New York City, Markas FBI, 3 September 2018
Theo van Kuiken datang ke markas FBI setelah mendapat telepon dari Arnold Lewis. Jujur saja saat ini dia dalam kondisi perasaan yang buruk. Pasalnya dia sudah berjanji akan menjemput Zara di bandara yang datang ke New York City untuk menghadiri New York Fashion Week bersama beberapa artis tanah air dan juga desainer. Nyimas Zara Nursandi rela pergi terpisah dari rombongannya yang sudah datang kemarin lusa. Pasalnya dia harus menghadiri penutupan Asian Games 2018 karena dia ikut berpartisipasi di dalamnya. Selesai penutupan, malam itu juga ia langsung berangkat. Pasti sangat lelah dan Theo membuat Zara harus menunggu selama beberapa waktu di bandara sebelum ia menjemputnya.
“Cepat katakan ada keperluan apa, aku tidak punya banyak waktu,” katanya tanpa basa-basi kepada Arnold.
Arnold tersenyum melihat Theo yang kesal. Memang pria itu sudah mengganggunya jadi wajar dia menunjukkan gelagat tidak sopan. Arnold sudah biasa menghadapi Theo jadi dia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Ia memberikan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal kepada Theo. Tanpa menunggu Theo membukanya. Di sana terpampang foto seorang pria yang difoto tanpa ada ekspresi. Namun, wajahnya menarik. Theo dapat menebak dia berdarah campuran seperti dirinya. Di dokumen lain yang terlampir, Theo membaca tentangnya. Tidak bisa dikatakan riwayat hidup karena banyak data yang kosong. Nama yang terdiri dari dua suku kata serta nama panggungnya. Di sana juga tertulis judul yang mengatakan dia adalah seorang detektif. Keterangan tersebut didapat resmi dari kantor kepolisian Las Vegas.
“Jadi apa tujuannya?” Theo sudah tahu pastilah Arnold akan melakukan tindakan dengan pria ini.
“Dia akan menjadi rekanmu dalam menyelidiki kasus di Ukraina nanti. Dia andal, gila, cerdas, memiliki ingatan yang kuat persis dirimu, kemampuannya memecahkan kasus mumpuni. Jadi tidak ada keraguan untukku melibatkannya dalam penyelidikan kita kali ini. Kami sudah lama mencari tahu tentangnya. Cukup sulit kuakui karena dia pintar menyembunyikan semua hal.”
Theo membaca daftar kasus yang pernah detektif itu tangani. Cukup banyak dan terbilang cara pemecahannya pun sedikit tidak masuk akal. Theo juga melihat beberapa foto yang diambil oleh mata-mata FBI, di sana sang detektif tengah duduk di sebuah kafe sambil membawa senjata laras panjang yang diletakkan di meja. Ada juga foto lain yang memperlihatkan dia sedang makan. Bahkan ada fotonya yang sadar dia sedang difoto. Di foto tersebut ia mengacungkan jari tengah sambil tersenyum mengejek. Theo langsung bisa merasakan bahwa dia akan memiliki hubungan yang kuat dengan pria ini.
“Apakah kami akan berperan sebagai sepasang kekasih sesama jenis?” tembak Theo tanpa basa basi.
“Terdengar itu adalah sebuah ide yang menarik. Kau pasti pandai melakukan peran apa pun!” Arnold tersenyum lebar karena Theo baru saja memberikan saran terbaik untuk penyamaran mereka berdua.
“Aku tidak akan merasa bersalah membunuhmu,” komentar Theo sambil lalu. “Hanya ini yang perlu kau sampaikan?” Aku akan pergi dan jangan ganggu aku di waktu libur Sabtu dan Minggu besok!”
Arnold mengangguk menyetujui ucapan Theo, tidak apa-apa karena dia juga sudah mendapat persetujuan dari Theo yang menerima sang detektif bekerja bersamanya menyelidiki kasus. Tidak mudah bagi Arnold meyakinkan Theo. Pasalnya pria itu lebih suka bekerja sendiri dan tidak terlalu menyukai kerja sama tim yang akan menyusahkan. Namun, sang detektif tampaknya membuat Theo tertarik untuk bekerja sama. Pastilah ia sudah berhasil menilai sang detektif dari foto dan riwayat yang ditampilkan.
♚♛♜♝♞
New York City, World Trade Center, 11 September 2018
Hari ini merupakan hari berduka bagi seluruh warga New York City dan mungkin juga seluruh dunia. Pasalnya beberapa tahun yang lalu pernah terjadi peristiwa besar di tempat yang sekarang tengah Theo kunjungi. Dia berkunjung bukan tanpa alasan. Dia menemani Bill Dallas untuk berziarah ke tempat terakhir ibu dan saudara perempuannya mengembuskan napas. Peristiwa beberapa belas tahun yang lalu telah merenggut kebahagiaan masa kecilnya. Di sana saat ini banyak orang meletakkan karangan bunga dan berdoa bersama. Di sana masih sangat ramai meskipun sudah beranjak siang.
Dia dan Bill memang seperti kucing dan anjing, tetapi sesama rekan yang pernah merasakan kehilangan orangtua dan kebahagiaan, Theo akan selalu ada untuknya. Awalnya Bill menolak niat baik Theo yang ingin menemaninya, tetapi Theo memaksa. Ia mengatakan tidak ingin melihat Bill menangis sendirian. Theo bahkan membawakan bunga untuk ibu dan saudara perempuannya. Dia tidak tahu bagaimana masa kecil Bill hingga bisa sekuat sekarang, tetapi dia tahu pastilah tidak mudah karena dia juga merasakannya.
“Aku tidak tahu mereka suka bunga apa,” kata Theo sambil meletakkan bunga di dekat tugu peringatan.
“Aku jadi berutang rasa terima kasih padamu,” jawab Bill sambil menatap nama ibu dan saudara perempuannya yang terukir di tugu.
“Mereka akan tahu bahwa kau punya teman yang sangat baik dan perhatian sepertiku.” Bill tertawa mengejek.
“Kurasa mereka tidak ingin tahu bahwa kau ada di dunia ini,” jawabnya sambil menatap ke langit cerah.
Kali ini Theo yang tertawa mengejek. Dia menertawai dirinya sendiri yang bisa-bisanya iba kepada Bill. Walaupun percakapan mereka selalu dihiasi dengan nada-nada tajam, mereka tidak ambil hati satu sama lain. Bill mengerti mengapa Theo menjadi seperti itu dan Theo mengerti mengapa Bill selalu menyebalkan di matanya.
“Aku ingin kembali ke kantor dan kau bisa kembali ke kantormu,” kata Bill sambil meninggalkan Theo yang masih berdiri di sana.
“Hei, aku menemanimu di sini bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu sebelum aku pergi ke Ukraina nanti.”
Perkataan Theo membuat Bill membalikkan tubuhnya dan menatap Theo yang masih berdiri di sana. Theo tidak pernah bercerita kepadanya sama sekali soal apa pun. Mendengar Theo ingin mengatakan banyak hal membuat Bill merasa heran. Memang misi mereka ke Ukraina bukanlah misi biasa. Mereka seperti menandatangani kontrak mati.
“Baiklah, belikan aku makan siang dan aku akan mendengarkan ceritamu,” ujar Bill akhirnya.
Theo mengangguk dan mengikuti langkah Bill menuju parkiran mobilnya. Dia sendiri tidak terlalu suka membawa mobil karena dia tahu pasti jalanan akan macet hari ini. Di dalam perjalanan mereka lebih banyak diam. Hanya lagu yang menemani kesunyian keduanya. Lima menit kemudian mereka tiba di restoran Thailand yang tidak terlalu ramai.
“Restoran ini dulunya tempat ibuku pernah bekerja sebagai koki,” kata Bill ketika mereka tiba. “Hanya informasi bila saja kau heran melihat semua pelayan dan koki di sana mengenalku.”
Bill dan Theo melangkah masuk. Saat itu semua pelayan menyapa Bill dan wanita tua yang tadinya tengah menghitung uang di kasir tersenyum gembira menyambut Bill. Bill memperkenalkan Theo kepada pemilik restoran. Dia mengatakan bahwa Theo ingin mencoba mencicipi masakan Thailand miliknya setelah ia bercerita kepada Theo. Sungguh sandiwara yang menggelikan pikir Theo.
“Sekarang kau bisa mengatakan apa pun yang ingin kau katakan. Aku akan mendengarnya sambil makan.”
Theo ikut makan sebelum dia benar-benar memutuskan untuk bercerita. Banyak pertimbangan mengapa ia ingin menceritakan semuanya kepada Bill. Dia punya banyak alasan memilih Bill. Pertama, karena umur Bill dan dirinya tidak jauh berbeda dan dia juga belum berkeluarga. Kedua, dia dan Bill punya masa lalu yang cukup mirip. Ketiga, Bill pasti bisa melakukan permohonannya. Dia tidak memilih Arnold karena Arnold merupakan atasan di divisinya, dia sudah cukup tua dan memiliki keluarga. Travis sudah berkeluarga dan ia memiliki dua anak yang masih kecil. Fabio masih cukup muda dan dia lebih banyak bekerja di belakang layar. Kemudian Zoey Hommes bisa ia jadikan alternatif bila Bill menolak permohonannya.
“Aku ingin kau menjaga temanku,” katanya memulai cerita.
“Kenapa aku harus menjaganya?” tanya Bill yang sudah tahu akan ke mana arah pembicaraan Theo. Dia bertanya hanya untuk mencairkan suasana.
“Mungkin misiku akan gagal dan aku mati di sana.”
“Kau memberikan tugas berat kepadaku,” keluhnya sambil melanjutkan makan.
“Dia gadis Turki, temanku semasa kuliah. Dia sangat baik dan aku tidak ingin dia dalam bahaya. Dia tidak tahu tentangku yang menjadi FBI,” cerita Theo. Bill mengernyit sebentar melihat Theo yang menatapnya. “Teman, tidak punya hubungan lebih dari itu,” kata Theo menegaskan sebelum Bill berhasil mengejeknya.
“Baiklah, lanjutkan.”
“Namanya Güliz, dan aku ingin kau menceritakan semua tentangku kepadanya bila aku gugur nanti. Dia berhak tahu siapa aku sebenarnya.”
Theo sebenarnya takut untuk pergi menjalankan misi ini karena dia tidak ingin berpisah dari orang-orang yang ia sayangi. Theo tidak terlalu banyak memiliki teman. Dia lebih suka sendiri, tetapi saat ia memiliki teman maka teman tersebut sangatlah berarti untuknya. Dia ingin teman-temannya tahu siapa dia sebenarnya di saat ia telah tiada karena semasa hidup Theo tidak bisa memberitahu kepada mereka.
“Kemudian Zara, dia orang Indonesia. Temanku semasa latihan taekwondo. Saat ini dia tengah berada di Amerika untuk acara New York Fashion Week. Dia teman yang sangat berarti untukku lebih dari apa pun. Dia mungkin tidak akan percaya dengan keadaanku nanti, tetapi aku tahu dia orang yang sangat kuat. Tolong katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya sedari dulu sampai aku mengembuskan napas terakhirku.”
Bill tahu pasti ucapan Theo terdengar sangat tulus. Dia kira orang seperti Theo tidak pernah mencintai seseorang sedalam itu kepada lawan jenis. Selama ini tidak pernah terdengar Theo memiliki hubungan dengan lawan jenis. Banyak yang menyangka dia tidak tertarik dengan wanita. Nyatanya dia menyimpan rapi perasaan tersebut hanya untuk satu orang.
“Mengejutkan mendengar pengakuan bahwa kau menyukai seseorang,” komentar Bill yang kini menghirup kuah makanannya. “Dia tahu kau mencintainya?”
Theo menggeleng dan itu membuat Bill mengangguk pelan. Theo memang payah dalam hal percintaan, berbanding terbalik dengan kinerja pekerjaannya yang sangat bagus. Theo ingin sekali menyiram wajah Bill dengan kuah panas yang ada di depannya sekarang karena melihat tanggapan Bill yang hanya mengangguk. Dia terpaksa bercerita kepadanya karena dia yakin Bill pastilah akan menjaga mereka.
“Ada lagi orang yang harus aku jaga?”
“Paman dan Bibiku di Indonesia.”
“Kau harusnya memasukkan aku ke dalam daftar ahli warismu. Aku berperan penting dalam menjaga mereka,” guraunya sambil menyendok makanan. Theo dari tadi tidak melanjutkan makan. Ia hanya menonton Bill yang seperti orang kelaparan.
“Akan aku pertimbangkan,” jawab Theo yang sekarang memutuskan untuk makan. Kali ini Bill yang menatapnya tidak percaya. Dia dapat menyimpulkan bahwa Theo sangat serius kali ini. Dalam hatinya dia merasa iba. Mau bagaimanapun Theo adalah rekannya dan mereka sebenarnya berhubungan baik hanya saja saling suka mencela.
“Misimu bisa saja berhasil dan bila memang berhasil, aku tidak perlu melakukan semua keinginan yang kau pinta saat ini?” Theo mengangguk.
“Anggap saja kau adalah surat wasiat yang aku titipkan.”
“Bila kau berhasil, kau tidak akan malu dengan cerita yang kau sampaikan kepadaku saat ini? Bisa saja kau malu karena bercerita kepadaku,” ejeknya sambil tertawa.
“Anggap saja kau mengetahui sisi diriku yang sesungguhnya. Aku tidak keberatan.”
Bill mengacungkan kedua jempolnya sebagai tanda setuju. Dia akan menyimpan semua rahasia Theo dengan baik. Mungkin bila ia dalam posisi Theo, dia akan melakukan hal yang sama. Dia tidak punya keluarga di sini untuk berbagi keluh kesah, menjadi tempat Theo bercerita merupakan sebuah pertanda pria itu memercayainya maka Bill akan menghormati hal tersebut.
“Satu lagi, tolong rawat dua kucing dan satu anjing punyaku,” tambahnya.
TBC...