New York City, Chinatown, 27 September 2018
Theo pergi sendirian di siang yang cerah itu karena dia akan memastikan sesuatu sebelum dia berangkat untuk latihan. Seperti biasa di kawasan Chinatown menjelang makan siang akan cukup padat. Makanan chinese memang digemari karena memiliki cita rasa yang unik untuk lidah orang Amerika. Hari ini Theo akan menyelidiki seorang pria bernama Jeff Chen. Dia anak dari Antony Chen yang tewas terbunuh akibat tembakan jarak jauh dari seorang penembak jitu. Kasus ini mengganjal pikiran Theo selama beberapa waktu. Dia pernah bertanya pada Nicholas mengenai pembunuhan tersebut, tetapi pria itu tampak tidak berminat berbagi informasi dengannya. Dia memang semenyebalkan itu pikir Theo.
Theo masuk ke sebuah restoran yang cukup ramai. Wangi rempah masakan chinese cukup pekat di ruangan tersebut. Ditambah aroma dari daging babi yang khas. Dia harus terbiasa dengan hal tersebut demi tugas meskipun hal tersebut bertentangan dengan batinnya.
Tidak jauh dari kasir, Theo melihat seorang pemuda yang kisaran umur dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun tengah memainkan ponselnya dengan serius. Tampaknya dia tengah mengawasi sesuatu dari ponselnya. Tidak salah lagi, Theo mengenali wajahnya sebagai Jeff Chen. Anak Antony Chen yang memiliki restoran chinese tempatnya sekarang berada.
Theo tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengorek informasi. Dia akan memulai aktingnya seperti biasa. Dia sudah menilai karakter Jeff secara singkat dan kemungkinan akurat. Pria muda itu pastilah menyukai teknologi dan gemar membahas dunia digital. Theo sendiri cukup menguasai materi aktingnya kali ini. Dia yakin bisa berbaur dengan Jeff Chen secara cepat dan mengorek informasi darinya terkait kematian sang ayah.
“Saya pesan Seafood Delight,” katanya kepada pelayan sambil terus memperhatikan Jeff yang masih serius memandangi ponselnya.
Theo melihat sekitar untuk memastikan semua aman. Ia kemudian memutuskan untuk ke toilet agar memiliki alasan untuk mendekat ke arah Jeff. Theo sudah berpesan kepada pelayan untuk meletakkan makanannya di meja ketika dia sedang di toilet. Tinggal beberapa meter lagi mendekati Jeff Chen, Theo sengaja menjatuhkan dompetnya di dekat Jeff dengan posisi terbuka yang memperlihatkan kartu identitas tempatnya bekerja. Tentu saja semua identitas tersebut palsu demi menarik perhatian Jeff.
Di kartu identitas tersebut tertulis bahwa dia menjabat sebagai salah satu staf ahli di perusahaan gawai yang sangat terkenal seantero dunia. Tentu hal tersebut menarik minat Jeff Chen yang dulu berminat bekerja di sana meskipun ayahnya kaya raya dan punya banyak saham di Wall Street, tetapi ayahnya melarang keras dia untuk bekerja di dunia teknologi.
Theo sengaja menunggu sedikit lama di dalam toilet untuk memberikan Jeff waktu berpikir apakah dia akan menyapa Theo untuk mengembalikan dompetnya lalu bertanya mengenai pekerjaannya atau dia sendiri yang akan menyeret Jeff masuk ke dalam jaringnya.
“Maaf, saya menemukan dompet Anda terjatuh ketika Anda membenarkan sepatu Anda tadi,” kata Jeff sambil menyerahkan dompet milik Theo.
“Wah benarkah?” kata Theo sambil memeriksa saku celananya. “Ah ya benar ini dompet saya!” katanya dengan mata berbinar.
“Silakan diperiksa terlebih dahulu apakah ada yang tercecer.”
Setidaknya Theo tidak perlu memancing terlalu dalam untuk membuat Jeff masuk ke dalam jaringnya. Ia memeriksanya dengan teliti hanya untuk memastikan bahwa dia benar-benar barangnya tidak ada yang hilang serta sengaja memegang kartu identitas kerjanya.
“Terima kasih! Saya sangat beruntung masih bisa ditemukan. Kartu ini lebih penting dari beberapa isi di dalam dompet saya. Ini kartu untuk bekerja.” Theo sengaja memakai trik psikologi yang diajarkan kepadanya untuk membuat lawan bicara bisa tertarik kepada.
“Sama-sama, saya senang membantu Anda,” jawabnya dengan senyum ramah. “Anda bekerja di perusahaan teknologi besar yang hebat. Saya nyaris bekerja di sana beberapa tahun lalu.”
Memang sepandai itu baginya bisa membuat orang menjadi tertarik. Mereka dilatih tidak hanya fisik saja, tetapi meliputi mental, keterampilan dalam berbagai hal, dan juga seni membaca karakteristik lawan dalam hal ketertarikan dan juga minat serta hal yang tidak disukainya.
“Benarkah? Anda menyukai dunia teknologi?” bagi orang lain mungkin aneh bisa mengakrabkan diri secepat itu dan terlihat dia benar-benar tertarik, tetapi semua ada tekniknya dan Theo tidak bisa membagikan hal tersebut kepada orang lain. Itu salah satu rahasia pelajaran di FBI.
“Ya, saya kuliah di jurusan itu dan sayang sekali mimpi saya harus musnah,” jawabnya diiringi senyum ringan. “Bagaimana mengenai produk baru kalian tahun depan? Aku sangat tertarik ingin tahu bila Anda tidak keberatan memberitahu saya.”
“Tidak, tentu saja tidak. Saya sedang makan di meja itu. Apakah Anda ke sini juga untuk makan? Kalau belum saya akan mentraktir Anda makan karena telah menemukan dompet saya!” Theo hanya berbasa-basi padahal dia tahu dengan pasti bahwa Jeff Chen adalah pemilik restoran tempatnya makan sekarang.
“Saya datang ke sini hanya untuk berkunjung. Saya sudah makan siang. Hm, saya hanya akan memesan minuman.” Theo sudah menduga bahwa Jeff tidak akan mengakui restoran ini adalah miliknya.
Theo setuju dan ia mengajak Jeff untuk duduk di bangku meja makannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengorek informasi dari Jeff. Sebelum duduk, Theo meletakkan alat perekam suara di bawah mejanya. Dia harus memperoleh informasi sebelum ia berangkat latihan bersama Detektif Joker.
♚♛♜♝♞
Theo memberikan hasil rekaman suara antara dirinya dan Jeff kepada Travis. Tidak ada Nicholas Song di sana karena detektif gila itu tengah berada di hotel dan kabarnya ia sedang bermain judi. Travis menerimanya lalu menyuruh Theo duduk di hadapannya.
“Arnold memberikan ini kepadaku untukmu,” kata Travis sambil menyerahkan amplop besar berwarna cokelat kepada Theo. “Isinya mengenai informasi tentang pembunuh kedua orangtuamu.”
Tanpa menunggu waktu lama bagi Theo untuk membuka amplop tersebut. Ia langsung melihat beberapa foto orang yang diambil secara diam-diam. Seorang pria paruh baya yang tengah duduk di persimpangan pasar. Perawakan wajahnya sangat tirus dan mata yang cekung. Melihat dari ciri-cirinya pria tersebut pastilah mengkonsumsi narkotika. Entah itu jenis sabu atau ganja, yang pasti dia pecandu obat-obatan terlarang tersebut.
“Dia menepati janjinya.”
Perasaan Theo berkecamuk saat tahu dan melihat foto wajah pembunuh kedua orangtuanya. Ingin saat itu juga ia pulang ke Indonesia lalu membalaskan dendam yang selama ini telah terpupuk di dalam hatinya. Dilihat Theo bahwa pria tersebut mempunyai tiga anak dari satu mantan istrinya yang telah bercerai sepuluh tahun silam kemudian dua anak dari istrinya yang sekarang dan tengah dalam proses perceraian. Semua data dirinya lengkap ada di sana beserta catatan kriminal. Dia pernah ditangkap atas kasus pemakaian narkoba dan pencurian motor. Namun, tidak ada kasus pembunuhan di sana yang membuat Theo geram.
Tidak hanya satu pria tersebut yang datanya diberikan Arnold. Ada beberapa pelaku lain yang berhasil Arnold selidiki setelah ia menggerakkan pasukan khusus yang lebih baik daripada pasukan beberapa waktu lalu.
“Aku tahu perasaanmu, tetapi aku mohon kau jangan bertindak gegabah. Serahkan kepadaku kasus tersebut, aku akan mengurusnya untukmu dan kau hanya perlu fokus pada latihan serta misimu.”
“Tidak, aku yang akan menyelesaikannya,” jawab Theo tanpa keraguan. “Kau boleh mengambil alih ini semua bila aku gugur dalam misi. Selama aku masih hidup, aku akan mengejar mereka sampai ujung dunia dan sampai napas terakhir mereka.”
“Baiklah, doaku menyertaimu. Kau harus kembali dengan selamat kemudian menyelesaikan kasus tersebut.”
“Tolong jaga semua dokumen ini. Aku tidak ingin menyimpannya di apartemenku. Aku takut ada temanku yang menemukannya,” kata Theo sambil menyerahkan kembali dokumen tersebut kepada Travis.
“Baiklah, semuanya aman di tanganku.”
TBC...