New York City, Greenwich Village, 1 Oktober 2018
Bill masih mengawasi apartemen yang diduga kuat sebagai tempat persembunyian seseorang yang telah mereka selidiki beberapa waktu lalu. Apartemen bertingkat enam di daerah Greenwich Village. Ia seorang diri bertugas malam itu di dekat daerah sana. Berpura-pura mengunjungi salah satu restoran di dekat sana sambil sibuk mengawasi satu titik.
Mereka berhasil mengumpulkan bukti setelah Nicholas turun tangan. Harus ia akui detektif gila itu luar biasa. Kemampuannya dalam penyelidikan meskipun sudah lewat beberapa bulan kejadian sungguh patut diacungi jempol. Oleh sebab itu jalan tersebut mulai bisa terbuka dan ditelusuri.
Kemungkinan mereka tebak dari sang penembak jitu yang membunuh Antony Chen adalah seorang agen mata-mata Rusia atau negara lain yang memiliki perselisihan dengan Antony Chen. Mungkin saja Rusia atau Tiongkok. Dua kemungkinan itu mereka pegang karena mereka belum tahu pasti, oleh sebab itu Bill Dallas mencari tahunya atas perintah Arnold Lewis.
Anak dari Antony Chen pun tidak lepas dari pantauan mereka karena mereka mengetahui hubungan ayah dan anak tersebut tidak akur. Pihak kepolisian pun telah melimpahkan ke FBI kasus tersebut untuk diselidiki lebih lanjut karena menyangkut keamanan negara.
Bill berpura-pura menjadi pengunjung restoran biasa yang datang sendiri sembari menyapa kucing-kucing lewat dan berinteraksi dengan mereka. Hal tersebut bisa menjadi penyamaran yang cukup baik. Ia hanyalah pria yang ingin ke restoran dan tidak sengaja bertemu kucing jalanan lalu memberi mereka makan. Setidaknya seperti itu pandangan yang orang lihat tentangnya.
Sebenarnya Bill tidak sendiri, ada dua rekannya yang lain mengawasi dari sisi timur dan barat. Mereka tidak ingin kehilangan jejak penjahat yang telah menimbulkan kekacauan cukup besar. Dia mengambil ponselnya dan berlagak tengah memfoto kucing jalanan. Padahal dia memfoto lokasi pengawasannya untuk dilaporkan kepada atasan.
“Wah kalian lucu sekali,” ucap Bill sambil mengusap-usap kepala kucing yang masih berada di dekatnya. “Terima kasih telah membantuku malam ini. Theo yang mengajarkan teknik ini kepadaku dan lumayan berguna,” ujarnya.
Sudut mata Bill awas memperhatikan apartemen yang berada di lantai empat. Lampu di ruangan tersebut hidup, tetapi redup yang menandakan ada orang di dalam sana. Tidak ketinggalan juga tadi Bill sempat melihat lampu di lantai yang sama, tetapi berbeda ruangan sempat hidup sebentar.
“Hei, mau membatuku sekali lagi?” tanya Bill pada kucing jalanan yang masih menikmati makannya. “Bantu aku untuk berlari ke arah apartemen itu. Buatlah seolah aku mengejarmu.”
Dia tahu memang berbicara dengan hewan tidak akan menghasilkan apa-apa. Sang kucing tetap saja tidak peduli. Akhirnya Bill memilih jalan lain. Ia berpura-pura untuk meminjam pemantik api kepada penjaga gedung tersebut. Dia akan mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari pemilik gedung mengenai penghuni di lantai empat.
“Boleh aku meminjam pemantik api? Pemantik milikku entah jatuh di mana,” kata Bill kepada penjaga apartemen. Sang penjaga meminjamkan pemantik api miliknya dan Bill menawarkan rokok kepadanya. “Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah meminjamkanku pemantik ini. Udara cukup dingin malam ini dan aku baru saja selesai makan. Mungkin karena aku terlalu lama di luar sambil bermain dengan kucing di sana,” ceritanya untuk memperpanjang waktu sambil mengintip keadaan di dalam apartemen.
“Terima kasih, kebetulan sekali rokokku tinggal dua batang dan aku masih harus bekerja sampai pagi.”
“Apakah ada lantai yang kosong di sini? Temanku kebetulan mencari tempat tinggal di sekitar sini. Dia baru pindah dari Texas.” Bill memulai keahliannya mengorek informasi.
“Sayang sekali, semua lantai baru saja penuh. Seminggu yang lalu seorang wanita baru saja menempatinya.”
Bill berhasil memancing ikan dengan umpan. Dia tentu tidak ingin kehilangan informasi tersebut dan tidak juga ingin terlihat mencurigakan bagi penjaga apartemen tersebut.
“Sekilas dari luar apartemen ini terlihat sangat nyaman. Temanku suka gaya klasik seperti tipe apartemen ini. Sayang sekali keluarga itu sudah menempati tempat itu lebih dulu.”
“Dia tidak berkeluarga, hanya sendirian. Wanita muda berwajah Asia. Sempat menyapaku beberapa kali. Cukup ramah meskipun dia tidak senyum. Kudengar biasanya orang Asia selalu tersenyum saat menyapa.”
Itulah yang Bill inginkan. Sang target berbicara lancar dan banyak informasi yang ingin ia ketahui. Untungnya penjaga apartemen tersebut tidak menganggapnya pengganggu. Akan sangat bahaya bila dia curiga sedikit saja.
“Banyak sekali orang-orang muda yang merantau ke New York City untuk bekerja atau hanya untuk tinggal. Orang Asia memang seperti itu, mereka kebanyakan kaya raya.”
“Benar sekali, wanita dari lantai empat itu juga terlihat seperti orang kaya. Aku beberapa kali melihatnya membawa mobil mewah atau diantar mobil mewah. Memang orang Asia luar biasa,” ucap penjaga apartemen tersebut sambil terus merokok dan duduk di kursi kecil yang hanya punya satu meja.
“Wah dia sangat kaya sepertinya, apa pekerjaannya? Aku jadi ingin tahu. Mungkin aku bisa melamar pekerjaan sepertinya.”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Kurasa dia pegawai pemerintah atau pegawai swasta. Dari nada bicaranya dia memiliki logat yang cukup kental. Aku pernah ditawarinya makan malam saat dia baru pulang bekerja. Dia membawakanku burger dan kopi untuk menamaniku berjaga.”
Banyak informasi yang Bill dapat mengenai wanita tersebut. Dia terlihat cukup baik mengakrabkan diri dengan penjaga keamanan apartemen agar tidak dicurigai sebagai agen yang telah membunuh orang cukup berpengaruh di Amerika. Wanita mengerikan itu bahkan memiliki kemampuan yang istimewa dalam menembak dari jarak yang cukup jauh.
♚♛♜♝♞
Theo dan Nicholas disambut oleh petinggi militer tempat mereka menjalani latihan. Keduanya merupakan agen khusus yang akan dilatih oleh pihak militer setelah mereka mengadakan kerja sama. Baik Theo maupun Nicholas tidak terlalu senang menghadapi pelatihan yang akan memakan waktu kurang lebih tiga bulan.
“Aku sudah banyak mendengar cerita tentang kalian berdua. Theo van Kuiken dan Nicholas Song. Agen FBI dan Detektif Joker yang prestasinya sangat bagus.”
Kesamaan keduanya adalah sama-sama tidak suka pujian. Theo dan Nicholas lebih suka ucapan tulus dibanding ucapan basa-basi yang memuakkan. Andai senapang laras panjang miliknya ia pegang saat ini, mungkin sang pimpinan akan ia tembak meskipun hal tersebut mustahil ia lakukan di kandang mereka.
“Saya senang kalian berada di sini dan suatu kehormatan bisa melatih militer kalian berdua. Mungkin bagi Mr. Theo hal ini sudah biasa, tetapi ini hal baru bagi Mr. Detektif Joker. Anda memang sering membantu pemerintahan dan kepolisian, tetapi saya lihat Anda belum pernah menjalani pelatihan militer. Jadi selamat datang di pelatihan kali ini. Saya yakin Anda bisa menghadapinya.”
Nicholas mendecih pelan dan menampakkan ketidaksukaannya secara nyata. Beberapa pelatih dan juga pimpinan divisi terlihat menahan geram mendapati Nicholas yang seperti itu. Theo akhirnya meminta maaf karena rekannya tersebut memang belum terbiasa dengan dunia militer. Theo tidak ingin mereka mendapat siksaan berat di pelatihan kali ini akibat ulah Nicholas.
“Baiklah, sekali lagi saya ucapkan selamat atas kedatangan kalian berdua. Selama tiga bulan kalian akan menjalani banyak latihan mulai dari menembak, menjinakkan bom, bela diri, lepas dari tangkapan, dan lain-lain. Saya harap kita dapat bekerja sama dengan sebaik mungkin mulai sekarang.”
Setelah selesai keduanya diantar ke tempat peristirahatan mereka. Hanya ruangan kecil yang memiliki dua ranjang terpisah oleh jendela dan meja. Kamar mandi di luar dan juga ada lemari besi untuk pakaian di dalam kamar. Selebihnya tidak ada yang menarik di dalam ruangan tersebut. Dari jendela mereka bisa melihat lapangan tempat latihan. Ada beberapa regu yang tengah latihan saat ini. Nicholas langsung merebahkan dirinya di kasur yang tidak empuk sama sekali. Perjalanan panjang dari New York City ke tempat latihan mereka yang dirahasiakan sangat membuat lelah.
“Aku berharap punya pintu ke mana saja saat ini,” kata Nicholas yang cukup kelelahan. “Sialnya kita harus terkurung di tempat sampah seperti ini.”
Theo tidak menanggapi. Ia sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari dua pintu. Sebelah untuknya dan sebelah untuk Nicholas. Tidak beberapa lama kemudian Nicholas membuka jaketnya. Ia melemparkannya ke lantai kemudian membuka sepatunya dengan sembarang. Theo sama sekali tidak peduli karena apa yang Theo lakukan sering ia lakukan di tempat tinggalnya.
“Bagaimana kau bertahan sewaktu latihan di sini dulu?”
“Membaca buku,” jawabnya sambil meletakkan pakaian.
“Kau sama sekali tidak menyenangkan sebagai manusia,” kesal Nicholas yang sekarang mengambil jaketnya lalu melipat sembarang kemudian memasukkan semua pakaiannya ke dalam lemari.
“Aku memang tidak ingin menjadi orang menyenangkan.”
Saat keduanya sama-sama sibuk membereskan pakaian, pintu kamar mereka diketuk. Seorang petugas memberitahukan agak keduanya mengambil seragam dan memotong rambut. Theo dan Nicholas sama-sama benci kala rambut mereka akan dipangkas sesuai standar militer.
TBC...