Thirteen

1408 Kata
New York City, Manhattan, SoHo (South of Houston), 26 Januari 2018 Theo menatap seseorang yang telah membuat janji untuk bertemu dengannya dari beberapa hari yang lalu. Seorang wanita muda yang umurnya lebih tua tiga tahun di atas Theo. Ia tampak jauh lebih muda dari umur sebenarnya. Theo melihat guratan halus di dekat sudut bibir wanita tersebut. Dari gestur wajahnya, ia tipikal perempuan yang cukup ramah untuk kalangan orang Amerika. Dari matanya yang biru terang dan rambut pirang serta freckless di wajahnya, ia merupakan keturunan Skandinavia. Entah itu dari Norwegia, Swedia, Finlandia, atau sekitarnya. “Maaf membuat Anda menunggu lama,” ucapnya dengan senyum cerah. “Sudah memesan makanan?” tanyanya masih dengan senyum. “Tidak apa-apa, saya baru tiba lima menit yang lalu. Belum, saya menunggu Anda,” jawab Theo dengan ramah. Sang wanita memanggil pelayan untuk memesan makan malam mereka. Theo memperhatikan cara wanita tersebut mengucapkan kata-katanya. Masih terdengar aksen di beberapa kata yang ia ucapkan. Ia dilatih dengan berbagai pengetahuan selama pelatihan menjadi agen FBI. Termasuk menguasai berbagai bahasa. Theo fasih berbahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Semenjak menjadi FBI ia menambah beberapa bahasa yang dikuasainya, Rusia, Mandarin, Jepang, Jerman, Spanyol, dan Prancis. Di FBI menguasai minimal tiga bahasa hukumnya wajib. Semakin banyak maka semakin baik untuk menjalankan tugas. Seniornya bahkan ada yang menguasai lima belas bahasa asing dan ia sukses membongkar sindikat kejahatan besar di New Jersey tahun lalu. “Anda jauh lebih tampan dibanding foto Anda,” aku wanita tersebut terang-terangan. Theo memainkan perannya menjadi seorang extrovert yang pandai bergaul serta membuka diri. Ia tertawa cukup keras untuk membuat wanita tersebut terkesan padanya. “Anda pun jauh lebih cantik dari foto yang ada di media sosial Anda. Anda tampak sangat manis mengenakan gaun warna itu. Sangat berkelas!” sang wanita tersipu malu. “Saya senang Anda menyukainya. Saya membeli gaun ini dua hari yang lalu hanya karena ingin bertemu dengan Anda,” ucapnya masih dengan rona merah di wajah. “Jujur saja awalnya saya cukup terkejut Anda mengajak saya bertemu padahal kita baru berkenalan tiga minggu yang lalu. Tapi saya pikir hal itu sangat wajar.” “Sejujurnya saya sangat senang mengobrol bersama Anda tiga minggu belakang ini maka dari itu saya memutuskan untuk mengajak Anda bertemu. Mungkin dengan seperti ini kita akan semakin dekat, Nona Teressa,” Theo mengajak sang wanita untuk bersulang dan sang wanita menyambutnya. “Jangan panggil saya dengan sebutan ‘nona’ Anda hanya perlu memanggil saya Teressa, Ben!” ucapnya masih dengan senyum cerah. Theo tersenyum lalu mengangguk. Di sini ia tidak memakai nama aslinya. Ia menggunakan nama samaran untuk menutupi identitas sebenarnya. “Ngomong-ngomong, Anda terlihat memiliki wajah Asia, apakah Anda memang keturunan Asia?” tanyanya. “Iya benar, Ibu saya orang Singapura dan ayah saya orang Amerika,” dustanya. “Anda sendiri sepertinya bukan orang asli Amerika. Saya mendengar logat bahasa Anda sedikit berbeda.” “Benar, saya aslinya orang Norwegia. Di Amerika saya hanya bekerja,” ceritanya. Theo mulai akan mengorek beberapa informasi yang ia butuhkan dari wanita di depannya ini. Namun sebelum itu ia harus memastikan jika sang wanita tidak curiga dan Theo bisa membuat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ‘halus’ agar sang wanita tidak menyadari ia sedang diintrogasi. “Wah Norwegia, saya belum pernah ke sana, tetapi kata orang di sana sangat indah pemandangannya!” “Anda harus ke sana nanti! Saya akan membawa Anda jalan-jalan dan bertemu orangtua saya!” Theo tersenyum menandakan ia berhasil membuat jaring untuk menjebak sang wanita berbicara lebih banyak. “Orangtua Anda pasti akan suka dengan kedatangan saya. Saya akan memastikan untuk membuat mereka menerima saya di sana,” makanan pembuka pesanan mereka datang. Theo mengajak sang wanita untuk menikmati makan malam mereka sembari mengobrol ringan. “Anda berapa bersaudara, Teressa?” “Tiga, saya anak bungsu. Dua kakak saya semuanya laki-laki. Yang tertua bekerja di Norwegia, dan nomor dua bekerja di Ukraina. Kami semua terpisah. Berkumpul hanya pada saat Natal dan Tahun Baru. Bagaimana dengan Anda, Ben?” “Saya lima bersaudara,” dusta Theo lagi. “Orang Asia memang suka banyak anak, Anda tidak perlu heran.” Teressa tertawa kecil. “Pasti rumah orangtua Anda sangat ramai. Menyenangkan sekali saat berkumpul tiba!” Theo mengangguk setuju meskipun kenyataannya ia tidak memiliki saudara dan orangtua. Kadang menyamar seperti ini membuatnya tidak habis pikir. Ia tidak suka menipu orang, tetapi pekerjaan ini penuh dengan silat lidah yang membuat kebohongan satu dengan lainnya. “Bagaimana dengan saudara Anda, apa pekerjaan mereka berdua?” Teressa Magnar menyuap makanan ke mulutnya lalu mengunyah sebentar. Theo dapat melihat kilat bahagia muncul di wajah sang wanita. Ia tidak perlu merasa bersalah telah menipu wanita di depannya ini dengan mengikuti ajang kencan online. Ini pekerjaannya dan ia harus menjalani misi ini tanpa terbaca oleh orang lain. Awalnya Theo juga tidak terlalu tertarik dengan cara atasan mereka yang menugaskan Theo untuk mendekati adik target mereka. Salah satu target yang diketahui oleh agen FBI saat ini bekerja di Ukraina, identitas jelasnya sudah diketahui oleh mereka, tetapi masih perlu banyak informasi mengenai sang target dan pekerjaan pastinya di dalam organisasi. Bagaimana cara para FBI menyusun rencana dan mengetahui sang adik target mengikuti kencan online adalah hal yang luar biasa bagi orang awam, tetapi tidak bagi para agen FBI yang mempunyai data lengkap dan persiapan matang serta mata-mata di mana saja. Termasuk tahu Teressa Magnar adalah salah satu adik target. FBI punya banyak rencana untuk melakukan pendekatan guna mencari informasi, termasuk melibatkan urusan hati. “Kakak pertama saya, Andre Magnar, dia seorang dokter spesialis jantung. Dia sangat bersinar semasa sekolah dan kami bangga padanya. Ia sudah punya istri dan satu anak. Saya cukup dekat dengannya, dia saudara yang baik,” kilat bahagia itu masih melekat di mata Teressa kala ia menceritakan mengenai saudaranya. “Kakak kedua saya, Nikolas Magnar, dia seorang bankir dan belum punya pasangan hidup, tapi dia punya kekasih. Sudah menetap di Ukraina hampir tujuh tahun. Hanya dia yang jarang pulang saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Posisi jabatannya cukup bagus di bank milik pemerintah di sana. Dia terlalu sibuk,” cerita Teressa. “Keluarga Anda sungguh berotak cemerlang,” puji Theo dengan senyumnya. Ia tahu tipikal seperti Teressa sangat menyukai pujian, semakin ia disanjung maka semakin loyal ia membagikan informasi yang Theo butuhkan. “Dokter spesialis jantung dan bankir, Anda sendiri seorang konsultan pajak. Benar-benar keluarga yang hebat!” “Anda terlalu berlebihan memuji keluarga saya!” ucapnya dengan rona merah di wajah. “Keluarga Anda pantas dipuji, saya tipikal orang yang spontan saat mengatakan sesuatu. Saya pun yakin, saudara-saudara Anda juga pasti bangga pada Anda saat ini.” “Nikolas selalu memuji saya saat kami bisa bertemu. Dia saudara yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Anda pasti akan suka jika bertemu dengannya. Dia orang yang ramah serta peduli pada lingkungan sekitarnya. Saya dulu sempat merasa sedih ketika ia memutuskan untuk menetap di Ukraina. Kami berdua cukup dekat dan sering bercerita satu sama lain.” Benar seperti tebakan Theo jika pujian bisa menghasilkan maha karya. Wanita di depannya ini membuka informasi yang ia butuhkan mengenai target, Theo hanya perlu memancing sedikit untuknya agar berbicara lebih banyak. Dia sepertinya berbakat menjadi seorang cassanova bila kemampuannya ini digunakan untuk tujuan lain dalam memikat lawan jenis. “Apakah Anda pernah ke Ukraina dan dikenalkan kepada teman-teman beliau di sana?” pancing Theo lagi. “Karena Anda dan beliau cukup dekat, saya berpikiran seperti itu.” “Tentu saja, saya pernah main ke sana dan dikenalkan dengan teman-temannya. Mereka kebanyakan orang asing yang memakai bahasa Inggris jadi saya tidak kesulitan berkomunikasi. Rata-rata kebanyakan dari mereka sama seperti kakak saya yang memilih bekerja tetap di sana. Nikolas pernah mengatakan pada saya gaji yang besar adalah jaminan di sana. Siapa yang tidak mau uang banyak?” Theo menyetujui ucapan sang wanita. Ia memeriksa perekam suara kecil yang sengaja disembunyikannya di balik jas hitam yang kini ia kenakan. Rekaman suara itu akan menjadi bukti yang akan diselidiki oleh timnya untuk mengetahui lebih banyak informasi dan siapa target berikutnya yang akan mereka selidiki. Masih cukup abu-abu mengenai siapa musuh mereka saat ini. Yang jelas mereka bukanlah orang biasa yang mudah digali informasi. Para FBI harus memutar otak dan menyusun berbagai rencana untuk mencari celah. Dalam hal ini Theo sebagai orang yang memiliki kemampuan analisis yang baik banyak terlibat dalam menyusun strategi. Arnold Lewis tidak salah melibatkan Theo dalam misi kali ini karena ia yakin kemampuan Theo van Kuiken bisa sangat berguna dan ini akan menjadi kejayaan bagi FBI bila berhasil mengungkap kasus tersebut. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN