Forty Nine

1371 Kata
Ukraina, Chernivtsi, 19 Januari 2019 Di sebuah gereja kecil di kota Chernivtsi yang dari kejauhan dan putihnya salju berwarna cukup mencolok. Berwarna merah muda dan kuba hitam lalu sedikit biru muda sebagai warna di depan. Cuaca cukup dingin di pagi yang sepi. Theo van Kuiken duduk di sana sambil memperhatikan sekitar. Ini bukan kali pertama ia masuk ke gereja dan tidak terlalu terkejut melihat isi di dalamnya. Orang-orang tengah melaksanakan ibadah Minggu pagi dan Theo tidak ingin mengganggu mereka sama sekali. Tujuannya di sini adalah menemui seorang wanita yang dulu pernah bekerja di dalam organisasi sebagai juru masak. Ya, mereka punya juru masak untuk menyediakan makanan bagi para pekerja mereka. Hal yang cukup mengejutkan baru Theo ketahui karena mereka sangat tertutup. Dia berhasil mendapatkan informasi tersebut berkat Nicholas yang dengan bakat alaminya mengorek informasi detail pada seorang juru masak di restoran Italia yang berlokasi tidak jauh dari apartemen mereka. Dia mengatakan dulu juga punya teman yang sangat pintar memasak dan bekerja di perusahaan besar di Ukraina. Entah bagaimana tepatnya Nicholas dapat mengetahui informasi penting ini dan tahu keberadaan wanita tersebut. Akhirnya Theo yang bertugas menemui wanita tersebut untuk meminta semua keterangan lengkap darinya. Risiko dia dalam bahaya sangat besar. Bisa saja wanita tersebut meskipun sudah berhenti bekerja, tetapi dia memiliki loyalitas tinggi terhadap organisasi tersebut. Nyawa dan identitas Theo terancam. Namun, alih-alih menghindar dia mengambil risiko tersebut dengan menyiapkan beberapa rencana. Satu, dia bisa membangun kepercayaan pada wanita tersebut bahwa dia tidak bermaksud jahat dan tidak akan melakukan apa pun pada wanita tersebut. Dua, dia berakting seperti biasa dan memakai topeng seperti biasanya dan semua aman. Tiga, dia memakai ancaman sebagai alat dan menggunakan orang tersayang miliknya sebagai bahan ancaman agar wanita tersebut buka mulut dan tidak akan melakukan apa pun bila sang target tidak membahayakan rencananya. Keempat, cara yang paling Theo hindari jika tidak terpaksa, dia akan mengancam kemudian apabila sang target melakukan perlawanan dan mengancam keselamatan identitas serta rencananya, dia akan membunuhnya. Dia tidak ingin membunuh karena dia tahu rasanya kehilangan anggota keluarga karena dibunuh. Oleh sebab itu, Theo berusaha untuk tidak melakukan rencana keempat. Theo menunggu dengan sabar sampai acara benar-benar selesai dan mereka semua keluar dari gereja. Wanita paruh baya tersebut menggunakan tongkat sebagai alat bantunya untuk berjalan. Dia juga sepertinya kesulitan untuk berjalan melewati salju tebal sisa semalam. Theo mengambil kesempatan tersebut. Dia tahu orang-orang lanjut usia di negara Eropa maupun Amerika jarang yang ingin menerima bantuan. Mereka rata-rata sangat mandiri meskipun mengalami kesulitan. Theo baru saja hendak berbasa-basi kepada wanita tua tersebut untuk mengorek informasi dan sekarang ia tengah memikirkan topik yang tepat. Namun, belum sempat hal itu terjadi alam seperti merestui langkah Theo kali ini. Wanita tersebut terjatuh karena licinnya es. Theo dengan sigap membantunya. “Anda tidak apa-apa?” tanya Theo yang benar-benar merasa khawatir karena ia ingat neneknya saat menatap wajah wanita tua renta tersebut. “Oh Tuhan, terima kasih banyak telah menolongku. Aku tidak apa-apa,” jawabnya sambil berusaha bangun dan dibantu Theo. “Sepertinya aku harus ganti sepatu. Sepatuku sudah tidak bagus lagi,” keluhnya. “Syukurlah Anda tidak apa-apa. Di mana rumah Anda, saya akan mengantarkan Anda pulang. Jalanan licin dan sangat berbahaya. Saya tidak ingin Anda terluka.” Theo sangat tulus membantunya bukan hanya sekadar ingin mencari informasi semata. “Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa berjalan dengan hati-hati,” tolaknya sambil berjalan tertatih-tatih. Nahasnya wanita tersebut kembali terjatuh dan kali ini Theo benar-benar tidak membiarkannya berjalan sendirian. Dia memaksa dan wanita tersebut terpaksa menyetujuinya. “Saya besar dalam asuhan nenek saya. Melihat Anda mengingatkan saya tentang nenek saya,” aku Theo sambil membantu sang wanita berjalan. “Sayangnya dia sekarang sudah berada di surga.” “Aku turut berduka cita mendengarnya,” kata wanita itu sambil berjalan perlahan. “Tidak apa-apa, sudah lama berlalu,” jawab Theo yang dengan sabar mengikuti langkah wanita itu. “Anda selalu sendiri ketika datang ke gereja?” tanya Theo sambil terus menuntun. “Ya, suamiku sudah meninggal. Anak-anakku sudah tidak tinggal bersamaku dan mereka memilih tidak punya agama. Biasanya aku bersama teman satu apartemenku, tetapi hampir empat minggu belakangan ini dia tidak ada di apartemennya. Dia merayakan Natal bersama anak dan cucunya di luar kota,” dia tertawa renyah sambil mengingat temannya. “Tua renta sepertiku meskipun sudah hampir mati, aku tidak ingin meninggalkan kasih Tuhan,” sambungnya. “Benar, Anda yang sudah tua pun mengingat Tuhan, harusnya saya yang muda juga melakukan hal yang sama seperti Anda.” Theo mengabaikan bunyi ponselnya yang sudah berdering dua kali. “Aku baru kali ini melihatmu datang ke gereja. Kau baru pindah?” tanya sambil menunjuk arah jalan rumahnya. “Tidak, kebetulan saja saya sedang berkunjung ke rumah keluarga di dekat sini dan saya harus melaksanakan ibadah Minggu pagi,” jawab Theo berbohong. Dia benci berbohong, tetapi mau tidak mau dia harus melakukannya karena tugas. “Mampirlah di apartemenku sebentar bila kau tidak keberatan, Anak Muda. Aku harus mengucapkan terima kasih padamu karena menolongku.” “Anda tidak perlu repot-repot, saya membantu Anda dengan sangat tulus.” Wanita tua itu memaksa Theo untuk menerima ajakannya. Theo hanya berakting menolak ajakannya, sebenarnya itulah yang ia incar dari targetnya. Dia bisa mengajaknya bercerita dengan santai sambil mengorek informasi yang dibutuhkan. “Siapa namamu? Kita belum berkenalan, Anak Muda,” katanya sambil membuka pintu apartemen. “Aku Rose Gottardo. Ayahku orang Italia jadi jangan heran mendengar nama belakangku.” “Namaku Ben Abramov. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan Ben,” jawabnya ikut masuk ke dalam apartemen sederhana yang cat dindingnya sudah banyak terkelupas. Theo melepaskan sepatu dan juga mantelnya. “Silakan duduk. Aku akan membuatkanmu minuman. Kau suka teh atau kopi?” tanyanya sambil menuju dapur. “Teh saja, terima kasih,” kata Theo sambil memperhatikan ruangan tersebut lalu menyimpan memori gambar di otaknya yang luar biasa. “Rumah Anda sangat nyaman,” puji Theo yang tiba-tiba teringat dengan rumah neneknya. “Apartemen tua ini aku tinggali setelah kematian suamiku. Dulu kami tinggal di Kiev di pusat kota,” ceritanya sambil membawakan teh beserta makanan yang tidak Theo ketahui namanya. “Baru tiga tahun aku berada di sini.” “Kiev? Anda pernah tinggal di sana. Di daerah mana? Saya sering ke Kiev bila ada keperluan,” kata Theo mulai memancing. “Dubenska, daerah dekat beberapa kantor imigrasi,” jawabnya. “Sepertinya aku tidak pernah pergi ke daerah itu. Apakah Anda dulu bekerja di kedutaan?” “Tidak, aku dulu adalah juru masak,” jawabnya dengan riang. Namun, setelahnya ia seperti menahan ucapannya untuk lebih hati-hati. Theo dapat merasakan perubahan intonasi suaranya. “Di sebuah restoran,” sambungnya setelah beberapa detik. “Restoran Italia?” tanya Theo kembali memancing. “Hanya tebakan karena Anda mengatakan ayah Anda adalah orang Italia,” sambung Theo agar Rose tidak curiga, “Ya, restoran Italia di daerah Yaroslavska.” Theo tersenyum lebar karena tempat tersebut merupakan tempatnya dan Nicholas tinggal saat ini. “Kenapa Anda berhenti menjadi juru masak dan pintah ke kota ini sekarang? Apakah Anda tidak nyaman dengan pekerjaan Anda dulu?” Rose Gottardo menatap jendela sebentar dan tersirat banyak hal yang tidak bisa ia ungkapkan. Theo menyelami mata tersebut karena dia tahu pastilah banyak pertentangan yang terjadi di dalam dirinya. Bagaimanapun wanita tua tersebut sepertinya terpaksa bekerja di sana hanya untuk mencari makan dan menghidupi keluarganya, “Aku sudah tua dan ingin hidup bahagia dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan,” jawabnya sambil mengembus napas panjang. “Kadang ada kala kita tidak nyaman dengan pekerjaan yang sudah kita geluti berpuluh tahun karena banyaknya tekanan.” “Atasan yang tidak baik atau lingkungan yang merugikan. Itu menjadi faktor sangat penting dalam pekerjaan. Saya juga pernah merasakan seperti Anda.” “Benar sekali, rasanya sudah lama aku tidak merasa bebas seperti sekarang ini,” ucapnya dengan perasaan yang masih sama seperti beberapa saat yang lalu. Setelah itu semua cerita dari Rose Gottardo mengalir tanpa perlu Theo korek lebih dalam. Sepertinya wanita tua itu butuh bercerita karena dia kesepian. Belahan jiwanya sudah meninggal. Anak-anak yang sibuk dengan keluarga masing-masing dan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Theo menjadi pendengar yang baik. Dia merasa jahat harus memanfaatkan wanita sebaik Rose, tetapi tugas tetaplah tugas. Theo sudah mengucapkan sumpah untuk memberikan informasi penting sekecil apa pun demi melindungi negara. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN