New York City, Manhattan, 25 Desember 2018
Hari Natal yang indah membuat suasana ramai di sekitaran Manhattan. Meskipun cukup dingin, tetapi suasana sangat meriah dan bertabur kerlap-kerlip lampu warna-warni di setiap sudut. Hampir separuh masyarakat New York City keluar dan menikmati pesta Natal yang berlangsung hampir di semua tempat. Termasuk di dalamnya Theo yang berhasil mendapat jatah libur sesaat setelah latihan selesai. Hal pertama yang ia lakukan adalah kembali ke apartemennya lalu pergi ke tempat penitipan hewan.
Saat tiba di tempat penitipan hewan, Theo disambut gembira oleh Therby yang langsung memeluk Theo tanpa henti. Sementara Theron dan Theia menghampirinya lalu menempelkan tubuh mereka pada Theo. Kedua kucingnya memang tidak ekspresif seperti anjing, tetapi Theo tahu mereka juga sangat merindukan Theo.
“Kau tampak lebih kurus, Therby.” Theo mengusap kepala anjingnya yang masih memeluk Theo. Sang anjing merapatkan pelukannya. “Nanti kita akan berkumpul lagi, doakan aku selamat.”
Theia mengeong beberapa kali untuk mendapatkan perhatian Theo yang juga mengusap kepalanya. Theron justru menggigit kecil dan menjilati tangan Theo yang selalu menjadi mainannya saat bersama Theo. Dia benar-benar rindu kepada semua hewan peliharaannya. Dia sebenarnya tidak ingin menemui mereka agar mereka tidak kembali merasa sedih bila berpisah lagi nanti, tetapi Theo tidak bisa. Dia sangat merindukan mereka semua. Akhirnya dia menyempatkan datang meskipun sang petugas libur. Dia berjanji hanya meminta waktu satu jam bersama mereka sebelum tempat tersebut benar-benar tutup.
“Bulumu rontok, kau pasti memiliki hari-hari yang berat,” kata Theo kepada Theia yang ada di pangkuannya.
Ketiga hewan peliharaannya itu berada di pangkuan Theo. Meskipun tubuh mereka besar dan Theo kesulitan, tetapi dia sama sekali tidak merasa keberatan. Theia mendengkur halus saat Theo mengusap perutnya, Theron menjilati tangan Theo yang mengelus perut Theia, Therby memeluk Theo dengan sangat erat.
“Theron, kau jangan mengganggu mereka lagi. Theia dan Therby memang sudah terbiasa denganmu, tetapi hewan lain di sini tidak,” nasihatnya pada Theron sang kucing Caracal yang meskipun sudah jinak, tetap saja hewan buas.
“Di barak tempat kami latihan, ada kucing berwarna kuning dan hitam yang menjadi peliharaan juru masak di sana. Nama mereka Lora dan Bud. Aku selalu bermain dengan keduanya saat merasa merindukan kalian. Mereka kucing pintar dan juga penurut.”
Theia kali ini bangkit lalu mendengkur halus kemudian mendekati Theo dan mencium pipi Theo setelahnya mengusap-usapkan kepalanya ke kepala Theo. Theo paham sekali dengan tingkah Theia yang seperti itu. Itu artinya Theia ingin dielus di bagian kepalanya.
“Jangan cemburu, aku hanya berbagi cerita. Kalian tetaplah sahabatku apa pun yang terjadi,” kata Theo sembari menarik Theia untuk berbaring di atas dadanya.
Sang kucing pun mendengkur halus dan merasa sangat nyaman. Therby terlelap di samping Theo, sementara Theron menyandarkan kepalanya di pundak Theo. Sesekali tangannya memijat pinggang Theo dengan pelan. Hubungan hewan-hewannya dan Theo memang sangat erat. Ia sudah mengasuh mereka semenjak kecil. Hewan peliharaan pertama Theo adalah Theia yang ia adopsi dari umur dua bulan. Empat bulan kemudian ia memelihara Therby yang masih berusia tiga bulan. Lalu satu tahun setelahnya ia memelihara Theron yang ia rawat dari usia satu bulan setengah.
Setiap hari mereka selalu bermain dan kadang Theo mengajak mereka bergantian untuk jalan-jalan. Bahkan mereka sering berpiknik di taman secara bersamaan dan juga keliling New York menggunakan mobil. Meskipun Theo sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama.
“Mereka sangat merindukan Anda,” kata seorang petugas yang bekerja sebagai pemberi makanan kepada hewan-hewan yang dititipkan. “Caracal Anda waktu itu sempat menggigit petugas di sini karena saya rasa dia mengalami guncangan ketika Anda tidak ada. Mereka juga susah makan dan Husky itu tidak ceria sama sekali. Lalu Maine milik Anda juga selalu marah ketika didekati. Ikatan mereka dan Anda sangat kuat,” ucapnya sambil memperhatikan Theo dan hewan-hewannya yang berbaring di lantai.
“Untungnya dengan kesabaran dan ketelatenan kalian semua, mereka baik-baik saja dan mampu melewatinya,” kata Theo yang melihat senyum tulus sang petugas. “Ini masih malam Natal, Anda tidak libur?”
“Kalau saya libur, siapa yang akan memberi mereka makan. Lagi pula saya tidak merayakan Natal. Saya seorang Muslim.”
Rasanya mendengar pengakuan itu membuat Theo teramat sangat senang. Sudah lama dia tidak bertemu dengan orang yang seiman dengannya. Di negeri Paman Sam kebanyakan berasal dari imigran, termasuk pula sang petugas pemberi makan hewan saat ini. Dia imigran asal Sudan. Namanya Abdalla, Theo membacanya di kartu tanda pengenal.
“Alhamdulillah, Anda adalah seorang pahlawan, Saudaraku.” Theo tersenyum sangat tulus. Entah mengapa dia merasa tersentuh dengan kata-kata Abdalla yang mengakui dirinya seorang Muslim. Sementara dia selama ini seolah hilang arah dari kepercayaannya sendiri. Banyak hal yang dia lupakan dan sekarang seakan dia ditampar dengan perkataan Abdalla.
“Terima kasih, Saudaraku. Saya senang Anda menyebut saya saudara. Tidak banyak orang yang ingin bersaudara dengan kami para perantau apalagi ketika tahu saya seorang Muslim,” ceritanya.
“Kita seiman, jadi kita bersaudara. Tidak peduli dari mana asal Anda.”
Abdalla tersenyum lagi. Senyumnya manis dan dia masih sangat muda. Theo seperti melihat dirinya yang dulu berjuang di tengah keasingan dunia. Abdalla kemudian mendekat ke arah Theo yang berbaring di lantai bersama hewan peliharaannya, ia memberikan makan malam kepada ketiganya yang disambut sangat antusias. Bahkan Theron sangat lahap menerima suapan daging ayam dari tangan langsung.
Akhirnya tanpa diduga Theo dan Abdalla bercerita banyak hal mengenai apa saja yang menarik untuk dibahas. Sampai pada satu titik pembahasan yang membuat Theo akhirnya mengambil keputusan yang amat sangat mendadak. Dia akan pulang ke Indonesia untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun tidak pernah kembali.
Theo amat sangat berterima kasih karena Abdalla telah membuka banyak wawasan dan juga keyakinan Theo untuk kembali menemui makam kedua orangtua dan neneknya. Dia memutuskan untuk ke Indonesia besok dengan penerbangan pertama.
Akhirnya Theo pamit untuk mempersiapkan dirinya pulang. Sebenarnya dia sangat berat melepas hewan-hewan peliharaannya untuk ditinggal kembali, tetapi hal tersebut harus Theo lakukan karena terpaksa. Dia berjanji akan kembali dan tetap hidup untuk menjemput mereka kembali ke rumah.
“Saya titip mereka kepada Anda. Tolong jaga mereka dan berikan kasih sayang. Saya harus kembali bertugas membela negara,” kata Theo yang perlahan melepaskan pelukan Theia dan juga Therby yang amat sangat paham dengan kepergian Theo.
“Saya akan menjaga mereka dengan sepenuh hati. Selamat bertugas, Saudaraku. Semoga Tuhan selalu menyertai setiap langkahmu dan doaku akan selalu menggiringmu.”
Theo terharu, sudah lama tidak ada yang mendoakannya secara langsung. Theo pun tanpa ragu mengeluarkan uang untuk Abdalla. Dia berterima kasih atas doa yang diberikan pria itu.
“Ini untukmu, aku memberikannya bukan karena rasa iba. Aku memberikannya kepadamu karena kita bersaudara dan kau mendoakan aku secara tulus.”
Abdalla menangis terharu mendapat uang dari Theo. Jumlahnya tidak sedikit dan ia memang sedang butuh uang untuk biaya hidup dirinya dan sang adik. Theo berpamitan dan berjanji akan kembali datang kepadanya setelah selesai bertugas. Malam ini Theo mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga dan membuatnya kembali sadar dengan banyaknya tujuan hidup.
TBC...