Ukraina, Kiev, 7 Januari 2019
Hari itu Theo dan Nicholas berkeliling di sekitaran apartemen mereka untuk sekadar mencari makan siang. Tujuan sebenarnya tentu saja untuk mencari informasi mengenai siapa saja orang-orang yang datang ke daerah sekitar. Dengan kemampuan mengingat detail yang luar biasa. Theo dan Nicholas tidak perlu repot-repot untuk menghafal wajah orang-orang yang ada di sekitar sana.
“Pria itu bagaimana?” tanya Theo pada Nicholas mengenai pria muda yang berdiri tidak jauh dari luar restoran tempat mereka makan siang.
Nicholas memperhatikan pria muda yang ditunjuk Theo. Butuh waktu beberapa menit baginya untuk meneliti sang pria muda. Theo menunggu dengan sabar sambil menikmati makan siangnya yang jujur saja tidak sesuai dengan lidah Asia miliknya. Makanannya dominan dengan rasa asam dan asin. Tidak terlalu terasa gurih dan yang pasti tidak pedas sama sekali.
“Dia hanyalah mahasiswa yang tengah menunggu temannya. Lihat saja pakaian dan gerak-geriknya. Sekelas mata-mata jarang ada yang bertingkah sealami itu. Kecuali dia mata-mata hebat seperti kita.”
“Kurasa juga seperti itu. Dilihat dari raut wajahnya dia tampak khawatir menunggu kedatangan temannya.”
“Bagaimana menurutmu negara Ukraina?” pertanyaan Nicholas diiringi dengan pelayan yang mengantarkan pesanannya.
“Perlu penyesuaian. Cukup dingin dan aku tidak terlalu suka makanannya.” Theo selalu menjawab jujur.
“Aku tidak suka apartemennya.”
“Kita sudah membahas hal itu berulang kali,” ucap Theo yang ingat Nicholas selalu mengeluh mengenai apartemen tempat mereka tinggal.
“Wanita di sini tidak seramah di Amerika. Pelayan toko sialan kemarin juga tidak terbuka. Aku sudah bersusah payah mencairkan suasana dengan cara paling menjijikkan yang pernah aku lakukan makanya aku sampai mengajaknya keluar untuk makan malam. Seandainya dia ada di dalam ruang interogasi, dia tidak akan lolos dan akan kuselidiki setiap helai potongan peristiwa yang pernah ia lihat dan lakukan dalam hidupnya.”
“Siapa yang menyuruhmu untuk mengajaknya makan malam? Kau ingat peran kita?” protes Theo karena Nicholas bertingkah seenaknya.
“Diam, aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Kau ingin mengacaukan rencana? Aku akan menghajarmu tidak peduli meskipun kau rekanku,” ancam Theo.
“Aku bisa saja menembakmu bila kau melarang rencanaku!” Nicholas tidak ingin kalah. Sifat mereka memang mirip jadi tidak heran apabila keduanya bisa berbenturan dalam berpendapat.
Mereka masih terus beradu argumen sampai akhirnya dering ponsel Nicholas membuat keduanya berhenti melempar kata-kata tajam satu sama lain. Telepon dari adik perempuannya yang sekarang telah menjadi artis di Korea. Nicholas mengangkatnya dan menjawab dengan suara lembut. Theo bahkan sampai harus menahan tawa mendengar suara Nicholas yang tiba-tiba berubah haluan. Theo kemudian menghabiskan makananya dengan pelan meskipun dia tidak suka. Dia tidak ingin membuang-buang makanan karena banyak orang kelaparan di luar sana dan dia menyia-nyiakan rezeki yang diberikan untuknya.
“Mendekati wanita memang hal yang paling sulit di dunia. Tiga pilar berbahaya bagi seorang pria adalah Harta, Takhta, dan Wanita. Itu sudah hukum alam di dunia laki-laki. Di FBI, Zoey yang ahli berhadapan dengan para wanita dan juga pria.” Theo akhirnya berbicara setelah Nicholas selesai berteleponan dengan adiknya.
“Dalam hidupku, aku tidak pernah kesulitan mendekati wanita. Namun, wanita ini sangat berhati-hati,” protesnya karena tidak terima Theo menasihatinya setelah perdebatan panjang mereka tadi.
“Wajar saja, dia bukan orang awam. Dia menjaga informasi.”
Theo menatap ke luar jendela tempat orang berlalu lalang. Kota Kiev tidak seramai New York City, bahkan setengah pun tidak ada. Musim dingin seperti ini orang-orang malas untuk keluar. Selain karena cuaca dingin, memakai pakaian berlapis juga merepotkan. Dari segi lingkungan Ukraina masih kalah jauh dibanding negara Eropa lain. Memang banyak gedung tua di hampir seluruh jalan dan juga gereja-gereja Kristen Katolik Ortodoks yang berbentuk menarik. Rata-rata arsitektur gereja kebanyakan dari masa kejayaan Bizantium.
“Jangan membicarakan mengenai misi kita di luar. Kita tidak tahu keadaan saat ini, menjaga informasi lebih baik,” ucap Theo untuk tidak membahas hal tersebut lebih lanjut di rana umum.
Nicholas meskipun keras kepala dan semaunya, tetapi dia mengerti kode etik yang harus dia pegang. Akhirnya mereka mengamati dalam diam setiap orang yang lewat atau masuk ke tempat makan mereka sekarang.
“Makan malam nanti aku akan memasak.
Makanan di sini kurang cocok untuk lidahku.” Nicholas sangat setuju mendengar ucapan Theo, dia sudah mencicipi masakan Theo meskipun hanya telur dadar dan tumis sayuran. Awalnya Nicholas protes, tetapi dia ikut makan karena malas keluar di cuaca dingin.
♚♛♜♝♞
“Dia mengganti rencana sesuka hatinya. Menurutmu hal tersebut bisa termaafkan?” tanya Theo kepada Travis melalui sambungan telepon. Malam itu mereka melakukan panggilan gambar bersama dengan anggota FBI lain yang berkumpul di kantor mereka. Perbedaan waktu tujuh jam pada musim dingin membuat mereka harus rela berkomunikasi lintas waktu. Di New York City saat ini teman-temanya tengah makan siang, sementara di Kiev saat ini Theo dan Nicholas tengah mempersiapkan makan malam. Seperti janji Theo bahwa dia yang akan memasak makan malam kali ini.
“Aku menyarankan rencana lebih baik. Jangan berkata aku sangat salah karena mengganti rencanamu,” sahut Nicholas yang memilih duduk di sofa ruang tamu sambil mengutak-atik laptopnya.
“Kami tahu kalian mampu meskipun dengan rencana yang berantakan sekalipun,” kata Zoey ikut masuk ke dalam layarnya. Theo yang tengah mengupas wortel melirik teman-temannya sebentar.
“Kau mungkin tidak akan berkata seperti itu bila kau berada di posisiku,” jawab Theo yang sekarang memotong-motong wortel. “Dia membuat janji untuk mengencani wanita penjaga toko yang kami duga terlibat. Dan kalian tahu pasti peran kami berdua. Peran yang amat sangat menggelikan,” pertegas Theo sambil memotong wortel dengan penuh emosi.
Saat masih memotong wortel, ponsel Theo diambil tiba-tiba oleh Nicholas lalu ia berbicara dengan serius. Seakan tidak terpancing dengan provokasi Theo beberapa saat yang lalu.
“Dari penyelidikanku dua hari ini, aku menemukan fakta bahwa orang-orang di sekitar sini nyaris tidak tahu bahwa ada organisasi berbahaya yang diam-diam bermarkas di sekitar mereka. Aku juga menemukan beberapa wajah yang familiar pernah datang ke markas tersebut. Christoper Joerg, pebisnis sukses dari Jerman yang baru-baru ini mendapat nominasi orang berpengaruh di Eropa. Lalu Margaret von Meijer, pebisnis wanita yang bergerak di bidang koleksi barang antik. Keduanya sempat terlihat memasuki toko tersebut meskipun dengan penyamaran aku bisa mengenalinya dari jam tangan milik Christoper Joerg dan anting dari Margaret von Meijer yang dibuat secara khusus dan tidak ada yang sama. Kukirimkan hasil video rekaman dan juga gambar mereka menggunakan barang tersebut di berbagai acara.”
Jujur saja Theo senang Nicholas mengambil ponselnya dan berbicara kepada teman-temannya karena itu artinya dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar dan dia bisa fokus memasak untuk makan malam. Perutnya sangat lapar, di musim dingin seperti ini sangat mudah baginya merasa lapar.
“Aku sudah mencari semua tentang kedua manusia sialan itu. Mereka pernah hampir bangkrut karena Christoper Joerg kalah judi dan Margaret von Meijer ditipu oleh mantan suaminya. Keduanya kembali meraih kesuksesan dalam dua tahun setelah bangkrut. Mengesankannya mereka sukses luar biasa dan dinobatkan sebagai orang-orang terkaya di Eropa. Kecurigaanku terbukti benar bahwa mereka bekerja untuk elit global yang mana seperti kita duga organisasi radikalisme ini adalah salah satu bisnis mereka.”
“Kami juga menemukan beberapa akses kejahatan terorganisir yang masih terkait dengan organisasi tersebut. Pihak CIA mengonfirmasi adanya campur tangan pemerintahan Amerika di dalam bisnis mereka. Seperti yang telah kita bahas bahwa elit global banyak bermarkas di Amerika dan hal tersebut tidak lepas dari kerajaan bisnis dan campur tangan orang dalam. Kita berperang melawan negara sendiri,” kata Travis sambil mengunyah makan siangnya. Mereka makan di dalam ruangan sambil bersantai.
“Apakah agen CIA tersebut juga mengatakan bahwa lokasi markas mereka tidak hanya ada di tengah kota?” tanya Nicholas yang kali ini menghadapkan laptopnya ke arah ponsel Theo.
“Tidak, kata mereka ada lokasi lain yang menjadi markas utama dan jauh lebih besar serta tidak terdeteksi.”
“Benar, lokasinya ada di kota Chernivtsi. Satu setengah jam jarak tempuh menggunakan pesawat, tujuh jam lebih menggunakan mobil pribadi, dan dua belas jam lebih menggunakan bus umum dan kereta. Cukup jauh dari ibu kota, tetapi tidak menutup kemungkinan lokasi tersebut memang strategis untuk menjadi tempat markas utama.”
“Mereka memang cukup cerdik mencari tempat persembunyian. Memanfaatkan negara Ukraina yang mana tengah perang dingin dengan Rusia. Amerika dan Rusia juga tengah berperang dingin. Jika dilihat jalurnya kemungkinan ini bisa juga untuk menumbangkan Rusia dengan cara memanfaatkan saudara serumpun. Jelas tujuan mereka memang untuk menguasai dunia. Bila Rusia bisa ditaklukkan, sasaran berikutnya kemungkinan Korea Selatan dan China.” Theo menyimak dari dapur obrolan Nicholas dan Travis. Semua yang Nicholas tahu sudah ia ketahui karena mereka memang mencari informasi tersebut dan juga dalangnya.
“Dua agen bernama Ren dan Agon yang kita selidiki kemarin juga kemungkinan diutus untuk memberantas para elit global yang membelot dari negara mereka. Sekarang satu demi satu potongan rahasia ini mulai terkuak. Kekekek, ternyata ini lebih menyenangkan daripada yang aku bayangkan.”
“Dari awal kami sudah menjanjikan hal yang sangat menarik kepadamu,” jawab Travis dengan senyum puas. “Bersenang-senanglah kalian, kami akan menunggu banyak kejutan di sini.”
Nicholas tertawa puas sambil mengutak-atik laptopnya. Ia kemudian tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menemukan sesuatu. Nicholas melihat Theo yang tengah memasak, dia tahu pastilah Theo akan senang dengan penemuannya kali ini meskipun tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.
“Sepertinya kau sudah tidak waras,” komentar Theo yang melihat Nicholas tertawa riang.
TBC...