. Dia tidak lantas makan setelah menerima pemberian dari pramugari karena dia belum merasa lapar.
Malam sudah terlihat dan Theo masih menonton film dari layar kecil yang tersedia di tempat duduknya. Sudah dua film ia selesaikan dan dua kali menambah makanan. Kelas eksekutif memang berbeda, ini bukan kali pertama Theo menempati kelas nomor satu di pesawat tersebut. Penerbangan akan transit di bandara Narita, Jepang untuk beberapa waktu baru setelah itu melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
Theo tidak sempat membeli buah tangan untuk keluarga pamannya dan juga beberapa teman yang mungkin akan ia temui selekas sampai di Indonesia. Jadi dia memutuskan membelinya di Jepang. Theo hanya sempat membelikan parfum untuk Zara karena toko parfum tersebut masih berada di unit apartemennya. Itu pun dia beli sebelum menaiki taxi yang mengantarnya ke bandara.
Dalam gelapnya langit malam yang ia lihat hanyalah hamparan lautan dan titik-titik kecil lampu yang kemungkinan dari mercusuar atau dari kapal laut. Semakin dekat dengan kedatangannya ke Indonesia, semakin dekat pula Theo merasa dia terasing. Theo mencoba memejamkan mata untuk istirahat dan menenangkan pikirannya sejenak. Dia terlalu banyak berpikir serta berasumsi mengenai perasaannya sendiri yang mungkin saja tidak akan seburuk dugaannya ketika tiba nanti.
♚♛♜♝♞
Sumatera Selatan, Palembang, 27 Desember 2018
Pagi itu Nyimas Zara Nursandi terkejut bukan main ketika masih dalam ambang dunia mimpi dia menerima telepon dari Theo van Kuiken yang telah putus kontak dengannya selama tiga bulan setelah dia pulang dari acara New York Fashion Weeks kemarin. Lebih mengejutkan lagi pria itu saat ini ada di bandara kotanya. Dia pulang setelah sepuluh tahun tidak menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Zara yang harusnya bekerja hari itu terpaksa meminta izin kepada atasannya. Untungnya dia bisa izin dan menjemput Theo di bandara.
Saat melihat Theo untuk pertama kalinya setelah tiga bulan yang lalu masih dengan tubuh tidak terlalu berisi, kini dia melihat Theo berpenampilan cukup berbeda. Tubuhnya lebih berisi karena otot hasil latihan dan rambut pria itu pendek tidak seperti sebelumnya yang cukup panjang.
“Maaf merepotkanmu tiba-tiba,” kata Theo setelah keluar sambil mendorong kopernya.
Zara tersenyum kemudian memeluk Theo. Dia bahagia bisa melihat sahabatnya kembali lagi setelah sekian lama. Theo melepaskan mantel yang dipakainya karena cuaca sangat berbeda dengan Amerika. Panas cukup menyengat adalah hal yang pertama Theo rasakan. Zara tertawa melihat Theo kepanasan.
“Tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“Sehat dan sangat senang,” kata Theo sambil memandang Zara yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. “Terima kasih sudah mau datang menjemputku.”
“Ya ampun, kau juga melakukan hal yang sama denganku waktu di New York. kita Impas, Theo,” jawabnya sembari mengajak jalan Theo menuju parkiran mobil.
“Masih cukup pagi, tetapi sudah panas sekali,” kata Theo yang mengikuti Zara menuju parkiran.
“Kau tunggu saja di sini. Aku akan ambil mobil,” kata Zara yang menyuruh Theo menunggu di tempat tunggu penumpang bandara. Theo menurut sambil memperhatikan sekitaran bandara yang sudah sangat berbeda semenjak sepuluh tahun lalu. Sudah ada kereta cepat yang dibangun untuk perhelatan Asian Games pada bulan Agustus lalu.
“Kita akan ke mana?” tanya Zara sambil menjalankan mobil keluar parkiran.
“Bila kau tidak keberatan, aku ingin ke makam kedua orangtua dan nenekku. Tidak jauh dari kota. Kira-kira hanya setengah jam.”
“Tentu, hari ini aku sudah izin di kantor untuk menemanimu!” jawab Zara dengan tulus. “Ngomong-ngomong sampai kapan kau di Indonesia?”
“Satu minggu, setelah dari sini aku akan langsung terbang ke Ukraina.”
“Untuk pekerjaan?”
“Hm, kau sibuk sekali ya. Memang menjadi jurnalis sesibuk itu ya, Theo?” tanya Zara penasaran.
“Ya cukup sibuk,” jawabnya singkat karena dia tidak ingin berbohong lebih lanjut. “Maaf menghubungimu lagi tiba-tiba setelah tiga bulan aku tidak membalas pesanmu. Aku punya alasan besar yang tidak bisa aku beritahu kepadamu. Maaf,” kata Theo dengan sangat tulus meminta maaf. Bagaimanapun dia dan Zara tetaplah sahabat meskipun hanya dirinya yang memiliki perasaan lebih.
“Tidak masalah, aku juga berpikir bahwa kau memang sangat sibuk dan butuh konsentrasi lebih untuk pekerjaanmu. Aku mengerti,” balasnya sambil tertawa renyah.
“Oh ya, aku membawakanmu oleh-oleh, tetapi aku masukkan ke dalam koper karena tidak boleh di dalam bagasi. Nanti akan aku berikan kepadamu.”
“Benarkah? Wah aku senang sekali! Hm, kalau tahu kau akan pulang, aku bisa menitip banyak cokelat yang pernah kita beli kemarin.”
“Nanti akan aku kirimkan cokelat dari Belgia, kemungkinan aku akan keliling Eropa. Kau boleh meminta apa pun untuk oleh-oleh,” tawarnya dengan senyum lebar. Theo senang sekali akhirnya dia sampai dengan selamat di kota kelahirannya. Melihat banyak orang yang sudah lama tidak ia temui.
“Wah! Suungguh? Apa pun itu?” tanya Zara dengan wajah berbinar-binar.
“Iya, kau boleh meminta apa pun.”
“Pasti wanita yang jadi istrimu nanti akan selalu senang karena kau seperti ini.” Zara tertawa geli membayangkan Theo menikah dan mempunyai istri. Pasti dia tidak akan merasakan lagi persahabatan seperti sekarang ini bersama Theo.
“Entahlah, mungkin bisa benar atau salah,” jawabnya setelah memikirkan ucapan yang tepat agar dia tidak mengucapkan kata-kata yang akan ia sesali.
“Ngomong-ngomong aku tidak tahu kalau kau tidak memiliki kedua orangtua lagi. Kupikir paman yang waktu itu aku antarkan titipan darimu adalah ayahmu.”
“Mereka sudah lama meninggal. Semenjak aku berumur enam tahunan mereka berdua sudah tidak ada. Aku dibesarkan oleh nenekku,” cerita Theo sambil melihat jalanan yang mulai memasuki jalan raya. “Nenekku juga meninggal beberapa tahun kemudian, aku sempat tinggal di panti asuhan sebelum pamanku yang merawat aku.”
Zara terdiam mendengar cerita Theo yang tidak pernah dibagikan kepadanya sama sekali. Dia tidak tahu harus berekasi seperti apa karena yang dia tahu selama ini Theo tidak pernah membahas kedua orangtuanya. Dia hanya bercerita seputar buku, film, musik, dan ilmu bela diri lainnya saat bersama Zara dulu.
“Aku baru tahu,” katanya dengan suara pelan.
“Bukan salahmu. Memang aku yang tidak pernah menceritakannya kepadamu. Hari ini aku ingin menemui mereka setelah sepuluh tahun tidak bertemu.”
“Kalau boleh tahu mereka meninggal karena apa? Sakit?”
Theo terdiam kembali. Mendadak ingatan di hari kedua orangtuanya dibunuh melintas dalam pikirannya. Saat itu ia melihat wajah ibunya yang pucat dan lehernya bersimbah darah. Ingatan itu membuat Theo kadang terbangun di tengah malam. Ia mengusap wajahnya sebentar agar ingatan tersebut hilang dalam pikirannya saat ini.
“Mereka dibunuh dan sampai sekarang pembunuhnya tidak diketahui.”
TBC...