Ukraina, Kiev, 25 November 2018
Ren melepaskan semua pakaiannya lalu membasuh diri dengan air hangat. Cuaca dingin di luar membuat darah di tangannya menjadi kering dengan cepat. Ia menggosok-gosoknya dengan kasar sembari terus mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Demi Tuhan, dia baru saja selesai membunuh seorang wanita tua yang telah menjadi target mereka hampir sebulan ini. Wanita tersebut bernama Magdalena Tan, seorang pengusaha yang cukup sukses di Ukraina. Selain sebagai pengusaha, di dunia bawah tanah dia terkenal sebagai penyelundup narkoba ke dataran China. Selain menyelundupkan narkoba, dia juga menjual wanita-wanita muda untuk menjadi pekerja s*x. Kabar terbaru yang Ren dapat dia juga menjual organ manusia ke China.
Sebenarnya dia tidak diperintahkan untuk membunuh Magdalena Tan, dia hanya disuruh menyelundup dan menyamar menjadi wanita pekerja s*x untuk mencari bukti keterlibatan Magdalena dengan pemerintahan China, tetapi wanita tersebut tahu dengan penyamarannya. Sepertinya dia dan Agon sudah diawasi oleh beberapa pihak sehingga identitas mereka bocor. Terpaksalah Ren membunuh wanita tersebut dengan cara menggorok lehernya kemudian ia kabur.
Dia tahu pasti akan mendapat hukuman atas apa yang telah ia lakukan karena tidak sesuai rencana, tetapi dia juga tidak ingin rahasianya ketahuan. Dia masih ingin terus berlari membebaskan diri dari dunianya yang kejam.
Nama aslinya bukan Ren, dia memakai nama pemberian almarhumah temannya semasa pelatihan. Dia sudah menjadi agen cukup lama dan lelah selalu menghampirinya kala harus berperang batin dengan hatinya sendiri. Bila ia ingin berhenti menjadi agen maka pilihan itu hanyalah mati untuk tidak membongkar semua rahasia mereka. Dilema besar untuknya yang masih muda dan ingin hidup bebas.
Setelah selesai mandi dia berpakaian kemudian memasukkan dirinya ke dalam selimut lalu menangis. Hal yang selalu ia lakukan hampir setiap malam. Ren merasakan pusing karena terlalu banyak menangis. Dia pun belum makan sedari siang. Tidak ada satu pun makanan di apartemen sewaan kecilnya sekarang.
Satu bulan lalu setelah dari Meksiko mereka terbang ke Ukraina untuk memburu Magdalena Tan yang diperintahkan atasan mereka. Magdalena telah merugikan negara mereka dengan cara kotor, selain menjual narkoba, perempuan, dan organ tubuh. Magdalena Tan juga menjual informasi rahasia Tiongkok kepada Amerika dan Korea Utara. Dia melarikan diri ke Ukraina lalu membangun kerajaan bisnisnya di sana. Dia hampir tidak tersentuh karena dilindungi organisasi radikalisme yang sekarang sangat meresahkan di dunia.
Ren tahu cepat atau lambat Agon akan tiba di apartemennya lalu membawanya kembali kabur karena kemungkinan organisasi tersebut tidak akan tinggal diam karena orang mereka dibunuh. Ini sudah kedua kalinya mereka membunuh target dan pastinya akan ada ketiga lalu keempat.
“Kau ada di mana?” Ren menelepon Agon untuk tahu di mana pria itu sekarang pasalnya dia merasa tidak tenang karena dalam bayang-bayangnya saat ini semua orang tengah mengawasi apartemen tempatnya tinggal.
“Aku sedang bersembunyi di suatu tempat. Jangan keluar untuk sementara waktu. Situasi sedang tidak aman.” Agon berbicara dengan pelan. “Aku tidak menyalahkanmu karena membunuhnya. Kau pasti terdesak. Nanti aku akan coba berbicara dengan atasan kita.” Agon mencoba menenangkan Ren yang ketakutan. Bagaimanapun juga dia hanyalah manusia biasa yang punya rasa takut.
“Aku harus keluar besok, tidak ada makanan sama sekali. Aku akan berhati-hati.”
“Bagus, aku tahu kau bisa menjaga diri dan hati-hatilah karena kita sekarang buronan.” Ren menghela napas panjang mendengar pernyataan Agon. “Aku akan menemuimu bila situasi sudah cukup membaik.”
Sambungan terputus setelah itu. Ren membuka tirai jendela kamarnya yang langsung menghadap jalan raya. Malam itu cukup sepi karena hujan baru saja turun dan amat deras. Ren bersenandung lagu sedih yang selalu menjadi lagu kesukaannya ketika merasa hatinya tidak baik-baik saja.
♚♛♜♝♞
Ukraina, Kiev, 14 Januari 2019
Theo masuk kerja seperti sebelumnya. Dia hari ini akan bertemu dengan mitra kerja perusahaan tempatnya bernaung. Mereka akan mengadakan kontrak kerja sama yang sudah mereka rencanakan dari sebulan yang lalu. Theo van Kuiken yang bekerja sebagai konsultan hukum di perusahaan tersebut sudah mempelajari materi dengan sangat baik. Dia yakin sangat bisa memerankan perannya kali ini. Dia sudah banyak mempelajari tentang hukum dan segala macam pasal serta hal lainnya.
Selain memerankan peran menjadi konsultan hukum, Theo juga menyelidiki mengenai perusahaan tempatnya bekerja apakah memiliki hubungan dengan organisasi radikal yang tengah mereka selidiki. Karena apabila perusahaannya tempatnya bekerja sekarang memiliki hubungan dengan organisasi radikalisme, maka itu merupakan suatu keuntungan bagi mereka karena dia bisa menyelidikinya dari dalam.
“Mr. Ben Abramov, maaf membuat Anda menunggu lama,” ucap seorang wanita yang diketahui Theo sebagai sekretaris sang direktur.
“Tidak, saya juga baru tiba,” jawab Theo sambil menyalami direktur perusahaan dan beberapa jajaran direksi perusahaan tempatnya bekerja. Theo akan mengingat wajah mereka satu demi satu karena kemungkinan dia akan melacak tentang mereka.
“Mari kita masuk, acara akan segera dimulai,” ajak sang sekretaris untuk masuk ke ruangan rapat yang cukup luas.
Lima menit kemudian mitra kerja mereka datang. Semua orang menyambut kedatangannya termasuk Theo van Kuiken yang sekarang berperan sebagai Ben Abramov. Theo tidak asing dengan wajah salah seorang pria muda yang berada di belakang sang direktur utama perusahaan mitra kerja mereka. Bila tidak salah ingat, pria tersebut pernah datang ke markas organisasi radikal yang ada di dekat apartemen mereka. Theo meyakinkan sekali lagi karena apabila salah akan berbahaya.
Theo memutar ingatannya yang melihat sisi televisi di laptopnya satu minggu ke belakang. Ia mengorek-ngoreknya selama beberapa detik dan ingatan itu muncul pada seorang pria muda yang berjalan mengenakan pakaian serba hitam dan topi yang menutupi rambutnya. Di tengah salju turun pria tersebut masuk ke dalam toko yang mereka curigai sebagai markas organisasi radikalisme. Bukan hanya dari wajahnya Theo mengenali pria tersebut, tetapi dari caranya berjalan, mengangkat tangan, bahkan gerakan bahu dan kepalanya sama. Theo pintar menganalisis dan menyimpan memori penting di otaknya. Jadi dia tanpa keraguan akan menyelidiki pria muda yang diketahui memiliki identitas bernama Frederic Klose. Entah itu nama aslinya atau bukan, dia dan Nicholas akan menyelidikinya secepat mungkin.
Lain dengan Theo yang sedang menjalankan tugasnya sebagai konsultan hukum, lain pula dengan Nicholas yang tengah mengedit video guna diunggah di laman media sosialnya. Dia berperan sebagai konten kreator dan sudah selayaknya dia melakukan tugas tersebut demi peran.
Sambil menyelam minum air, Nicholas banyak menyorot tempat-tempat di kota Kiev yang juga akan ditelitinya melalui video. Mungkin saja dia menemukan petunjuk lain dan hal penting lain dari rekamannya tersebut. Saat ia tengah sibuk mengedit video, panggilan masuk dari Jea membuatnya teralih sebentar. Sudah lama ia tidak menghubungi wanita itu dan juga sebaliknya.
“Aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu bila kau hanya ingin mendengar suaraku,” ucapnya tanpa basa basi.
“Baiklah, aku akan memutuskan sambungan,” jawab Jea sambil berusaha menahan rasa kesal.
Nicholas tersenyum kecil. Dia tahu wanita tersebut akan benar-benar memutus panggilan dan tidak akan pernah mengangkat teleponnya lagi dalam beberapa waktu. Wanita memang ahli dalam mempermainkan perasaan.
“Keh, ada apa kau meneleponku?” tanyanya sambil tertawa.
“Hanya memastikan bahwa kau masih hidup untuk sekarang.”
“Itu hanya alasanmu. Aku bisa membaca pikiranmu,” kata Nicholas sambil minum soda milik Theo. Theo melarangnya meminum alkohol karena hal tersebut bisa membuatnya hilang kendali. Nicholas setuju dengan alasan masuk akal Theo meskipun mereka sempat beradu argumen panjang lebar.
“Tuan Detektif memang tidak bisa dibohongi.”
“Tidak ada yang bisa disembunyikan dariku. Jadi sekarang cepatlah pulang ke rumahmu. Kau sudah selesai bertugas dari dua jam yang lalu.”
Jea jelas kebingungan mendengar ucapan Nicholas yang tahu dia tidak sedang berada di rumah.
“Dari mana kau tahu?” tanyanya heran. Nicholas tidak menjawab pertanyaan Jea. Jea kembali lagi mendesak, tetapi Nicholas justru mematikan sambungan telepon. Nicholas melihat ponselnya sambil tertawa. Pria itu tentu saja bisa melacak keberadaannya tanpa sang wanita mengatakan di mana keberadaannya.
“Kekekeke, kau pikir mengapa mereka memanggilku Detektif Joker tanpa alasan. Jelas karena aku bisa melakukan cara apa pun untuk tahu semua hal. kekeke!”
TBC...