Secret Location, Markas Militer Amerika, 18 Desember 2018
Theo memakai topi lalu diikuti dengan penutup kepala dari mantelnya untuk menutupi salju yang baru turun secara tipis. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, dia selalu kedatangan tamu rutin yang tidak pernah hilang selama dia berada di New York City dan di tengah musim dingin. Alergi dingin yang membuat hidungnya tidak nyaman dan juga flu yang luar biasa menyebalkan. Padahal mereka akan latihan bela diri hari ini. Saat jam istirahat, Theo sengaja menjauh dari kerumunan teman-temannya. Dia memilih untuk menyeberangi lapangan latihan yang mulai tertutup salju tipis. Jejak sepatu Theo membekas di rerumputan yang memutih. Dia ingin menuju danau buatan tempat mereka latihan dan juga hutan rimbun yang biasa digunakan untuk latihan perang.
Setelah sampai, Theo duduk di tepi danau sambil mengeluarkan foto dan juga surat dari saku mantelnya. Dia mengamati foto tersebut, foto di mana dia tengah meniup kue bersama kedua orangtua dan neneknya. Hari ini, tepat dua puluh delapan tahun dia hidup di dunia dan dilahirkan oleh wanita hebat yang sangat ia cintai. Dinafkahi dan dididik oleh pria tangguh yang ia sayangi. Tidak ketinggalan dia dibesarkan dan dilimpahkan kasih sayang oleh wanita tua yang sangat ia kasihi. Theo bukan pria yang pandai mengungkapkan perasaannya dan bukan pula pria lemah yang gampang tersentuh. Namun, hari ini dia menangis sendirian dan terisak pelan. Dia merindukan semuanya. Ayah, ibu, dan neneknya yang telah pergi untuk selama-lamanya tanpa pernah melihat Theo tumbuh dan sukses.
Dia tidak mengharapkan kado atau kejutan di hari ulang tahunnya, yang dia inginkan hanyalah kehadiran mereka untuk menguatkan serta mendukungnya. Dia pun tidak lupa berdoa kepada sang pemilik seluruh alam semesta untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Dia ingat setiap tahun pasti Güliz akan selalu datang untuk menemuinya dan membawakan kue untuk Theo lalu menjadi orang pertama dan satu-satunya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Entah bagaimana kabarnya saat ini dan bila kemungkinan dia menemui Theo, tetapi tidak mendapatkan hasil karena tidak tahu Theo ada di mana, Güliz pasti kecewa.
Alih-alih memikirkan Güliz, Theo membuka amplop yang sudah lusuh berisi beberapa kertas tulisan tangan milik neneknya. Seperti biasa surat-surat tersebut tertulis dalam bahasa Belanda. Semua isinya menyatakan tentang betapa dia sayang kepada Theo dan ungkapan cintanya yang tidak terbendung untuk sang cucu.
“Mama, Ayah, Nenek. Hari ini aku bertambah umur lagi dan artinya makin dekat dengan ajal yang sudah ditetapkan untukku. Nanti sambut aku bila aku sudah ada di tempat yang sama seperti kalian.” Theo melihat foto tersebut dengan perasaan haru.
“Tahun ini aku ada di pelatihan untuk menghadapi misiku selanjutnya, biasanya Güliz akan datang lalu membawakan kue dari Magnolia Bakery kesukaanku. Hari ini aku akan makan salju,” candanya pada diri sendiri.
Semilir angin dingin mulai berembus pelan. Meskipun ada matahari sebenarnya di tengah hujan salju, tetapi tidak panas sama sekali siang itu. Theo membaca ulang surat-surat dari neneknya untuk menguatkan ia yang hari ini merasa rapuh.
Setelah selesai membaca ulang semua surat neneknya, Theo diam sambil menikmati bentangan putih danau yang sudah tertutup salju. Kadang dia berpikir sangat kasihan melihat ikan yang terkurung di air beku karena salju. Apakah mereka akan mati atau bisa bertahan hidup. Dia selalu kasihan pada makhluk hidup yang tidak bisa melakukan apa pun dan tidak punya pilihan.
Saat tengah melamun, Theo merasakan lemparan bola salju mengenai punggung dan kepalanya. Tanpa perlu menoleh pun dia sudah tahu siapa pelakunya. Hanya satu orang menyebalkan yang berani melakukan hal tersebut kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Nicholas Song. Karena Theo tidak mempedulikannya, Nicholas semakin menjadi melemparinya dengan bola salju. Theo yang kesal akhirnya membalas kelakuan sang detektif gila. Tidak tanggung-tanggung, dia juga melemparkan kayu ke arah Nicholas.
“Semua orang mencari keberadaanmu sialan!” ujarnya setelah kelelahan saling lempar salju bersama Theo.
“Pergilah, aku sedang ingin sendiri,” usir Theo yang tidak peduli dengan kehadiran Nicholas di dekatnya.
“Kau ingin bunuh diri di sini?” tanyanya tanpa peduli dengan pengusiran Theo beberapa saat lalu.
Theo membereskan foto dan surat-surat dari neneknya lalu memasukkannya ke dalam saku mantel. Dia malas mendapat ejekan dari Nicholas bila ketahuan menangis di hari ulang tahunnya. Theo benci orang tahu mengenai kelemahannya.
“Baiklah terserah padamu. Aku akan mengatakan kepada mereka kau sudah mati,” kesalnya sambil berbalik arah menuju gedung utama.
Nicholas berjalan sambil memainkan salju yang mulai menutupi rumput. Dia menatap ke arah teman-temannya yang kecewa karena tidak membawa Theo kembali ke gedung.
“Dia baru selesai menangis. Biarkan dia sesaat untuk menghilangkan mata bengkaknya,” kata Nicholas sambil masuk dan mencari kopi untuk menghangatkan diri.
“Kau yakin dia baik-baik saja?” tanya salah satu temannya.
“Dia akan kembali kira-kira sepuluh menit lagi karena dia sedang menderita flu dan cuaca juga semakin dingin. Dia sudah berada di luar sekitar satu jam setengah lebih. Tubuhnya juga punya batas. Menangis dan hidung berair di cuaca dingin akan membuat hidungnya sakit lalu bisa saja dia mengalami gejala hipotermia. Dia keras kepala, percuma memaksanya pulang bila bukan kemauannya sendiri,” jawab Nicholas sambil mengaduk kopi hitam yang masih panas.
“Aku tahu sekali perasaannya, ulang tahun sendirian dan tidak punya siapa pun pasti sangat menyedihkan,” ucap temannya yang lain.
Sebenarnya Nicholas tidak pernah membocorkan tentang Theo meskipun dia tahu hampir keseluruhan. Teman-temannya tersebut tahu dari salah satu pelatih yang sempat membaca biodata Theo. Mereka semua sering berbagi cerita ketika merasa lelah latihan dan selalu merayakan ulang tahun teman-teman terdekat mereka di pelatihan.
Tepat seperti yang dikatakan Nicholas, Theo kembali setelah sepuluh menit lebih dengan wajah yang sudah cukup merah karena dingin. Dia membuka pintu dengan perlahan dan merasa heran melihat ruangan gelap. Theo mencari sakelar listrik dengan cara di sekitaran dinding dekat pintu. Setelah menemukannya dan menyalakan lampu, Theo terkejut luar biasa mendapati teman-temannya meniupkan terompet dan menaburkan konfeti ke arahnya. Dari dalam ruangan lain ada rombongan temannya yang lain menyanyikan lagu ulang tahun dan membawakan kue yang sudah ada lilin.
“Selamat ulang tahun!” teriak mereka bersamaan. Nicholas ada di antara mereka, tetapi dia sama sekali tidak berminat bernyanyi atau meniupkan terompet untuk Theo.
“Ayo tiup kuenya!” teriak mereka sekali lagi.
“Selamat ulang tahun, Theo! Semoga semua hal terbaik selalu menyertaimu!” doa dan ucapan sili berganti Theo dapatkan dari teman-temannya.
Ini pertama kalinya Theo merasakan ulang tahun diucapkan dan didoakan oleh banyak orang. Ini pula kali pertama dia mendapat kejutan ulang tahun. Selama ini dia selalu ulang tahun hampir sendirian.
“Terima kasih banyak. Ini pertama kalinya aku mendapat kejutan di hari ulang tahun,” kata Theo yang merasa terharu.
“Mereka sudah menunggumu sangat lama. Aku mengatakan kepada mereka kau sudah mati kedinginan,” timpal Nicholas yang sekarang sibuk mencari ponselnya. “Di mana ponsel sialan itu!” kesalnya karena tidak menemukan ponselnya.
“Ini ponselmu, tadi terjatuh saat kita bersembunyi,” kata salah satu temannya sambil memberikan ponsel Nicholas yang tadi terjatuh.
“Nanti malam kita akan makan bersama-sama. Aku akan mengajak semua orang di sini. Pelatih dan pengawas juga akan aku undang, kita akan memesan makanan untuk semua orang,” kata Theo sambil menerima kue ulang tahunnya. Kue sederhana yang sepertinya sengaja mereka pesan pada juru masak agar dibuatkan untuk Theo.
Semua orang senang dengan ucapannya tersebut. Theo juga merasa sangat berterima kasih ulang tahunnya dirayakan oleh semua teman-teman yang ia kenal di barak latihan. Dia tidak sendiri tahun ini merayakan ulang tahun. Ini adalah ulang tahun kedua terindah dalam hidup Theo setelah ulang tahun beberapa puluh tahun yang lalu bersama kedua orangtua dan neneknya yang mereka abadikan di dalam sebuah pigura foto yang sekarang tengah Theo kantongi di dalam mantelnya.
“Bukan aku yang memberitahu mereka tentang ulang tahunmu,” kata Nicholas sambil berlalu dari ruangan tersebut. Dia ingin ke toilet karena cuaca dingin seperti sekarang sering membuatnya buang air kecil.
“Terima kasih,” jawab Theo sambil tersenyum melihat kue yang masih ada di tangannya. “Terima kasih karena tadi kau menjemputku untuk merayakan ulang tahunku,” sambungnya.
“Aku tidak sengaja lewat, jangan bermimpi aku sepeduli itu padamu.” Theo tertawa pelan mendengar jawaban Nicholas. Dia tahu ucapannya sangat bertolak belakang dengan perasaannya saat ini.
TBC...