Twenty Four

1750 Kata
Sumatera Selatan, Palembang, 23 Mei 1998 Untuk pertama kalinya Theo van Kuiken melihat sang nenek menangis tersedu-sedu kemudian memeluknya dengan sangat erat. Saat itu menjelang salat Magrib dan Theo hendak berangkat ke masjid kecil terdekat untuk mengaji serta salat Magrib bersama teman-teman satu kampungnya. Nahasnya, saat ia meminta uang untuk dipergunakan mengisi celengan masjid kepada sang nenek, Theo melihat banyak orang berkumpul di rumahnya kemudian terisak. Sang nenek langsung tersungkur ke lantai kemudian menangis. Ia melihat Theo yang tidak mengerti apa pun lalu menarik sang cucu ke dalam dekapannya. Yang Theo ingat kata-kata sang nenek saat itu penuh dengan luka. “Tuhan, anak mereka masih kecil dan butuh kasih sayang kedua orangtuanya, kenapa mereka dibunuh!” Entah mengapa ia ikut menangis melihat sang nenek menangis. Para tetangga kemudian membantu Yvette Voornhout untuk duduk di kursi kemudian menenangkannya. Satu tetangganya yang lain mengambil Theo dari pelukan sang nenek kemudian ia ajak ke dapur rumah mereka. Di sana Theo dipeluk oleh sang tetangga yang bernama Mbak Wati, rumahnya persis di samping rumah Theo. Mbak Wati merupakan orang Jawa yang telah berkeluarga serta memiliki dua anak. Anak bungsunya merupakan teman sekolah dan teman mengaji Theo. “Sayang, kamu jangan nangis ya. Mbak ada di sini untuk kamu. Kamu harus kuat ya, Nak.” Mbak Wati memeluk Theo sembari ia ikut menangis. Ia membayangkan bila ia berada di posisi Iriane dan Adri yang harus meregang nyawa dengan sangat mengenaskan serta meninggalkan anak yang masih sangat butuh kehadiran sosok orangtua di dalam hidupnya. “Theo boleh anggap Mbak Wati sebagai Mama dan Mas Yono sebagai Papa mulai sekarang. Theo jangan sedih.” Perkataan tersebut membuat Theo yang menangis semakin menangis keras. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi kepada orang-orang, tetapi melihat semua orang menangis Theo jadi menangis. Umurnya baru enam setengah tahun saat ini. Ia baru akan naik kelas dua sekolah dasar sebulan lagi. Dia mulai masuk sekolah dasar saat umur lima setengah tahun. Kepala sekolah menerimanya karena Theo sudah pintar membaca saat itu. Di umur yang masih kecil ia belum mengerti apa pun. Setelah menangis ia diajak oleh sang nenek untuk ke rumah sakit melihat mayat kedua orangtuanya. Ketidaksengajaan terjadi saat di rumah sakit ia melihat tubuh kedua orangtuanya bersimbah darah di dalam kantong mayat. Mbak Wati segera menutup mata Theo agar ia tidak melihat dan mengajaknya menjauh dari sana. Namun, terlambat karena Theo sudah melihatnya dengan sangat jelas. Ia menjerit dan memanggil-manggil ayah serta ibunya. Pihak kepolisian pun mencoba menghibur Theo dengan cara menggendongnya lalu membuat Theo lupa akan kejadian tersebut karena berdampak trauma di masa depan. Sayangnya sang polisi tidak tahu bahwa Theo memiliki ingatan spesial dan percuma membuatnya teralih. Theo semakin menangis kencang memanggil kedua orangtuanya. “Jangan nangis ya, Nak. Kamu anak hebat dan kuat,” kata salah seorang polisi sambil memberi Theo sekotak s**u. Ia pilu melihat Theo menangis. “Anak ini tampan sekali, bola matanya bagus,” komentar polisi tersebut sambil memperhatikan Theo. “Iya, nenek dan ibunya orang Belanda. Mata nenek dan ibunya berwarna biru,” kata Mbak Wati sambil terus mengusap kepala Theo dengan sayang. “Saya sempat terkejut ketika tahu sang korban bukan orang pribumi. Ini peristiwa yang menyakitkan. Korban yang dibunuh oleh mereka berjumlah sepuluh orang. Sisanya tiga orang dengan luka berat.” “Astagfirullah! Apakah pelakunya sudah tertangkap, Pak?” tanya Mbak Wati penuh harap. “Sedang dalam penyelidikan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menangkap pelakunya.” Mbak Wati mengangguk kemudian ia melihat Yvette terduduk lesu di kursi dekat ruang mayat. Tetangga yang datang bersamanya menenangkan Yvette sambil terus memeluknya dan juga menghapus air matanya. Mbak Wati mengajak Theo untuk ke taman rumah sakit agar ia tidak melihat neneknya menangis. Sebenarnya Mbak Wati lebih menyarankan Theo untuk tidak ikut ke rumah sakit, tetapi Yvette tidak ingin jauh dari cucunya tadi. Sekarang dia semakin emosional dan pasrah ketika Mbak Wati kembali mengambil alih Theo. “Mbak Wati, Mama mana?” tanyanya lagi. Mbak Wati berusaha untuk tidak menangis. “Theo mau s**u ini? Mau Mbak bukakan?” ia mengalikan pertanyaan Theo. “Mbak pernah coba s**u ini rasanya enak sekali. Mau ya?” Theo mengangguk sambil melihat Mbak Wati membukakan s**u untuknya. Ia juga mengajak Theo untuk melihat kolam ikan. Beberapa perawat yang melihat Theo menyapanya karena tertarik akan parasnya yang berbeda dari anak kebanyakan. Mereka juga memberikan Theo makanan dan minuman. Theo yang tadi menangis sekarang senang setelah diajak main perawat-perawat yang sedang beristirahat. Mereka menjadi iba setelah tahu apa yang dialami Theo, “Semoga kamu jadi orang yang sukses ya, Adik Tampan,” kata salah seorang perawat sambil mencubit pipi Theo. “Kasihan sekali dia ya, Mbak,” sambungnya. “Terima kasih, Kakak Cantik,” kata Mbak Wati menjawab doa yang diberikan perawat. “Iya, pembunuhnya sedang dalam penyelidikan dan pencarian polisi. Mereka berjanji akan mengusut secara tuntas.” Nyatanya janji tersebut hanyalah omongan semata. Jejak pelaku tidak ditemukan di mana pun karena mereka sepertinya bukan penjahat biasa. Saksi mata yang selamat tidak ingat banyak mengenai pelaku pembunuhan karena memakai topeng. Mereka juga dalam jumlah banyak. Saksi mata yang lain sudah dimintai keterangan, tetapi tidak mendapat banyak bukti. Sang sopir bus juga sudah diinterogasi, dia menyatakan bahwa dirinya kabur ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri bersama dengan beberapa orang lainnya yang merupakan penumpang bus antar kota yang ia bawa. Sang sopir pun baru berani keluar dari hutan setelah malam tiba dan lewat jalur lain yang berada di desa tetangga. Ia mengalami trauma berat dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa saat. Yvette dan beberapa keluarga korban lain terus mencari keadilan akan kasus tersebut, tetapi polisi daerah setempat menemui jalan buntu. Kasus belum terungkap sampai Yvette mengembuskan nyawa terakhirnya. Dia meninggal dalam keadaan tidak tahu siapa pembunuh anak dan menantunya. Dia meninggalkan Theo yang masih butuh kasih sayangnya. Dia pun tidak meninggalkan harta untuk sang cucu. Hal itu menjadi tangisan Yvette setiap malam kala mengingat kematian mendekat kepadanya dan ia tidak tahu siapa yang akan merawat cucunya. Mbak Wati dan suaminya sudah pindah dua tahun lalu. Jadi saat itulah kisah hidup Theo dimulai di panti asuhan. ♚♛♜♝♞ New York City, 18 Februari 2018 Theo tiba pukul sembilan pagi di apartemennya. Dia hanya tidur dua jam di kantor. Setelahnya Theo berbelanja makanan kucing. Untuk Caracal dia harus membeli daging ayam segar. Biasanya Theo selalu menyimpan daging ayam di kulkas untuk beberapa hari. Makanan khusus untuk kucingnya satu itu memang terbilang merepotkan, tetapi Theo tidak keberatan. Kadang ia juga ikut makan makanan Maine Coon. Caracalnya bernama Theron, Maine Coon bernama Theia, dan Siberian Husky bernama Therby. Semua nama peliharaannya mengandung huruf awal nama Theo. bagi Theo mereka semua adalah saudara dan sahabatnya. “Kalian tidak membuat kekacauan di rumahku?” kata Theo sesaat setelah ia masuk dan disambut oleh kucing serta anjingnya. Mereka semua mendekat ke arah Theo. “Sepertinya tidak ada barang yang rusak kali ini,” komentar Theo melihat sekeliling. Semua peliharaannya mengikuti langkah Theo. Theo mengambil wadah makanan untuk kucing dan anjingnya. Ia membuka makanan kemasan yang baru dibelinya untuk Theia dan Therby, khusus untuk Theron ia akan memberikan daging ayam segar. “Maaf aku pulang terlambat dan membuat kalian kelaparan. Makanlah dengan banyak, aku akan mandi dulu. Nanti Güliz akan berkunjung. Jangan membuat keributan,” ujarnya sambil meninggalkan kucing dan anjingnya untuk makan. Theo menuju kamarnya lalu ia membuka jendela besar yang menghadap ke arah gedung bertingkat. Jalanan di bawah terlihat memutih karena sisa-sisa salju yang belum dibersihkan. Theo melepas kemeja yang ia pakai lalu melemparnya ke tempat pakaian kotor. Dia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Dia perlu menjernihkan pikiran karena hanya mampu tidur selama dua jam. Tugasnya dan Zoey telah selesai. Theo bisa beristirahat hari ini sementara teman-temannya yang lain masih melanjutkan lembur. Rencananya Güliz hari ini akan main ke apartemen Theo untuk makan bersama sekaligus melihat keadaan kucing dan anjing Theo. Dia berteman dekat dengan ketiganya. Terutama Therby yang sangat senang ketika Güliz hadir. Setelah mandi, Theo membersihkan sedikit kekacauan di apartemennya karena ulah kucing dan anjingnya. Ia juga menyempatkan diri mencuci pakaian dan menyedot debu dan bulu binatang yang berceceran. Pukul sebelas lewat akhirnya Güliz datang. Ia disambut hangat oleh Therby, sementara Theia tampak tidak terlalu peduli akan kehadirannya. Theron sendiri hanya diam sambil menyapa sekali. Kucing dan semua sifat tidak peduli mereka memang menggemaskan. Sangat berbeda dengan anjing. “Halo Therby! Kau rindu padaku?” kata Güliz sambil memeluk Therby dan menciumnya. “Kau terlihat semakin tampan! Ya ampun aku rindu sekali kepadamu!” ucapnya. Therby sendiri menyambut Güliz dengan suka cita. Ia menggonggong penuh semangat dan memeluk Güliz sampai dia terbaring di lantai. Theo melihat kelakuan anjingnya dan mengingatkan Therby untuk tidak bermain terlalu keras. Anjingnya bila tidak diperingati akan terus seperti itu. Ia kasihan pada Güliz yang kewalahan menyeimbangi Therby. “Dia rindu sekali padaku, Theo. makanya dia seperti ini,” kata Güliz sambil mencium Therby dengan sayang. “Aku sudah lapar. Kapan kau akan memasak?” tanya Theo yang menghentikan Güliz seketika dari bermain bersama Therby. “Baiklah, kau sepertinya sangat kelaparan. Kau sudah membeli semua bahannya?” “Sudah semua. Kau tinggal masak dan aku akan menunggu dengan sabar.” Theo membuka laptop karena baru saja Fabio mengirimkan berkas yang harus Theo lihat. Sebenarnya dia bisa menggunakan ponsel, tetapi ada data di laptopnya yang juga diminta oleh Fabio untuk dikirimkan. Mereka tidak saling kirim data menggunakan surel atau pesan biasa. Mereka menggunakan server mereka sendiri untuk menjamin data agar tidak bocor. Theo melihat berkas yang dikirim Fabio dari kantor mereka. Data target baru yang berhasil mereka kumpulkan setelah semalaman begadang. Bill telah menyelesaikan tugasnya mencari informasi mengenai target. Dia sangat ahli dalam bidang ini. Itulah mengapa Theo bisa ditemukan sangat cepat oleh FBI. Di dalam berkas tersebut terdapat dua identitas baru yang disinyalir merupakan orang yang bekerja sebagai agen CIA yang dicurigai telah membelot kepada organisasi radikalisme. Bill menemukan data keduanya dalam bukti transfer milik Mr. Young dan Mr. Paul atas nama perusahaan Aeonian. Kecurigaan tersebut muncul karena jumlah uang yang disetor memang tidak banyak, tetapi rutin setiap bulan. Arnold yang curiga meminta Bill mencari tahu tentang perusahaan tersebut, setelah dicari tahu muncul kedua nama yang saat ini tengah Theo amati. Cukup sulit bila harus mengawasi agen CIA karena mereka tentu bukan orang sembarangan. “Kau sepertinya sibuk sekali meskipun hari minggu,” kata Güliz yang keluar dari dapur menggunakan celemek. “Aku tidak bisa menemukan lada di dapurmu. Bisa tolong kau carikan,” pintanya. “Baiklah,” kata Theo sambil menutup laptopnya. Dia akan memikirkan pekerjaannya lagi nanti. Mungkin saat ini Güliz butuh bantuannya dalam memasak. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN