New Jersey, Trenton, 2 Oktober 2018
Ren mengaduk salad buah yang ia beli di restoran tidak jauh dari tempatnya menginap. Ia duduk di dekat jendela kamar sambil mengawasi sekitar. Agon sudah pergi entah ke mana tidak lama dari mengantar Ren menginap di hotel. Sepertinya pria itu menemui seseorang yang cukup penting. Ren tidak suka situasi seperti ini. Dia benci harus bersembunyi dari dunia indah di depan matanya.
Saat ia makan salad sambil melamun, wajah Jeff Chen terpatri di pikirannya. Pria itu kemungkinan saat ini adalah dalang dari orang-orang yang tengah memburunya perihal kematian sang ayahnya, tetapi dia juga tidak yakin itu ulah Jeff. Pasalnya pria itu pernah membawanya kabur dan melihat sisi gelap yang ia sembunyikan. Dia cukup baik untuk menyeret Ren menjauh dari polisi yang tengah mencari keberadaannya.
Saat Ren masih larut dalam lamunannya, Agon datang dengan mengetuk pintu. Ren membukanya dan ia mendapati Agon tergesa-gesa. Pria yang tua lima tahun darinya itu segera duduk di ranjang sambil menatap Ren dengan serius.
“Agen FBI di New York City dan Detektif Joker yang terkenal dari Las Vegas sudah tahu mengenai kita. Dua orang yang kabarnya bersatu untuk menyelidiki kita dan organisasi radikalisme telah menangkap anggota kita yang lain,” ucap Agon dengan berat.
Ren takut, jujur saja dia takut bila membayangkan tertangkap oleh mereka semua. Bukan hanya dirinya yang dalam bahaya, tetapi semua orang yang ia sayangi pun akan terancam. Meskipun ia bekerja untuk pemerintah negaranya, tetapi dia tidak punya jaminan untuk bisa lolos.
“Jeff Chen, anak dari Antony Chen kabarnya tengah mencari keberadaanmu.”
Pria itu sangat gigih meskipun ia telah melakukan hal jahat padanya. Ren berusaha setenang mungkin agar Agon tidak banyak bertanya padanya.
“Jadi apa yang akan kita lakukan?” Ren kali ini berusaha makan saladnya dengan benar.
“Kita harus kabur ke Mexico dan berangkat dari sana menuju Beijing. Melalui Kanada tidak terlalu aman.”
“Kapan?”
“Lusa, besok ada yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Kau bersiap-siaplah dan berwaspada sebaik mungkin.”
Agon memberikan Ren paspor baru. Ren melihat namanya di paspor tersebut. Dia sedikit tidak menyukai melihat nama pemberian atasan mereka. Nama yang sangat aneh dan kolot.
“Tidak bisakah mereka memberikan nama bagus?” protes Ren sambil melempar paspor tersebut di atas meja. “Susie Ming, terdengar seperti nama nenek-nenek.”
“Itu hanya identitas palsu, kau tidak perlu mempermasalahkannya.”
Ren kembali melanjutkan makan salad dengan tidak bernafsu. Agon melihat dari jendela hotel keadaan di luar. Sepertinya semua baik-baik saja. Dia khawatir mengenai kabar FBI dan Detektif Joker yang mencari mereka.
“Makan malam nanti jangan keluar. Pesan saja makanan di hotel. Aku takut mereka sudah sampai di sini mengawasi kita. Nama asli dan semua identitas kita sudah mereka ketahui. Kita akan bisa bebas dengan muda bila tertangkap.”
“Aku tidak akan keluar dari kamar dengan satu syarat,” kata Ren dengan serius. Agon menatapnya tidak suka. “Aku ingin menghubungi Jeff Chen.”
Agon terkejut bukan main mendengar permintaan Ren pasalnya Jeff Chen adalah anak dari pria yang mereka bunuh dan tidak seharusnya Ren ingin menghubungi pria tersebut. Dia sudah sengaja mengamankan Ren agar mereka tidak ketahuan.
“Apa sebenarnya yang kaupikirkan? Mengapa kau ingin menghubunginya?”
Ren meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar. Dia memang tidak suka Agon yang terlalu mengekangnya. Dia pun tidak ada niat bermacam-macam menghubungi Jeff Chen. Ren hanya ingin memastikan bahwa bukan pria tersebut yang telah membongkar rahasianya pada polisi dan FBI. Ren dapat merasakan firasat pria itu baik.
“Dia menolongku. Ayahnya dibunuh olehku dan dia menolongku untuk kabur.”
Agon tidak pernah mendengar hal tersebut dari Ren. Ternyata wanita tersebut menyimpan informasi sepenting itu darinya. Dia mendekati Ren kemudian menampar pipi Ren dengan cukup keras. Dia memang mencintai Ren, tetapi hal yang dilakukan Ren adalah hal yang tidak bisa dimaafkan karena hal tersebut dapat membahayakan keduanya. Sudah banyak agen mereka yang berkhianat karena jatuh cinta pada target sendiri dan akhirnya memutuskan berkhianat lalu kabur.
“Akan aku laporkan tindakanmu kepada atasan. Kau tidak akan bisa berbuat sesuka hatimu lagi.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Agon pergi meninggalkan Ren yang tersenyum getir sambil merasakan tamparan di pipinya. Sudut bibirnya terluka dan terasa perih serta rasa darah yang tidak ia suka mulai berbaur dengan air liurnya. Ren sudah biasa mengalami rasa sakit dan hal tidak mengenakkan seperti ini. Dia sudah lelah dan ingin mati saja.
♚♛♜♝♞
New York City, Greenwich Village, 1 Oktober 2018
Harus Bill akui ia lalai malam ini karena sang target berhasil melarikan diri setelah ia mengorek informasi dari penjaga apartemen. Bagaimana dia tidak sadar bahwa sang target telah melarikan diri? Semua karena ia melihat mobil mencurigakan yang melaju cukup kencang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan juga ia sempat melihat wajah Agon yang sudah berhasil mereka ketahui dari ahli sketsa wajah yang dikumpulkan dari banyak saksi mata.
Sayangnya Bill tidak sempat mengejar mereka karena saat itu ada pemuda mabuk yang mengganggunya dengan cara meminta rokok. Bill nyaris saja membuat pemuda tersebut babak belur, tetapi ia ingat hal tersebut tidak dibenarkan karena pemuda itu tidak mengancam keselamatannya. Tidak lupa untuk memastikan ia akhirnya nekat masuk mencari jalan untuk masuk ke apartemen tersebut. Saat ia melewati belakang apartemen, Bill membuka pintu yang tidak terkunci. Ia akhirnya masuk ke apartemen tersebut lalu langsung menuju lantai empat. Yang ditemuinya di sana adalah ruangan yang masih hangat. Wangi sabun dari kamar mandi masih tercium cukup kuat. Shower yang masih meneteskan sedikit air. Dengan cepat Bill mengidentifikasi tempat tersebut untuk mencari petunjuk. Namun, usahanya sia-sia karena ia tidak menemukan apa pun di apartemen sewaan tersebut.
“Mereka lolos,” lapor Bill pada Arnold. Setelah itu Bill diperintahkan untuk datang ke markas bersama Fabio.
Saat tiba di markas ia melihat Fabio yang baru selesai dari toilet. Bill dan Fabio akhirnya duduk pada satu meja. Mereka memasuki akses ke kamera pengawas di pinggir jalan. Dari sana Bill dan Fabio mengetahui nomor mobil yang ditumpangi Agon dan Ren. Tidak ketinggalan mereka juga melacak beberapa kamera pengawas jalan lainnya. Setelah mendapat beberapa informasi dan melihat bahwa mobil keduanya menuju New Jersey, Bill Dallas menghubungi Arnold untuk memintanya menelepon atasan FBI di sana guna melcak keberadaan mereka.
“Kau mengetahui motif mereka membunuh Antony Chen?” tanya Fabio kepada Bill.
“Belum tahu, oleh sebab itulah kita harus bisa menangkap mereka sesegera mungkin. Ini sudah memakan banyak waktu dan divisi kita pasti akan malu bila kita gagal.”
“Beberapa petunjuk yang ditinggalkan Detektif Joker tentang mereka sangat membantu banyak, tetapi motif sebenarnya yang tidak kita ketahui. Memang sulit berurusan dengan agen. Data tentang mereka seakan dimusnahkan dari muka bumi.” Fabio meneguk air minum dengan perlahan. “Ren, wanita itu terlihat mjauh lebih muda dari gambar ahli sketsa yang ditampilkan,” komentar Fabio setelah melihat wajah Ren di kamera pengawas.
“Meskipun muda dan cantik, dia tetaplah pembunuh yang berbahaya. Jangan tertipu dengan penampilannya.”
“Tunggu sebentar,” kata Fabio memotong fokus Bill pada kamera pengawas. “Sepertinya aku pernah melihat orang yang mirip Agon ini di suatu tempat baru-baru ini.”
Bill menatapnya dengan serius. Padahal harusnya Fabio sadar bila itu memang benar Agon saat mereka bertemu atau pernah saling lihat karena semua anggota FBI sudah mengenali wajahnya dan mendapat predikat orang paling dicari saat ini bersama Ren.
“Benar! Dia yang mengantarkan paket ke rumahku tempo hari! Ibuku yang menerimanya, aku sempat melihatnya dari lantai dua!”
“Dia terlihat mencurigakan?” tanya Bill dengan gusar.
“Tidak, dia layaknya pengantar barang biasa. Dia bahkan berperilaku sangat ramah kepada Ibuku. Sialan! Dia pasti tahu tentang kita makanya mereka berhasil kabur.”
“Laporkan hal ini kepada Arnold dan Travis. Kita harus menangkap mereka sebelum mereka lolos.”
TBC....