New York City, Morningside Heights, Columbia University Libraries, 27 Maret 2010
Theo menatap lekat layar komputer yang ada di perpustakaan tempatnya bekerja paruh waktu. Di sana terpampang foto seorang perempuan dengan senyum menarik. Wajahnya manis dengan poni di dahi serta gigi gingsul di sebelah kiri. Perawakannya khas orang Palembang asli dengan mata sedikit sipit dan kulit putih bersih. Namanya Nyimas Zara Nursandi, Theo mengenalnya semenjak lima tahun silam di tempat latihan taekwondo.
Awalnya biasa saja bagi Theo saat Zara dan dirinya dipasangkan untuk menjadi lawan di latihan pertama taekwondo di tempat baru setelah ia pindah sekolah dan tinggal di tempat pamannya. Saat itu Theo memegang sabuk hitam DAN I dan Zara sama sepertinya. Keduanya cukup dekat dan bertemu seminggu sekali saat latihan. Mereka berbeda sekolah. Zara anak orang berpunya, ayahnya pejabat di pemerintahan kota sementara ibunya mempunyai usaha tenun kain songket khas Palembang. Zara dan dirinya sering menghabiskan waktu setelah latihan dengan makan bakso, mie tek-tek atau tekwan di dekat tempat latihan. Meskipun Theo selalu menolak traktirannya, tetapi Zara tetap membelikan Theo makanan karena ia yang mengajak Theo untuk makan. Di tempat latihan taekwondo maupun pencak silat, Theo selalu menjadi idola di kalangan kaum hawa. Wajah campurannya unik dan sangat menarik. Jarang ada orang berdarah campuran di sekitaran pertemanan Theo, jika pun ada biasanya berdarah Arab atau China.
Zara selalu menganggap Theo sahabat. Hanya dia yang tidak melihat Theo dari fisik. Saat itu Zara mengaku dia sudah mempunyai kekasih yang telah berpacaran dengannya sedari kelas tiga sekolah menengah atas. Theo pun menganggap Zara teman wanita pertama yang dapat akrab dengannya. Zara selalu ceria serta sangat suka membaca dan menonton. Ia dan Theo sering bercerita mengenai buku bacaan. Kadang Zara meminjamkan Theo buku bacaan dan mengajak Theo menonton film di bioskop.
Semuanya biasa saja dan berjalan lancar sampai Theo merasa ada hal lain yang mengusik hatinya ketika melihat Zara dijemput oleh kekasihnya di tempat latihan. Pertama kalinya ia terganggu setelah dua tahun mereka kenal akrab. Theo dengan pemikiran rasionalnya selalu menganggap itu hal wajar karena rasa khawatir terhadap temannya. Ia yang perasa juga mengatakan pada hatinya bahwa itu hanyalah sebuah rasa biasa antar pria dan wanita. Ia buta dengan perasaan cinta. Seumur hidupnya Theo merasa dicintai hanya oleh kedua orangtua dan neneknya dan begitu pula sebaliknya. Ia buta rasa bagaimana mencintai orang lain dan tidak tahu rasanya dicintai orang lain.
Sanggahan selalu ia sematkan setiap kali ia berpikir mengenai rasa aneh yang menyapa hatinya. Ia dan Zara hanya bersahabat. Tidak boleh lebih dari itu dan hanya sebatas itu. Ia tidak ingin mengusik persahabatan dengan rasa lain yang tidak seharusnya berada di tempat tersebut. Theo selalu menekan perasaan yang dimilikinya, rasanya tidak enak saat merindu bertepuk sebelah tangan. Theo yang rasional dan cerdas pun pernah menjadi bodoh saat ia merasakan jatuh cinta kali pertama. Ia uring-uringan. Bertanya pada angin dan ruang kosong apakah perasaannya ini wajar. Ia pernah tidak makan selama dua hari hanya karena rasa rindu yang menghantamnya setelah lama tidak bertemu dengan Zara karena latihan diliburkan. Ia pernah dengan sengaja malas mengerjakan tugas sekolah karena pikirannya hanya tertuju pada satu objek, Zara. Nafsu makannya turun drastis hanya karena ia tidak mempunyai pulsa untuk mengirim pesan pada temannya sekadar menanyakan latihan atau tidak. Semua kenangan yang ia ingat bagai film di otaknya, ia pengingat maka tidak mudah baginya untuk melupakan. Semua memori itu mengejeknya terus menerus, kadang Theo benci fakta mengenai kelainan langka yang ia miliki. Ia benci karena mengingat semua hal yang pernah melintas di hidupnya dan itu sulit untuk dilupakan.
Satu tahun berlalu kabar terakhir yang Theo tahu tentangnya yaitu ia berkuliah di universitas swasta bergengsi di Jakarta. Mengambil jurusan bisnis karena ia akan melanjutkan usaha ibunya. Terakhir kali Theo bertemu dengannya saat ujian kenaikan tingkat taekwondo, setelahnya ia memutuskan istirahat karena fokus pada sekolah untuk ujian akhir dan masuk perguruan tinggi. Theo tidak punya nomor ponselnya yang baru atau telpon rumahnya. Ia juga tidak tahu di mana rumah Zara, yang Theo tahu tentangnya hanya melalui f*******:. Theo tidak berani mengirimkan permintaan pertemanan kepadanya, ia hanya melihat profil Zara dalam diam. Dia takut saat ia mulai terbiasa dengan rasa seperti dulu dan apa yang akan ia dapatkan tidak berkembang karena egonya sendiri berkata ia tidak ingin merusak pertemanan, tetapi hati kecilnya menginginkan ikatan lebih. Dia takut kecewa karena hatinya bisa terluka dalam dan itu sulit baginya untuk melupakan serta bangkit karena daya ingatnya yang sangat kuat sering menjadi faktor kegagalannya.
Theo menutup halaman Facebooknya dan ia mulai menghela napas. Ia tahu rasanya jatuh cinta itu tidak enak apalagi tidak berbalas maka Theo memutuskan untuk tidak akan jatuh cinta dan membatasi diri sebisa mungkin pada lawan jenis yang berpotensi mengganggu hari-hari tenangnya. Ia selalu seperti itu, menutup diri agar orang tidak mengetahui kelemahan apa yang ia miliki. Theo benci orang bisa menebak dirinya dengan sangat mudah.
“Hei, bisa tolong ambilkan buku itu?” seorang perempuan meminta tolong kepada Theo untuk mengambil buku yang berada di barisan paling atas.
Theo mengambilkan buku yang dimaksud perempuan itu lalu memberikannya. Ia tersenyum kepada Theo kemudian berlalu. Theo kembali melanjutkan pekerjaannya menyusun buku di rak besar. Tahun pertamanya berkuliah sebagai mahasiswa internasional di Amerika membuatnya hanya bisa bekerja di dalam kampus seperti perpustakaan atau kantin kampus. Upah yang ia dapat cukup untuk ia tabung jika suatu saat ia terdesak kembali ke Indonesia. Beasiswa hanya memberikan dua tiket penerbangan. Satu saat ia pertama kali datang ke Amerika untuk belajar, satunya saat ia telah selesai kuliah di Amerika untuk pulang. Selama ini biaya hidupnya ditanggung oleh beasiswa yang ia dapat. Mulai dari biaya tempat tinggal, makan dan kebutuhan lain, hingga transportasi.
“Hei Mel, aku pulang duluan. Jam kerjaku sudah habis,” pamit Theo pada Melinda, seorang wanita dewasa yang bekerja tetap di sana. Ia tengah mengetik sesuatu saat Theo berpamitan. Di luar sudah sore dan Theo berniat untuk berbelanja sedikit untuk memasak makan malamnya.
“Aku punya sesuatu untukmu,” ucapnya yang menghentikan langkah Theo membuka pintu untuk keluar. Ia mengeluarkan satu karton bungkusan cukup besar dan menyerahkannya kepada Theo. “Mike memberikannya kepadaku, tapi aku sedang diet. Kau bersedia menggantikan aku untuk memakannya?” Theo terkekeh pelan. Ia mengangguk.
“Terima kasih, Mel. Kau boleh memberikanku makanan sebanyak apa pun selama itu tidak beracun.”
Melinda Spencer membalas tawa Theo dengan renyah. Ia memang sedang diet karena seminggu yang lalu ia baru saja pulang dari Thailand. Tubuhnya sedikit berisi dan ia memutuskan untuk diet demi kekasih tercintanya. Sayangnya hari ini sang kekasih memberikan ia kue sebagai perayaan dua tahun mereka berpacaran. Alhasil kue itu hanya menjadi peneman pekerjannya selama beberapa jam di dalam ruangan perpustakaan. Keputusan tepat ia buat sesaat melihat Theo van Kuiken yang menyapanya untuk berpamitan pulang. Ia tahu mahasiswa seperti Theo pasti sangat menyukai pemberian makanan maka tanpa ragu ia memberikannya.
Hari telah sore ketika Theo berjalan kaki untuk kembali ke unit apartemennya setelah tadi ia berbelanja bahan pokok. Ia membeli sambal instan di toko Asia karena Theo pernah mencoba memasak sambal di asramanya dan gagal lalu protes dari beberapa penghuni asrama karena aroma sambal saat dimasak membuat mereka batuk. Satu hal yang membuat Theo jadi mencintai tanah airnya dengan sangat dalam adalah rasa nyaman yang tidak ia dapat di negara orang.
Theo menaiki tangga apartemen kecil di daerah Morningside Heights, hanya berjarak satu blok dari kampusnya. Setelah dua bulan berada di asrama yang berjarak sekitar dua belas blok dari kampus, Theo mengajukan untuk pindah ke apartemen yang lebih besar dan berbagi ruangan dengan dua orang mahasiswa lainnya. Satu mahasiswa perempuan bernama Alice yang berasal dari Australia, satunya Tushar dari India. Mereka cukup akrab, Theo sering berbagi makanan dengan keduanya, begitu pula sebaliknya. Alice seumuran dengannya sementara Tushar ia sudah berada di tahun ketiga.
Ketiganya adalah mahasiswa di Columbia University, salah satu kampus bergelar Ivy League di Amerika. Kampus dengan kategori hampir sempurna yang terdiri dari delapan universitas bergengsi di Amerika. Masuk ke universitas tersebut tidaklah mudah, sangat ketat serta cukup mahal. Theo masih tidak percaya ia adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang berhasil menerima beasiswa penuh dari pihak Columbia University tahun lalu. Pasalnya ia harus bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkannya. Perjalanannya untuk mendapatkan semua ini tidak mudah, Theo bekerja keras mati-matian karena ia orang tidak berpunya.
Theo selesai meletakkan belanjaanya di dapur dan memasukan kue ke dalam kulkas setelahnya Theo memasuki kamarnya. Dua temannya belum pulang ke apartemen maka Theo memutuskan untuk mandi. Setelah selesai mandi, Theo membuka ponselnya. Ia benar-benar terkejut saat membuka f*******:, pasalnya ada satu permintaan pertemanan dari orang yang paling ia rindukan. Nyimas Zara Nursandi.
Hatinya tidak keruan. Jantung Theo berdetak dengan sangat cepat dan napasnya nyaris tercekat. Apakah Tuhan tengah berbaik hati lagi kepadanya sekarang?
TBC...