Fifty One

1651 Kata
Ukraina, Kiev, 21 Januari 2019 Malam ini dia akan pergi bersama Nicholas di acara teman barunya. Membayangkan mereka akan berperan menjadi sepasang kekasih membuat mual Theo seharian. Ingin rasanya dia pergi sendiri, tetapi Nicholas sang detektif gila tersebut mengacaukan segalanya. Bermula dari mendapatkan informasi mengenai seorang anggota organisasi radikalisme yang ada di dalam kelompok kerjanya, Theo nekat mendekati orang tersebut dengan peran dia ingin mengikuti perkumpulan tarot yang menjadi kesukaan orang tersebut. Dia berperan seolah-olah sangat tertarik pada permainan tarot. Theo berhasil mengambil hatinya untuk percaya dan mereka membangun pertemanan di kantor. Nama orang tersebut adalah Igor Moroz, pria muda bergaya sedikit kewanitaan. Theo awalnya tidak percaya dia adalah anggota organisasi karena karakteristiknya tidak mencerminkan hal tersebut, tetapi setelah menyelidikinya secara langsung dan Nicholas mendengar cerita dari Theo lalu hanya butuh lima detik untuknya menyimpulkan bahwa Igor adalah golongan orang yang tengah mereka berdua perankan saat ini. Oleh sebab itu Nicholas ingin ikut Theo dalam penyelidikan kali ini. Dia mengatakan pada Theo bahwa dia khawatir Theo akan benar-benar terjerumus ke dunia tersebut serta tidak menjadi normal lagi dan alasan kedua adalah dia ingin melihat secara langsung setiap detail acara tersebut berlangsung karena dia yakin bukan hanya Igor yang menjadi anggota organisasi dalam acara tersebut. Firasatnya mengatakan akan ada hal penting yang dia temukan di sana. Entah itu informasi atau bahkan bukti kuat. Setelah mendengar alasan tersebut akhirnya Theo setuju dengan banyak perjanjian agar Nicholas tidak mengacau serta bertingkah sewajarnya dan tidak berlebihan. Memang menjadi agen mestilah harus siap dengan segala risiko demi mengejar informasi serta bukti. Keduanya pun harus mengeluarkan hasil dari latihan mereka selama tiga bulan. Berperan layaknya sepasang kekasih di depan umum yang tidak pernah mereka lakukan selama ini kecuali saat latihan di depan pelatih mereka dan juga kemampuan berbicara bahasa Rusia secara lancar di depan banyak orang. Theo dan Nicholas menyiapkan segala keperluan mereka mulai dari alat perekam pembicaraan yang pasti berguna saat mengorek informasi, alat penyadap yang mungkin berguna, dan senjata api serta senjata tajam yang mereka sembunyikan dengan rapi di antara tubuh mereka. “Ingatlah, jangan bertingkah berlebihan atau aku akan membunuhmu,” ancam Theo pada Nicholas sebelum keduanya naik mobil. Nicholas tertawa mengejek sembari mengunyah permen karet. Dia juga tidak ingin berperan seperti ini, tetapi menyenangkan membuat Theo kesal. Dia mungkin akan mendapat beberapa pukulan serta tendangan dari Theo setelah mereka pulang karena dalam hatinya sudah berniat membuat Theo kesal. Membayangkannya saja sudah membuat Nicholas geli. “Tidak kusangka dalam hidupku aku akan datang ke pesta yang isinya semua adalah pria tanpa ada wanita. Pesta sesama jenis yang berkedok acara tarot,” ucap Nicholas sambil meniup permen karet. “Ibuku di surga pasti menangis kali ini.” “Tidak ada yang mengajakmu ke sana. Kau pergi karena keinginanmu sendiri. Ah ralat, kau memaksa untuk ikut,” balas Theo yang menyetir dengan tenang sambil melihat peta digital di mobilnya untuk sampai ke tempat tujuan. “Sudah kukatakan, harus ada yang mengawasimu karena kemungkinan kau mati atau terpengaruh sangat besar.” Nicholas memilih meniup permen karetnya daripada merokok seperti biasa. “Ingatlah untuk tidak minum atau makan di sana kemungkinan identitas kita ketahuan pasti ada dan mereka akan memasukkan racun.” Nicholas ingin sekali menembak kepala Theo sekarang juga. “Kau tidak perlu mengatakan hal tersebut. Di pelatihan aku sudah mendengar hal itu berulang kali.” kesal Nicholas sambil membuang permen karetnya ke luar jendela. “Lama-lama aku benar-benar ingin membunuhmu secara keji.” Mereka melewati jalanan yang tidak terlalu ramai. Perbedaan yang sangat kontras karena Theo biasa melihat kota dengan keramaian yang luar biasa meskipun musim dingin menerpa. Begitu pula dengan Nicholas, Las Vegas pun sangat ramai meski tidak seramai New York City. Kiev seakan kota mati bagi mereka yang terbiasa melihat jalanan ramai. Mereka melewati Golden Gate yang sangat terkenal kemudian banyak tenda di pinggiran gedung yang merupakan bagian dari restoran Turki. Theo membelokkan setirnya ke kanan melewati Independence Monument negara Ukraina dengan tugu tinggi warna putih dan emas. Di atasnya seorang wanita membentangkan sayap kebebasan yang diterangi lampu pada malam itu, tidak lama kemudian sampailah mereka pada tempat tujuan. Hotel Ukraina yang menjadi tempat acara tersebut berlangsung. Theo akui dia cukup terkejut karena dia pikir acara pesta tarot tersebut hanya berlangsung di kafe biasa, tetapi kenyataannya mereka menyewa gedung hotel untuk tempat acara. Bila sudah seperti itu kemungkinan orang-orang yang datang pun bukanlah orang biasa. “Sangat rugi untuk melewatkan makan dan minuman bila acaranya di hotel,” kata Nicholas sambil membenarkan letak dasinya. “Kita punya banyak uang untuk membeli makanan sendiri,” sahut Theo sambil memasukkan kunci mobil ke saku celananya. Ia membenarkan letak senjata apinya agar tidak terlihat. “Misi kali ini dimulai. Hati-hatilah kita pasti akan menemukan kejutan seperti perkiraanmu kemarin.” Keduanya melangkah masuk ke hotel lalu bertanya di mana pertemuan pesta tarot berlangsung. Saat di dalam lift mereka bertemu dengan dua pemuda yang sepertinya akan hadir di acara tersebut. Theo dan Nicholas saling lirik melihat keduanya yang bergandengan tangan. Untuk melihat hal-hal seperti itu mereka sudah biasa karena beberapa teman mereka juga seperti itu, tetapi menjalani peran secara langsung atas perintah Arnold Lewis terasa cukup menggelikan bagi keduanya. Setelah sampai pada tempat yang dimaksud Theo mencari keberadaan temannya yang tengah mengobrol bersama beberapa temannya yang lain. Theo berinisiatif untuk memegang tangan Nicholas sebagai penyempurna peran mereka. “Ingatlah untuk bertingkah sewajarnya atau kita akan membongkar peran ini dan gagal mendapatkan informasi.” “Waw, ada kejutan besar yang hadir di depan mata kita. Arah jam dua. Kau pasti tahu dengan dia. Mengejutkan dia ada di sini setelah perburuan oleh teman-teman kita tidak membuahkan hasil,” bisik Nicholas kepada Theo seakan mereka tengah bercanda. Theo melirik arah yang dikatakan Nicholas. “Firasatmu memang tidak pernah salah. Kita dapat ikan besar,” jawab Theo dengan senyum mengembang sempurna. “Bill pasti kecewa karena yang berhasil menangkap mereka adalah kita padahal aku yang memberikan informasi tentang mereka kepadanya. Ini menandakan mereka memang ada sangkut pautnya dengan organisasi ini.” Masih dengan peran yang mereka jalankan dan seolah menebar kemesraan rasa kasmaran Theo mengajak Nicholas menemui Igor Moroz yang sudah melihat kehadirannya. “Awasi terus dia. Aku yakin dia tidak sendiri,” ucap Nicholas sambil membalas genggaman tangan Theo. Jadilah malam itu keduanya benar-benar memainkan peran yang awalnya tercetus dari ide iseng milik Theo dan dikabulkan oleh Arnold. ♚♛♜♝♞ Las Vegas, Nevada 1 Juli 2017 “Kuulangi sekali lagi pertanyaannya. Siapa saja yang kau libatkan?” Detektif itu duduk dengan santai sambil melipat kakinya di atas meja. Senjata andalannya tersampir di pundak. Hari ini dia belum menodongkan moncong senjatanya ke tersangka yang tengah diintrogasinya. Keajaiban yang cukup disyukuri oleh semua orang yang tengah melihat dari balik kaca. Setidaknya mereka tidak terkaget-kaget dengan kelakuan sang detektif dalam mengancam orang. “Bukankah kau sudah tahu semuanya, Detektif. Kenapa kau masih bertanya?” “Kekeke, aku ingin tampak bodoh di hadapanmu Mr. Chen,” jawabnya dengan seringai lebar. “Itu tidak cocok dengan pribadimu. Aku sudah mendengar reputasimu, jadi bertingkahlah yang sebenarnya,” pria itu nampak santai dengan tekanan yang ditimbulkan sang detektif. “Kekeke, pasti kau mendengar semua berita yang baik tentangku. Aku tidak heran kau kagum,” jawabnya dengan angkuh. Mr. Chen tertawa sinis. Dia masih tidak percaya dia tertangkap oleh detektif itu dengan cara murahan. Dia sudah berwaspada dan bersembunyi dengan sebaik-baiknya, namun sang detektif sudah mengendus keberadaannya dan dia ditangkap saat dia tidak sadarkan diri. Memberikan minuman arak buah secara gratis kepada rekan-rekannya dan mengatakan itu sebagai layanan spesial karena restoran mereka tengah berulang tahun. Tanpa curiga ia ikut minum dan tidak lama mereka semua sudah tidak sadarkan diri. “Ya, semua tentang kelicikanmu.” “Kekeke, bicara soal kelicikan. Bukankah kau lebih licik, menipu orang dan melarikan uang mereka hanya untuk bersenang-senang? Kekeke, bagaimana jika kukirimkan semua bukti perselingkuhanmu itu pada istri sialanmu,” dia melemparkan selembar amplop ke depan wajah tersangka di depannya. “Aku tidak suka acara yang setengah-setengah. Jadi sekalian saja kau hancur, bagaimana?” tanyanya. “Oh Tuhan, dia memang gila!” suara salah satu petugas yang melihat dari balik kaca. “Dia tidak main-main mengatakan akan mengirimkan semua bukti itu ke istri tersangka.” “Seperti itulah dia,” jawab petugas polisi lain yang juga ikut melihat. Azalea juga berada di sana dan tidak berkomentar. Dia sedari tadi menatap wajah sang detektif yang terus-terusan menyeringai. Di saat seperti ini, dia sangat pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya. Jea sudah sering memperhatikan itu. Dia sama sekali tidak mudah terhasut dan selalu tenang namun ketenangannya itu mengerikan. “Mengancam, khas dirimu sekali, Detektif. Aku sudah tahu kau akan melakukan ini padaku semenjak pertama kali kita bertemu beberapa saat yang lalu,” ketenangan yang dimiliki Mr. Chen sudah sangat terlatih. Dia sering bermain judi, jadi tidak mengherankan dia bisa sangat tenang. “Kekeke, ya, aku hebat dalam hal mengancam,” jawabnya sambil memutar-mutar kursi yang ia duduki. “Jadi sudah kau putuskan untuk mengatakan padaku siapa saja yang terlibat?” tanyanya masih dengan santai. “Dengan satu syarat,” katanya dengan nada tenang. “Aku tidak menerima persyaratan,” jawabnya sambil menyeringai. “Maka kau tidak akan mendapatkan apa-apa dariku,” jawab Mr. Chen dengan kemenangan. “Aku sudah tahu semuanya,” jawabnya sombong. “Aku hanya ingin membuatmu membeberkan siapa saja yang terlibat di depan semua polisi sialan yang tengah menonton dari balik kaca. Secara langsung. Aku selangkah darimu, Mr. Chen,” jawabnya penuh dengan kemenangan. Mr. Chen tertawa sinis dan menyerah. Dia membeberkan siapa saja yang terlibat di sana. Semua orang mendengarkan dengan baik setiap nama yang disebutkan. Azalea mengalihkan pandangannya ke arah sang detektif. Dia bisa melihat senyum puas tergurat di sana. Senyum yang selalu terselubung kesombongan di sana. Ya, dia berhasil lagi mengintimidasi lawannya dengan sangat baik. Kekaguman jelas masih dipelihara oleh Jea untuk Detektif Joker meskipun beberapa hari ini dia sangat sebal dengan tingkah sang detektif, namun semua itu terhapus oleh senyum puas yang Jea tangkap di wajahnya. Senyum yang bisa mengalihkan dunia Azalea. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN