Forty Three

1264 Kata
Hari ini merupakan hari terakhir pelatihan mereka. Theo dan Nicholas tentu saja senang luar biasa karena terbebas dari neraka yang mengerikan. Banyak hal yang terjadi selama mereka menjalani pelatihan. Theo mempunyai beberapa kenalan yang merupakan petugas dan sesama anggota militer. Mereka cukup akrab meskipun Theo menghormati mereka sebagai pelatih dan senior. Sementara Nicholas nyaris tidak peduli. Keduanya dijemput oleh anggota FBI. Mereka cukup terkejut dengan penampilan Theo yang lebih berisi. Theo yang jangkung sekarang sudah lebih berotot, tetapi tidak berlebihan. Porsi tubuhnya pas. Wajahnya terlihat semakin tegas dan mereka yakin bahwa Theo akan menjadi idola banyak perempuan di luar sana. Nicholas juga seperti itu, detektif yang dikenal gila itu juga memiliki pesona memikat yang luar biasa. Kabarnya beberapa pelatih wanita dan petugas di barak militer menyukai keduanya. “Kami akan diberi waktu liburan?” tanya Theo kepada anggota FBI yang menjemputnya. “Kami tidak tahu, Arnold tidak menyampaikan hal tersebut.” Nicholas ingin sekali menarik pistol yang disimpan anggota FBI itu di saku bajunya lalu mengancam mereka agar mengabulkan libur kemudian terbang ke Las Vegas. “Katakan pada pria tua itu aku akan tetap libur!” Theo menyetujui ucapan Nicholas. “Berikan ponselmu, aku ingin bicara padanya,” kata Theo dengan serius. Anggota FBI tersebut tidak punya pilihan. Dia memberikan ponselnya yang sudah tersambung ke Arnold. Tanpa basa-basi Theo berbicara dengan tidak sopan kepadanya. Arnold senang sekali mendengar suara Theo van Kuiken setelah sekian lama nada ketus miliknya tidak terngiang-ngiang di telinga. “Sayangnya tidak bisa, maaf,” ucap Arnold di seberang telepon dengan nada serius. “Tahun baru nanti mereka akan mengadakan pesta tertutup dengan para anggota mereka di seluruh dunia. Acaranya di Ukraina, kalian harus bergegas ke sana dan memantau situasi langsung. Kalian pastinya sudah siap dengan semua ini.” “Aku tidak sabar bertemu denganmu dan ingin meninggalkan bekas di kepalamu,” sahut Nicholas yang mendengar ucapan Arnold. “Aku pun tidak sabar menunggu kedatangan kalian di markas. Kami sudah membuat pesta kecil menyambut kedatangan kalian.” Theo langsung memutuskan sambungan dan mengembalikan ponsel. Ia mengangkat tas besar yang berisi perlengkapannya selama latihan. Dia benar-benar ingin segera keluar dari sana secepatnya. Theo memasukkan tasnya ke mobil lalu duduk dan diam di sana tanpa kata. Nicholas mengembuskan napasnya perlahan. Dia mengerti sekali kenapa Theo kesal dengan Arnold. Siapa yang tidak ingin libur setelah menjalankan pelatihan selama tiga bulan yang Nicholas yakin sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh Theo, hanya dirinya yang butuh karena dia memang tidak pernah. Theo ikut pelatihan hanya karena suruhan Arnold agar Nicholas ikut. Nicholas menjadi sedikit berbaik hati kepada Theo karena selama mereka satu kamar, banyak hal yang mereka lalui dan bagi satu sama lain. Dia yakin setelah ini mereka akan langsung dikirim ke Ukraina tempat organisasi tersebut bermarkas. “Hei, aku punya rencana dan tawaran menarik. Kau mau bergabung?” Theo menoleh ke arah Nicholas yang tersenyum aneh. Theo sudah hafal sekali dengan ekspresi detektif gila itu ketika dia menampakkan senyum tersebut. Sudah pasti itu rencana aneh dan berisiko. “Kau sudah dua kali menjerumuskanku dengan rencana dan tawaran menarikmu itu. Semuanya berakhir dengan mendapat hukuman semalam suntuk dan jatah makan berkurang,” jawab Theo dengan nada tajam. Nicholas Song tertawa dengan keras sampai membuat sopir mobil mereka terkejut. Dia ingat saat mengajak Theo untuk bermain curang dalam permainan kartu yang sering diadakan saat istirahat. Nicholas mengiming-iminginya uang hasil taruhan. Theo tidak bodoh, dia tentu saja menolak, tetapi dia akhirnya menurut karena Nicholas mengancam akan menelepon Zara setelah mereka selesai latihan dan mengatakan semua isi hati Theo kepadanya. Dia adalah orang yang sangat ahli bermain kartu karena judi merupakan hal yang paling disukainya. Oleh sebab itu Nicholas mempermainkan mereka semua dan Theo sebagai tumbal atas kekacauannya. Tidak hanya itu, Theo juga pernah kena hukuman akibat Nicholas yang mengajaknya untuk mencuri kunci ruang arsip. Nicholas mengatakan banyak data penting di kemiliteran yang ingin dia ketahui. Pada akhirnya semua berakhir gagal. Bukan karena mereka tidak cerdik, tetapi mereka memang tidak berniat serius dalam melakukan semua rencana tersebut. Keduanya hanya menjadikan hal tersebut sebagai hiburan serta latihan sebelum menghadapi dunia nyata. “Aku berniat melakukan yang ketiga kalinya.” “Ditujukan kepada siapa pemberontakanmu kali ini?” tanya Theo mulai sedikit serius. “Kepada tua bangka yang menjebloskanku ke latihan neraka.” “Kasihan sekali Natalnya tahun ini tidak akan tenang oleh ulahmu.” “Ya, aku berniat memberi tua bangka sialan itu hadiah Natal.” Theo mendengus sambil tertawa kecil. Dia mungkin bisa saja mengikuti rencana Nicholas kali ini dan akan mendapat hukuman lagi, tetapi dia ingat kebaikan Arnold sesaat sebelum dia pergi latihan. Atasannya itu memberikan informasi mengenai pembunuh kedua orangtuanya. Dia tahu hal tersebut mungkin cukup sulit karena kasus tersebut sudah sangat lama dan di luar wilayah kekuasaannya. Bukti yang sedikit dan juga saksi yang minim. Berhasil menemukan apa yang selama ini Theo cari adalah sebuah anugerah luar biasa. Jadi dia sangat berterima kasih dan akan jinak sementara waktu. “Kau akan kabur ke Las Vegas, menemui wanita yang kaucintai lalu bermain judi kemudian bersenang-senang dengan senjatamu. Tidak ketinggalan pula kau akan menemui adikmu. Terakhir kau akan melewatkan pertemuan mereka saat Tahun Baru yang seharusnya kita sudah berada di Ukraina untuk menjalankan misi dan semua itu kaulakukan sebagai bentuk protesmu kepada Arnold.” “Tidak heran banyak orang mengatakan kita mirip! Bahkan cara berpikirmu sangat mirip denganku! Sialan! Semakin hari aku semakin melihat kaca yang sangat nyata hidup di dalam dirimu.” “Karena apa yang akan kaulakukan juga akan aku lakukan bila aku tidak ingat kebaikan Arnold padaku sebelum aku pergi.” Nicholas tertawa terbahak-bahak lagi. Kali ini sampai membuat petugas FBI dan sopir nyaris menabrak sepeda yang terparkir. Dia memandangi Theo sambil terus tertawa dan berurai air mata. Theo sempat berpikir bahwa Nicholas mungkin kerasukan setan. “Harusnya kau berterima kasih kepadaku! Akulah yang menemukan pembunuh kedua orangtuamu! Kekeke! Lucu sekali! Tua bangka itu bahkan tidak mengatakan apa pun padamu?” Theo terkejut sejenak oleh kata-kata Nicholas. Jika dipikir-pikir sangat masuk akal. Selama ini Arnold tidak pernah memberikannya informasi mengenai siapa pembunuh kedua orangtuanya jika bukan Theo yang meminta langsung. Semenjak Nicholas Song datang, tiba-tiba pelaku pembunuh kedua orangtuanya berhasil ditemukan. “Kenapa kau tidak memberitahuku langsung?” “Kupikir dia mengatakannya kepadamu.” Theo terdiam setelah menerima kenyataan tersebut. “Kenapa kau mencari tahu mengenai pembunuh kedua orangtuaku? Bukankah kau tidak tertarik?” Kali ini Nicholas melirik Theo yang masih menatapnya tajam seakan tidak akan melepaskan dirinya sampai ia memperoleh jawaban. “Karena aku tidak ingin latihan sendirian. Syaratnya dia akan membujukmu dan aku memecahkan kasus pembunuhan kedua orangtuamu. Kau ikut latihan menemaniku, tetapi dia tidak mengatakan yang sesungguhnya. Atasanmu itu orang licik.” “Kau bukan bayi yang harus ditinggal sendirian,” ketus Theo. “Ada alasan lain yang kau coba tutupi.” “Kenapa kau berlagak menjadi detektif?” Nicholas terkekeh geli. “Aku berbaik hati padamu.” Theo diam sebentar. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dan mengakibatkan mereka perang mulut di dalam mobil. Selama di barak militer, keduanya hampir tidak pernah melewatkan hari tanpa perang mulut. Entah ada saja tingkah Theo yang membuat Nicholas kesal, begitu pula sebaliknya. “Tawaran yang kau ajukan tadi, apakah masih berlaku?” Untuk ketiga kalinya Nicholas tertawa dengan suara keras di dalam mobil yang mereka tumpangi menuju bandara untuk kembali ke New York City. Kali ini sang sopir nyaris jantungan. Sang agen FBI yang mengawal hanya mampu mengeluh dalam bahasa Spanyol. “Tentu saja! Kau ingin membuat dia merasakan imbas atas perbuatannya. Kekeke! Aku sudah membayangkan kakek tua tersebut jantungan kemudian mati.” “Katakan rencanamu karena aku juga perlu menyusun rencanaku sendiri.” TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN