Forty Five

1777 Kata
Ukraina, Kiev, 5 Januari 2019 Theo dan Nicholas baru tiba di Ukraina kemarin sore. Keduanya memulai peran mereka dengan sealami mungkin. Mereka menyewa apartemen kecil yang berjarak satu blok dari markas organisasi radikal yang tengah mereka selidiki. Mereka sengaja untuk tidak terlalu dekat dengan lokasi karena cukup berbahaya. Dalam hati keduanya mereka sangat enggan untuk melakukan peran yang ditetapkan oleh Arnold Lewis. Namun, demi semua yang terbaik dan keberhasilan mereka, dia harus menahan desakan tidak nyaman tersebut. Theo dan Nicholas juga mempunyai identitas baru selama mereka bertugas. Nama Ben Abramov, untuk Theo dan Danny Belsky untuk Nicholas. Mereka bahkan memiliki paspor dengan identitas tersebut. Keduanya merupakan orang Rusia campuran Amerika yang baru dipindahkan tempat bekerja di Ukraina. Mereka sengaja membuat keduanya memiliki darah Amerika karena bisa saja mereka keceplosan berbicara bahasa Inggris dan wajah mereka sama sekali tidak tampak seperti orang Rusia. Mengaku berdarah campuran adalah jalan aman. Theo berhasil mendapatkan pekerjaan di Kiev sebagai konsultan hukum di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan. Dia sudah melamar pekerjaan tersebut dari satu bulan yang lalu di tempat latihan militer. Theo pun harus belajar banyak tentang hukum internasional dan juga hukum di negara Ukraina demi perannya. Sementara Nicholas berperan sebagai konten kreator yang memiliki minat besar pada negara Ukraina. Dia akan membuat banyak video dan kesehariannya di Ukraina lalu dimasukkan ke dalam akun media sosialnya yang sudah memiliki ratusan ribu pelanggan. Hal tersebut akan sangat menguntungkan karena Nicholas bisa berbaur dengan siapa saja yang akan dijadikannya sumber informasi. Dia bisa mewawancarai seseorang dengan bebas tanpa takut ketahuan ingin mengorek informasi. Theo yakin bahwa Nicholas pandai melakukan hal tersebut karena dia seorang detektif yang sangat memperhatikan detail. “Ya ampun, apartemen ini sangat buruk,” keluh Nicholas yang melihat-lihat apartemen tempat mereka tinggal. “Hanya apartemen ini yang tersisa kosong dan dekat dengan lokasi mereka. Mau tidak mau kita harus ambil,” jawab Theo yang membuka jendela. Dingin menusuk di luar karena musim dingin di Ukraina bisa dikatakan lebih dingin dibanding New York. Ini kali pertama Theo ke Eropa dan ke luar negeri selain Amerika. Kesannya untuk negeri tersebut masih cukup baik. Bagaimanapun dia dan Nicholas harus bisa berbaur sealami mungkin. “Apartemen ini tua dan pemandangan di luar juga membosankan.” Theo sudah sering mendengar keluhan Nicholas dari semenjak di barak militer. Dia bahkan sudah lelah menyuruh detektif gila itu untuk diam. Akhirnya dia dan Nicholas sepakat untuk tidak saling ganggu dengan cara memiliki kamar masing-masing. Persetan dengan keinginan Arnold yang menyuruh mereka bertingkah alami. “Dari sini hanya terlihat pintu masuk. Kau bisa melihat siapa saja yang masuk ke tempat tersebut. Perlu memasang kamera rekaman di sini?” tanya Theo kepada Nicholas yang tengah menggerutu kepada sarang laba-laba. “Ya perlu. Mereka bukan kita yang bisa ingat semua. Pasang kamera di sana lalu kita akan mengecek tiap satu hari sekali.” “Kita juga beruntung bisa melihat kamar wanita cantik dari sini,” kata Theo dan memancing reaksi Nicholas. “Sejak kapan kau tertarik pada wanita lain?” ejeknya. “Bukan untukku, tetapi untukmu. Kau pecinta wanita,” balas Theo mengejek. Nicholas mengambil teropong kecil yang ia simpan di tasnya. Ia mengarahkan teropong ke kamar wanita yang dikatakan Theo. Setelahnya dia mengarahkan ke berbagai tempat. “Aku memastikan bahwa kau memang harus tetap normal dan tidak jatuh cinta padaku,” kata Theo kembali mengejek. Kali ini Nicholas melemparkan sepatunya ke arah Theo agar pria itu diam. “Sepertinya menarik membunuhmu di dalam ruangan tertutup.” Theo tertawa geli dan ia meninggalkan Nicholas yang masih sibuk menjelajah keadaan dengan teropong kecilnya. Hubungannya dan Theo memang seperti kucing dan anjing. Mereka bisa kompak dan juga bertikai di saat bersamaan. Saat di dalam kamar Theo melihat ponselnya berdering. Nama Travis muncul di sana. Theo mengangkatnya dengan cepat. “Bagaimana kabar kalian di sana?” tanya Travis dengan suara riang. “Kau menelepon hanya untuk mengejek?” Travis tertawa mendengar sambutan Theo. “Aku tahu pasti peran kalian sangat berat dan aku hanya bisa memberikan semangat untuk kalian. Dan aku hanya ingin mengabarkan kepadamu bahwa agen CIA sedang mengawasi kalian. Aku hanya ingin kalian berhati-hati dan tidak salah langkah. Agen CIA seperti yang kita tahu banyak yang berkhianat atau memiliki dua kubu.” Theo melihat jendela yang harus dibersihkan karena sisa salju yang turun semalam. Dia duduk di kursi kayu yang sudah tua sambil memandangi langit siang yang mendung. “Apakah pernah terpikir olehmu kami juga akan seperti mereka. Seperti yang kau tahu aku dan Nicholas sama-sama berdarah campuran. Aku tidak ada sama sekali darah Amerika dan aku direkrut karena keahlianku. Pernah kau berpikir aku akan berkhianat?” Theo tidak pernah bertanya hal seperti itu kepada Travis, dia hanya pernah bertanya kepada Arnold dan jawaban Arnold kali itu cukup memuaskannya. “Tidak, karena kau Theo van Kuiken.” “Jangan menjawab dengan jawaban yang tidak bisa aku terjemahkan maksudnya.” “Kau adalah orang paling jujur, tetapi juga orang yang paling sulit dimengerti. Namun, aku yakin kau tidak akan berkhianat karena kau benci hal tersebut,” jawabnya dengan serius. “Hei, aku meneleponmu bukan untuk berkata seperti ini. Aku menelepon untuk memperingatimu akan bahaya.” “Aku banyak berpikir setelah pulang dari Indonesia. Banyak hal yang harus aku koreksi di dalam diriku.” “Kau sudah bertemu dengan kedua orangtua dan nenekmu setelah sekian lama. Aku mengerti sekali.” Travis terdengar mengembuskan asap rokok dari balik telepon. “Kau sudah menemui pelaku pembunuhan orangtuamu?” Theo diam sesaat mendengar pertanyaan yang diajukan Travis. Dia memejamkan matanya lalu teringat saat-saat ia harus berhadapan dengan pelaku yang telah membuat dia harus kehilangan kedua orangtuanya. “Sudah.” Hanya itu jawabannya dan Travis tidak bertanya lebih lanjut karena dia pastilah tahu perasaan Theo sekarang yang tidak baik-baik saja. Dia ingin Theo yang bercerita sendiri bukan atas dasar paksaan darinya. “Baiklah, hanya itu yang ingin aku sampaikan kepadamu. Jaga diri untuk kalian berdua dan selamat bertugas.” Sambungan terputus dan Theo memandangi jendela yang masih terdapat sisa salju. Tidak lama dari itu Nicholas membuka pintu kamarnya dan melemparkan roti kepada Theo. “Aku kelaparan dan hanya itu makanan yang kurasa bisa aku makan saat ini.” Setelahnya pintu kembali ditutup dan Theo tertawa pelan melihat roti yang masih ada di dalam plastik. Sepertinya itu roti cokelat dan stroberi yang dibeli Nicholas di toko kue dekat apartemen mereka. Pastilah ia menemukannya setelah memeriksa tempat melalui teropong. “Aku akan masak makan malam! Jangan membeli makanan lagi! Kita harus berhemat!” Theo berteriak dari kamarnya sambil mulai mengunyah roti. “Manusia itu baik juga meskipun menyebalkan.” ♚♛♜♝♞ Las Vegas tengah diguyur hujan yang cukup deras sore itu. Azalea tengah menelpon ibunya untuk mengabarkan dia akan makan malam di rumah. Kedua orang tuanya sudah pensiun dari kepolisian tahun kemarin. Sekarang kegiatan kedua orang tuanya adalah mengurusi rumah makan tradisional China warisan dari kakeknya. Rumah makan itu berada dekat pusat kota dan cukup ramai dikunjungi. Jea mempunyai dua saudara laki-laki yang lebih tua darinya. Evan yang lebih tua delapan tahun darinya, sudah menikah dan memiliki anak kembar berumur dua setengah tahun. Lalu Tobey yang enam tahun lebih tua darinya, masih singel dan tinggal di Texas sebagai atlet American Football. “Aku sedang menunggu taxi, Ma,” jawabnya sambil melihat taxi lewat namun sudah ada penumpang di dalamnya. “Tidak apa-apa, Evan tidak perlu menjemputku. Aku hanya perlu menunggu taxi sebentar lagi. Jangan khawatir, sebaiknya sekarang Mama melihat masakan di dapur, aku yakin Mama sudah meninggalkannya cukup lama,” di seberang sana Jea mendengar ibunya menepuk jari lalu sambungan terputus. Jea tertawa ringan sambil memasukkan ponselnya ke tas. Saat dia sudah melihat taxi lagi di ujung jalan dan akan menyetopnya, tiba-tiba mobil berwarna kuning terang berhenti di depannya. Mobil sport mewah yang mahal. Sekali lihat mereknya Jea tahu harga mobil itu bermilyar-milyar. Lalu siapa pemiliknya? “Kekeke, sepertinya tidak ada taxi yang ingin mengangkutmu. Mungkin kau terlalu besar untuk muatan taxi mereka atau juga mereka khawatir kau bisa mengempeskan ban mobil mereka,” tidak perlu disebutkan namanya untuk tahu siapa pemilik mobil yang kini berhenti di depan Jea. “Maaf saja mengecewakanmu Tuan Detektif, tapi aku sudah punya taxi yang akan kunaiki,” balas Jea dengan senyum lebar yang ia buat-buat. “Tidak masalah kau dapat, aku bisa membuat sopir taxi itu tidak akan mengantarmu, kekeke,” ucapnya dengan kilatan jahat. “Simpan saja omong kosongmu,” Jea segera meninggalkan mobil sang detektif lalu menyetop taxi yang sudah dilihatnya. Namun sebelum Jea sempat naik, tangannya sudah diseret paksa menuju pintu mobil sport mewah milik sang detektif. “Apa yang kau lakukan?!” “Sudah kukatakan aku bisa membuat dia tidak akan mengantarmu. Pria selalu membuktikan ucapannya,” ucapnya dengan penuh kemenangan. “Pergi, cari penumpang lain saja!” katanya pada sopir taxi. Sang sopir sempat menggerutu sebentar namun dia berlalu mencari penumpang lain. “Lepaskan! Aku ingin pulang!” Jea berusaha melepaskan tangannya dari sang detektif. “Aku akan melepaskanmu jika kau jadi anak kucing sialan yang baik,” dia berkata dengan ringan. “Masuk.” “Tidak!” “Baiklah jika kau tidak ingin menuruti perkataanku,” dia mengambil ponselnya dengan tangannya yang bebas. Mencari-cari sesuatu di sana lalu menunjukkan ponselnya pada Jea. “Ini nomor orangtuamu, kekeke. Akan kukatakan pada mereka kau diculik jika tidak menuruti ucapanku.” “Apa maumu! Kau picik, jangan membawa-bawa orangtuaku!” bentak Jea kesal. Polisi cantik itu menatap sang detektif dengan kilatan marah. “Kau menggangguku, kau sadar itu?” “Pria tidak akan mengganggu wanita jika wanita itu tidak menarik di matanya.” Mata hazel miliknya menampakkan kebingungan. Oh Tuhan, apa yang dikatakan detektif gila ini sepertinya tidak pernah masuk akal kecuali jika sudah menangani kasus. “Kau sudah membuang-buang waktuku. Minggir, aku harus pulang. Orangtuaku sudah menunggu di rumah!” “Bagaimana jika aku mengantarmu lalu aku ikut makan malam di sana, tentunya kalian tidak akan menolak seorang tamu yang ingin mencicipi masakan rumah makan kalian. Kekek, kecuali jika kalian adalah orang-orang sialan yang jahat,” ucapnya sambil menyeringai. Wajah tampan dengan mata tajam berwarna cokelat terang itu berada cukup dekat dari penglihatan Jea. Baru disadarinya ada kumis tipis di bagian atas bibir sang detektif, sepertinya baru dicukur beberapa hari yang lalu. "Dengan syarat kau tidak boleh membawa senjata api dan berkata tidak sopan!" "Kau menyebutku pendusta, jadi aku tidak akan berjanji untuk mengiyakan." Jea menatapnya tajam namun sang detektif tidak peduli. Dia membuka pintu mobilnya lalu mendorong Jea masuk. Kemudian dia mulai mengemudi untuk mengantar sang polisi cantik ke rumahnya. Ya, Azalea tidak mengerti mengapa detekif gila ini terus-terusan berada di dekatnya. Dia mendadak menyesal telah memulai awal kedekatan mereka kemarin. Tapi penyesalan selalu berada di akhir, jika di awal, namanya pendaftaran. Oh dear! TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN