Ukraina, Kiev, 20 Januari 2019
Saat Theo tiba di apartemen mereka, Nicholas tidak ada di sana. Entah ke mana dia pergi. Theo melihat ruangan untuk memastikan semuanya aman. Dia hanya ingin berwaspada jika saja ada penyelundup atau sesuatu yang janggal di dalam apartemennya. Setelah lima menit memeriksa, Theo akhirnya merasa tenang. Ia lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Perjalanan darat dari Chernivtsi ke Kiev cukup melelahkan. Dia lapar, tetapi juga mengantuk.
Saat Theo ingin tidur terdengar pintu apartemen dibuka dengan kasar. Theo langsung bereaksi dengan sangat cepat. Ia mengambil pistolnya dan mengendap. Namun, beberapa saat kemudian dia mengendurkan pertahanan karena Nicholas yang datang.
“Aku tahu kau sudah pulang. Aku melihat keset kaki yang berubah kemiringan nol koma dua derajat. Dan aroma tubuhmu di udara yang pada saat cuaca dingin membuatnya lebih awet. Tidak lupa aku melihat jejak salju yang belum sepenuhnya cair. Artinya masih baru. Kau baru masuk sekitar lima menit yang lalu.”
Memang Nicholas seteliti itu dan tidak mengherankan selama ia mengenal Nicholas hampir beberapa bulan. Dia mengenal banyak karakter Nicholas yang mirip dirinya termasuk berwaspada.
“Apa kita ada makanan? Aku lapar.” Theo tidak peduli dengan penjelasan milik Nicholas karena dia lelah serta mengantuk.
“Tidak ada perjanjian aku harus menyiapkanmu makanan.”
Sekali lagi Theo tidak mempedulikannya. Ia memilih untuk kembali berbaring di kasur sembari menahan lapar. Mungkin dia akan makan setelah bangun tidur. Namun, baru ingin memejamkan mata ada sesuatu yang mengenai wajah Theo. Theo yang terkejut membuka mata dan mendapati bungkusan roti yang masih hangat. Sepertinya baru dibeli beberapa saat yang lalu.
“Daripada membiarkanmu mati dan membuat aku kesulitan menangani kasus sendirian. Lebih baik aku memeliharamu,” ucapnya sambil menutup pintu kamar Theo. Theo membuka roti isi cokelat tersebut dan aromanya sangat enak yang membuat perut Theo semakin kelaparan. Dia makan sembari memejamkan mata dan berbaring.
“Bagaimana dengan wanita tua yang kau temui kemarin?” tanya Nicholas tiba-tiba sampai membuat Theo tersedat.
Theo berlari keluar kamar dan minum dengan cepat. Wajahnya merah sekali dan napasnya memburu. Memang salahnya makan roti sambil berbaring di keadaan mengantuk, tetapi Nicholas juga salah karena mengagetkannya. Setelah Theo berjuang untuk selamat dari tersedat, Nicholas menatapnya tanpa rasa bersalah. Namun, ingin marah Theo tidak tega karena Nicholas memberinya makanan.
“Padahal aku berniat menyelamatkanmu dengan memberi makan, tetapi kau nyaris mati karena kebodohanmu sendiri.”
Kantuk Theo hilang begitu saja dan berganti dengan rasa ingin menyumpahi Nicholas sepanjang hari. Tanpa pikir panjang Theo akhirnya membasuh wajah dengan air keran dan membasahi rambutnya yang sudah kembali panjang.
“Ini semua rekamannya. Dengarkan terlebih dahulu lalu selidiki maksud perkataannya, baru kita serahkan ke FBI,” kata Theo sambil menyerahkan penyimpan data yang tadi berada di saku jaketnya. “Atau kita menganalisisnya bersama setelah aku istirahat.”
“Aku tidak suka menunggumu. Akan aku selesaikan sendirian,” jawabnya sambil menghidupkan laptop.
Theo mengangkat bahunya sambil lalu kemudian melihat jendela untuk mengintip toko pakaian yang dijadikan markas organisasi. Sepi karena musim dingin dan baru turun salju pagi tadi. Sekarang sudah jam dua siang, matahari bersembunyi di balik awan.
“Besok akan ada pesta teman baruku yang ada di kantor. Dia anggota organisasi mereka. Aku melacak hampir semua orang yang ada di kantorku apakah mereka pernah terlibat. Ada beberapa orang yang sudah aku tandai. Salah satunya yang akan mengadakan pesta besok malam. Pesta tarot,” kata Theo ikut duduk di bangku depan Nicholas.
“Pesta tarot? Apakah dia orang yang aneh?” komentar Nicholas.
“Cukup aneh. Dia hampir bergaya seperti perempuan.”
Nicholas menatap Theo sebentar lalu dia menjentikkan jarinya sambil tertawa mengejek.
“Aku akan ikut ke pesta itu!”
“Aku tidak mengajakmu,” tegas Theo.
“Aku memastikan agar kau tidak terjerumus ke kubangan dosa yang sesungguhnya.”
“Aku bisa menjaga diriku.”
“Ini kesempatan kita untuk menunjukkan peran sialan yang telah kita pelajari sampai membuat aku merasa ingin membunuh pelatih peran berengsek itu!” kesalnya. Theo membuka mulut lalu memiringkan kepalanya. “Kau tidak mengerti?”
“Dia penyuka sesama jenis?”
“Bodoh! Tentu saja! Kau dieluh-eluhkan sebagai orang jenius, tetapi yang seperti ini kau tidak tahu!’ kesal Nicholas sambil menyalin data ke laptopnya. “Bila kau ingin selamat maka kita harus datang berdua. Pesta tarot itu hanyalah tameng karena aku yakin pesta sesungguhnya bukan itu.”
“Maksudmu?”
“Selain pesta dari kaum yang kita perankan sekarang, aku yakin bahwa banyak orang dari organisasi itu yang akan hadir. Selain itu aku punya firasat akan ada sesuatu yang besar dan penting yang akan kita temui.”
“Kau dan keyakinanmu. Apakah firasatmu itu merupakan dampak dari analisis yang kau simpulkan mengenai kejadian yang kita alami selama beberapa minggu ini?”
“Benar. Firasat seorang detektif tidak bisa diabaikan begitu saja. Aku peka lebih dari manusia biasa,” katanya dengan sombong. Theo mengumpat mendengar Nicholas memuji diri sendiri.
“Sebutkan alasan lain aku harus menyetujui kau ikut denganku besok?”
‘Aku harus bisa melihat langsung agar aku dapat memastikan semua hal dan tidak ada yang terlewat.”
“Belum cukup alasan untuk aku mengajakmu,” jawab Theo sambil lalu. Kali ini Nicholas mengambil pistolnya lalu mengarahkan ke kepala Theo. tepat di atas hidung dan di antara kedua alisnya. Theo tidak bergeming atau takut sama sekali.
“Kekekeke, berbeda sekali mengancam seorang agen dan orang biasa. Tidak ada rasa takut,” katanya yang sama sekali tidak berniat menyingkirkan pistol dari kepala Theo.”Aku tertarik sekali untuk melihat isi kepalamu.”
“Silakan, aku tidak keberatan. Mungkin kau bisa memakannya agar kecerdasanmu bertambah,” balas Theo tanpa rasa takut bahkan dia memajukan kepalanya dan mendorong pistol tersebut dengan keningnya ke arah Nicholas. “Tawaranku menarik, bukan?”
“Kekekeke, sangat menarik sampai aku tidak sabar.” Nicholas menarik pelatuk pistolnya tanpa ragu. “Ups, aku lupa memasukkan peluru.”
Theo sudah tahu pistol tersebut kosong karena mereka dilatih untuk tahu mana senjata api yang berisi peluru atau tidak. Memang tidak semua senjata api bisa mereka ketahui, tetapi setidaknya mereka bisa berwaspada.
“Aku tidak ingin kau mengacaukan acara besok dan bertindaklah sesuai kesepakatanku. Jika kau melanggar, misi kita gagal.”
“Cih, kau lama kelamaan mirip tua bangka itu,” kata Nicholas yang sekarang kembali fokus dengan laptopnya untuk mendengarkan cerita Rose Gottardo. Theo memilih kembali ke kamar dan istirahat sejenak.
♚♛♜♝♞
Las Vegas, Nevada, 19 Mei 2017
“Beberapa hari ini kami menerima email, surat cetak, serta telpon yang aneh. Semuanya berisi ancaman bagi pihak kepolisian. Kasus ini belum tersebar di semua kalangan pegawai. Kami memang sengaja merahasiakannya demi kenyamanan pegawai kepolisian,” dia menghela napasnya pelan sambil sedikit mengangkat kertas-kertas itu dan memberikannya kepada sang detektif. “Ini isi email yang berisi ancaman, kami sudah mencetaknya, dan ini surat cetak, kemudian ini rekaman suara si penelpon.”
“Ada hal sialan apa mereka mengancam kalian?” dia bertanya seperti nada meremehkan. Memang seperti itulah dia. “Ck, aku tidak menerima kasus murahan jika ini tidak menarik,” ucapnya sambil membuka dan mulai membaca laporan itu.
“Saya yakin Anda akan tertarik dengan kasus kali ini,” yakin sang inspektur.
Detektif Joker membaca kertas yang berada di tangannya. Sekali waktu raut wajah itu terlihat sedikit berubah. Alisnya bertaut kemudian pupil matanya seolah membesar lalu kembali normal. Setelah itu wajahnya kembali datar, wajah poker face andalan miliknya. Cukup lama dia membaca tumpukan kertas itu lalu dia mendengarkan rekaman suara si pengancam melalui ponsel sang inspektur. Diulangnya beberapa kali suara itu sampai tujuh atau delapan kali.
“Email-email ini, kalian sudah mengeceknya?”
“Sudah, kami mendapatkan banyak IP address dari alamat pengirim. Semuanya berbeda-beda. Ada dari New York, tepatnya Forest Hill, lalu di Jerman di Leipzig, Korea di Busan, Jepang dari Kyoto, Ukraina dari Chernivtsi, kemudian Rusia dari Saint Petersburg. Kami menduga semuanya dikirim oleh orang yang sama namun mereka sengaja mengganti IP address. Lalu surat cetak ini, tidak ada alamat pengirimnya, tapi ini pengiriman internasional. Telpon ancaman digunakan melalui telpon satelit. Biasanya tidak ada orang yang cukup berani mengancam pihak kepolisian seperti ini,” ujarnya sambil duduk dan memandang sang detektif dengan serius.
“Kekekeke, apakah kau pikir mereka memang mengancam kalian?” tanyanya sambil meletakkan laporan itu di atas meja.
“Tentu saja. Semua ini ditujukan kepada kepolisian Las Vegas,” jawabnya yakin.
“Bagaimana jika bukan kalian tujuannya? Kekeke, kalian hanya terlalu percaya diri,” ucapnya terkekeh geli.
“Jadi maksud Anda, surat ini ditujukan kepada siapa?” kerutan di dahinya semakin dalam.
“Kau ingin aku jujur atau berbohong?” tanyanya masih dengan kilat mata nakal.
“Tentu saja kejujuran jika Anda tidak keberatan,” jawabnya dengan sabar.
“Kekeke, bagaimana jika kuajukan satu pertanyaan menarik. Jika kau salah, aku akan berkata bohong, jika kau benar aku akan jujur.”
Inspektur polisi itu menahan napas untuk beberapa saat. Memang harus bersabar menghadapi sang detektif gila. Untungnya hari ini senjata api yang biasa dia bawa tidak terlihat. Entah ada angin apa sang detektif tidak membawanya kali ini. “Baiklah, apa pertanyaannya?”
Sang detektif menyeringai jahat. Dia suka sekali bermain seperti ini. Dia tahu inspektur polisi itu bisa saja menembak kepala sang detektif kapan saja, namun dia tidak melakukannya karena dia membutuhkan sang detektif. Sang detektif meniup permen karetnya sebentar lalu memecahkan balonnya dengan perlahan.
“Ada orang bodoh yang bertanya mengenai surat ancaman,” mulainya dengan penuh semangat. Kilatan matanya meledak-ledak menatap sang inspektur. “Pertanyaan menariknya adalah, apakah orang jenius akan memberitahu orang bodoh jawabannya? Kau hanya perlu menjawab ‘ya’ dan ‘tidak’ waktumu tiga detik,” katanya dengan wajah tanpa rasa bersalah.
“Ya, dia akan memberitahu orang bodoh itu,” jawab ispektur dengan tidak sabar.
“Kekeke, kau salah polisi sialan, jawabannya tidak. Dia akan mengatakan kebohongan padamu, kekeke,” tawanya semakin keras.
“Bisakah saya mendengar kebohongannya?” ok, sang inspektur memang harus meningkatkan rasa sabarnya. Sekarang dia tahu alasan para tersangka memilih untuk mengaku lebih dulu ketimbang berhadapan dengan sang detektif. Sang detektif sangat pandai memainkan emosi lawan untuk tunduk kepadanya.
“Jika kukatakan maka kau akan percaya kebohonganku?”
“Tidak, jadi sebaiknya Anda berkata jujur, Detektif,” detektif itu tertawa jahat lagi. Inspektur polisi itu sudah membuang beberapa waktu pentingnya demi mengetahui secercah fakta yang diketahui sang mata tajam detektif.
“Kau perlu membayar kejujuran dari mulutku,” ucapnya dengan seringai lebar.
“Ya, akan saya transfer ke rekening Anda secepatnya. Jadi mohon katakan sekarang, siapa yang diancam di sini oleh para pengancam,” tanyanya mulai tidak sabar. Sang detektif menyeringai, dengan ini pundi-pundi uangnya bertambah lagi. Seperti itulah cara dia mencari uang. Licik memang, namun sejauh ini tidak ada orang yang berani mengatakan keberatannya soal kelicikannya mencari uang.
“Kekeke, mereka mengicarku dengan cara mengancam kalian. Kekeke, sepertinya ini dendam lama,” ucapnya dengan kilatan nakal di matanya. “Kekeke, ini kasus menarik!”
“Sudah saya duga Anda akan tertarik. Baiklah, ceritakan apa lagi yang Anda ketahui dari surat ancaman itu, Detektif.”
TBC...