Forty Six

1557 Kata
Ukraina, Kiev, 9 Januari 2019 Theo tengah memantau dari jendela kecil kamar mereka yang berjarak kurang lebih dua ratus meter ke tempat yang mereka duga sebagai markas organisasi. Beberapa hari ini dia sudah keliling lokasi dan belum menemukan bukti yang kuat apakah benar di sana adalah markas mereka. Menurut laporan yang ia terima di sanalah tempat tersebut benar adanya. Cukup mengherankan mereka memilih lokasi tengah kota untuk menjadi markas. Risiko yang amat sangat berbahaya bila mereka ketahuan. Boleh dikatakan mereka memiliki orang kuat yang sangat berpengaruh sehingga tidak ada rasa takut ketahuan. Sayangnya orang-orang kuat yang berpengaruh tersebut belum mereka ketahui siapa. Itulah tujuan mereka berada di Ukraina untuk menyelidiki secara langsung. Nicholas sendiri sudah mulai menjalankan aksi dengan berpura-pura ingin membeli beberapa potong pakaian musim dingin di markas tersebut. Sayangnya tempat yang dimanipulasi menjadi toko pakaian di lantai bawah tersebut tidak memiliki kecurigaan sama sekali bagi orang awam dan juga bagi Nicholas. Semuanya tampak seperti seharusnya terlihat, tetapi Nicholas benar-benar tidak menyerah. Dia menggoda pelayan wanita di sana dan mengajaknya untuk makan malam. Awalnya Theo marah karena peran yang mereka mainkan saat ini adalah pasangan sesama jenis yang baru pindah ke Ukraina. Dia seenaknya mengubah semua alur yang telah mereka rancang dengan sangat baik dan lengkap beserta rencana cadangan yang Theo buat. Namun, Nicholas yang sama keras kepalanya dengan Theo menjelaskan bahwa dia akan tetap pada jalur yang mereka buat. Dia tahu risiko apa yang akan ia mainkan saat ini. Akhirnya setelah perdebatan sengit dengan kata-kata tajam dan juga perang otak, Theo mengalah dan membiarkan Nicholas melakukan sedikit perubahan untuk mendapatkan informasi. Dia sadar bahwa kerja sama tim sangat diperlukan sekarang dan menerima saran dari rekan amat sangat diperlukan. Theo memang seharusnya tahu bahwa praktik di lapangan tidak akan selamanya sama dengan teori yang ia rancang. Oleh sebab itu dia mengalah dan Nicholas juga memberikan alasan yang tepat. Dia detektif gila yang akan melakukan segala cara untuk mengungkap kasus. Harusnya Theo ingat itulah moto sang Detektif Joker semenjak awal. “Aku akan berada di sana untuk memastikan kau tidak mengacaukan rencana.” Nicholas menatap tajam Theo yang tengah duduk sambil menghidupkan perapian untuk menghangatkan ruangan. Nicholas masih sibuk memasang kumis palsu agar terlihat alami. Entah bagaimana dia membuat kumis tersebut, yang pasti Nicholas benar-benar terlihat seperti orang lain. Memang Theo tidak heran melihat penyamaran Nicholas yang sudah sering ia lakukan selama beberapa waktu lalu. Namun, melihatnya memakai kumis dan rambut lepek serta kacamata tebal terlihat tetap saja tidak membuat sifat gilanya hilang. “Aku bukan bayi yang harus kau awasi, sialan,” protesnya sambil memakai lensa kontak untuk membuat warna matanya menjadi biru. “Aku tidak ingin kau terjerumus dalam jebakan wanita. Wanita adalah makhluk yang paling pintar menjebak. Kau harus ingat itu,” tekannya. “Atau malah sebaliknya. Akulah yang akan menjebaknya.” Theo kembali duduk sambil minum teh dan mengawasi pintu masuk toko yang menjadi tempat organisasi radikal bermarkas. Dia melihat ada dua wanita masuk ke sana untuk berbelanja. Theo mencatat waktu kedatangan dan kepergian mereka untuk memperoleh informasi dan data. “Awas jika sampai kau meniduri wanita itu. Urusan akan panjang,” kata Theo lagi sambil terus memperhatikan sekitar pintu toko. “Aku tidak meniduri sembarang wanita! Kau pikir aku seburuk itu!” “Memang, penampilanmu mencerminkan segalanya.” Nicholas malas berdebat. Ia meninggalkan Theo sendirian lalu masuk ke kamar. Nicholas berganti pakaian lalu menyemprotkan parfum yang beraroma sedikit aneh. Dia akan menyamar menjadi orang lain seutuhnya. Setelah selesai, Nicholas keluar kamar dan memasang sepatu. Ia juga menyelipkan pisau lipat di dalam kaos kaki. Senjata api di pinggang dan terakhir alat perekam di kancing baju kemejanya. “Ingatlah, batasnya hanya dua kilometer, tidak lebih dari itu atau alat ini tidak akan berfungsi,” kata Theo sambil memberikan alat pendengar yang diletakkan di belakang daun telinga Nicholas untuk mendengar instruksi Theo bila terjadi hal berbahaya. Theo juga memasang alat tersebut di telinganya untuk mendengar percakapan Nicholas dan wanita tersebut. “Semakin lama kau terlihat seperti Si Tua Bangka itu,” kesal Nicholas sambil membuka pintu kemudian pergi begitu saja dari hadapan Theo. “Akan aku makan rotimu di kulkas,” kata Theo yang bisa didengar oleh Nicholas dari alat yang ada di belakang daun telinganya. “Dan minumanmu juga.” Theo kemudian tertawa geli mendengar gerutuan Nicholas sambil menuruni tangga. ♚♛♜♝♞ Nicholas memang tidak terlalu pandai dalam bermain peran karena dia memang tidak suka hal tersebut. Namun, dia berusaha agar tidak mencurigakan sama sekali karena bagaimanapun dia sudah sepakat untuk menyelesaikan misi ini bersama-sama. Kali ini dia akan bersikap manis kepada seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan di toko tersebut. Dalam hidup Nicholas dia tidak pernah bersikap manis kepada wanita selain ke ibu dan adik perempuannya. Termasuk ke Jea pun dia tidak pernah bersikap manis padahal dia mencintai wanita itu. Kata-kata paling manis yang pernah Nicholas ucapkan pada wanita yang mana itu adalah Jea hanyalah permintaan menunggunya untuk kembali dan perlakuan paling manisnya pun hanya sebatas mencium Jea. Dia benar-benar buta dalam hal bersikap manis kepada wanita, oleh sebab itu semalam suntuk Nicholas menghabiskan waktu menonton film romantis demi mendalami perannya. Pada dasarnya dia dan Theo sama-sama payah dalam urusan percintaan. Perbedaannya adalah Theo sudah terlatih untuk bisa berperan seperti itu. “Sejauh ini aman?” tanya Theo sambil melihat Nicholas yang berjalan menuju toko. “Kau bisa lihat sendiri, berengsek. Ini masih dalam radius pandanganmu,” kesalnya yang tahu persis berapa derajat sudut pandang Theo terhadap dirinya saat ini. “Mungkin saja kau melihat hal aneh di depanmu yang tidak bisa aku lihat.” “Justru aku aneh berbicara denganmu tanpa apa pun. Terlihat aku berbicara sendirian.” Nicholas ingin sekali berbalik arah lalu menembak Theo dari tempatnya berdiri sekarang. “Apa fungsi ponselmu? Gunakan benda itu untuk berpura-pura menelepon!” kali ini Theo yang kesal dengan ulah Nicholas. “Kubunuh kau! Berhenti mengoceh, aku akan masuk dan diam saja dengarkan semua ucapanku!” Theo akhirnya mengalah setelah puas membuat Nicholas kesal. Hobi barunya sekarang adalah berdebat dengan Nicholas hingga nyaris membuat mereka saling ingin menembak kepala masing-masing. “Maaf aku datang terlambat! Cuaca hari ini cukup dingin dan aku berjalan pelan,” kata Nicholas dengan bahasa Rusia yang sangat lancar kepada seorang wanita muda yang cukup menarik. Mata Nicholas mengamati sang wanita dengan sangat cepat. Dari caranya berjalan dan menatap orang dia sudah tahu bahwa wanita tersebut sedikit bermasalah di tulang belakangnya. Dia berjalan timpang karena kaki kanannya lebih panjang sekitar dua sampai dua setengah sentimeter. Mungkin masalah tersebut karena dia pernah jatuh atau memang bawaan lahir atau mungkin juga karen hal lain. Nicholas masih harus mengamati hal tersebut secara rinci. Lalu dari tatapan matanya, dia tahu wanita itu memiliki minus mata karena dia berulang kali menyipitkan matanya ketika membaca tulisan di pinggir jalan. Nicholas memutuskan untuk mengajak sang wanita makan di dekat blok mereka karena dia malas bepergian jauh di tengah salju seperti ini dan hari juga sudah gelap karena musim dingin gelap lebih cepat datang dan pagi lebih lambat terbit. “Kuharap kau suka restoran Asia seperti ini,” kata Nicholas sambil menarik kursi untuk sang wanita. Sialan! Dia bersikap benar-benar bukan seperti dirinya. “Tidak masalah, aku suka dan sering makan di sini bersama teman-temanku,” jawabnya sambil duduk. Nicholas dengan cepat duduk di depan wanita tersebut. Namanya Natasha, dia berusia sekitar dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun. Theo tahu wanita ini juga seorang kutu buku karena matanya minus dan dia suka menunduk untuk membaca buku yang mengakibatkan gangguan di tulang belakangnya hingga berpengaruh ke panjang kaki yang menyebabkan jalan sedikit pincang. Tidak terlalu terlihat bagi orang biasa, tetapi Nicholas yang sering memperhatikan orang tahun hal tersebut. Itu artinya wanita tersebut bisa dikatakan terlibat dalam organisasi yang berhubungan dengan merakit sesuatu atau menganalisis sesuatu. Menggunakan kaca pembesar dan menunduk. Bisa jadi senjata rakitan ilegal, atau bom, atau bahkan teknologi yang belum mereka ketahui. Kedoknya dia terlihat seperti pegawai toko biasa. “Aku sangat senang kau menerima ajakan makan malamku. Aku butuh banyak informasi menarik mengenai sejarah kota ini. Aku tertarik mengajakmu membuat podcast dan menyiarkannya di laman media sosialku!” Ingin sekali Theo tertawa mendengar ucapan Nicholas yang sama sekali tidak mencerminkan dirinya. Andai dia ada di sana mungkin dia akan banyak menahan tawa, sayangnya dia hanya mampu mendengarkan ocehan Nicholas dan wanita bernama Natasha itu dari alat perekam yang dibawa Nicholas dan ia sambungkan ke alat di telinga Theo. “Kau adalah narasumber yang tepat! Kau suka membaca buku serta paham sejarah di kota kelahiranmu. Penontonku akan sangat senang dengan kehadiranmu bercerita.” Nicholas mau tidak mau mengakui memerankan sebuah peran ternyata cukup sulit. Dia harus konsisten agar tidak terlihat ganjil. Sembari mendengar obrolan Nicholas dan Natasha yang terjadi di restoran Asia, mata Theo awas melihat ke arah toko pakaian yang menjadi markas mereka. Dia melihat ada tiga orang pria memasuki tempat tersebut. Salah satunya Nikolas Magnar. “Nikolas Magnar datang ke markas bersama dua orang pria. Tetap awasi wanita yang bersamamu. Pastikan dia sibuk mengobrol dan tidak fokus dengan ponselnya. Aku akan keluar untuk melihat mobil yang mereka pakai. Kita perlu tahu kendaraan mereka,” kata Theo berbicara pada Nicholas dari alat komunikasi mereka. “Baiklah,” jawabnya dengan riang untuk Theo sekaligus kepada Natasha. “Besok lusa atau kapan pun kau bersedia hubungi aku!” sambungnya dengan senyum lebar kemudian diakhiri senyum licik yang selalu ia tampilkan bila ia merasa selangkah lebih maju. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN