Twenty Five

1698 Kata
New York City, Madison Square Garden, 30 April 2018 “Sekitaran bulan September nanti aku akan kembali lagi ke New York, akan ada New York Fashion Week. Aku bersama beberapa rekan bisnisku di Jakarta akan hadir,” cerita Zara kepada Theo. “Ya aku tahu tentang acara itu. Kami biasanya ikut meliput. Aku mengerjakan beberapa artikelnya,” jawab Theo sembari menyusuri jalanan bersama Zara. “Kau masih ada di sini nanti?” tanyanya lagi. Zara menoleh sebentar ke arah Theo yang menghindari anak kecil. “Entahlah, aku bisa saja pergi ke mana pun karena pekerjaan.” Theo melirik Zara yang mengangguk kecil. “Tetapi kemungkinan besar aku akan ada di sini,” sambungnya karena tidak ingin Zara kecewa. “Akan aku bawakan makanan dari Indonesia, kau tidak boleh menolak.” Zara melihat Theo tertawa kecil. “Kau tidak berubah dari dulu ketika aku menawarkan sesuatu. Tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Hanya tertawa kecil,” komentar Zara dengan jujur. “Apakah hal tersebut aneh?” tanya Theo dengan serius. Semua yang keluar dari mulut Zara bisa membuat Theo was-was. “Tidak, tetapi hal itulah yang membuatmu dulu jadi idola di tempat latihan kita. Banyak anak perempuan yang selalu bertanya kepadaku tentangmu. Mereka ingin akrab denganmu waktu itu. Sayangnya kau terlalu dingin untuk didekati,” cerita Zara sambil tertawa kecil mengingat masa-masa sekolahnya dulu. “Mereka hanya penasaran bukan tertarik,” kata Theo yang tidak suka besar kepala mendapat cerita tersebut dari Zara. “Mana ada di antara mereka yang hanya penasaran kepadamu! Mereka semua tertarik. Kau tampan, pintar, pendiam, dan baik ke semua orang. Hal itu yang diidam-idamkan semua makhluk wanita pada seorang pria saat kita sekolah dulu. Percayalah kepadaku, Theo.” “Di antara mereka semua, hanya kau yang tidak tertarik padaku,” ucap Theo tanpa ia bisa mengeremnya. “Maksudku, kau punya pemikiran yang tidak sama seperti mereka,” sambung Theo karena dia tidak ingin menimbulkan ketidaknyamanan dalam perbincangan mereka sekarang. “Aku tertarik, siapa yang mengatakan aku tidak tertarik kepadamu!” Theo yakin dia baru saja akan menabrak pejalan kaki yang berpapasan dengannya. Untung Theo masih bisa menyelamatkan sedikit kewarasannya. “Sedari awal kau datang latihan taekwondo, aku tertarik pada warna matamu yang indah. Aku baru pertama kali melihat warna mata seindah itu waktu itu. Syukurnya kau menerima pertemananku waktu itu, bila kau menolak kurasa aku akan dendam kepadamu,” ceritanya dengan tawa renyah. “Jadi karena warna mata ini? Apa aku terlihat aneh dengan warna mata ini?” “Tidak, justru sebaliknya. Aku suka sekali. Warna cokelat muda, kuning terang dan kehijauan bercampur menjadi satu di warna bola matamu. Indah sekali,” ucapnya dengan tulus. “Terima kasih,” jawab Theo singkat. Ia kemudian melihat tempat yang akan mereka kunjungi. “Itu tempatnya,” tunjuk Theo ke arah tulisan berwarna cokelat dan putih. Tempat makan yang direkomendasikan Theo hari ini. Dia tahu tempat tersebut dari Zoey. Saat keduanya masuk mereka langsung disambut pemandangan yang cukup ramai. Jam makan siang seperti ini hampir semua tempat di New York City ramai oleh pengunjung. Mereka duduk di dekat jendela yang menghadap jalan. Sudah lama rasanya Theo dan Zara tidak makan dalam satu meja seperti ini. Biasanya sepulang latihan mereka berdua akan makan makanan pinggir jalan sambil bercerita. “Kali ini biarkan aku yang mentraktirmu. Kau boleh makan sepuasnya,” kata Theo sambil memberikan buku menu kepada Zara. “Hore! Aku sangat senang!” katanya sangat bersemangat menerima buku menu. Theo memperhatikan sekitar. Mungkin saja ada target yang ia kenali tengah berada satu tempat dengannya. Kemungkinan tersebut selalu ada karena beberapa kali Theo pernah mengalaminya. Sialnya hal tersebut benar-benar terjadi kali ini. Teressa Magnar ada di sana bersama temannya. Theo yang sadar akan hal tersebut dengan cepat memutar otaknya agar tidak ketahuan. Gawat apabila hal tersebut terjadi. Ia mendekati Teressa sebagai target untuk mengorek informasi mengenai kakaknya yang terhubung langsung dengan organisasi radikalisme. Ia pun bukan memperkenalkan namanya dengan nama asli kepada Teressa. Akan merepotkan bila Teressa melihatnya bersama Zara. Kemungkinan wanita tersebut akan susah untuk didekati lagi dan Zara akan curiga kepada Theo yang memakai nama palsu serta berakting terbalik dengan kepribadian aslinya. “Zara, sepertinya kita harus berpindah restoran. Di sini makanan datang cukup lama karena ramai. Aku sudah sangat kelaparan,” kata Theo mencari alasan. “Kau tidak keberatan bila kita pindah?” Theo berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dari penglihatan Teressa yang ia yakin belum sadar akan kehadirannya karena ia tengah bercerita kepada teman-temannya. “Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?” kata Zara sambil menatap Theo iba. “Ayo kita pindah. Wajahmu pucat sekali. Kau benar-benar kelaparan.” Theo mengembuskan napasnya diam-diam. Untunglah Zara tidak curiga dengan alasannya dan syukurnya dia benar-benar pucat karena takut identitasnya akan terbongkar. Dia hanya takut Zara tahu dan membahayakan diri wanita tersebut bila ada kasus yang berbahaya. Bagaimanapun Zara hanyalah temannya dan ia harus menjaganya. “Banyak makanan enak di sini. Kau tidak perlu khawatir bila satu tempat ramai. Kita tinggal pindah ke tempat lain,” ucap Theo yang kali ini mengelilingi penglihatan ke beberapa sudut untuk mencari tempat makan. “Ayo kita makan di sana. Aku dan Güliz pernah makan di sana ketika kami kuliah.” “Güliz? Namanya lucu,” komentar Zara. “Dia orang Turki. Dulu dia tinggal di sebelah apartemenku. Kami satu kampus dan sering mengerjakan tugas bersama-sama meskipun berbeda jurusan,” cerita Theo. “Aku senang kau punya teman baik di sini. Pasti kau kesepian karena tidak banyak orang Indonesia di sini.” “Ya, dia baik dan pandai memasak. Selama ada dia makananku terjamin. Aku dan Brian sering sekali menyusahkannya.” “Dia perempuan?” tebak Zara seketika. “Ya dan dia hanya teman.” Entah kenapa Theo butuh sekali menjelaskannya kepada Zara agar wanita tersebut tidak menganggapnya buruk. Zara tertawa melihat ekspresi wajah Theo. Sementara Theo bingung. “Waktu itu ada yang namanya Alice, sekarang Güliz. Aku senang sekali akhirnya kau bisa berteman dengan wanita selain aku, Theo.” “Mau tidak mau itu terjadi karena mereka tinggal berdekatan denganku. Kami satu kampus dan satu apartemen.” Zara mengangguk sambil tertawa. “Kau menjelaskannya kepadaku seperti aku akan cemburu padamu. Santai saja, Theo. Aku paham sekali padamu. Kau pasti butuh teman.” Theo akhirnya mengangguk dan tertawa karena ia membenarkan ucapannya beberapa saat yang lalu terdengar seperti tengah meyakinkan kekasihnya bahwa dia tidak memiliki hubungan dengan wanita lain. Untungnya Zara selalu seperti dulu yang bisa membatasi dirinya dalam pertemanan meskipun Theo berharap lebih padanya. ♚♛♜♝♞ New York City, Markas FBI, 11 April 2018 Waktu menunjukkan pukul enam petang. Saatnya Theo bekerja sebagai agen FBI setelah seharian bekerja sebagai pegawai biasa di perusahaan media massa. Ia memegang ponsel dan kertas catatan yang diberikan wanita Jepang kemarin. Setelah mendapatkan kedua benda tersebut Theo belum sempat menganalisisnya. Baru sekarang dia memperhatikan kedua benda tersebut. Theo diam di mejanya yang berada di pojok. Ruangan sudah sepi karena jam bekerja sudah berakhir. Hanya ada beberapa orang rekannya di ruangan berbeda. Theo menatap benda tersebut kemudian memejamkan matanya. Ia mencoba menyusun semua kejadian yang terjadi selama beberapa waktu. Dimulai dengan informasi dari Jack Walker yang pertama kali memberikan informasi tersebut kepada Theo lalu berlanjut ke Teressa Magnar mengenai kakak kandungnya yang diduga kuat terhubung langsung dengan organisasi. Kemudian Dexter Wu yang menyuntikan dana besar-besaran ke dalam organisasi. Dia juga yang bertugas mencari investor dan merekrut orang-orang yang menginginkan kekayaan luar biasa. Kemudian Mr. Paul dan Mr. Young yang mereka ketahui sebagai investor dari Amerika dan juga pebisnis yang memiliki jaringan besar di berbagai sektor sehingga mudah bagi mereka untuk menghasilkan uang lalu menyumbangkannya ke organisasi demi mendapat untung berkali-kali lipat. Dua anggota CIA yang terlibat juga merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Pasti tugas mereka tidak main-main. Terakhir seorang pemuda Jepang yang berkuliah di Columbia University disinyalir terlibat dalam kasus ini. Dia diperintahkan untuk membuat perangkat lunak oleh perusahaan besar berbasis perbankan dunia yang ada di Ukraina. Kakaknya menduga perangkat lunak tersebut berhubungan dengan pencucian uang. Dia hilang selama dua bulan dan meninggalkan pesan janggal. Bila disusun secara berurutan semua memang masuk akal. Mereka terhubung satu sama lain. Theo menyusun seluruh kepingan-kepingan yang tercecer di otaknya untuk menjadi runut. Ia masih memejamkan matanya sambil bernapas tenang dan fokus. Sekilas orang akan mengira dia tertidur, padahal dia tengah berkonsentrasi penuh. Di dalam otak Theo semua tergambar secara jelas layaknya film. Ia menyusun adegan satu demi adegan lainnya. Layaknya editor video yang bisa memindahkan urutan sesuka hatinya, begitu pula dengan Theo. Ia mencari skema yang cocok untuk digabungkan lalu menemukan titik penting dari analisisnya kali ini. Kejanggalannya tertuju pada agen CIA yang datanya masih sedikit mereka peroleh. Kemungkinan mahasiswa Jepang tersebut diculik oleh CIA amatlah kecil karena seorang agen CIA tidak akan ceroboh meninggalkan bukti yang tertinggal. Logikanya adalah ketika agen CIA tersebut berhasil menculik mahasiswa Jepang dan membawanya sejauh mungkin agar tidak bisa ditemukan jejaknya dan tidak mengetahui apa yang sedang dikerjakannya mereka harus membersihkan barang bukti sedetail mungkin. Namun, ponsel mahasiswa tersebut terletak di dalam laci kamarnya dalam keadaan habis baterai. Mustahil seorang agen CIA tidak bisa menemukannya atau membuka kode kunci ponsel mahasiswa tersebut. Mereka pasti mendapatkannya dan tahu mengenai isi pesan mahasiswa tersebut untuk kakaknya. Kemungkinan CIA benar-benar menculiknya bisa diperluas dengan teori ini semua sudah diatur alias jebakan. Benar, teori tersebut bisa berlaku karena sang agen ingin memancing kepolisian atau FBI untuk bertindak. Entah untuk apa tujuannya Theo belum tahu karena di sanalah letak kejanggalan buah pikirannya sekarang. Tidak lama dari kebuntuan pikirannya barusan, Theo membuka mata dan menatap langit-langit ruangannya. Dia ingat bahwa dia belum makan sama sekali malam ini padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tidak terasa sudah hampir dua jam dia fokus berpikir. Theo memutuskan untuk pulang ke rumah, tetapi sebelumnya ia mengecek ponsel dan melihat pesan dari Zara yang mengabarkan ia baru selesai membeli titipan Theo yang akan dibawanya ke Amerika. Wanita itu akan bertandang ke tempatnya dalam rangka melakukan perjalanan bisnis. Theo senang akhirnya Zara benar-benar bisa ke Amerika lalu menghubunginya seperti janjinya waktu dulu dan ia bisa bertemu dengannya setelah hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Perasaan Theo luar biasa senang dan dia akan memanfaatkan setiap waktu berharganya bersama sahabat lamanya tersebut nanti. Mungkin hal tersebut tidak akan pernah terulang lagi di dalam hidup Theo nantinya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN