Twelve

1289 Kata
New York City, Morningside Heights, 1 April 2010 Jam masih menunjukkan pukul empat dini hari waktu Theo terbangun. Sampai sekarang ia masih terbiasa bangun sangat pagi meskipun berada di Amerika. Dulu ia bangun pagi hanya untuk membantu bibinya memasak guna berjualan nasi uduk dan sarapan lainnya di teras rumah. Tidak banyak yang Theo lakukan, hanya memotong-motong sayuran atau menggulung risoles lalu menggorengnya. Ia sudah biasa hidup di panti asuhan sebelum pindah ke rumah pamannya, Theo terbiasa hidup saling membantu satu sama lain atau mengerjakan pekerjaan rumahan. Hal yang jarang ditemui oleh anak perkotaan di zaman Theo sekolah. Kepribadiannya terbentuk karena terbiasa dan diajarkan dengan sangat baik oleh neneknya yang membesarkan Theo setelah kematian orangtuanya dan juga peran pengurus panti asuhan yang menampung Theo sesaat setelah Yvette Voornhout meninggal. Theo membuka jendela kamarnya, membiarkan angin segar perkotaan masuk. Ia kemudian mengambil botol minuman lalu menegak habis isinya setelah itu ia mengendurkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Sudah lama ia tidak olahraga, Theo memutuskan untuk membasuh wajah di kamar mandi dan menggosok gigi. Ia akan berolahraga sedikit di teras apartemennya yang menghadap langsung ke kampusnya. Dua temannya belum bangun, Theo yakin sekali keduanya pulang kira-kira pukul dua belas dan setengah dua pagi. Entah ke mana kedua temannya tersebut pergi hingga pulang selarut itu. Theo tidak pernah ingin bertanya karena mereka tidak suka urusan pribadi mereka diganggu. Setelah olahraga tiga puluh menit, Theo memutuskan membuat teh hangat dan juga memasak sayur tumis untuk makannya pagi ini. Hanya sayur brokoli dan wortel yang ia punya di dalam kulkasnya. Theo juga mendadar telur sebagai lauknya. Sampai sekarang ia masih belum terbiasa makan masakan Amerika. Bagi lidahnya terasa hambar, kadang asam yang tidak nikmat, kadang asin karena keju dan kadang manis berlebihan karena gula. Seenak-enaknya makanan yang Theo temukan di New York City baru The Halal Guys yang berada di 6th Avenue. Antriannya bisa sepanjang beberapa meter di jam-jam waktu makan. Selain porsi banyak dan harga cukup murah, makanan tersebut cocok di lidah Theo yang menganut lidah rempah-rempah. Dia boleh berdarah campuran dengan wajah khas kaukasian, tetapi soal urusan perut Theo mencintai masakan Indonesia setengah mati. “Aroma masakanmu enak sekali. Sampai membuatku terbangun.” Alice Collin yang memakai piama berwarna biru dengan gambar kucing di dadanya berada di depan pintu dapur sambil membawa botol minuman. Theo menoleh dan melihat rambut pirang Alice yang sebahu mencuat ke segala arah. Dia cantik dengan mata birunya yang seperti warna langit. Theo menyukai aksen bicaranya khas orang Australia dan sifat ramahnya yang menyenangkan. “Maaf membuatmu terbangun,” ucap Theo sambil melanjutkan memasak. “Tidak apa-apa, aku juga merasa lapar. Boleh aku mencicipi masakanmu?” tanyanya setelah ia selesai mengisi botol minumnya. “Tentu saja, aku memasak lebih.” Alice tersenyum dan duduk di bangku meja makan kecil. Ia melihat Theo yang tengah menggoreng telur. “Kau suka telur?” tanya Theo. “Suka, aku suka semua makanan. Masakan Indonesia adalah yang terbaik. Di Melbourne banyak restoran Indonesia. Orang Indonesia di sana banyak sekali. Teman sekelasku dulu ada beberapa yang dari Indonesia.” “Pernah ke Indonesia sebelumnya?” Theo menyajikan telur dadar dan nasi hangat serta sayur tumis yang tadi dimasaknya. Tidak lupa ia mengambil sambal kemasan yang ia beli minggu lalu di Asian Market. “Ayo kita mulai makan,” ajak Theo yang mulai menyendok nasi. Di Indonesia Theo terbiasa makan pagi dengan nasi dan lauk pauk yang dimasak oleh bibinya. Sampai sekarang kebiasan itu sulit hilang meskipun bagi orang Amerika itu sangat aneh untuk makan nasi di pagi buta seperti ini ditambah dengan sambal yang sudah pasti pedas membuat mereka semakin heran dengan pola hidup orang Indonesia. Namun, tidak bagi Alice yang santai karena ia sudah lebih mengenal budaya Indonesia. “Sering, kalau musim libur sekolah keluargaku ke Bali dan Lombok,” jawabnya yang ikut menyendok sambal kemasan milik Theo. “Jangan heran, aku suka sekali sambal,” ucapnya dengan tawa lebar. “Tidak takut pedas?” tanya Theo. Alice menggeleng. “Awalnya aku benci, tapi lama-lama menyukainya.” Meskipun Theo dan Alice sudah berbagi apartemen selama lima bulan lebih, tetapi jarang bagi mereka mengobrol karena kesibukan masing-masing. Kegiatan perkuliahan mereka memang luar biasa melelahkan. Tugas dari kampus yang banyak dan juga diskusi kelompok sampai larut malam kadang membuat mereka jarang berada di apartemen. “Tidak banyak orang yang suka pedas di sini. Di asrama aku pernah membuat sambal dan berakhir gagal lalu aromanya menyengat membuat penghuni asrama kesal. Sejak saat itu aku membeli sambal dalam kemasan. Cukup untuk mengobati rindu,” cerita Theo sambil menyuap makanannya. “Aku pun rindu suasana Melbourne, meskipun musim dingin tapi tidak ada salju. Musim dingin kemarin membuatku sedikit tidak terbiasa. Salju di mana-mana dan jalanan licin,” ceritanya. Theo menyetujui ucapan Alice karena ia juga mengalami hal yang sama bahkan lebih parah. Theo pernah menyangka salju itu indah, tetapi ia langsung membatalkan ucapannya satu jam kemudian setelah tangannya mati rasa karena kedinginan meskipun ia telah memakai sarung tangan tebal. Theo juga pernah mandi setiap hari di musin dingin karena kebiasaannya di Indonesia, nyatanya itu aneh menurut Alice dan beberapa teman lainnya. Rata-rata mereka akan mandi dua kali seminggu atau seminggu sekali selama musim dingin. “Hei, hari ini April Mop, temanku mengadakan pesta di rumahnya. Kau mau ikut?” tanya Alice tiba-tiba. Theo menatap mata Alice yang seindah langit biru di siang cerah, ia tersenyum lalu menggeleng. Theo tidak terlalu suka tempat keramaian dan bertemu banyak orang. Ia lebih suka menghabiskan dirinya di tempat sepi untuk berpikir. Baginya di tempat ramai sama saja menghabiskan energi yang ia miliki. Theo dapat melihat Alice yang menerima keputusannya untuk tidak ikut ke pesta temannya. “Aku harus mengerjakan tugas dan bekerja di perpustakaan. Aku rasa tidak akan cukup waktu bila aku ikut ke pesta,” terang Theo. “Tidak apa-apa, semoga pekerjaanmu cepat selesai,” ucapnya sambil melanjutkan makan. “Letakan saja piringmu. Biar aku yang mencucinya. Terima kasih atas makanan lezatmu. Aku benar-benar menyukainya.” Theo kembali tersenyum sambil menyimpan botol minumannya ke dalam kulkas. Biasanya ia akan membawa minuman ke kampus karena harga air mineral kemasan di Amerika sangat mahal untuk ukuran Theo dan ia tidak terlalu suka rasa air minum isi ulang yang sering ada di tempat umum. Menurut Theo rasanya aneh, tapi tidak di air keran yang ada di apartemennya. “Aku kembali ke kamarku. Makanlah dengan kenyang,” Theo meninggalkan Alice yang masih makan dengan lahap. Ia bisa melihat Alice menyukai masakannya yang tidak seberapa itu. Theo senang setidaknya ia bisa berbagi makanan dengan Alice yang mempunyai selerah makanan sama sepertinya. Theo membuka laptop lalu menghubungkannya ke internet. Ia membuka f*******: dan langsung melihat ada beberapa pemberitahuan yang masuk. Pesan dari orang yang mengajaknya berkenalan atau dari teman-temannya, bahkan dari Zara yang sudah hampir seminggu ini belum Theo balas. Ia tidak tahu bagaimana ingin membalas meskipun Theo sudah menerima pertemanannya. Isi pesannya tidak banyak, tapi berhasil membuat Theo mati kutu. Otaknya akan lumpuh jika sudah berhadapan dengan hal yang di luar logikanya. Theo, ini Zara. Masih ingat aku? Apa kabar kamu? Dengan keberanian penuh Theo akhirnya membalas pesan Zara. Masih ingat. Apa kabar? Hanya kalimat seperti itu yang mampu Theo pikirkan. Ia membacanya sekali lagi. Apakah balasan pesan itu biasa saja? Atau terkesan dia tidak niat membalas pesan sahabatnya itu? Jika harus menambahkan lagi kata-kata di sana, apa yang harus Theo tambahkan? Bagaimana reaksi Zara mendapat pesan balasannya? Ia takut terlalu berlebihan menanggapi pesan dari Zara. Benar seperti tebakannya, dia bisa menjadi sangat bodoh dalam urusan seperti ini. Tidak ada balasan, di Indonesia sekarang pukul setengah enam sore. Perbedaan dua belas jam membuat ia sering kesulitan berkomunikasi dengan teman-temannya. Theo akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Siang ini ia ada dua kelas dan harus bekerja di perpustakaan. Harinya akan terasa membosankan seperti biasa. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN