Fifty Two

1956 Kata
Ukraina, Kiev, 22 Januari 2019 Setelah mendapat beberapa informasi dan melihat kejutan yang luar biasa di dalam pesta tersebut, Theo dan Nicholas berusaha setenang mungkin agar tidak ada kecurigaan yang terpampang nyata. Dia dan Nicholas sudah tahu apa yang harus dilakukan di dalam situasi tersebut. Nicholas menyeringai karena firasatnya tidak pernah meleset dan salah. Dia yang memberikan informasi tentang keduanya kepada FBI dan dia sudah pernah melihat gambar dari sketsa ahli wajah yang ditampilkan saat rapat di hari terakhir mereka sebelum berangkat latihan. Theo pun sama waspada sama sepertinya. “Honney, pesta ini memang sangat penuh kejutan! Aku sangat suka terlibat di dalam acara ini. Igor, terima kasih telah mengundang kami ke acaramu.” Theo ingin sekali muntah mendengar ucapan Nicholas. Namun, mau bagaimana lagi, itulah peran mereka saat ini dan Theo pun paham maksud ucapan Nicholas yang terselubung. “Benar, Igor! Kami merasa beruntung berada di pestamu kali ini. Makanannya luar biasa, minuman, dan orang-orang di sini sangat menyenangkan. Kau harus mengundang kami lagi di pesta berikutnya!” Theo harus mendapatkan tiket tersebut untuk akses mencari informasi sedalam mungkin. “Tentu saja! Kalian berdua terlihat sangat bahagia di dalam acara ini! Dan, Tuhan! Aku iri melihat kemesraan kalian berdua! Aku tidak tahu sebelumnya bahwa kekasihmu adalah dia” ucapnya sambil melirik Nicholas dengan penuh tatapan memuja. “Dia sangat tampan, sama sepertimu. Kalian pasangan yang sempurna.” Ingin sekali Nicholas Song menembak kepala pria menyebalkan ini sekarang juga. Dia yakin Theo juga sama seperti dirinya karena terlihat jelas di wajahnya meskipun dia berperan dengan sangat baik. Diperhatikan Nicholas sedetail mungkin setiap gerakan Igor karena dia bisa saja berpotensi tengah menyamar seperti mereka. “Kau dan kekasih barumu juga sangat serasi! Tadi aku melihat kalian saling bercanda penuh tawa. Hm, siapa namanya tadi, aku lupa.” “Maxim Lee, dia memang sangat perhatian kepadaku. Aku akui bahwa kalian lebih mesrah dibanding kami.” Theo tertawa miring, dia bertatapan sekilas dengan Maxim Lee. Dia yakin pria itu tahu mengenai dirinya dan Nicholas. Dia terlihat sangat berwaspada dan juga terkejut saat pertama kali mereka bertemu. Sekarang dia tampak mulai menghindar dan Theo serta Nicholas tidak akan membiarkannya kabur begitu saja. Agon, atau nama samarannya Maxim Lee berusaha untuk terlihat biasa saja meskipun dia tahu identitasnya telah terbongkar di depan agen FBI dan Detektif Joker yang sangat terkenal. Tentu saja Agon tahu mengenai keduanya karena mereka mendapat informasi. Agon sendiri sangat terkejut bertemu keduanya di tempat yang tidak pernah ia duga. Dalam pikirannya saat ini ada dua kemungkinan. Mereka datang untuk memburu dia dan Ren atau menyelidiki mengenai organisasi radikalisme. “Ben Abramov dan ini Danny Belsky,” kata Theo memperkenalkan dirinya dan Nicholas kepada Agon. “Maxim Lee, senang berkenalan dengan kalian. Mari nikmati pestanya,” ucapnya dengan senyum lebar dan penuh keyakinan. “Dan kami permisi harus undur diri karena menyambut beberapa tamu lain,” katanya sambil undur diri. “Aku harus undur diri sebentar. Nikmatilah pesta ini dan akan ada hal menarik yang akan tampil,” ucapnya sambil menepuk bahu Theo. Setelah kepergian keduanya. Nicholas dan Theo melirik Agon dengan tatapan tajam. Mereka kemudian mencari keberadaan Ren yang kemungkinan besar juga ada di sana karena keduanya merupakan satu kelompok. Theo menyimpulkan adanya mereka berdua di tempat pesta pasti ada yang mereka incar karena dari data diketahui bahwa mereka spesialis pembunuh target. Terutama wanita yang bernama Ren. Dialah sang eksekusi sementara Agon adalah perencana. “Ini sudah tidak baik. Pasti akan terjadi sesuatu di sini. Aku akan mengawasi Agon dan kau mencari keberadaan Ren. Wanita itu pasti ada di sekitar sini dan dia menyamar,” ujar Nicholas sambil mengambil segelas anggur merah untuk ia minum. “Dia tahu dengan kita, terutama wajahmu yang sering masuk koran. Harusnya kau menyamar dengan rambut tipis dan kumis jelekmu itu,” komentar Theo yang ikut mengambil anggur merah dari pelayan, tetapi dia tidak meminumnya. “Hei, aku sudah mengatakan kepadamu untuk tidak makan dan minum.” “Kita benar-benar akan terlihat seperti mata-mata bila tidak melakukan apa pun. Diam dan tersenyumlah kepadaku meskipun aku ingin menyiram wajahmu dengan anggur ini.” ♚♛♜♝♞ Ukraina, Kiev, 14 Januari 2019 Setelah selesai berurusan dengan mitra kerja mereka, Theo kembali ke kantornya karena dia perlu memberikan beberapa berkas penting kepada orang di kantornya. Saat Theo tengah berada di mejanya, Igor datang menghampirinya dengan wajah ceria. Theo yang sudah tahu mengenai Igor menyambut baik senyum Igor sebagai tanda pertemanan yang terselubung. “Aku ingin mengundangmu ke pesta tarot. Kau harus datang karena banyak orang di perusahaan ini yang akan datang dan hanya kau yang belum menerima undangan dariku!” “Pesta tarot? Aku belum pernah mendengarnya,” kata Theo dengan jujur. Igor tertawa sebentar sambil mengedipkan matanya kepada Theo. “Pokoknya kau akan senang datang ke pesta tersebut. Aku dan pacarku akan hadir.” Theo tanpa pikir panjang setuju karena dia harus mengambil risiko tersebut untuk mengetahui informasi penting. “Kapan acaranya?” “Tanggal dua puluh dua. Nanti akan aku kirimkan kepadamu alamatnya.” Setelah mengatakan seperti itu dia meninggalkan Theo dan bergabung bersama para wanita. Sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat karena jam pulang kantor sebentar lagi berakhir. Theo mengecek ponselnya dan ia mendapati pesan dari Zoey yang mengatakan bahwa ketiga hewan peliharaan Theo dalam keadaan baik-baik saja. Theo memang meminta tolong Zoey atau Fabio untuk mengecek Theron, Theia, dan Therby di tempat penitipan hewan. Theo membalas pesan Zoey dan ia akan mengirimkan sejumlah uang kepada Zoey untuk diberikan kepada Abdalla yang telah merawat teman-temannya secara baik. Mengingat Abdalla membuat Theo sadar dia harus selalu mengucap syukur dengan semua rezeki yang diberikan Tuhan untuknya dan Theo ingin berbagi kepada saudaranya tersebut. Theo bersiap-siap untuk pulang, tetapi sebelum itu dia akan mampir ke toko makanan binatang. Ada kucing yang baru saja melahirkan di dekat apartemennya. Kemarin Theo tidak sengaja mendengar suara anak kucing di dekat tangga apartemen sebelah. Dalam cuaca dingin tersebut Theo melihat ada empat anak kucing yang masih kecil dan ibu kucing yang menyusui. Tempat itu tidak cukup hangat, akhirnya Theo mencari kotak bekas dan ia membeli beberapa lembar handuk dan juga makanan kucing. Theo juga memindahkan mereka ke dalam tangga yang bolong agar mereka merasa lebih hangat. Hari ini dia akan mengecek keadaan mereka semua. Bila ada yang tidak sehat maka akan Theo bawa ke klinik hewan untuk ditangani. Theo juga sudah memikirkan nama untuk keempat anak kucing tersebut beserta nama induknya. Nicholas pernah mengomentari Theo soal kebiasaannya ini, tetapi dia tidak peduli. Bahkan di barak pelatihan pun Theo sering membawa kucing peliharaan di kantin untuk bermain bersamanya di dalam kamar. Nicholas selalu protes soal itu karena dia alergi bulu. “Sepertinya aku juga ingin memasak mie instan di cuaca dingin seperti ini,” ucap Theo sambil memasang mantel tebalnya dan bersiap pulang. ♚♛♜♝♞ Las Vegas, Nevada, 3 Maret 2017 “Jika kau belum pernah merasakan peluru menembus otak bodohmu itu. Maka aku yang akan membuatnya menari-nari di sana. Mengaduk otak bodohmu itu layaknya daging cincang. Sangat menyegarkan bisa melihatnya terburai dengan darah sialanmu itu. Kekeke!” Dia mengarahkan selaras senjata api tepat di kepala orang yang tengah berhadapan dengannya sekarang. Orang yang ditodong pistol tidak dapat melakukan apa pun. Wajahnya pucat pasi dan keringat mengucur deras dari dahinya. Ia seperti tengah berhadapan dengan seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawanya kapan saja ia mau. “Cepat katakan padaku jika kau tidak ingin peluru sialan ini benar-benar menembus otak sialanmu itu. Di mana kau berada saat kejadian berlangsung. Kau hanya punya dua pilihan, jujur atau mati kekekeke!” “Ak... aku tengah berada di ru... rumahku. Ak... aku pun... punya alibi.” Ia terpatah-patah berbicara. Tidak berani menatap mata jeli orang yang tengah mengintrogasinya saat ini. Mata nakal namun selalu awas memperhatikan setiap inci perubahan raut wajah orang di depannya. Pria yang menodongkan senjata api duduk di atas meja sambil melipat kaki dan tangannya dan dia terus menodongkan senjata laras panjang itu tepat di kepala orang yang tertunduk di depannya. Dia menikmati aksinya itu lebih dari siapa pun. Pihak kepolisian sudah menyerah untuk membuat para saksi mengaku dan mereka menggunakan cara terakhir yaitu dengan meminta bantuan detektif gila. Gila dalam arti tingkahnya yang sangat abnormal. Dia selalu punya cara untuk mengintimidasi para saksi demi memberinya keterangan yang meyakinkan. Percuma berbohong di depannya karena ia ahli dalam hal itu. “Alibi bodohmu jadi tidak berguna jika kau tetap akan mati di tanganku!” “Ak... aku mengatakan yang sebenarnya! Percayalah padaku! Aku di rum….” Dor! Semua orang yang berada di balik kaca pengawasan panik melihat pria itu menembakkan senjatanya. Mereka tidak ingin saksi kunci mereka mati begitu saja. Sementara sang detektif tertawa terkekeh-kekeh. Pria yang ditodongkan senjata api tadi lemas bukan kepalang. Ia yakin jantungnya saat ini sudah tidak berfungsi normal karena perlakuan detektif gila itu padanya. Ya, bukan dia saja yang hampir jantungnya, hampir semua orang yang melihat juga merasakan hal seperti itu. Parahnya, detektif itu tidak merasa bersalah sama sekali. “Ini adalah AK47, buatan Rusia dan senjata ini adalah senjata mematikan di dunia. Akurasi tembakannya tinggi dan dengan cepat akan membawamu ke surga –ah, ralat, surga saja pasti tidak menerimamu, pergi ke neraka saja cocok untukmu—aku dengan senang hati akan membuat kepalamu berlubang tepat di sini,” dia kembali mengarahkan moncong senjata api itu tepat di dahi pria yang terduduk lemas tadi. “Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu untuk berbohong. Siapa orang yang berada di balik semua ini!” “Aku tidak pernah bertemu dengannya!” dia akhirnya buka suara. “Dia memerintahku melalui telpon dan mengirimkan uang ke rekeningku senilai satu juta Dollar! Aku dan keluargaku akan dibunuh jika aku mengatakan ini!” Pria itu menyeringai lebar karena ia berhasil memaksa saksi untuk mengaku. Kemudian ia tertawa nyaring. Ia belum melepaskan moncong senjatanya di kepala saksi. Intimidasinya belum selesai begitu saja. Sebenarnya tidak akan selesai dengan sangat mudah meskipun saksi sudah mengaku kalah. “Kau kenal dengan pemilik suara orang yang menelponmu?” “Tidak! Dia memakai alat pengubah suara!” “Lalu kenapa kau ingin melakukannya? Apa karena iming-iming uang satu juta Dollar itu? Kekeke, kau sangat bodoh sialan. Dia menyeretmu dalam masalah sialan ini. Manusia t***l sepertimu begitu haus uang, hah!” Pria tadi kembali menunduk. Ia sudah mengatakan yang sebenarnya kepada detektif gila itu, tetapi nampaknya detektif itu mempunyai kecenderungan untuk menyiksa orang yang menjadi targetnya. Dia sedang bosan, bermain sedikit seperti ini pasti akan membuatnya bisa bersenang-senang. Bukankah itu yang dilakukan orang-orang jika sedang bosan. Mencari hiburan, seperti itu pula detektif gila itu. “Dia mengancam akan membunuh keluargaku jika aku tidak melakukannya!” “Kau sudah mengatakan itu berulang kali, sialan. Aku bosan mendengarnya,” senjata api laras panjang itu kembali di arahkan ke kepala pria itu. Sang detektif kemudian melompat dari meja dan ia tertawa nyaring. Matanya berkilat tajam dan senjata yang dipegangnya kini tersampir di bahu. “Seperti yang sudah kuketahui. Aku sudah tahu semua itu sebelumnya kekeke. Aku sudah mengecek akun bank milikmu. Kekeke, tugasku sudah selesai. Polisi-polisi sialan itu yang akan menyelesaikan sisanya. Aku hanya membantu mereka untuk membuatmu mengaku dari mulut sialanmu itu. Ceritakan semuanya meskipun kau harus mati!” ucapnya masih dengan tawa yang lebih terdengar mengerikan dibanding gembira. “Aku tidak bersalah! Aku tidak tahu apa pun, aku hanya diperintahkan untuk mengantarkan makanan itu ke rumah korban!” “Berikan semua cerita sialanmu itu ke polisi-polisi sialan yang menunggu di luar.” Detektif itu kemudian keluar dari ruangan sambil menenteng senjata api kesayangannya dengan acuh. Para polisi yang sudah tahu dengan kebiasaannya tersebut tidak melarang. Bahkan itu bisa dikatakan sebagai identitas dirinya. Dia sudah banyak membantu pihak kepolisian meskipun tingkahnya sangat aneh. Mereka mengakui kecerdasan otaknya, nalarnya dalam berpikir serta akurasi kesuksesannya dalam memecahkan misteri. Dia melewati meja seorang polisi cantik yang dari tadi memperhatikan dia dari luar ruang introgasi. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN