Eleven

1276 Kata
New York City, Manhattan, 12 Juli 2014 Sabtu siang di dalam restoran bergaya Eropa yang cukup besar dengan ornamen klasik menghiasi setiap sudut ruangan terasa seperti berada di dunia dongeng. Baru kali ini Theo memasuki tempat yang dulu pernah ia lihat di dalam film. Matanya berkeliling menelusuri setiap lekuk tempat ia berada sekarang. Ia akan menyimpan gambaran ruangan indah itu di dalam otaknya sebagai pengingat jika suatu saat ia berniat membuat film yang akan ia sutradarai sendiri dan ia tonton sendiri di dalam imajinasinya. “Ada yang bisa saya bantu?” seorang pelayan menghampiri Theo yang tengah ragu untuk masuk ke dalam restoran lebih dalam. “Saya ada janji bertemu dengan Arnold Lewis.” Sang pelayan mengarahkan Theo untuk mengikutinya ke meja tamu lalu ia memeriksa daftar tamu yang makan siang di restoran mereka sekarang. Ia menemukan tamu dengan nama Arnold Lewis kemudian sang pelayan mengantarkan Theo ke meja yang telah berisi pria paruh bayah dengan jas hitam mahal dan perawakan yang cukup bugar untuk ukuran pria berumur sepertinya. Rambutnya sudah mulai beruban di bagian depan. Tubuhnya sama tinggi dengan Theo, tetapi dia jauh lebih berisi karena otot. “Arnold Lewis,” ucapnya memperkenalkan diri. “Silakan duduk.” Theo mengangguk dengan sopan lalu duduk di depan sang pria yang terlihat mempunyai jabatan cukup tinggi di FBI. Mata pria itu menatap Theo dengan tajam, Theo tahu ia tengah dibaca oleh Arnold maka Theo mempersilakan sang agen FBI senior itu membaca dirinya. Ia akan melihat sejauh mana mata tajam itu membaca dirinya. “Anda tentu tahu mengapa Anda berada di sini saat ini,” ucapnya dan ditanggapi Theo dengan anggukan. “Bisa dikatakan sangat jarang bagi kami untuk merekrut orang tanpa jalur pendaftaran. Kami melihat potensi yang Anda miliki sangat luar biasa.” “Apakah Anda tidak memikirkan bahwa saya sangat mencintai negara saya dan Anda membuat saya harus pindah kewarganegaraan hanya demi bergabung dan melindungi negara Anda tapi bukan negara saya sendiri?” “Apakah di negara Anda sendiri akan memiliki hasil yang sama? Kerja keras Anda akan sia-sia karena saya tahu jelas di negara Anda saat ini tengah memperkaya diri sendiri di atas kepentingan rakyat. Kita berbicara fakta bukan untuk membuat Anda membenci saya karena menawarkan pekerjaan ini kepada Anda.” Theo masih tetap tenang menghadapi orang yang ia tahu pandai mengusik isi pikirannya untuk terbagi-bagi. “Apakah kehadiran saya sendiri akan membawa hasil yang kalian semua harapkan?” tanya Theo membalikkan pertanyaan. “Jelas! Maka dari itulah kami menawarkan secara eksklusif pekerjaan ini kepada Anda.” Theo menyatukan kesepuluh jarinya kemudian ia lipat lalu ia sandarkan di atas meja sembari menatap sang senior FBI yang ia yakin punya seribu satu cara untuk bisa membuatnya bergabung. Theo tidak tahu mengapa mereka menginginkan dirinya sampai menerjunkan orang seperti Arnold Lewis yang Theo yakini bukanlah orang sembarangan di FBI. Theo bisa melihat secara kasat mata bahwa orang di depannya ini berbahaya jika dijadikan musuh. Intuisinya juga mengatakan bahwa orang seperti Arnold Lewis merupakan tipikal ambisius yang akan mengejar musuhnya sampai mati. Dia juga bisa menembus pertahanan orang yang menjadi incarannya dengan memainkan trik psikologi tingkat tinggi. Ia sudah terlatih dan hal itu merupakan pekerjaan untuk Theo agar tetap tenang dan tidak gegabah menghadapi orang seperti Arnold. “Saya berniat membuat Anda kecewa. Apakah pihak FBI akan membuat saya bungkam karena pernah menerima tawaran, tetapi saya menolaknya? Membunuh saya misalnya?” “Apakah menurut Anda pekerjaan kami berhubungan dengan hal seperti itu?” “Tentu saja, FBI mempunyai izin yang tidak diberikan kepada militer atau kepolisian, membunuh tanpa aturan keterlibatan. Kalian bisa saja membunuh saya dengan alasan yang dibuat-buat. Mengganggu keamanan negara, mungkin? Kalian cuci tangan dan saya bersalah. Semua bisa menjadi kemungkinan jika berhadapan dengan orang-orang seperti kalian. Dampaknya berimbas ke negara saya. Hubungan kedua negara memanas hanya karena cuci tangan kalian memanipulasi semua hal. Atau bisa jadi kalian menutupi semua fakta dari muka dunia supaya nama kalian tetap bersih di mata orang awam,” cecar Theo van Kuiken. Arnold Lewis tersenyum sebentar menanggapi cecaran Theo van Kuiken. Anak muda di depannya ini tahu jelas ia tengah berhadapan dengan siapa. Ia membuat pertahanan yang sangat tebal. Namun juga menebar jaring untuk menjebaknya pada satu titik yang membuat ia akan membatalkan permintaan bergabung bersama FBI. Ia sudah makan asam garam dalam menghadapi orang dengan berbagai karakteristik. Dari yang mudah ditebak dalam beberapa detik sampai yang sangat sulit. Untuk ukuran anak muda, Theo van Kuiken merupakan tantangan yang cukup sulit baginya karena pria itu memiliki pemikiran kompleks yang membuat ia berpikir segala kemungkinan dan matang. Ia juga pandai membaca lawan bicaranya dan merangkai kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya apabila hal buruk akan terjadi kepadanya. Hal itulah yang ia butuhkan dari Theo van Kuiken untuk menjadi agen FBI. Kecerdasannya dalam menganalisis dan kelebihan daya ingatnya yang luar biasa dapat menjadi kombinasi yang mematikan. Ia bisa saja merangkai lima sampai sepuluh langkah kemungkinan atau lebih untuk kabur dari hadapannya sekarang bila ia mau. “Jadi Anda berniat menolak dan kami bisa membunuh Anda karena alasan yang Anda sendiri sudah ketahui dan sebutkan. Anda yakin dengan hal tersebut sebelum Anda tahu siapa yang telah membunuh kedua orangtua Anda?” Theo tahu akan di sanalah titik lemahnya dipermainkan. Orangtua adalah segalanya bagi Theo meskipun mereka sudah tidak ada di dunia, tetapi baktinya tidak akan pernah luntur sedikit pun. Janjinya untuk mengungkap siapa yang telah membunuh kedua orangtuanya adalah sumpah Theo di depan nisan keduanya sesaat sebelum ia berangkat ke Amerika untuk belajar dan mengejar mimpinya. “FBI terbiasa mengancam orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan?” pertanyaan sarkas milik Theo merupakan bentuk pertahanan dirinya agar Arnold Lewis tidak bisa membaca titik lemahnya terlalu jauh. “Tentu saja, kami punya kemampuan khusus untuk hal tersebut. Setelah bergabung nanti, Anda akan terbiasa dengan hal-hal seperti itu,” ia memotong daging yang merupakan menu makan siangnya hari ini. Theo melihat pelayan juga meletakkan makanan yang sama di depannya, “Silakan dimakan. Anda pasti lapar setelah menguras pikiran bagaimana caranya mengelak.” “Dan saya yakin Anda tengah kelaparan karena memikirkan bagaimana caranya saya bisa menerima.” Arnold tertawa kecil. Theo van Kuiken memang seperti perkataan kedua anak buahnya setelah hasil pantauan yang mereka lakukan kepada Theo. Atasan mereka di FBI memang jeli melihat potensi-potensi cemerlang seperti Theo van Kuiken. Tiga tahun lalu mereka juga merekrut orang seperti Theo dan sekarang ia sudah menjalankan misi pertamanya seorang diri. “Anda akan menerima pelatihan keras untuk membentuk fisik serta mental. Semua akan diurus oleh kami. Perpindahan kewarganegaraan Anda juga akan diajukan dan akan diurus oleh kami. Kami memiliki wewenang yang cukup kuat untuk membuat hal tersebut menjadi mungkin. Anda bisa menjalani hari-hari Anda seperti biasa, bekerja di perusahaan media dan berbaur dengan orang lain. Formalitasnya Anda harus lulus tes kebugaran, lari, sit-up, push-up, sprint 300 meter, dan pull-up dengan skor yang tinggi. Setelah dinyatakan lulus Anda akan menjalani masa pelatihan di Quantico, Virginia selama 21 minggu. Pelatihan intensif di akademi FBI dan beradaptasi dengan lingkungan baru dengan berbagai kegiatan.” “Anda berbicara seolah saya sudah menyerahkan diri,” ejek Theo kesal. “Saya tahu Anda akan menerimanya bagaimanapun jalan yang akan Anda berikan sebagai jawaban kepada kami.” “Biasanya kepercayaan diri itu akan membawa kepada petaka karena kesombongan akan hasil bulat yang tercipta dari asumsi Anda sendiri,” ucap Theo mengejek. Arnold Lewis tertawa menanggapi ucapan Theo van Kuiken. “Selamat datang di FBI, Theo van Kuiken. Kedepannya kita akan banyak bekerja sama mengungkap kejahatan yang tersembunyi dari muka dunia. Tidak akan ada lagi kata kejam seperti, ‘betapa kejamnya selembar kertas yang bisa membeli dunia’ kau akan menjadi bagian itu untuk terlibat di dalamnya dan membeberkan pada dunia kejahatan harus dihapuskan.” TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN